Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara

Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara Akun resmi Bimbingan & Pelayanan Islam (BPI) RSI Sultan Hadlirin Jepara.

25/05/2026

SIAPA SAJA YANG BOLEH MAKAN DAGING KURBAN?

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat Islam yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat tinggi. Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan pada hari raya Iduladha dan hari tasyrik, melainkan simbol ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt. sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama.

Syariat ini meneladani kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Allah Swt. berfirman dalam surah Aṣ-Ṣāffāt ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”
(QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 102)

Ayat tersebut menunjukkan betapa besar nilai kepatuhan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah Swt. Dari kisah inilah syariat kurban menjadi salah satu ibadah penting dalam Islam yang terus dilaksanakan oleh umat Muslim hingga saat ini.

KETENTUAN PENERIMA DAGING KURBAN

Dalam pelaksanaannya, daging kurban tidak hanya diperuntukkan bagi fakir miskin, tetapi juga dapat dinikmati oleh pihak lain sesuai ketentuan syariat. Pembagian ini bertujuan agar nilai ibadah dan manfaat sosial kurban dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Dalam kitab Fathul Wahab karya Syaikh Zakariya al-Anshari disebutkan bahwa pembagian daging kurban, khususnya kurban sunah, dapat diberikan kepada tiga golongan utama.

1. PEKURBAN
Orang yang berkurban diperbolehkan memakan sebagian daging kurbannya sendiri. Namun, menurut penjelasan ulama, jumlah yang dimakan sebaiknya tidak melebihi sepertiga bagian dari keseluruhan daging kurban. Ketentuan ini menunjukkan bahwa kurban bukan semata untuk kepentingan pribadi, melainkan juga untuk berbagi kepada orang lain.

2. FAKIR DAN MISKIN
Golongan fakir dan miskin menjadi pihak yang paling diprioritaskan dalam pendistribusian daging kurban. Mereka hendaknya menerima paling sedikit sepertiga bagian dari daging kurban. Hal ini menegaskan bahwa ibadah kurban memiliki dimensi sosial yang kuat, yakni membantu masyarakat yang membutuhkan dan menghadirkan kebahagiaan pada hari raya.

3. ORANG KAYA SELAIN PEKURBAN
Selain fakir miskin dan pekurban, orang-orang yang berkecukupan juga diperbolehkan menerima daging kurban. Ketentuan ini menunjukkan bahwa kurban merupakan syiar kebersamaan dan sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Ibadah kurban mengandung banyak hikmah, baik secara spiritual maupun sosial. Dari sisi spiritual, kurban melatih keikhlasan, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah Swt. Adapun dari sisi sosial, kurban menjadi sarana memperkuat solidaritas dan kepedulian antar sesama.

Melalui pembagian daging kurban, masyarakat dapat merasakan semangat berbagi dan kebersamaan. Ibadah ini juga membantu mengurangi kesenjangan sosial serta menumbuhkan rasa empati terhadap kondisi orang lain.

Syariat kurban merupakan ibadah yang menggabungkan nilai penghambaan kepada Allah dan kepedulian sosial kepada manusia. Daging kurban dapat dinikmati oleh pekurban, fakir miskin, maupun masyarakat umum sesuai ketentuan syariat. Oleh karena itu, pelaksanaan kurban hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan serta memperhatikan prinsip keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Dengan demikian, ibadah kurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga media membangun ukhuwah, kepedulian, dan semangat berbagi dalam kehidupan umat Islam.






21/05/2026

MEMBANGUN KAMPUNG AKHIRAT
Oleh : Ahmad Fajar Inhadl, Lc

Kita sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk pencapaian duniawi yang seolah tak ada ujungnya. Namun, Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar dari generasi Tabi'ut Tabi'in, memberikan timbangan yang sangat presisi bagi kita untuk merenung: "Bekerjalah untuk duniamu sesuai dengan kadar tinggalmu di sana, dan bekerjalah untuk akhiratmu sesuai dengan kadar lamanya engkau akan tinggal di sana."

