Pergerakan Kebangsaan

Pergerakan Kebangsaan Meletakkan prinsip self-help sbg tumpuan kekuatan serta mendorong terciptanya lapisan sosial masyara Ini harus dibaca sebagai proses liberalisasi.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 1998 kami beberapa sisa aktivis mahasiswa tahun 80-an berkumpul di sebuah desa di kota kecil Tulung Agung di Jawa Timur - merespon gejolak tuntutan reformasi yang sedang menggelora saat itu. Dari fenomena yang nampak saat itu kami khawatir bahwa reformasi tidak akan menghasilkan apapun, bahkan riak-riak euforianya bisa mengarah pada bentuk-bentuk vandalisme yang

distruktif. Kekhawatiran tersebut dilandasi dengan pengamatan kami atas fenomena tarik menarik kepentingan kapitalis global yang menjadi proloog desakan eksternal terhadap Pemerintah RI untuk melakukan reformasi. Desakan eksternal ini menjadi bahan bakar kondisi psikopolitik aktivis mahasiswa, NGO serta elemen kritis lainnya yang sudah sangat jenuh dengan kekuasaan Orde Baru yang begitu represif. Maka secara keseluruhan kami melihat bahwa Reformasi 97 – 98 yang akhirnya mampu menumbangkan Orde Baru – lebih berat bobot tarikan eksternalnya, ketimbang bobot tekanan internalnya. Oleh karenanya p**a, jika Reformasi dilihat sebagai koreksi atas Orde Baru, maka koreksi tersebut bukan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara Indonesia, melainkan untuk kepentingan kapitalis global. Satu lagi tragedi dalam episode sejarah Indonesia modern ini. Negeri kaya raya sumber daya alam ini dibanting oleh kekuatan Kapitalis Global untuk kemudian dicengkeramnya kembali erat-erat. Privatisasi BUMN, deregulasi begitu gencarnya di awal episode Orde Reformasi. Aliran modal berupa Hot money– yang nota bene sangat rentan karena wataknya yang liar - datang dan pergi, diterima mentah – mentah demi cadangan devisa. Undang-undang Penanaman Modal Asing tahun 1967, dirasa masih kurang cukup memberi keleluasaan, dibuatlah Undang-undang Penanaman Modal Asing yang baru, yang memberi peluang konsensi bagi Modal Asing untuk menguasai tanah negeri ini selama 95 tahun dengan perpanjangan 95 tahun lagi. Alhamdulillah Mahkamah Konstitusi kemudian menganulir pasal ini. Namun bukan berarti pertarungan sudah berakhir. Kita masih harus waspada dengan siasat berikutnya, karena semua fenomena di atas tidak lain merupakan upaya penyesuaian terhadap kepentingan Kapitalis Global. Masih di tahun 1998 kami berkumpul lagi di desa Sedayu, Bantul – Jogjakarta. Ketika semua elemen pro reformasi, para pengamat, para pakar dan politisi optimis dengan harapan, bahwa “Pemilihan Umum yang akan dilaksanakan tahun 1999, akan mengakhiri masa transisi di Indonesia” – kesimp**an diskusi kami mengatakan lain; “Bahwa Pemilihan Umum Tahun 1999 justru akan memperpanjang masa transisi – karena reformasi tidak disertai dengan perubahan paradigma”. “Kemenangan reformasi tidak disertai kemenangan ideologis”. Partai-partai politik yang segera menjamur saat itu mengapresiasi Pemilihan Umum 1999, merupakan konsekuensi pecahnya konsentrasi kekuasaan dari satu tangan pada masa Orde baru - menjadi beberapa kutub kekuasaan