Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA)

Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA) Scripture Union Indonesia (a.k.a Pancar Pijar Alkitab) is Bible Ministry for children, youth, and ad Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

SCRIPTURE UNION INDONESIA (a.k.a Persekutuan Pembaca Alkitab) adalah bagian dari Scripture Union International yang beranggotakan 150 negara di seluruh dunia. SU Asia Timur & Barat
386 Jalan 5/59
47509 Petaling Jaya
Selangor, Malaysia

SU International
126 Barry Pde
Fortitude Valley, Brisbane
Queensland 4006, Australia

-----

Kind Info:

Page Scripture Union Indonesia (SU Indonesia) dibuat khusus

untuk menjadi sarana PUBLIKASI dan INFORMASI dari SU Indonesia. Mohon untuk tidak menulis apapun yang tidak relevan dengan SU Indonesia. Semua tulisan yang tidak sesuai dengan tujuan pembuatan Page SU Indonesia akan dihapus tanpa pemberitahuan. Tuhan memberkati kita semua! Salam dalam kasih Kristus,
Daniel Adhi Surya
(Page's Admin SU Indonesia)

Selamat memperingati Hari Raya Waisak. 🌼Kiranya semangat kebijaksanaan, kedamaian, dan welas asih terus hidup dalam hati...
31/05/2026

Selamat memperingati Hari Raya Waisak. 🌼
Kiranya semangat kebijaksanaan, kedamaian, dan welas asih terus hidup dalam hati, serta membawa kebaikan bagi lingkungan dan sesama.

31/05/2026

Minggu, 31 Mei 2026 (Hari Trinitas)

1 Korintus 9
Tujuan di Atas Hak

Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh Rasul Paulus dalam pelayanannya adalah adanya sebagian orang yang meragukan kerasulannya.

Kepada orang-orang yang demikian, ia menunjukkan bahwa ia adalah seorang rasul dan hal itu tidak diragukan. Ia meyakinkan jemaat di Korintus bahwa mereka merupakan bukti kerasulannya (1-3).

Menariknya, ia memaparkan bahwa sebagai rasul ia pantas mendapatkan haknya berupa materi, kehidupan berkeluarga, dan berbagai hal lainnya seperti para rasul lainnya (4-10). Hal itu layak karena ia telah melakukan kewajibannya sebagai pelayan Tuhan (11-12a). Meski demikian, ia tidak mempergunakannya, bahkan ia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri untuk kepentingan jemaat dan Tuhan yang ia layani (12b, 15).

Apa yang membuat Paulus rela melepaskan haknya? Alasannya jelas sekali karena ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yaitu memberitakan Injil, yakni tugas yang dipercayakan Kristus kepadanya (16-18). Dari sini kita diingatkan kembali bahwa tujuan tertinggi dalam melayani adalah melakukan kehendak Kristus dan membawa kemuliaan bagi-Nya.

Sebagai manusia tentu saja kita membutuhkan materi. Namun, jika itu menjadi tujuan akhir kita, sesungguhnya kita hanyalah hamba dunia dan diri kita sendiri. Tuhan Yesus sendiri menekankan kepada murid-murid-Nya bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia haruslah menyangkal dirinya (Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23). Oleh karena itu, tujuan kita, yang lebih tinggi daripada hak kita, dari menjadi hamba Allah adalah memuliakan dan menikmati-Nya.

Sekarang apa tujuan tertinggi pelayanan Anda? Apakah Anda merasa ada hak yang selama ini belum terpenuhi? Apa yang membuat Anda mempertahankan atau merelakan hak tertentu ketika Anda mengikut dan melayani Tuhan? Renungkanlah kembali posisi hak dan tujuan di dalam hati Anda sebagai pengikut dan pelayan Kristus.

Pikirkanlah pemberitaan Injil keselamatan dalam Yesus Kristus dan pelayanan kasih bagi semua orang. Jadikanlah itu sebagai tujuan di atas hak. [ABL]

30/05/2026

Sabtu, 30 Mei 2026 (Minggu ke-1 sesudah Pentakosta)

1 Korintus 8
Kebenaran dan Kasih

Dalam perikop ini Rasul Paulus merespons perdebatan yang muncul di tengah-tengah jemaat Korintus. Persoalannya adalah munculnya pertanyaan apakah orang Kristen dapat memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala (1, 4).

