11/08/2025
YANG TERBAIK, YANG TAK TERDUGA
(Teks Lukas 10:38–42)
“Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:42)
1. Yang Lazim dan Yang Dibalikkan
Dalam masyarakat Yahudi abad pertama, struktur pendidikan dan spiritualitas bersifat patriarkal dan eksklusif. Para rabi mengajar laki-laki—baik orang dewasa maupun anak-anak muda—yang nantinya bertugas meneruskan ajaran itu kepada perempuan di rumah. Perempuan tidak duduk di ruang pengajaran, tetapi di dapur; tidak menimba firman, tetapi menimba air; tidak duduk di kaki guru, tetapi berdiri di belakang menyediakan makanan.
Namun, narasi singkat dalam Lukas 10:38–42 secara tajam dan halus membalikkan pola ini.
2. Dua Saudara, Dua Respon, Dua Dunia
Ketika Yesus mengunjungi rumah dua saudara, Maria dan Marta, reaksi mereka sangat kontras. Marta, sesuai harapan budaya, sibuk melayani. Maria, yang seharusnya membantu, malah duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya (ay. 39).
Frasa Yunani "παρὰ τοὺς πόδας τοῦ Κυρίου" bukan sekadar posisi fisik, tapi posisi disiplikal (murid sejati)—seperti Paulus di kaki Gamaliel (Kis. 22:3). Ini adalah tindakan teologis yang radikal, sebab Maria melanggar norma peran gender demi satu hal: relasi langsung dengan Yesus.
Ketika Marta meminta Yesus “menegur” Maria (ay. 40), Yesus tidak mengecam pekerjaan Marta, tetapi kekhawatiran dan kegelisahan hatinya yang menggambarkan kesibukan religius yang kehilangan pusat relasi.
3. Reversal Narrative: Pembalikan Tradisi melalui Yesus Kristus
Yesus menjawab Marta dengan mengarahkan mata hati kita pada hal yang paling esensial:
“Maria telah memilih bagian yang baik (ἀγαθὴν μερίδα) yang tidak akan diambil dari padanya.”
Ungkapan ini penuh bobot:
• “Bagian” (μερίδα) adalah metafora untuk warisan, hak istimewa, dan relasi yang kekal (bdk. Mzm. 16:5).
• “Tidak akan diambil” menunjukkan bahwa relasi dengan Yesus lebih kokoh daripada pelayanan atau status sosial apa pun.
Di sinilah pembalikan itu terjadi:
• Yang seharusnya pasif (Maria) menjadi subjek utama dari pujian Yesus.
• Yang aktif (Marta) justru perlu ditenangkan dan diarahkan ulang.
Maria melampaui peran gender tradisional, bukan dalam semangat pembangkangan, tapi dalam kerinduan akan keintiman dengan Tuhan.
4. Relasi Lebih Daripada Tradisi: Yesus sebagai Tuhan, bukan sekadar Guru
Kata yang digunakan Lukas untuk menyebut Yesus dalam ayat ini adalah “ho Kyrios” (Tuhan), bukan sekadar “rabi” atau “guru” (didaskalos). Di sinilah letak kunci tafsirnya:
Maria tidak sedang menduduki posisi seorang murid dari seorang pengajar. Ia sedang masuk ke dalam relasi dengan Tuhan. Ia tidak sedang hanya belajar, tetapi menerima hidup dari Sang Pemberi hidup kekal.
Dengan demikian, “yang terbaik” adalah bukan sekadar pilihan aktivitas, tapi pilihan eksistensial dan eskatologis: relasi dengan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
5. Amanat Injil Lukas bagi Teofilus dan Kita
Injil Lukas ditulis untuk Teofilus, seorang percaya yang sedang mencari kepastian akan pengajaran iman (Luk. 1:4). Maka, kisah Maria dan Marta bukan sekadar ilustrasi moral, tapi testimoni teologis:
Bahwa yang “terbaik” dan “tidak terduga” adalah relasi pribadi dan mendalam dengan Yesus—sebuah pilihan radikal yang kadang bertentangan dengan tradisi sosial maupun religius.
6. Dari Tradisi Menuju Relasi
Marta bukan gambaran orang jahat — tapi representasi banyak orang Kristen yang aktif melayani tapi kehilangan relasi.
Maria bukan pemberontak — tapi simbol mereka yang berani melangkah keluar dari ekspektasi sosial demi mengalami Tuhan secara pribadi.
Yesus tidak menolak pelayanan — tetapi menunjukkan bahwa pelayanan harus mengalir dari relasi, bukan menggantikannya.
7. Yang Terbaik, Yang Tak Terduga
Maria memilih yang terbaik karena ia memilih Yesus. Dan pilihan itu adalah “yang tidak akan diambil darinya”, karena relasi dengan Sang Juruselamat adalah inti dari hidup kekal itu sendiri.
Dalam dunia yang sibuk, religius, dan penuh beban seperti Marta, kita dipanggil untuk menjadi Maria—bukan dengan meninggalkan pelayanan, tapi dengan menempatkan relasi dengan Yesus sebagai pusat dan sumber dari segala sesuatu.
Sebab hidup kekal bukan hanya soal apa yang kita lakukan untuk Tuhan, tetapi siapa yang kita kenal dan kasihi di dalam Tuhan.
SOLA DEI GLORIA..