11/11/2022
SOSIALISASI FORTIFIKASI UNTUK PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Jakarta, 10 November 2022 Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Fortifikasi Pangan untuk Perbaikan Gizi Masyarakat, kegiatan ini hadiri oleh Perwakilan dari Asian Development Bank (ADB), World Food Programme (WFP), SEAMEO REFCON, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Ditjen Pelayanan Kesehatan, Ketua Tenaga Ahli, PMO, AKAU, Ketua tim kerja di lingkungan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK).
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan (Pretty Multihartina, Ph,D) “Kegiatan ini sudah ada dalam perencanaan bersama dengan ADB dan WFP, yang akan menyampaikan kembali sosialisasi didalam Kemenkes sehingga kita bisa melihat apa saja yang sudah dilakukan yang sekiranya yang bisa inline dengan kegiatan yang sedang dilakukan kemenkes atau mungkin kita bisa memberikan inside kepada kawan-kawan bahwa apa yang dilakukan mungkin bisa mengimplementasikan apa yang sudah ada yang menjadi indikator yang disampaikan oleh Bappenas terkait dengan indikator pangan dalam RPJMN 2020-2024 ini,” tutur Petty.
Masalah gizi di Indonesia saat ini tidak saja pada masalah gizi kurang, gizi berlebih, tetapi juga terdapat masalah kekurangan gizi mikro. Hal ini dikenal sebagai 3 masalah gizi (Triple burden malnutrition), secara global terdapat sekitar 2 miliar orang mengalami kekurangan zat gizi mikro. Data tentang kekurangan zat gizi mikro di Indonesia yang tersedia saat ini menggambarkan bahwa angka prevalensi anemia pada ibu hamil karena kekurangan Zat Besi semakin meningkat. Defisiensi zat gizi mikro ini disebabkan karena kekurangan asupan, gangguan penyerapan atau penggunaan yang meningkat pada satu atau lebih vitamin dan mineral. WHO mengindikasikan defisiensi zat besi, vitamin A dan yodium merupakan keadaan yang sering dijumpai pada kelompok anak.
Cara untuk mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro (hidden hunger) dapat berupa supplementasi atau fortifikasi. Strategi untuk mengatasi masalah gizi mikro bergeser dari suplementasi menjadi fortifikasi karena program suplementasi memerlukan biaya besar, sementara fortifikasi melalui bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat secara luas terutama penduduk tidak mampu dan biaya yang relatif lebih rendah. Beberapa tantangan dalam pelaksanaan fortifikasi, diantaranya perlunya penerapan teknologi tepat guna terutama dukungan sarana dan prasarana yang mendukung implementasi fortifikasi pangan. Dibutuhkan p**a peningkatan kapasitas produsen dan industri kecil menengah dalam menghasilkan produk pangan sesuai SNI yang berlaku. Selain itu, perlu juga ditetapkan jenis zat gizi yang perlu ditambahkan pada bahan pangan fortifikan. Penetapan ini dengan memperhatikan situasi defisiensi gizi mikro di Indonesia.
Dalam kesempatan ini p**a menurut Chief Expert BKPK (Dr. dr. Anung Sugihantono, M.Kes) menyampaikan “Fortifikasi ini sesungguhnya ada 3 aspek yang harus dibicarakan secara konfrehensif yaitu Pertama terkait dengan Teknologi, kedua adalah yang terkait dengan pemilihan pangan fortifikan, sekaligus juga perhitungan tentang pemilihan dalam melaksanakan fortifikasi, ketiga yang ada dilingkungan kemenkes yakni adalah konsumsi, berkaitan dengan prilaku, ketersediaan, keterjangkauan tapi sekaligus juga berkaitan dengan persepsi dari masyarakat yang menggunakan fortifikasi.”
Narasumber dari SEAMEO menyampaikan materi tentang situasi kekurangan gizi mikro di Indonesia dengan mengambarkan berdasarkan data penelitian mengenai distribusi asupan berdasarkan pop**asi, target pop**asi yang akan disasar dan bagaimana fortifikasi besar dapat mengurangin inadequate intake. Narasumber dari WFP juga menyampaikan Scaling Up Postharvest Rice Fortification for better Nutrition in Indonesia, yaitu jika fortifikasi beras ini bisa dimasukan dalam program bantuan sembako, maka dapat menurunkan keterjangkauan malnutrition. Berdasarkan hasil lesson learned from Bangladesh kita bisa mengikuti sistemnya tetapi di Indonesia kita harus bekerja sama dan komitmen bersama antar lintas sektoral agar kedepannya suistanable.
Diakhir acara dr. Mukhti Eka Rahardian, MARS, MPH selaku moderator menyimpulkan bahwa tujuan kegiatan sosialisasi fortifikasi untuk perbaikan gizi masyarakat sudah tercapai yaitu mendapatkan informasi berdasarkan riset sehingga kita mengetahui zat gizi apa yang harus ditambahkan dalam bahan pangan, mendapatkan informasi target pop**asi, dan mendapatkan informasi pengkayaan kebutuhan bahan/fortifikan yang diperoleh setiap level.
Acara ditutup secara resmi oleh dr. Mukhti, sebagai tindak lanjut agar rencana fortifikasi pangan untuk perbaikan gizi masyarakat dapat terlaksana maka diperlukan dukungan dan kerja sama serta komitmen bersama antar lintas sektor. Sehingga masalah gizi di Indonesia dapat berkurang, dan terwujudnya Indonesia sehat. (penulis:yuliana)