Rasul Paulus menjelaskan bahwa secara pengetahuan dan iman Kristen, tidak ada yang namanya berhala atau ilah lain di hadapan Allah (4-5). Dasarnya adalah karena orang Kristen percaya bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Allah Tritunggal (6). Namun, Rasul Paulus menekankan bahwa persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh, tetapi apakah hal itu dapat menjadi batu sandungan bagi orang Kristen baru yang belum memiliki pengetahun yang solid dan hati nuraninya masih lemah (7).

Dari penjelasan Rasul Paulus, ada dua prinsip yang perlu kita perhatikan. Pertama, pengetahuan harus mencerminkan kasih kepada Allah dan sesama (1b-3). Ketika orang Kristen menerapkan pengetahuannya, persoalannya bukan sekadar apakah itu benar atau salah, tetapi apakah itu disertai kasih atau tidak. Kebenaran dan kasih tak bisa dipisahkan. Kita melakukan kebenaran dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Kebenaran menjaga iman kita, dan kasih memelihara persekutuan kita. Keduanya memelihara persekutuan kita dengan Tuhan dan sesama.

Kedua, kebebasan Kristen harus dilakukan secara bertanggung jawab (8-12). Kita bebas dari dosa dan selamat bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena anugerah Tuhan. Kebebasan kita melakukan kebenaran itu diikat oleh tanggung jawab bahwa hal itu harus menjadi berkat bagi sesama. Kebebasan kita tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita memeriksa diri. Apakah pengetahuan dan kebebasan kita selama ini telah menjadi berkat? Marilah kita berkomitmen di hadapan Tuhan untuk tidak hanya melakukan apa yang benar, tetapi juga yang mencerminkan kasih. Jangan sampai kebebasan kita tidak membawa berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Allah. [ABL]

Tuhan bisa memakai siapa saja, termasuk kamu!Jangan pernah merasa terlalu muda untuk jadi terang dan teladan bagi orang ...
29/05/2026

Tuhan bisa memakai siapa saja, termasuk kamu!
Jangan pernah merasa terlalu muda untuk jadi terang dan teladan bagi orang lain 💛

Lewat perkataan, kesetiaan, dan hidup yang murni, kita bisa menunjukkan kasih Tuhan setiap hari 🌱
Yuk jadi generasi yang berani hidup benar dan membawa dampak baik di mana pun berada!

📖 “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda...”
— 1 Timotius 4:12-TB2

29/05/2026

Jumat, 29 Mei 2026 (Minggu ke-1 sesudah Pentakosta)

1 Korintus 7:17-40
FOMO

FOMO adalah singkatan dari fear of missing out, artinya takut ketinggalan. Orang yang FOMO selalu khawatir ketinggalan tren terbaru, sehingga ia sering sekadar ikut-ikutan.

Rasul Paulus mengakui keberagaman latar belakang jemaat di Korintus. Contohnya, ada yang bersunat dan ada yang tidak bersunat (18-19). Di tengah keberagaman itu, ia tidak memaksakan mereka menjadi sama. Ia justru menasihatkan mereka untuk tetap dalam kondisi mereka saat mereka menjadi orang percaya (17, 20). Ini bukan berarti Rasul Paulus anti terhadap perubahan, tetapi ia tidak perlu memaksa mereka berubah, terlebih jika perubahan itu sekadar ikut-ikutan dengan jemaat yang lain.

Nasihat Rasul Paulus ini mengena sekali di tengah dunia yang kadang menuntut orang untuk menjadi seragam. Dalam kehidupan bergereja, ada yang menuntut agar ibadah di gereja A meniru gereja B supaya terlihat keren dan menarik lebih banyak orang. Bayangkan kalau semua gereja seragam cara ibadah dan bentuk pelayanannya! Bisa jadi jemaat dengan beragam tingkat spiritualitas tidak mendapat ruang yang tepat untuk bertumbuh. Bisa jadi berbagai bidang pelayanan tidak terlayani karena gereja terlalu fokus pada satu bidang saja.

Bayangkan kalau gereja hanya sibuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi terbaru tanpa melihat misi utamanya. Bisa jadi kedewasaan iman jemaat tidak tercapai secara merata. Bisa jadi sebagian jemaat yang tidak punya akses teknologi yang canggih menjadi terpinggirkan.

Baiklah gereja melayani dengan tulus, bukan mengejar tren atau sekadar ikut-ikutan. Kalaupun ada perubahan, baiklah itu dilakukan bagi kemajuan seluruh jemaat Tuhan.