yang berpusat pada tokoh-tokoh berpengaruh. Kekuatan ekonomi nasional pun tersebar mengikuti polarisasi itu. Persebaran kekuatan ekonomi nasional itulah yang selanjutnya akan mendorong tumbuh suburnya oligarkhi-oligarkhi yang menguasai partai politik. Pada saatnya, oligarkhi-oligarkhi ini akan memainkan perannya p**a sebagai oligarkhi adi tingkat negara. Akibatnya, dapat dipastikan-aspirasi rakyat akan tersumbat dan terblokir oleh kepentingan oligarkhi itu. Maka dapat disebutkan, bahwa Orde Reformasi yang diharapkan menjadi Orde Demokrasi “retak pada pilar utamanya”. Di sisi lain, agaknya banyak yang lupa bahwa sejarah pergolakan Indonesia modern yang diawali sejak seabad yang lalu, selalu tidak pernah lepas dari pengaruh pertentangan kepentingan kapitalis internasional. Bahkan Kemerdekaan Indonesia tahun 45, tidak lepas dari pengaruh pertentangan kepentingan kapitalis internasional ini. Momentum vacuum power akibat puncak konflik kepentingan kapitalis di Asia Pasifik – dimanfaatkan secara tepat oleh para founding fathers untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Jatuhnya Sukarno tahun 65 juga tidak lepas dari pengaruh eksternal. Faktanya begitu Orde Baru naik ke panggung kekuasaan, serentak dengan itulah geolontoran hutang dan modal asing menyerbu Indonesia. Dan, sejak saat itulah Indonesia kembali berada dalam cengkeraman Kapitalis Global. Begitu p**a dengan gejolak reformasi tahun 1998. Reformasi tidak dipersiapkan sebagai jalan untuk keluar dari belenggu kapitalis global – bahkan faktanya semakin mendorong Indonesia ke dalam pelukan kepentingan mereka. Maka tanpa sadar p**a bangsa ini telah melakukan penghianatan atas sejarahnya sendiri. Kolonialisme, kapitalisme, imperialisme yang secara historis ditempatkan sebagai biang keladi kehancuran, penindasan, penghisapan, kesengsaraan dan kemiskinan, sekarang dipersilahkan bebas merajalela menjarah kekayaan alam negeri ini. Negara telah kehilangan fungsinya untuk memproteksi rakyatnya sendiri, karena lebih mengutamakan pelayanan bagi kepentingan kapitalis global. Dari pertemuan di desa Sedayu itu lahirlah kesepakatan untuk mendirikan “Sanggar Kebangsaan” – sebagai langkah keluar dari “persembunyian”. Namun disadari p**a bahwa Sanggar Kebangsaan sebagai “sanggar” hanyalah sebagai tempat refleksi, belajar dan mengasah pemikiran. Sanggar tidak untuk melakukan action. Padahal, keluar dari persembunyian tanpa melakukan action – tidak akan membuahkan hasil optimal. Dengan kata lain kita belum akan bisa berbuat banyak bagi republik ini. Pada putaran pertemuan - pertemuan berikutnya kemudian disepakati, bahwa Sanggar Kebangsaan harus p**a membentuk wahana untuk melakukan action. Untuk kebutuhan action Sanggar Kebangsaan dapat membentuk komite-komite adhoc. Dalam perjalanan berikutnya, Sanggar Kebangsaan melakukan serangkaian tour untuk menebarkan benih gagasan dengan berbagai tema. Pada intinya dimaksudkan sebagai upaya membangun kesadaran politik rakyat. Kesadaran politik dalam arti sesungguhnya, agar rakyat benar-benar mengetahui dan memahami berbagai persoalan politik yang dihadapi bangsa dan negara ini

