Green Papua Central Collective

Green Papua Central Collective Halaman Resmi Organisasi Green Papua. Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat. Lawan Imperialisme dan Wujudkan Ekososialisme.

Anti Imperialisme, Anti Kolonialisme, Anti Militerisme

Tanah Air, Kemerdekaan dan Perdamaian

10/09/2026

Kamis 10 September 2026.
FORUM PEDULI TANAH ADAT MASYARAKAT SUKU WIAGHAR. Melakukan aksi Long Marc dari Tugu Pepera menuju Kantor Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Selatan.

Menuntut Penolakan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, dab Jembatan Petik Emas Sserta mendesak pemerinta menarik semua pasukak Organik dan non organik dari atas Tanah adatnya.

Repost Arnoldus Anda

Ekososialisme dibutuhkan di era darurat iklim.Oleh : Susan PriceJika kita sepakat bahwa kapitalisme dan dorongan rakusny...
07/09/2026

Ekososialisme dibutuhkan di era darurat iklim.

Oleh : Susan Price

Jika kita sepakat bahwa kapitalisme dan dorongan rakusnya untuk meraih keuntungan sedang mengarahkan kita menuju bencana iklim dan perang, pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa beranjak dari kondisi kita sekarang menuju masa depan iklim yang demokratis, berkelanjutan secara ekologis, dan aman bagi semua?

Membahas strategi revolusioner membutuhkan pengakuan terhadap ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh keadaan darurat iklim dan krisis ekologis serta sosial lainnya yang saling terkait.

Meningkatnya ketidaksetaraan global diperparah oleh pandemi COVID-19. Krisis ekologi menyebabkan jutaan orang mengungsi karena sebagian wilayah di dunia menjadi tidak layak huni dan memicu perang memperebutkan sumber daya. Hampir pasti Bumi akan mengalami pemanasan 1,5°C pada akhir dekade ini.

Kesenjangan kekayaan antara negara kaya dan miskin dimungkinkan oleh pencurian sumber daya dari negara-negara Global Utara oleh negara-negara Global Selatan. Beban utang membuat negara-negara Selatan tetap berada dalam keadaan terbelakang, sementara para pekerja di negara-negara Global Utara menjadi penerima manfaatnya.

Generasi baru tumbuh dewasa dengan ancaman perang nuklir yang membayangi mereka. Tanpa revolusi ekososialis, umat manusia menghadapi dua prospek mengerikan: kepunahan cepat akibat perang nuklir atau percepatan keruntuhan iklim.

Negara-negara terkaya di dunia, yang dikenal sebagai G20, bertanggung jawab atas sekitar 80% emisi gas rumah kaca global. Negara-negara di belahan bumi utara akan berutang kepada negara-negara di belahan bumi selatan sebesar US$192 triliun dalam bentuk ganti rugi iklim pada tahun 2050.

Secara global, pertumbuhan produk domestik bruto diproyeksikan meningkat dari 2,7% tahun ini menjadi 2,9% pada tahun 2024: ini berarti negara-negara maju berada di jalur yang tepat untuk menghabiskan anggaran iklimnya (jumlah emisi yang diperlukan untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C di atas tingkat pra-industri) dalam satu dekade.

“Kapitalisme hijau” bukanlah solusi. Menyerahkan transisi kepada kaum kapitalis berarti pengangguran massal dan dislokasi, merangkul solusi pasar yang semu, mencari keuntungan “hijau”, dan ekstraktivisme.

Kita tidak bisa menyelesaikan krisis tanpa mengubah sistem, seperti yang bahkan didesak oleh beberapa ilmuwan iklim saat ini.

Perubahan iklim dan perang menciptakan jutaan pengungsi, memberikan platform bagi kelompok sayap kanan untuk menjadikan seseorang sebagai kambing hitam dengan rasisme, sambil berpura-pura sebagai pembela "kepentingan nasional".

Kita sangat perlu membangun aliansi merah-hijau — bukan hanya seputar perjuangan langsung, tetapi seputar perspektif revolusioner, internasionalis, dan ekososialis yang melampaui demokrasi terbatas di bawah kapitalisme untuk membangun kekuatan rakyat.

Di Australia, kita harus membangun diskusi dalam gerakan buruh tentang lapangan kerja berkelanjutan, transisi energi, krisis perumahan, dan AUKUS yang bersifat militeristik.

Sembari mengakui keterkaitan antar krisis, kita harus menggeser diskusi melampaui agenda ekonomi yang sempit. Arus kelas pekerja militan yang baru perlu memperhatikan ekologi, produksi dan konsumsi energi, perumahan, perang, dan penindasan.

Produksi komoditas kapitalis dan dorongan untuk meraih keuntungan menghancurkan planet ini dan memiskinkan umat manusia. Revolusi kelas pekerja tidak bisa hanya menguasai kekuatan produktif—kekuatan tersebut harus diubah secara radikal.

Di bawah kapitalisme, pertumbuhan ekonomi adalah ukuran kemakmuran: budaya kapitalis diarahkan untuk meyakinkan kita bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang penuh akumulasi. Ia mendorong hubungan transaksional dan membatasi peran kita hanya sebagai konsumen, terasing dari apa yang kita konsumsi, dari alam, dan dari orang lain.