Pesan ini bukanlah ajakan untuk malas, melainkan ajakan untuk bersikap logis. Jika dunia hanya persinggahan sementara dan akhirat adalah masa depan yang abadi, bukankah sangat berisiko jika kita hanya menghabiskan seluruh energi untuk tempat yang akan segera kita tinggalkan?.

Dalam dunia investasi modern, kita mengenal konsep compounding interest atau bunga berbunga. Seseorang bersedia menahan diri dari gaya hidup konsumtif hari ini demi menanam modal pada instrumen yang menjanjikan di masa depan. Filosofi "Dunia adalah ladang akhirat" bekerja dengan logika serupa, namun dalam skala yang jauh lebih besar.

Bayangkan dunia adalah fase Early Access atau Pre-Seed Funding. Di sini, kita tidak sedang menikmati hasil (dividen), melainkan sedang melakukan penyetoran modal melalui amal saleh. Menanam di ladang akhirat memerlukan kesabaran seorang petani dan ketajaman visi seorang investor: kita menanam "benih" tenaga, harta, dan waktu sekarang, untuk memanen "profit" kenyamanan yang permanen di kampung akhirat nanti.

Untuk memahami posisi kita di ladang dunia ini, Rasulullah SAW memberikan sebuah analogi yang sangat menyentuh hati dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA: "Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara (musafir)." (HR. Bukhari).

Dalam kitab Syarah Arba’in An-Nawawiyah, Imam Nawawi menjelaskan kedalaman makna hadis ini dengan sangat indah. Beliau menguraikan bahwa seorang mukmin seharusnya tidak menggantungkan hatinya pada dunia dan tidak menjadikannya sebagai tanah air yang abadi.

Analogi Orang Asing (Gharib): Seorang asing yang tinggal di suatu negeri tidak akan bersaing dengan penduduk setempat untuk menumpuk harta atau membangun kemewahan yang berlebihan, karena ia tahu ia akan segera pergi.

Analogi Pengembara (Abiru Sabil): Pengembara adalah orang yang sedang dalam perjalanan menuju tujuan tertentu. Imam Nawawi menekankan bahwa seorang pengembara hanya akan membawa bekal secukupnya yang mampu membantunya sampai ke tujuan (akhirat). Segala sesuatu yang berlebihan hanya akan menjadi beban berat dalam perjalanannya.

Lebih lanjut, dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari), Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip perkataan ulama lain bahwa hadis ini adalah fondasi dalam konsep zuhud. Beliau menjelaskan bahwa "membangun" di dunia diperbolehkan selama tujuannya adalah untuk mendukung ketaatan, namun menjadi tercela jika tujuan akhirnya berhenti di dunia itu sendiri.

Membangun kampung akhirat tidak harus dengan menjadi ahli ibadah di dalam masjid sepanjang hari. Kita bisa membangunnya melalui meja kerja masing-masing:

1. Pilar Integritas (The Ethical Worker). Apapun profesi Anda—baik ASN, karyawan swasta, atau pedagang—pilar pertama adalah menjaga kejujuran. Sebagai contoh implementasi: Seorang pedagang yang jujur dalam timbangan atau developer software yang menjaga keamanan data pengguna tengah membangun pondasi rumahnya di akhirat melalui jalur amanah.

2. Pilar Solusi (The Problem Solver). Gunakan keahlian teknis Anda untuk meringankan beban orang lain. Inilah esensi dari "ilmu yang bermanfaat". Implementasi: Seorang dokter yang memberikan edukasi kesehatan gratis, seorang guru yang mendidik dengan hati, atau seorang montir yang membantu memperbaiki kendaraan orang yang kesulitan tanpa memeras biaya, sedang menanam benih kebaikan yang akan dipanen di hari kemudian.

