22/06/2020
Proposal Penelitian S3
Kapankah kita merancang penelitian untuk S3? Pertanyaan ini sering saya temukan dalam diskusi teman-teman sesama dosen. Kebanyakan teman saya yang dosen sudah diubun-ubun niatnya untuk melanjutkan S3, tetapi selain keterbatasan dana, mereka juga kesulitan menentukan ide penelitian. Apa yang mau diteliti? Rasanya semua hal sudah di teliti oranng. Kebanyakan teman-teman saya mentok di sana, mereka tidak tahu harus meneliti apa, walaupun semangat S3 sudah sangat membara.
Masalah ide memang sedikit penting, walaupun tidak penting-penting amat. Ibarat kata dokter, yang penting pola hidupnya perlu dijaga. Jika sering mengkonsumsi jurnal-jurnal atau konfren-konfren terbaru dan berdiskusi di lingkungan tridarma perguruan tinggi, ide dengan mudah di dapatkan. Jadi, sebelum kita merancang penelitian untuk S3, kita perlu terlebih dahulu menentukan ide penelitian S3 kita tersebut. Bagaimana caranya? Ada beberapa cara yang bisa saya rangkumkan dari berbagai bahan bacaan dan pengalaman. Tapi tips saya lebih kepada penelitian sosial, bukan penelitian sains.
Pertama, adalah dari pengamatan peribadi. Seperti apa pengamatan pribadi itu? Kita mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat. Terkadang terdapat fenomena yang terjadi di masyarakat tetapi berbeda dengan literature yang ada. Seperti apa contohnya? Contoh sederhananya, banyak mahasiswa lebih s**a menjadi mahasiswa akuntansi, tetapi banyak tamatan akuntansi yang tidak s**a menjadi akuntan. Fenomena apakah itu? Mengapa bisa terjadi demikian? Ini contoh sederhana. Masih banyak contoh yang lain.
Kedua, dari membaca literatur. Dengan membaca banyak literature, jurnal-jurnal penelitian terkini, prosiding-prosiding terkini, kita bisa mendapatkan ide-ide penelitian yang terbaru. Oleh sebab itu, kebanyakan pembimbing mahasiswa mewajibkan mahasiswanya untuk membaca banyak jurnal, supaya bisa menemukan ide penelitian. Pembimbing S3 saya dulu mewajibkan saya membaca jurnal-jurnal scopus Q1 dan Q2. Belakangan pembimbing saya mengatakan bahwa dengan membaca jurnal-jurnal Q1 dan Q2, kita bisa mendapatkan ide dari penelitian-penelitian yang memang sudah melalui proses review yang ketat, sehingga ide penelitian kita nantinya bisa lebih update dan memiliki dasar yang kuat.
Ketiga, melanjutkan saran peneliti-peneliti sebelumnya. Jika kita membaca jurnal atau disertasi milik peneliti sebelumnya, kita akan sering menjumpai sebuah sub-bab yang mengatakan bahwa penelitian mereka memiliki beberapa kekurangan atau kelemahan. Mereka akan menyebutkan kekurangan dan kelemahan penelitian mereka secara kongkrit dan jelas. Misalnya, mereka menulis, “penelitian ini hanya menggunakan sampel sebanyak 100 mahasiswa akuntansi, sehingga potensi bias semakin besar”, atau contoh lain, “penelitian ini hanya meneliti kampus-kampus big 5 di Indonesia, akan lebih baik jika peneliti selanjutnya juga menambah sampel dari kampus big 5 di negara-negara Asia Tenggara”. Statement-statement seperti itu bisa kita jadikan sebagai ide dasar penelitian S3 kita.
Dari ketiga cara tersebut, masing-masingnya memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan cara pertama adalah kita bisa menemukan ide penelitian dengan mudah, apalagi jika kita termasuk dosen yang memiliki banyak jam terbang di lapangan, seperti pernah menjadi praktisi atau selalu melakukan pengabdian di masyarakat. Pada cara pertama ini, kita mesti memiliki kepakaran dalam bidang kita tersebut, sehingga kita bisa mengambil fenomena yang terjadi. saya termasuk salah seorang yang menggunakan metode ini. Dengan latar belakang praktisi dan akuntan perusahaan yang miliki, saya bisa menjelaskan fenomena ini dengan baik kepada calon supervisor S3 saya. Tetapi kelemahannya adalah karena menggunakan pengamatan pribadi, kita akan kesulitan untuk mendapatkan literature pendukung. Ide penelitian mungkin termasuk fresh dan original dari pengamatan kita sendiri, tetapi jika tidak ada literature yang mendukung, maka penelitian kita tersebut akan memiliki kelamahan dalam pondasi penelitian, sehingga sedikit argument dari dari penguji, kita akan kesulitan untuk mempertahankan penelitian kita tersebut, sehingga dalam ujian doctoral, bisa jadi kita di suruh mengulang ujian doctor atau malah gagal.
Kelebihan cara kedua adalah kita akan memiliki banyak literatur yang bisa kita gunakan. Literature yang melimpah akan membuat kita mudah dalam menyusun disertasi nantinya, terutama bab literature review. Akan tetapi kelemahannya adalah dari segi waktu. Untuk membaca sekian banyak jurnal kemudian membuat rangkuman jurnal yang kita baca dan lain sebagainya akan menghabiskan banyak waktu. Jika kita memiliki kemampuan bahasa Inggris baik, membaca jurnal-jurnal bahasa Inggris mungkin akan seperti membaca koran, tetapi bagi kita yang lemah dalam bahasa Inggris, pembacaan jurnal menjadi kendala tersendiri p**a.
Kelebihan cara ketiga adalah kita bisa mendapatkan ide penelitian dengan mudah, sebab sudah dinyatakan dalam penelitian terdahulu tersebut. Dan secara etik penelitian, bukan merupakan aib jika kita menjadikan hasil penelitian terdahulu sebagai ide penelitian, asal di nyatakan dengan jelas dalam penelitian kita bahwa ide penelitian tersebut di adaptasi atau di adopsi dari penelitian Fulan bin Fulan. Selain itu, dari sisi literature, kita juga memiliki sumber literature yang juga bisa dipertanggung jawabkan. Sedangkan kelemahan cara ketiga ini adalah ide penelitian itu tidak lagi fresh, dan bisa saja terdapat mahasiswa S3 lain yang menggunakan ide tersebut. Ide yang tidak fresh ini sebetulnya juga bukan masalah, akan tetapi akan menjadi canggung jika pada saat ujian doctoral, penguji mengatakan, “Kok penelitian ini sepertinya pernah saya baca di suatu tempat”.
Ada banyak cara lain untuk mendapatkan ide penelitian S3, tapi yang paling sering saya temui adalah 3 cara diatas. Pertanyaan selanjutnya, jika ide penelitian sudah kita dapatkan, kapankah kita mulai merancang penulisan proposal penelitian kita? Akan coba saya bahas dalam tulisan selanjutnya.
, , , ,