Mari kita bertobat bersama dari kebiasaan membandingkan dan menyamakan diri dengan orang Kristen yang lain. Mari kita menghindarkan diri kita dan saudara seiman kita dari rasa FOMO. Mari kita lebih mensyukuri kondisi yang ada, sesuai dengan konteks gereja masing-masing, sehingga setiap perubahan benar-benar memajukan pengenalan kita akan Tuhan dan pelayanan kita sebagai gereja Tuhan di tengah dunia. [KRS]

28/05/2026

Kamis, 28 Mei 2026 (Minggu ke-1 sesudah Pentakosta)

1 Korintus 7:1-16
Kapan Menikah?

Ada yang berpendapat bahwa hidup seseorang belum lengkap jika ia belum menikah. Benarkah? Apakah semua orang harus menikah?

Rasul Paulus memberi perhatian terhadap pernikahan sehingga ia memberi nasihat kepada anggota jemaat yang tinggal bersama suami/istrinya (2-5, 10, 12-16), juga yang tidak menikah, yang menjadi janda, dan yang sudah bercerai (8-9, 11). Ia sendiri tidak menikah dan ia tidak memaksakan pilihan hidupnya kepada jemaat, sebab ia sadar betul bahwa setiap orang menerima karunia yang khas dari Allah (7).

Apa yang Paulus harapkan bukan supaya jemaat menikah atau tidak menikah. Harapannya adalah agar jemaat menghindari percabulan, memenuhi kewajibannya, menahan hawa nafsu, menguasai diri, dan hidup dalam damai sejahtera (2-3, 5, 9, 15).

Cara pandang Rasul Paulus patut ditiru. Pandangan umum bahwa semua orang harus menikah menjadi tekanan besar bagi orang-orang yang memang tidak ingin menikah atau belum menemukan pasangan yang tepat. Ditambah lagi, tekanan itu diperberat dengan anggapan keliru bahwa ada batasan umur untuk menikah.

Padahal, dalam janji pernikahan di gereja, kata-kata yang diucapkan oleh mempelai adalah: "Di hadapan Tuhan dan gereja Kristen di sini, saya mengakui bahwa ... adalah istri/ suami saya, karunia Tuhan." Jelas bahwa istri dan suami adalah karunia Tuhan, artinya pemberian yang seturut dengan kehendak sang Pemberi.

Dengan demikian, kita belajar menerima bahwa ada yang dikarunai istri atau suami sehingga mereka hidup dalam pernikahan. Namun, ada juga yang dikaruniai kondisi yang lain sehingga mereka tidak menikah. Sudah semestinya, kita memandang orang yang menikah maupun tidak menikah secara positif. Semuanya sama-sama penerima karunia Tuhan.

Mari kita bertobat dari kebiasaan mengusik orang dengan pertanyaan, "Kapan menikah?" karena hanya Tuhan, Sang Pemberi Karunia, yang berkuasa atas itu semua. Mari kita semua, yang menikah atau tidak, sama-sama hidup dalam penguasaan diri dan damai sejahtera! [KRS]

Kamu tidak diciptakan untuk hidup tanpa arah.Setiap proses, talenta, bahkan pergumulanmu bisa dipakai Tuhan untuk tujuan...
27/05/2026

Kamu tidak diciptakan untuk hidup tanpa arah.
Setiap proses, talenta, bahkan pergumulanmu bisa dipakai Tuhan untuk tujuan yang lebih besar. 🔥

Selamat memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 H. 🌙✨Kiranya momen penuh makna ini mengajarkan kita tentang ketulusan, ket...
27/05/2026

Selamat memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 H. 🌙✨
Kiranya momen penuh makna ini mengajarkan kita tentang ketulusan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.
Semoga damai, sukacita, dan berkat selalu menyertai setiap keluarga dan langkah kehidupan kita.

27/05/2026

1 Korintus 6:12-20
Boleh, atau Tidak?

Boleh atau tidak boleh sering menjadi patokan benar-salahnya tindakan seseorang. Namun, apakah hanya itu? Tidak adakah patokan yang lebih mendasar?

Rasul Paulus menyatakan bahwa segala sesuatu itu boleh, tetapi tidak semuanya berguna karena bisa memperbudak kita (12). Ia menegur anggota jemaat yang menggunakan tubuhnya sesuka hati dengan pemikiran bahwa tubuh yang fana akan dihancurkan dan tidak ada hubungannya dengan roh yang kekal. Ia mengajarkan bahwa keselamatan dalam Kristus bukan hanya mencakup roh, tetapi juga tubuh (13-15). Oleh karena itu, tubuh mereka harus dipakai untuk memuliakan Allah (19-20).