Buen vivir , yang secara bebas diterjemahkan sebagai "hidup dengan baik dan berkelanjutan," diperkenalkan dalam Deklarasi Margarita tentang Perubahan Iklim tahun 2014 pada pertemuan puncak pra-Konferensi Para Pihak di Pulau Margarita, yang diselenggarakan oleh pemerintah Venezuela.

Pasal 13 deklarasi tersebut berbunyi: “Perlu untuk mencapai model pembangunan alternatif yang didasarkan pada prinsip hidup selaras dengan alam, dipandu oleh batas keberlanjutan absolut dan ekologis, serta kapasitas Ibu Pertiwi; model yang adil dan egaliter yang membangun ekonomi berkelanjutan yang menjauhkan kita dari model energi berbasis bahan bakar fosil dan energi berbahaya, yang menjamin dan mengakui penghormatan terhadap Ibu Pertiwi, hak-hak perempuan, anak-anak, remaja, keragaman gender, kaum miskin, kelompok minoritas yang rentan dan masyarakat adat” dan “yang mendorong hidup berdampingan secara damai antar bangsa kita”.

Di era krisis iklim, mencapai buen vivir (kehidupan yang baik) berarti perbaikan iklim yang mendesak, serta menjamin perumahan yang aman dan nyaman seumur hidup, layanan kesehatan dan pendidikan gratis dan mudah diakses secara universal dari lahir hingga meninggal, transportasi umum gratis, lebih banyak waktu luang untuk bersama keluarga dan teman (melalui minggu kerja yang lebih pendek), waktu dan ruang untuk kreativitas, untuk demokrasi partisipatif yang nyata (termasuk kontrol pekerja di tempat kerja), mewujudkan potensi kita dan memulihkan hubungan kita dengan alam.

Deklarasi Margarita juga menegaskan “hak yang tak dapat dicabut dari rakyat untuk menjadi protagonis dalam membangun takdir mereka sendiri”.

Ini berarti melangkah lebih jauh dari praktik demokrasi sosial "demokrasi perwakilan" serta kecenderungan birokratis sebagian kelompok kiri untuk merangkul model kekuasaan rakyat. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman demokrasi akar rumput dan langsung dari revolusi Rojava dan eksperimen dewan komunal Chavista.

Karl Marx dan Friedrich Engels menyatakan dalam Manifesto Komunis bahwa dalam sejarah perjuangan kelas, pertarungan antara penindas dan yang tertindas berakhir dengan pembentukan kembali masyarakat secara revolusioner, atau dengan kehancuran bersama kelas-kelas yang bertikai.

Taruhannya sangat tinggi dan "ekososialisme atau kepunahan" bukanlah ungkapan kosong.

[Artikel ini didasarkan pada ceramah yang disampaikan pada acara Ecosocialism 2023 : A World Beyond Capitalism. Susan Price adalah anggota eksekutif nasional Socialist Alliance .]

03/09/2026

Konferensi Pers Forum Masyarakat Adat Malind Kondo-Digoel (FORMAMA)

BUPATI MERAUKE SEGERA CABUT SK. NO.100, 3, 3, 2/1105. TAHUN 2025 TENTANG KELAYAKAN LINGKUNGAN PEMBANGUNAN JALAN SEPANJANG 135 KM WANAM-MUTING.

Sumber Komasdeling Papsel



Almasuh, 03 September 2026

03/09/2026

Update dari Lapangan

Merauke, 03 September 2026. Kami menerima sebuah video berdurasi 26 detik, yang merekam langsung atas aksi operasi PSN di jagebob, Merauke.

Video ini membuktikan bahwa PSN adalah proyek negara yang melegitimasi kejahatan luar biasa yang justru menormalisasi melalui program negara.

Dalam sebuah video ini dua eksavator mengangkat sebuah rumah warga dan memindahkan entah kemana tapi fakta di lapangan bahwa Proyek Serakah Nasional (PSN) meninggalkan luka derita berkepanjangan terhadap masyarakat adat.

Sumber Komasdeling Papsel

Selamat Jalan Pahlawanku.Duka nasional atas gugurnya 4 anggota TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Batalyon Edensawi pada 1 Se...
02/09/2026

Selamat Jalan Pahlawanku.

Duka nasional atas gugurnya 4 anggota TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Batalyon Edensawi pada 1 September 2026 di Jalan Gunung, Distrik Dekai Kota, Kabupaten Yahukimo diantaranya;

1. Nama: Marsel Helembo
Lahir: 17 Januari 2005
Umur: 21 tahun
Status: Anggota TPNPB Batalyon Edensawi
Aktif: 2021- gugur (1 September 2026)
Masa Jabatan: 5 tahun

2. Nama: Eris Hubusa
Lahir: 20 Juni 2008
Umur: 18 tahun
Status: Anggota TPNPB Batalyon Edensawi
Aktif: 2025- gugur (1 September 2026)
Masa Jabatan: 1 tahun

3. Nama: Alpius alias Moso Sama
Lahir: 10 Februari 2004
Umur: 22 tahun
Status: Anggota TPNPB Batalyon Edensawi
Aktif: 2024- gugur (1 September 2026)
Masa Jabatan: 2 tahun

4. Nama: Ampol alias Ampuluak Yual
Lahir: 11 Agustus 2005
Umur: 21 tahun
Status: Anggota TPNPB Batalyon Edensawi
Aktif: 2025- gugur (1 September 2026)

Terima kasih Pahlawanku untuk pengapdian atas Tanah Air dan Rakyat Papua tercinta sampai titik darah penghabisan.

