Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan RI

27/03/2026

Kanti-kanti Budaya, tahukah kamu akhir dari kisah Putri Puti Unduk?

Pertemuan itu memicu amarah Raja Gagak 9. Bukannya restu, tantangan peranglah yang diberikan kepada Raja Muda Aceh. Sebelum peperangan besar meletus, sebuah kutukan pahit terucap dari bibir sang Raja.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025, mendukung Teater Art in Revolt (AiR) Jambi dalam upaya merawat kembali cerita rakyat melalui pementasan Monolog Monofolk.
Salah satu cerita yang mereka angkat adalah Cerita Rakyat Jambi โ€œPuti Undukโ€ versi teater kontemporer!
Apa pesan moral yang dapat diambil dari pementasan cerita ini.
Penasaran bagaimana kisahnya dibawakan di panggung Monofolk?
โœจ Yuk simak pementasannya melalui video berikut!
Persembahan dari:
๐ŸŽฌ Teater Art in Revolt (AiR) Jambi
๐ŸŽญ Sutradara: Ridho Ramadhan
โœ๏ธ Karya: Titas Suwanda
โญ Aktor: Niken Aulia Ramadiansyah





Pimpinan Bersama Segenap Karyawan dan Keluarga Besar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V (Provinsi Jambi dan Provinsi...
19/03/2026

Pimpinan Bersama Segenap Karyawan dan Keluarga Besar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V (Provinsi Jambi dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi (19 Maret 2026)

Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Caka 1948
Semoga damai dan sejahtera menyertai kita semua.

Kanti-kanti Budaya, Ramadhan tahun ini sudahkan berbuka puasa dengan kue Pedamaran?  Kue Pedamaran bukan sekadar takjil,...
16/03/2026

Kanti-kanti Budaya, Ramadhan tahun ini sudahkan berbuka puasa dengan kue Pedamaran? Kue Pedamaran bukan sekadar takjil, tapi ada cerita tentang kearifan lokal dalam setiap suapannya.

Pada masanya, kue yang terbuat dari tepung beras, daun pandan dan gula aren. konon hanya dibuat dan disajikan pada bulan Ramadhan, khususnya saat Buka Puasa. Tekstur lembut Kue Pedamaran bercampur rasa manis gula aren di dalam takir daun pisang. Tentunya memberikan sensasi luar biasa saat dicicipi dan sangat cocok dijadikan makanan pembuka saat buka puasa.

Mumpung masih bulan Ramadhan, jangan lupa rasakan sensasi berbuka dengan kue ini. Bagikan pengalaman kamu di kolom komentar ya! ๐Ÿ‘‡

Kanti-kanti Budaya, pernahkah berkunjung ke Masjid Al-Ihsaniah di Olak Kemang? Di sana, terdapat Struktur Makam, didalam...
11/03/2026

Kanti-kanti Budaya, pernahkah berkunjung ke Masjid Al-Ihsaniah di Olak Kemang? Di sana, terdapat Struktur Makam, didalamnya bersemayam sosok Ulama yang memiliki peran penting pada masa Kesultanan Jambi. Yuk, intip kisah Sang Pangeran bernama lahir Al-Habib Idrus bin Hasan al-Jufri.

Pada masa Kesultanan Jambi, Pangeran Wiro Kusumo dipercaya memegang jabatan Perpatih Luar hingga Kerapatan Perpatih Dalam (Menteri Dalam Kerajaan) di masa Sultan Thaha Saifuddin. Jejak dan pengaruh sosok tokoh ini, juga dapat dilihat dari tinggalan Rumah Batu Olak Kemang

Bagikan postingan ini agar semakin banyak yang tahu sejarah hebat dari Seberang Kota Jambi! ๐Ÿ‘‡


Kanti-kanti Budaya, tahukah Kamu? Di keheningan rawa-rawa Jambi, saat rembulan bersembunyi (bulan mati), sebuah tradisi ...
10/03/2026

Kanti-kanti Budaya, tahukah Kamu?
Di keheningan rawa-rawa Jambi, saat rembulan bersembunyi (bulan mati), sebuah tradisi leluhur mulai menggeliat. Bukan sekadar berburu, Tkud adalah perpaduan antara seni musik, keberanian menembus kegelapan, dan penghormatan mendalam terhadap alam.

Ritual di Balik Kegelapan Malam
Perburuan dimulai saat jam menunjukkan pukul 8 malam hingga menjelang fajar. Di bawah rimbunnya hutan rawa, dua orang pemburu berbagi peran dengan presisi.
Sang Pengetuk Suara, bertugas meniup Tkud, suling bambu ajaib yang mampu menirukan suara burung Roak-roak atau Ayam-ayam dengan sangat identik.
Sang Penjemput, Bertugas mengambil burung-burung yang terpikat oleh "nyanyian" bambu tersebut dan terjebak di jaring.

