26/05/2026
Idul Adha bukan sekadar peringatan tentang pisau yang tak jadi turun, tapi tentang hati yang belajar melepaskan.
Di hari ini, kita diingatkan bahwa cinta sejati kepada Allah seringkali diukur dari kesediaan kita menyerahkan apa yang paling kita sayangi. Bukan karena Allah butuh kurban kita, tapi karena kita butuh belajar, bahwa ada hal-hal yang harus dipangkas agar jiwa tidak menjadi berat.
Lihatlah Ibrahim. Ia tidak berjuang melawan perintah, ia berjuang melawan dirinya sendiri. Melawan rasa takut kehilangan, melawan logika manusia yang berbisik "ini terlalu berat". Dan dari penyerahan itulah lahir ketenangan yang tak bisa dibeli apa pun.
Maka di Idul Adha ini, tanyakan pada diri sendiri: apa "Ismail"-mu?
Mungkin itu ego yang terlalu tinggi, dendam yang sudah lama dipelihara, kebiasaan buruk yang nyaman tapi merusak, atau cinta dunia yang membuatmu lupa pulang.
Idul Adha datang untuk mengingatkan bahwa setiap yang kita relakan karena Allah, akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih baik. Bukan selalu dalam bentuk harta atau jabatan, tapi dalam bentuk hati yang lebih lapang, hidup yang lebih tenang, dan iman yang lebih kokoh.
Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga setiap tetes darah kurban mengingatkan kita untuk terus menyembelih keakuan, dan menumbuhkan kepasrahan yang membebaskan.