Usai Pemilihan Umum 2004, Sanggar Kebangsaan terus meningkatkan intensitas penyadaran politik rakyat. Upaya ini dilakukan baik melalui acara yang diselenggarakan oleh Sanggar Kebangsaan atau Komite yang dibentuk di daerah daerah, maupun acara yang dilakukan pihak lain dengan aktivis Sanggar Kebangsaan diundang sebagai pembicara. Demikianlah, Sanggar Kebangsaan dan komite-komite yang dibentuk berjalan dan beraktivitas tanpa struktur organisasi, tanpa kepengurusan, tanpa donor, dan tanpa kantor sekretariat selama kurang lebih 10 tahun hingga hari ini. Semuanya dapat berlangsung dengan baik lancar dan sehat, hanya dengan mengandalkan sumberdaya persahabatan, ke-saling percayaan (trust), dan terutama dengan mengandalkan sumberdaya Pengetahuan (Knowledge) yang dimiliki. Dalam perjalanan aktivitasnya Sanggar Kebangsaan menemukan realitas berupa umpan balik dari masyarakat. Di kalangan masyarakat bawah kini terjadi kegelisahan – melihat kenyataan bahwa Pancasila telah banyak dilupakan oleh para pejabat negara dan elite politik. Kegelisahan ini wajar. Sepanjang masa Orde baru, meskipun Pancasila tidak dioperasionalkan dalam program dan kebijakan pembangunan, namun para pejabat semasa Orde Baru selalu menyebut Pancasila dalam berbagai ucapan maupun pidato-pidatonya. Begitu Orde Baru runtuh – maka Pancasila sebagai bunyi-bunyian juga sepertinya lenyap dari atmosfir politik di Indonesia. Ketika Orde Reformasi tidak mengoperasionalkan Pancasila dalam kebijakan-kebijakannya, maka Pancasila-boleh dikata benar-benar hilang dari peredaran. Melihat kenyataan itu, Sanggar Kebangsaan berkesimp**an – bahwa hanya rakyatlah yang benar-benar bisa menjadi kekuatan pengawal Pancasila. Meski hampir semua pejabat apabila ditanya tentang hal itu - akan menjawab bahwa “Pancasila dan NKRI adalah Harga Mati”, akan tetapi berdasar pengalaman dan praktek kenegaraan selama ini, adalah merupakan kekeliruan besar apabila kita semata-mata menggantungkan kepercayaan kepada mereka. Dari sinilah Sanggar Kebangsaan mulai menanamkan keyakinan pada masyarakat, bahwa rakyatlah kekuatan yang sesungguhnya untuk mengawal dan mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sejak tahun 2005 Sanggar Kebangsaan memulai aksi-aksinya untuk melakukan pembasisan Pancasila. Sejak saat itu p**a intensitas pendidikan politik rakyat terus diintensifkan melalui berbagai tema dalam bingkai besar “Pembasisan Pancasila”.

01/10/2013

Sering kita jumpai orang-orang mengatakan sudah mengerti dan sudah memahami Pancasila sampai ke tulang sumsumnya, tapi tidak berdaya menghadapi situasi liberal yang melanda semua bidang kehidupan bangsa dan negara, bahkan tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi di negara Pancasila.
http://pergerakankebangsaan.org/wp-content/uploads/2012/Buku_PS.pdf

Terbit Buku :SATUNYA KATA DAN TINDAKANRyamizard Ryacudu, Kepemimpinan dan Kita17 Agustus 2013
05/09/2013

Terbit Buku :
SATUNYA KATA DAN TINDAKAN
Ryamizard Ryacudu, Kepemimpinan dan Kita
17 Agustus 2013

Salah mengkomunikasikan gambar besar ini akan menjadikan salah pemahaman terhadap masalah bersama kita, dalam hal ini, m...
11/06/2013

Salah mengkomunikasikan gambar besar ini akan menjadikan salah pemahaman terhadap masalah bersama kita, dalam hal ini, masalah kesehatan. Maka, sungguh diharapkan bagi pengelola kebijakan, siapa pun itu, dapat hati-hati dalam menjelaskan masalah publik ini. Deng Xiaoping memberikan contoh bagaimana sikap hati-hati, tetapi tetap berani dan konsisten telah membawa bangsa China dapat maju sampai sekarang ini.

Menurut guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany, belanja kesehatan dan keluarga karyawan Bank Mandiri bisamenghabiskan lebih dari Rp 3 juta per orang per bulan. Karyawan di BUMN lain juga umumnya menghabiskan jutaan rupiah tiap tahun. Askes untuk PNS sa...

