28/11/2013
Pengusaha Empat Menteri
Semua capaian karier politiknya itu tak ia dapatkan secara instan. Setelah tamat dari kuliah, Insinyur Teknik Perminyakan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berkarier di dunia usaha. Mulai dari teknisi lapangan PT Bina Patra Jaya dan wakil manajer teknis PT Meta Epsi. Dan bersama teman-temannya ia merintis badan usaha yang bergerak di bidang perminyakan sesuai pendidikannya. Sejak 1982-2000, ia menjabat sebagai Presiden Direktur PT Arthindo. Perusahaan ini banyak berkerjasama dengan perusahaan asing dan juga Pertamina.
Tak lama setelah PAN dideklarasikan pada 23 Agustus 1998, Hatta bergabung ke partai berlambang matahari terbit itu. Begitu memutuskan menjadi politisi, kesuksesannya di dunia usaha itu ia tinggalkan demi karier barunya di politik. Perusahaannya ia jual. Jabatannya sebagai presiden direktur selama puluhan tahun ia tanggalkan. Ia berhenti total dari dunia usaha.
Keputusan ini tentu tidak mudah diterima oleh istri dan anak-anaknya. Awalnya, keluarga menolak keras keputusan Hatta. Bukan hanya dari segi pendapatan finansial berkurang, tapi juga waktu Hatta untuk keluarga akan semakin sedikit. Tapi lambat-laun Hatta mampu meyakinkan keluarganya. Kini mereka mafhum bahwa perjuangan dan pengabdian Hatta di bidang politik adalah bagian dari ibadah.
Di awal kariernya di PAN ia dipercaya menjadi Ketua Departemen Sumber Daya Alam dan Energi DPP PAN. Beberapa saat kemudian ia diberi amanat menjadi ketua pemenangan Pemilu 1999 PAN.
Pada Pemilu 1999 PAN menempati partai terbanyak kelima dengan meraih 7,12 persen suara atau 34 kursi DPR. Dan Hatta sendiri terpilih menjadi Anggota DPR dari daerah pemilihan Bandung. Di lembaga legislatif itu, ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Reformasi DPR RI (1999-2000). Wartawan DPR/MPR waktu itu memasukkannya sebagai salah satu dari 10 Anggota DPR terbaik.
Kariernya di partai terus menanjak. Pada Kongres I PAN di Yogyakarta, 10-13 Februari 2000, Hatta dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal DPP PAN, dan Amien Rais sebagai ketua umumnya untuk periode 2000-2005. Pada Kongres III, Hatta terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP PAN periode 2010-2015 PAN, 9 Januari 2010 di Batam, Kepulauan Riau, menggantikan Soetrisno Bachir. Ia juga secara resmi diusung PAN sebagai capres 2014 melalui Rakernas PAN 2011.
Sejak 2001 sampai kini, ia telah menduduki empat kursi menteri secara berturut-turut. Selama tiga tahun (2001-2004) ia menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kabinet Gotong Royong di era Megawati.
Setahun jadi Menristek, ia berhasil mengharumkan nama Indonesia. Ia terpilih secara aklamasi sebagai President of The 46th General Conference of The International Atomic Energy Agency (IAEA). Di konferensi badan atom internasional yang dihadiri 143 delegasi negara ini, untuk pertama kalinya putra Indonesia dapat kepercayaan memimpin sidang IAEA yang berlangsung 16-20 September 2002 di Vienna, Austria. Ia berhasil membangun dialog serta lobilobi dengan setiap delegasi, baik dari perwakilan negara-negara Eropa, Israel maupun negara-negara Arab. Sidang yang ia memimpin itu menelorkan 23 resolusi. Dua di antara resolusinya tentang perdamaian Timur Tengah dan pelucutan senjata nuklir Irak.