3. Pilar Filantropi Terstruktur (The Strategic Giver). Ubah sebagian pendapatan rutin menjadi aset jariyah. Jangan hanya menabung untuk DP rumah di dunia, tapi sisihkan untuk "DP rumah" di akhirat. Implementasi: Melalui sistem autodebet zakat atau sedekah rutin dari gaji bulanan. Dengan teknologi sekarang, menyisihkan sebagian keuntungan bisnis untuk wakaf produktif jauh lebih mudah dan bisa menjadi mesin pahala yang terus berputar bagi Anda.

Hari ini adalah waktu untuk menanam tanpa memanen, dan esok (di akhirat) adalah waktu untuk memanen tanpa bisa lagi menanam. Mari bangun kampung halaman kita yang sebenarnya. Semoga bermanfaat





20/05/2026

JANGAN TERTIPU ANGAN-ANGAN DUNIA
عن سيدنا شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
رواه الإمامان الترمذى وابن ماجه
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang cerdas menurut Islam bukan yang paling kaya atau paling tinggi ilmunya, akan tetapi orang cerdas ialah orang yang:

1. sering muhasabah diri sendiri,
2. takut melakukan dosa,
3. mempersiapkan bekal kubur,
4. dan tidak tertipu dengan banyaknya angan-angan dunia.

Sebaliknya, orang yang terus menunda taubat sambil berkata:
“Nanti saja berubah… Allah Maha Pengampun…”

namun tidak berusaha memperbaiki diri, itulah yang diperingatkan dalam hadis ini.

16/05/2026

✨ Doa Masuk Masjid ✨

Sebelum melangkahkan kaki ke rumah Allah, mari awali dengan doa agar hati lebih tenang dan ibadah semakin penuh keberkahan.

بِسْمِ اللهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Dengan menyebut nama Allah, dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Semoga setiap langkah menuju masjid menjadi langkah yang mendekatkan kita kepada rahmat dan ampunan Allah SWT. 🤲

12/05/2026

JADIKAN PEKERJAANMU , LADANG IBADAHMU

Sibukkanlah diri dengan amal sebelum datang ajal. Karena dunia akan ditinggalkan, sedangkan amal akan menetap bersama kita di alam kubur. “Yang menemanimu bukan hartamu, bukan p**a keluargamu, tetapi amalmu.”

Hadis diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi muhammad bersabda: يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali p**ang, dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” — (HR. Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Dunia ini bukan tempat tinggal selamanya. Kematian akan memutus semua kenikmatan dunia. Amal saleh adalah bekal yang sebenarnya.

“Orang yang cerdas bukan yang paling banyak mengumpulkan dunia, tetapi yang paling banyak membawa bekal untuk akhirat.”

Maka perbaiki salat, perbanyak zikir dan istighfar, ringan tangan dalam kebaikan, dan jangan meremehkan amal kecil. Sebab bisa jadi amal kecil yang ikhlas menjadi cahaya di dalam kubur. Manfaatkan semua ini di setiap pekerjaan, biar menjadi amal ibadah yang bisa menemani di alam kubur,






11/05/2026

Siapa yang Diperintah Berkurban?
Oleh: Khoirul Manan

Ibadah kurban merupakan salah satu syiar besar dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari sesudahnya, yaitu hari tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, dan pendekatan diri seorang hamba kepada Allah Swt.

Dalam istilah fikih, kurban disebut udhiyyah, yakni menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta pada waktu tertentu dengan niat ibadah.

Syariat kurban memiliki dasar kuat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Kautsar ayat 1–3:
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
“Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Perintah tersebut menjadi landasan utama disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Menurut sejarah, kurban mulai diwajibkan atau disyariatkan kepada Rasulullah Saw pada tahun kedua Hijriyah.