Magis dan Pantangan:
Tkud bukan sekadar teknik, melainkan ritual yang sarat akan nilai spiritual. Sebelum bambu ditiup, Pento (mantra) dibacakan sebagai izin kepada "penghuni" gaib hutan. Para pemburu juga wajib mematuhi aturan ketat:
1. Sumping: Daun yang digulung dan diselipkan di telinga sebagai pelindung.
2. Busana Gelap: Untuk menyatu dengan bayang-bayang malam.
3. Hati yang Bersih: Keberhasilan buruan dipercaya berbanding lurus dengan kebersihan lahir dan batin sang pemburu.
4. Hukum Sang Raja: Jika "Ratu" atau "Raja" burung tertangkap, mereka wajib dilepaskan. Jika sang raja datang kembali, perburuan harus segera dihentikan sebagai bentuk penghormatan.

Sejak tahun 2019, TKUD telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Luar biasakan warisan budaya tak benda kategori Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta dari Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Kanti-kanti tertarik dan pengen merasakan tradisi ini, tulis komentarmu,๐Ÿ‘‡



Kanti-kanti Budaya, tahukah kamu? Di Dusun Senamat Ulu, pelestarian budaya dan alam adalah dua sisi koin yang tak terpis...
05/03/2026

Kanti-kanti Budaya, tahukah kamu? Di Dusun Senamat Ulu, pelestarian budaya dan alam adalah dua sisi koin yang tak terpisahkan.

Situs Senamat Ulu merupakan salah satu jejak prasejarah yang menarik di pedalaman Jambi. Tersembunyi di balik perbukitan Kecamatan Batin III Ulu, situs ini menawarkan pesona megalitik yang dibalut dengan tantangan perjalanan yang memacu adrenalin. Menariknya situs ini juga berada dalam lingkup wilayah Masyarakat Hutan Adat Bukit Bujang Dusun Senamat Ulu. Tentunya perpaduan harmoni kekayaan warisan budaya berpadu dengan rimbunnya Hutan Adat yang dijaga dan dilestarikan masyarakat adat.

Ukiran Misterius
Bagian atas menhir ini menyimpan teka-teki visual berupa goresan-goresan purba, tidak begitu jelas akibat aus dan ditumbuhi oleh Ischen, Goresan yang ada, terdiri dari tiga bentuk antara lain:
1. Bulatan: Terdapat empat buah lingkaran dengan diameter 2โ€“4 cm.
2. Persegi Panjang: Satu buah goresan berukuran 4x13 cm.
3. Telapak Kaki: Dua buah pahatan telapak kaki; satu berukuran besar (42x26 cm) dan satu berukuran kecil (21x9 cm).

Temuan ini berelasi dengan pengetahuan Batu Patah Sembilan yang diwarisi perihal tinggalan ini, masyarakat mengenal batu besar dengan bentuk agak melengkung, memiliki tanda berupa jejak harimau, kaki bayi dan cakar ayam. Mereka meyakini bahwa diatas batu terdapat bekas telapak kaki bayi, bekas cakar ayam, bekas batu asahan parang/pedang, dan ada juga bekas sabetan pedang.

Sebuah foto bercerita lebih dari seribu pesan, namun sebuah artefak bercerita tentang ribuan tahun perjalanan manusia. Mari kita lihat bagaimana Situs Senamatulu tetap lestari melintasi lorong waktu.

Mari jaga dan lestarikan warisan budaya nusantara agar cerita dari masa lalu tetap abadi hingga masa depan! ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ




***rBudaya

Kanti-kanti Budaya, pernah dengar kuliner bernama Kue Badak? Eits, tenang saja, kue ini bukan terbuat dari badak kok! Me...
04/03/2026

Kanti-kanti Budaya, pernah dengar kuliner bernama Kue Badak? Eits, tenang saja, kue ini bukan terbuat dari badak kok! Melainkan kuliner khas dari Pulau Lepar, Bangka Selatan yang sudah ada lebih dari 100 tahun! ๐Ÿ˜โœจ

Kenapa Namanya "Badak"? ๐Ÿค”
Ada dua alasan unik di balik namanya:
1. Ukurannya yang Jumbo: Di istilah lokal, "badak" sering dipakai sebagai metafora untuk sesuatu yang berukuran besar.
2. Bentuk yang Khas: Bentuknya yang melengkung sepintas menyerupai cula badak!