Di bawah kepemimpinannya ia juga memperbaiki manajemen Badan Pengkajian dan Penerapat Teknologi. Bahkan BJ Habibie pernah berkata, “Untung ada Hatta. Kalau tidak, BPPT sekarang entah jadi apa.”
Saat jadi Menteri Perhubungan (2004-2007) Kabinet Indonesia Bersatu jilid I tak ada terobosan maupun prestasi yang berarti. Bahkan saat jadi Menhub terjadi beberapa kecelakaan transportasi. Di antaranya musibah Mandala Airlines Penerbangan 91, Kecelakaan KM Digoel, Musibah KM Senopati Nusantara, Adam Air Penerbangan 574, dan Garuda Indonesia Penerbangan 200. Mungkin, salah satunya, karena itu ia menjabat sebagai Menhub di era SBY jilid I cuma tiga tahun karena terjadi perombakan kabinet.
Dalam perombakan kabinet itu, Hatta dipercaya SBY memegang kendali tata kelola pemerintahan sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Menggantikan Yusril Ihza Mahendra. Saat menjadi Mensesneg ia mampu menjadi corong komunikasi SBY dengan berbagai pihak. Kemampuannya berkomunikasi, melobi, dan berdiplomasi semakin teruji.
Karena itulah pada Pemilu 2009, setelah dua kali dipercaya menjadi menteri di era SBY jilid I, Hatta dipercaya menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono. Ia berhasil menggantarkan SBY-Boediono menjadi pemenang dalam satu putaran dengan perolehan suara 60,80 persen. Mengalahkan Pasangan Megawati-Prabowo (26,79 persen) dan Jusuf Kalla-Wiranto (12,41 persen).
Sukses menjadi tim kampanye SBY-Boediono, Hatta dipercaya menjadi Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014). Awalnya banyak orang meragukan Hatta sebagai insinyur perminyakan mampu menjawab soal perekonomian. Tapi kinerjanya menunjukkan hal yang berbeda.
Hingga kini, perekonomian Indonesia masih menunjukkan tren positif di tengah hantaman resesi dan kelesuan ekonomi global, khususnya di belahan Eropa, Amerika, dan sebagian proper Asia. Di tangan Hatta pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka enam persen, dan bahkan bisa tumbuh sampai 6, 3 persen. Bahkan persentase pertumbuhan ekonomi Indonesia menempati peringkat kedua di dunia setelah RRC sebesar 7,8 persen. Walaupun belum mencapai target yang ditetapkan APBN 2013 sebesar 6,8 persen, Hatta yakin ekonomi Indonesia akan tumbuh di atas enam persen.
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Di bawah kementeriannya, ia menelurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Melalui Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011, MP3EI menjadi arah pembangunan ekonomi Indonesia sejak 2011 hingga 2025.
Dengan pertumbuhan itu, kata Hatta, tingkat kemiskinan bisa diturunkan dari tahun 2004 sebesar 16,6 persen menjadi 11.4 persen pada akhir 2012. Tingkat pengangguran menyusut menjadi 5,92 persen di 2012 dari sebelumnya di 2004 sebesar 9,9 persen. Masyarakat kalangan menengah kita juga ada 74 juta yang belanjanya hampir 200 dolar (AS) setiap hari. Ditambah ada 20 juta orang yang belanjanya jauh di atas angka itu.
Sebuah lembaga riset internasional, Euromonitor memprediksi bahwa pada tahun 2020 sekitar 58 persen penduduk Indonesia akan masuk kategori penduduk ekonomi menengah. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan ekonomi Cina dan India.
Lembaga sejenis, McKinsey Global Institute juga memperkirakan bahwa pada 2030 mendatang Indonesia bisa menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia. Prediksi itu, antara lain, dengan melihat investasi langsung dari luar negeri (FDI) selama 2012 yang meningkat 26 persen, hingga mencapai rekor tertinggi menjadi US$24,6 miliar.
Dengan terobosannya di MP3EI ini ia disebut-sebut sebagai pendekar ekonomi