Dalam pandangan fikih, hukum berkurban terbagi menjadi dua:

1. Sunah Muakkadah
Pada dasarnya hukum kurban adalah sunah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Kesunahan ini berlaku setiap tahun bagi orang yang:
• Muslim
• Balig
• Berakal
• Mampu
Yang dimaksud mampu ialah memiliki kelebihan harta setelah tercukupinya kebutuhan pokok dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya pada hari Iduladha dan hari-hari tasyrik.

Bagi orang yang hidup sendiri, hukum kesunahan kurban disebut sunah ‘ainiyyah. Sedangkan bagi orang yang telah berkeluarga, hukumnya menjadi sunah kifayah, artinya apabila salah satu anggota keluarga telah berkurban maka syiar kurban bagi keluarga tersebut telah dianggap terlaksana.

Namun demikian, tetap diperbolehkan bahkan dianjurkan apabila setiap anggota keluarga yang mampu ingin melaksanakan kurban masing-masing.

2. Wajib
Hukum kurban menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya. Nazar tersebut mengikat sehingga kurban tidak lagi hanya bernilai sunah, tetapi wajib ditunaikan.
Keterangan mengenai syarat orang yang diperintahkan berkurban dijelaskan dalam kitab Syarah al-Bajuri Juz 2 halaman 296.

Ibadah kurban mengandung pesan spiritual dan sosial sekaligus. Di dalamnya terdapat nilai ketakwaan, keikhlasan, serta kepedulian terhadap sesama melalui pembagian daging kepada masyarakat, terutama kaum fakir dan miskin.

Karena itu, kurban bukan hanya ibadah ritual tahunan, tetapi juga bentuk nyata pengorbanan dan solidaritas sosial dalam kehidupan umat Islam.

Semoga Allah Swt memberikan kemampuan dan kesempatan kepada kita untuk dapat melaksanakan ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha 1447 H nanti. Aamiin.






08/05/2026

Tiga Pilar Utama Kehidupan Seorang Muslim
Oleh: Ust. Khoirul Manan

Dalam khazanah literatur Islam, terdapat sebuah pesan ringkas namun mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Pesan tersebut tertuang dalam Hadis ke-18 dari kitab Arba’in Nawawi, sebuah kump**an hadis fundamental yang disusun oleh Imam Nawawi. Melalui wasiat ini, Rasulullah SAW. memberikan peta jalan bagi setiap individu untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui tiga pilar utama.

Hadis diriwayatkan dari dua sahabat terkemuka, Abu Dzarr Al-Ghifari dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah SAW. bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. At-Tirmidzi).

1. Pilar Ketuhanan: Konsistensi Takwa Tanpa Batas Ruang

Pilar pertama, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada," mengatur hubungan vertikal antara hamba dengan Sang Pencipta (Hablu Minallah).

Secara definisi, takwa adalah Menjaga diri dari hal-hal yang dilarang. Unsur terpenting dalam pilar ini adalah integritas. Rasulullah menekankan frasa "di mana pun engkau berada" sebagai pengingat bahwa ketakwaan tidak boleh bersifat musiman atau situasional.

Seorang Muslim dituntut untuk menjaga moralitasnya baik saat berada di tengah keramaian maupun saat tersembunyi dari pandangan manusia.

2. Pilar Personal: Mekanisme Pemulihan Diri dari Dosa

Pilar kedua, "Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan menghapusnya,"

Merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap keterbatasan manusia.

Sebagai makhluk yang tidak luput dari khilaf, manusia seringkali tergelincir dalam dosa. Islam memberikan solusi praktis: jangan biarkan keburukan menetap.

Kebaikan baik berupa taubat nasuha, istighfar, maupun amal jariyah berfungsi sebagai "penghapus" noda spiritual dalam jiwa. Pilar ini mengajarkan optimisme, bahwa kegagalan moral di masa lalu bisa diperbaiki dengan aksi nyata yang positif di masa sekarang.