Kue ini bukan sekadar makanan, tapi simbol identitas dan kebersamaan masyarakat Pulau Lepar yang terus dijaga oleh pewaris dan pelestari pengetahuan ini seperti Ibu Roaita (62) dan Bapak Huzairi (65).

Yuk, lestarikan warisan budaya kita! ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
Penasaran ingin coba atau sensasi uniknya kuliner ini? Siapkan pertualanganmu ke Pulau Lepar, Pongok, Bangka Selatan. Bagi yang pernah ke Pongok, tulis komentarmu,๐Ÿ‘‡





Pernahkah Kanti-kanti Budaya membayangkan mencicipi kuliner yang wadahnya disediakan langsung oleh hutan? Kenalin, Kancu...
03/03/2026

Pernahkah Kanti-kanti Budaya membayangkan mencicipi kuliner yang wadahnya disediakan langsung oleh hutan? Kenalin, Kancung Beruk, kuliner tradisional unik dari Lekuk 50 Tumbi Lempur yang memadukan kearifan manusia dalam pelestarian hutan untuk menjaga hulu air.

Keunikan yang Tak Tergantikan
Bukan plastik atau daun pisang, makanan ini menggunakan kantong semar (Nepenthes sp.) sebagai wadah alaminya. Bayangkan, beras ketan pilihan dimasukkan ke dalam kantong-kantong tanaman ini, lalu direbus hingga matang sempurna.

Hasilnya? Sari pati dari kantong semar meresap ke dalam ketan, menciptakan perpaduan rasa autentik dan aroma khas yang mustahil didapatkan dari metode memasak lainnya.

Kuliner ini bukan tren sesaat. Kancung Beruk diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun lalu sebagai bentuk kearifan lokal yang bertahan melintasi zaman. Hingga hari ini, tradisi ini masih lestari sebagai identitas budaya yang kuat dalam tatanan Masyarakat Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi, Lempur, Kerinci.



Di jantung Kota Muntok, Bangka Barat, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah bernama Wisma Ranggam. Bangunan bergaya E...
02/03/2026

Di jantung Kota Muntok, Bangka Barat, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah bernama Wisma Ranggam. Bangunan bergaya Eropa ini bukan sekadar penginapan biasa, melainkan simbol perjuangan kedaulatan Republik Indonesia.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 210/M/2015 Wisma Ranggam telah ditetapkan sebagai Bangunan C***r Budaya Peringkat Nasional pada tanggal 5 November 2015.
Kini, Wisma Ranggam tetap tegak berdiri sebagai pengingat akan kesatuan dan semangat pantang menyerah para pahlawan dalam meraih pengakuan kedaulatan bangsa.


27/02/2026

๐Ÿ—ก๏ธ Datuk Tagak Kubo: Antara Luka dan Setia (Bag.4)
Dahulu, bumi bergetar saat ia melangkah. Dengan tombak di tangan dan ribuan pasukan di belakangnya, ia adalah Panglima Perang yang tak terkalahkan. Namun, medan perang tidak hanya memberi kemenanganโ€”ia juga merenggut segalanya.

Dalam gelapnya kebutaan, dunia mungkin menganggapnya telah "cacat" dan tak lagi berdaya. Mereka memanggilnya "datuk-datuk" dengan nada iba, seolah sisa hidupnya hanyalah menunggu waktu.

Bagaimana kelanjutan ceritanya, mari kita simak Monofolk Datuk Tagak Kubo.

Monofolk merupakan singkatan dari Monolog Folklor. Festival ini bukanlah ajang perlombaan-tidak ada juara, tidak ada pemenang. Yang dihadirkan adalah pementasan monolog yang menghidupkan kembali cerita-cerita rakyat Jambi. Setiap karya tampil sebagai ruang apresiasi, tempat cerita diwariskan dan dinikmati bersama, bukan sebagai arena kompetisi.

Salah satu cerita yang mereka angkat adalah Cerita Rakyat Jambi "Datuk Tagak Kubo" versi teater kontemporer!
Apa pesan moral yang dapat diambil dari pementasan cerita ini.
Penasaran bagaimana kisahnya dibawakan di panggung Monofolk?

โœจ Yuk simak pementasannya melalui video berikut!
Persembahan dari:
๐ŸŽฌ Teater Art in Revolt (AiR) Jambi
๐ŸŽญ Sutradara: Agung Syahputra
โœ๏ธ Karya: Laila Fajrianti
โญ Aktor: Refo Argo Bhernando






Address

Jalan Samarinda, Kota Baru
Jambi
36128

Opening Hours

Monday 08:30 - 16:00
Tuesday 08:30 - 16:00
Wednesday 08:30 - 16:00
Thursday 08:30 - 16:00
Friday 08:30 - 16:30

Telephone

+6274140126

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V:

Share