09/06/2026
Pernah enggak sih kalian menemukan perilaku atau pendapat seseorang yang membuatmu mengernyitkan dahi sambil mbatin, “Ih... padahal sekolahnya tinggi, kok bisa berpikir begitu ya?” 🤔 Atau jangan-jangan, kita sendiri pernah membuat orang lain berpikir hal yang sama?
Kita sering menganggap bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik p**a keputusan yang akan diambilnya, nyatanya tidak selalu demikian.
Sir Arthur Conan Doyle—seorang dokter, intelektual, sekaligus pencipta Sherlock Holmes yang identik dengan logika dan penalaran—pernah memercayai foto-foto peri 🧚✨ yang belakangan terbukti hanyalah rekayasa, bukan karena ia kurang cerdas, jstru karena kecerdasan saja tidak selalu cukup.
Dalam bukunya The Intelligence Trap, David Robson menjelaskan bahwa orang yang sangat cerdas pun dapat terjebak dalam bias, keyakinan yang keliru, dan rasa terlalu percaya diri. Ketika itu terjadi, kecerdasan yang seharusnya membantu menemukan kebenaran justru berubah menjadi titik buta.
Pelajaran ini terasa semakin relevan bagi LPDP yang hadir untuk mendukung lahirnya generasi intelektual Indonesia. Sebab tantangan masa depan tidak hanya menuntut individu yang unggul secara akademik, tetapi juga mereka yang mampu berpikir reflektif, terbuka terhadap koreksi, dan berani menguji keyakinannya sendiri.
Dalam realitas dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, kecerdasan kognitif saja tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang tetap mampu berkata “I might be wrong.”
Mereka yang mau mendengar. Mau belajar. Mau mengubah pandangan ketika fakta menunjukkan arah yang berbeda. Karena kebijaksanaan tidak lahir dari mengetahui segalanya, melainkan dari kesadaran bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.
📖 Sudah pernah membaca The Intelligence Trap karya David Robson? Atau punya pengalaman ketika menyadari bahwa keyakinanmu ternyata keliru?
Yuk, share di kolom komentar.