3. Pilar Sosial: Etika sebagai Wajah Keberagamaan

Pilar ketiga, "Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik," melengkapi kesalehan seorang Muslim melalui dimensi sosial (Hablu Minannas).

Definisi akhlak yang baik bukan sekadar sopan santun formalitas, melainkan karakter yang lahir dari jiwa yang bersih. Imam Al-Taftazani dalam syarahnya menjelaskan bahwa akhlak adalah kondisi jiwa yang kokoh yang membuat seseorang melakukan kebaikan dengan spontan.

Ketiga pilar ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Takwa memberikan kekuatan spiritual, amal baik memberikan kesucian personal, dan akhlak mulia memberikan kedamaian sosial.

Seseorang yang hebat dalam ibadah ritual namun buruk dalam hubungan sosial dianggap timpang. Sebaliknya, orang yang baik secara sosial namun mengabaikan hubungan dengan Tuhannya dianggap kehilangan akar.

Hadis ini memanggil setiap Muslim untuk hidup dalam keseimbangan, menciptakan harmoni antara langit dan bumi.






07/05/2026

CAPEK KARENA KERJA KERAS ITU WAJAR, NYERAH JANGAN

“Yang bikin seseorang gagal itu seringkali bukan karena tidak mampu, tapi karena berhenti terlalu cepat.”

Di zaman sekarang, banyak orang ingin hasil cepat. Baru mencoba sekali, langsung ingin berhasil. Padahal semua hal besar selalu dimulai dari proses panjang, jatuh bangun, bahkan air mata.

Kerja keras memang melelahkan. Kadang sudah berjuang mati-matian, hasilnya belum kelihatan. Sudah sabar, tetap diuji. Sudah kuat, masih ditambah cobaan lagi.
Tapi ingat, tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia di hadapan Allah.

Menariknya, Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan agar seseorang menghargai dirinya sendiri setelah berjuang. Dalam riwayat sahabat Jabir bin Samurah disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: "Jika Allah mengaruniaimu suatu kebaikan (kekayaan), pertama-tama manfaatkanlah untuk dirimu sendiri dan keluargamu." (HR. Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa menikmati hasil perjuangan itu bukan salah. Mengistirahatkan diri juga bukan tanda menyerah. Karena manusia bukan mesin.
Kadang kita terlalu sibuk membahagiakan orang lain, sampai lupa menghargai diri sendiri yang sudah bertahan sejauh ini.

Jadi kalau hari ini kamu lelah, istirahatlah sebentar. Bukan untuk menyerah, tapi untuk kembali kuat melanjutkan perjuangan.

Karena mimpi besar memang butuh hati yang kuat dan langkah yang tidak mudah berhenti.

Semoga Allah menguatkan setiap langkah perjuangan kita. Amin.






04/05/2026

SAKITKU IBADAHKU: Menemukan Hikmah Di Balik Ujian Kesehatan

Oleh: Khoirul Manan

Pernahkah kita merenung sejenak saat tubuh terasa lemah dan tak berdaya karena sakit? Seringkali kita hanya fokus pada rasa sakitnya, tanpa menyadari bahwa ada makna besar yang Allah SWT selipkan di balik setiap ujian kesehatan yang kita alami.

Sakit bukanlah hanya musibah semata yang datang tiba-tiba, melainkan bagian dari rencana indah Allah SWT. Terkadang, sakit adalah cara halus Sang Pencipta untuk menghapus dosa, mengangkat derajat, dan mengembalikan hati kita agar senantiasa berpaut kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.
(Asy-Syu‘arā' [26]:80)

Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun kita berikhtiar secara medis, otoritas kesembuhan sepenuhnya berada di tangan Allah.

Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira bagi hamba-Nya yang sedang diuji: “Tidaklah seorang muslim tertimpa penyakit, kecuali Allah menggugurkan dosa-dosanya seperti daun yang gugur dari pohonnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Setidaknya, ada empat hikmah utama yang bisa kita renungkan saat sedang sakit:

1. Penggugur Dosa: Sakit menjadi sarana pembersihan diri dari kesalahan di masa lalu.
2. Pengangkat Derajat: Allah sedang memuliakan posisi kita di sisi-Nya melalui kesabaran.
3. Ujian Kesabaran: Melatih keteguhan hati dalam menerima setiap takdir.
4. Pembersih Hati:Mengembalikan kesadaran akan lemahnya manusia dan besarnya kuasa Allah.

Mari kita ubah cara pandang kita terhadap penyakit. Jika saat ini kita diberikan kesehatan, bersyukurlah dengan memperbanyak amal. Jika sedang diuji dengan sakit, bersabarlah karena kesabaran itu adalah ibadah. Dan bagi kita yang menjenguk orang sakit, hiburlah dan doakanlah mereka agar segera mendapatkan kesembuhan.

Semoga setiap proses pengobatan yang kita jalani menjadi saksi penggugur dosa dan pembuka pintu rahmat-Nya. Amin.






27/04/2026

Menjemput Berkah dalam Lelah: Harmoni Perjuangan dan Doa
Oleh: Ust. Khoirul Manan

Menjalani hidup di tengah gempuran tantangan zaman menuntut setiap insan untuk memiliki mental pejuang. Baik dalam lingkup kepribadian, dinamika pertemanan, hingga urusan keluarga, hambatan akan selalu hadir sebagai ujian eksistensi. Tanpa dilandasi nilai perjuangan yang kokoh dan sandaran spiritual yang kuat, manusia rentan terjebak dalam arus keputusasaan dan penyesalan yang terlambat.

Agar langkah tetap berada di atas rel kebenaran yang diridai Allah SWT, maka teladan dari para Rasul dan bimbingan ulama sebagai pewaris risalah adalah kompas utama. Totalitas dalam memikul tanggung jawab di dunia bukan sekadar urusan materi, melainkan bekal mutlak untuk menghadapi fase kehidupan setelah kematian.

Islam memandang bahwa perjuangan mencari nafkah, misalnya di lingkungan kerja, adalah bentuk ibadah yang mulia. Niat untuk membangun kesejahteraan keluarga mengubah setiap peluh menjadi penggugur dosa. Hal ini sejalan dengan penegasan Allah SWT dalam Surah Al-Anfāl [8]:74,

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Bagi mereka ampunan (yang besar) dan rezeki yang mulia.
(Al-Anfāl [8]:74)

Namun, kekuatan otot dan kecerdasan otak manusia memiliki batas. Di sinilah doa mengambil peran krusial. Doa bukanlah pelarian bagi mereka yang malas, melainkan pengakuan jujur seorang hamba akan kemahakuasaan Sang Pencipta. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, "Doa adalah senjata bagi orang mukmin" (HR. Hakim).

Lantunan doa inilah yang akan mengaliri setiap ikhtiar, memastikan hasil yang didapat tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga berkah secara nilai.
Perpaduan antara usaha lahiriah yang total dan kepasrahan batiniah melalui doa adalah benteng agar kita tidak jatuh pada lubang penyesalan.

Banyak manusia yang baru menyadari hakikat hidup setelah maut menjemput, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an tentang orang-orang yang memohon dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh namun sudah terlambat.

Hidup adalah medan juang yang harus dihadapi dengan keberanian dan kerendahan hati. Jangan sampai kematian datang saat kita masih menyimpan tanya, "Mengapa dulu aku tidak beramal baik?".

Dengan memadukan kesungguhan kerja dan ketulusan doa, kita tidak hanya sedang mengejar cita-cita duniawi, tetapi sedang "menyusun batu bata" untuk istana di akhirat kelak. Karena pada akhirnya, hasil yang bermanfaat adalah buah dari proses yang diridai-Nya.






Address

RSI Sultan Hadlirin
Jepara
59431

Telephone

+85229967308

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara:

Share

Category