Teguran keras Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus memberikan pengajaran penting bahwa tubuh fisik kita pun telah ditebus dan menjadi milik Tuhan. Maka, sudah semestinya kita bisa berpikiran jernih untuk menimbang dan memilah, antara hal yang berguna dan tidak, tindakan yang memuliakan Tuhan dan tidak, bukan sekadar boleh atau tidak boleh.

Untuk apa saja yang kita konsumsi atau kenakan pada tubuh kita, baiklah kita bertanya: Apakah ini menyehatkan tubuhku dan memudahkanku untuk menyembah Tuhan? Jika ya, lanjutkan. Jika tidak, hentikan. Untuk tindakan kita, pertanyaan serupa hendaknya menjadi saringan bagi kita: Apakah dengan melakukan itu aku dapat menolong sesama dan mewujudkan kehendak Tuhan? Jika ya, lanjutkan. Jika tidak, hentikan.

Dengan menerapkan saringan yang demikian, kita dapat bertanggung jawab sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, yang seluruh dirinya adalah milik Kristus.

Kalau selama ini kita masih menganggap bahwa tubuh kita adalah benda fana yang hanya berhubungan dengan hal-hal sementara yang tidak penting, mari kita mengubah pemikiran kita dan menyelaraskannya dengan pikiran Kristus (1Kor. 2:16b). Selagi kita hidup di dunia ini dengan tubuh fisik kita, mari kita menjaganya baik-baik dalam kekudusan hidup serta menggerakkannya untuk membagikan kebaikan orang-orang di sekitar kita dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. [KRS]

26/05/2026

Selasa, 26 Mei 2026 (Minggu ke-1 sesudah Pentakosta)

1 Korintus 6:1-11
Pertengkaranmu, Rahasiamu

Rumah tangga baru sering kali dinasihati supaya pertengkaran antara suami dan istri tidak sampai diketahui orang lain. Bagaimana dengan pertengkaran di gereja?

Paulus menegur jemaat di Korintus yang, saat terjadi perselisihan, memilih untuk menyelesaikannya di pengadilan umum (1). Ia mencela tindakan itu karena semestinya di dalam jemaat sendiri ada orang-orang yang kompeten, yang kudus dan bijaksana (2-6). Terlebih lagi, dengan adanya perselisihan itu, apalagi sampai diketahui oleh pihak luar, menjadi hal yang memalukan bagi jemaat (7).

Gereja adalah persekutuan orang percaya. Tentu isinya adalah orang-orang percaya dari berbagai latar belakang. Perbedaan pendapat itu wajar; yang tidak wajar adalah perbedaan pendapat dilanjutkan dalam bentuk perselisihan.

Bukankah gereja adalah tubuh Kristus? Sekalipun anggotanya banyak, kita semua adalah satu tubuh (1Kor. 12:12-20). Jika ada perselisihan, bukankah kita sedang menyatakan kepada dunia bahwa tubuh Kristus itu terpecah-pecah?

Semestinya perselisihan dapat dihindari kalau semua anggotanya memandang diri sebagai anggota tubuh yang sama, yang memiliki peran masing-masing yang sama berharganya di dalam gereja. Jika pun terjadi perbedaan pendapat yang menajam, kita bisa meminta orang-orang yang dikenal bijaksana di dalam jemaat untuk mencari titik temu. Orang yang bijaksana itu bisa menengahi dan menolong pihak-pihak yang berbeda pendapat supaya mereka menemukan jalan keluar. Harapannya, persatuan tubuh Kristus tetap terjaga.

Marilah kita wawas diri. Apakah kita akan terus berselisih atau belajar menghargai perbedaan di dalam gereja? Apakah kita mau membawa persoalan jemaat ke pihak luar atau menyelesaikannya di dalam?

Jika ada perselisihan di antara kita, mari kita berupaya untuk menyelesaikannya dan bukan mengumbarnya, sehingga kita semua bisa saling menghargai keberagaman yang ada dan menjadi kesaksian yang positif tentang Kristus. [KRS]

Address

Jalan Pintu Air Raya No. 7 Blok C4/Kompleks Mitra Pintu Air
Jakarta
10710

Opening Hours

Monday 07:30 - 16:00
Tuesday 07:30 - 16:00
Wednesday 07:30 - 16:00
Thursday 07:30 - 16:00
Friday 07:30 - 16:00

Telephone

+62213442461

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA):

Share