20/02/2026
MANGGARARWAM
(Kurcaci Kecil Tuan Tanah dari Biak)
Di dalam kehidupan masyarakat Papua, khususnya di Pulau Biak, dikenal sebuah kisah tentang manusia kurcaci kecil yang disebut MANGGARARWAM.
Dalam bahasa sehari-hari, makhluk ini juga dikenal dengan sebutan KABOTER, sedangkan dalam Bahasa Mbaham Matta Fakfak disebut KARAWAWA.
Konon menurut cerita orang-orang tua dahulu, MANGGARARWAM adalah makhluk bertubuh kecil namun memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Walaupun tubuhnya mini, tenaganya tidak sebanding dengan ukuran fisiknya. Mereka dipercaya mampu mengangkat beban yang sangat berat dan bergerak dengan sangat cepat.
Masyarakat lama percaya bahwa MANGGARARWAM adalah “tuan tanah”, penghuni awal suatu tempat yang hidup berdampingan dengan manusia, namun jarang terlihat oleh mata manusia.
Salah Satu Kisah yang Pernah Diceritakan
Dahulu pernah terjadi sebuah peristiwa.
Seorang ibu membawa bayinya ke kebun dan menaruhnya tidur di sebuah pondok kecil. Sambil bayinya tertidur, sang ibu bekerja membersihkan kebun.
Tiba-tiba muncul firasat buruk di hatinya. Ia merasa harus segera kembali melihat bayinya.
Saat ia tiba di pondok, bayi itu sudah tidak ada.
Sang ibu panik dan histeris. Ia mencari di sekitar pondok, di antara semak-semak dan rerumputan. Tidak lama kemudian, bayi itu ditemukan dalam keadaan selamat, tanpa luka dan tanpa goresan sedikit pun.
Ayah dari bayi tersebut menduga kuat bahwa itu adalah ulah MANGGARARWAM, atau yang biasa disebut Kaboter.
Ada p**a cerita tentang seorang pemburu yang melintas di dalam hutan. Ia mendengar suara-suara seperti banyak orang sedang berbicara. Namun ketika ia mendekati sumber suara itu, tidak ada seorang pun di sana. Ia pun menduga bahwa suara tersebut adalah suara MANGGARARWAM.
Antara Kepercayaan dan Zaman Modern
Di zaman modern sekarang, banyak orang mungkin tidak lagi percaya pada kisah seperti ini. Namun bagi orang tua zaman dahulu, cerita MANGGARARWAM bukan hanya dongeng, melainkan pengalaman yang pernah mereka alami atau dengar langsung dari saksi kejadian.
Terlepas dari benar atau tidaknya menurut logika modern, cerita ini adalah bagian dari identitas dan kekayaan budaya Papua umumnya dan lebih khusus Suku Biak yang patut dihargai dan dijaga.
Salam 🙏🙏
By. Yan Abr