He and his boss
06/06/2013

He and his boss

02/06/2013
Sebagai Dasar Negara, Pancasila harus menjadi landasan moral bagi setiap penyelenggara negara yang tercermin dalam setia...
01/06/2013

Sebagai Dasar Negara, Pancasila harus menjadi landasan moral bagi setiap penyelenggara negara yang tercermin dalam setiap kebijakan dan produk UU.
Pancasila bukan sekump**an nilai-nilai moral individual untuk mengatur setiap hidung rakyat Indonesia.

Sekitar 400 orang yang tergabung dalam Masyarakat Pengawal Pancasila MPP Joglosemar mengelar aksi demo di bundaran Universitas Gajah Mada Yogyak

Maka Panca Sila akan terancam terkubur adalah juga ketika pergerakan atau perjuangan dari para pendukungnya mulai kabur ...
29/05/2013

Maka Panca Sila akan terancam terkubur adalah juga ketika pergerakan atau perjuangan dari para pendukungnya mulai kabur tak tentu arahnya. Ketika 1 Juni misalnya, berhenti dimaknai sebagai hari ketika sebuah pidato legendaris diucapkan oleh Si B**g, lepas dari keringat dan darah perjalanan panjang si B**g. Lepas dari keprihatinan mendalam dari nasib rakyat kebanyakan, yang mana dari situlah si B**g mendapatkan energi juang yang tiada habis itu. Maka sisi gelap yang membayangi peringatan hari lahirnya Panca Sila tanggal 1 Juni adalah sekaligus, tanpa kita sadari, juga menyiapkan kubur bagi Panca Sila. Oleh para pengubur Panca Sila.

Penggali Panca Sila, atau bahkan jika mau lugas, pencipta Panca Sila adalah B**g Karno. 1 Juni 1945 kalau kita lihat lebih dalam, bukanlah sekadar Lahirnya Panca Sila, tetapi adalah juga keringat dan darah perjalanan panjang si B**g. Tidak hanya B**g Karno, tetapi juga pejuang-pejuang kemerdekaan la...

Analisis demokrasi selama era Orde Baru yang sering berkesimp**an sebagai “demokrasi seolah-olah”, dan genderang yang di...
26/05/2013

Analisis demokrasi selama era Orde Baru yang sering berkesimp**an sebagai “demokrasi seolah-olah”, dan genderang yang ditabuh pada awal reformasi seakan menunjukkan ada situasi “kelaparan’ demokrasi. Dan betul, melihat gejala pada pemilihan umum 1999, seakan kelaparan itu sudah mendapatkan jawabannya.

Yang tersembunyi, hidden, tidak selalu bersifat konspiratif. Yang tersembunyi kadang justru bisa terkait dengan kebenaran. Bagi Martin Heidegger, kebenaran, truth adalah momen ketersingkapan. Karena terkait dengan hal tersingkap, maka jelas ada hal tersembunyi. “Benar” dalam “kebenaran” bukan lagi s...

Ada ito Prajna Nugroho, S Wibowo, mereka adalah staf pengajar dari STF Driyakara. Tidak hanya itu, hadir p**a saat memba...
25/05/2013

Ada ito Prajna Nugroho, S Wibowo, mereka adalah staf pengajar dari STF Driyakara. Tidak hanya itu, hadir p**a saat membahas fenomenologi politik, Drs. Sudaryanto dari Komite Nasional Pergerakan Bangsa.

Fenomenologi Indonesia di Politik 2014

AUSEINANDERSETZUNG: FENOPOL di tengah Civitas Academica FISIP Universitas Airlangga, Surabaya
22/05/2013

AUSEINANDERSETZUNG: FENOPOL di tengah Civitas Academica FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

Gambar21 Mei 2013 by Fenopol AUSEINANDERSETZUNG: FENOPOL di tengah Civitas Academica FISIP Universitas Airlangga, Surabaya Bagikan ini:Like this:SukaMemuat... Bookmark the permalink.Tinggalkan Komentar

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pergerakan Kebangsaan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Pergerakan Kebangsaan:

Share