Hormat !

Rest In Peace !

Green Papua Central Collective
Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat.



02/09/2026

Massa Membawah Salib merah Menuju Kantor Bupati Merauke dan Mendesak Bupati agar Segera Cabut SK Bupati Nomo 100.3.3.2/1105 Tahun 2025 tentang Kelayakan lingkungan Pembangunan Jalan sepanjang 135 KM Wanam Muting.

Repost Arnoldus Anda

Selamat Wisuda untuk kawan Andreas You S,Pd ( Ani Yonago YT  ) semoga ilmu pengetahuannya dapat bergunak bagi praksis pe...
20/08/2026

Selamat Wisuda untuk kawan Andreas You S,Pd ( Ani Yonago YT ) semoga ilmu pengetahuannya dapat bergunak bagi praksis pembebasan manusia dan tanah Papua dari sistem yang menindas.

Tan Malaka, “Pendidikan bertujuan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.”

Green Papua Central Collective
Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat.

Selamat Wisuda untuk kawan Andreas You S,Pd (Ani Yonago YT) semoga ilmu pengetahuannya dapat bergunak bagi praksis pembe...
20/08/2026

Selamat Wisuda untuk kawan Andreas You S,Pd (Ani Yonago YT) semoga ilmu pengetahuannya dapat bergunak bagi praksis pembebasan manusia dan tanah Papua dari sistem yang menindas.

Green Papua Central Collective
Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat.

Kami terbitkan pernyataan sikap korban penyerangan yang dilakukan oleh Wene Kilungga (almarhum) dan kawan-kawannya di ka...
17/08/2026

Kami terbitkan pernyataan sikap korban penyerangan yang dilakukan oleh Wene Kilungga (almarhum) dan kawan-kawannya di kantor Dewan Adat Papua (DAP) pada 30 April 2024 saat Teklap terakhir untuk aksi 1 Mei 2024.

Pernyataan sikap ini dikeluarkan atas belum adanya sikap resmi secara organisasi dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, melihat situasi penindasan dan gerakan rakyat Papua 3 tahun terakhir ini, dan posisi kami.

Dalam pernyataan sikap ini, pihak korban menulis:

"Kami memutuskan, pertama: kami kompromi dengan KNPB dalam aksi-aksi bersama, diskusi-diskusi bersama, pendidikan-pendidikan bersama, dalam front yang lebih demokratis; dan diskusi bersama dengan KNPB di Lao-Lao Papua, untuk kepentingan persatuan nasional dan perjuangan Papua Merdeka. Kedua: kami kompromi tapi dengan catatan, tidak boleh lagi ada ancam-mengancam kepada anggota organisasi lain dari pusat sampai wilayah-wilayah di seluruh Papua, dan tidak boleh lagi ada premanisme dalam gerakan perjuangan rakyat Papua. Dan ketiga: melihat dinamika dan situasi-situasi saat ini, kami melihat pentingnya konsolidasi ulang untuk membangun kekuatan rakyat di dalam negeri dengan kepemimpinan yang jelas."

Silahkan baca selengkapnya: https://laolaopapua.com/2026/08/17/kami-kompromi-untuk-bersatu-tapi-dengan-catatan/
___

Tanah Air, Kemerdekaan, dan Perdamaian!






64 Tahun Perjanjian New York Ilegal di Papua.Imperialis Amerika hadir sebagai penengah untuk menyelesaikan sengketa wila...
14/08/2026

64 Tahun Perjanjian New York Ilegal di Papua.

Imperialis Amerika hadir sebagai penengah untuk menyelesaikan sengketa wilayah antara Kolonial Indonesia dan kolonial Belanda. Bagi rakyat Papua ketiga aktor diatas adalah penjajah-penindas tidak ada yang lebih baik. Hak berdemokrasi diisolasi dan hak politik rakyat papua diberanguskan melalui perjanjian New York dan perjanjian lain yang dilakukan tanpa melibatkan rakyat Papua. Kebijakan Imperialisme ini telah memantik perlawanan rakyat Papua sampai saat ini.

Bangun Kedaulatan Rakyat dan Hancurkan Imperialisme.

Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat.

Tanah Air, 15 Agustus 2026.

Green Papua Central Collective
Green Papua Kolektif Kota Jayapura
Green Papua Kolektif Kota Nabire

Address

Jalan Kamp Wolker, Perumnas 3, Waena Jayapura
Jayapura

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Green Papua Central Collective posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share