08/09/2026
WASPADA DEBU DAN ASAP VULKANIK: MELINDUNGI HIDUNG, TENGGOROK, TELINGA, DAN MATA DARI PAPARAN ERUPSI
Erupsi gunung api tidak hanya menimbulkan ancaman berupa lava, awan panas, atau material batuan. Abu vulkanik dan gas vulkanik juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, hidung dan sinus, tenggorok dan laring, telinga, serta mata.
Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak erupsi perlu memahami bahwa abu vulkanik bukan sekadar “debu biasa”. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil, bersifat abrasif, dan dapat membawa berbagai komponen mineral serta gas iritan. Paparan dalam jumlah banyak atau berulang dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada jaringan tubuh.
Melalui himbauan kesehatan masyarakat ini, PERHATI-KL mengajak masyarakat untuk mengenali gejala, melakukan perlindungan diri, serta mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.
Mengapa abu vulkanik berbahaya?
Abu vulkanik terbentuk dari material batuan dan magma yang terfragmentasi selama aktivitas erupsi. Berbeda dengan debu tanah pada umumnya, abu vulkanik dapat mengandung partikel mineral dan pecahan kaca vulkanik yang sangat halus, keras, dan bersifat abrasif.
Partikel tersebut dapat masuk ke hidung, sinus, tenggorok, saluran napas, mata, bahkan telinga bagian luar.
Selain partikel padat, aktivitas vulkanik juga dapat melepaskan berbagai gas, antara lain sulfur dioksida (SO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S). Gas-gas tersebut dapat bersifat iritatif terhadap mukosa saluran pernapasan dan mata.
Ketika seseorang menghirup abu vulkanik, partikel dapat menempel pada permukaan mukosa. Hal ini dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, peradangan, peningkatan produksi lendir, batuk, dan gangguan fungsi saluran pernapasan.
Risiko akan semakin besar apabila paparan berlangsung lama, konsentrasi abu tinggi, atau seseorang tidak menggunakan perlindungan yang memadai.
1. Dampak abu vulkanik terhadap organ THT-BKL
Hidung dan sinus
Hidung merupakan salah satu organ pertama yang berhadapan langsung dengan abu vulkanik.
Paparan dapat menyebabkan rinitis iritan akut, yaitu peradangan pada mukosa hidung akibat iritasi langsung. Gejalanya dapat berupa:
hidung terasa sangat gatal;
bersin berulang-ulang;
hidung berair;
rasa terbakar atau tidak nyaman di hidung;
kemudian hidung dapat terasa tersumbat.
Partikel abu yang abrasif juga dapat menyebabkan luka-luka mikroskopis pada mukosa hidung. Pada kondisi mukosa yang kering dan mengalami iritasi, pembuluh darah hidung menjadi lebih mudah mengalami perdarahan sehingga dapat terjadi mimisan atau epistaksis.
Abu yang masuk ke saluran sinus juga dapat mengganggu fungsi normal mukosiliar. Akibatnya, lendir dan partikel asing lebih sulit dikeluarkan. Bila terjadi sumbatan pada drainase sinus, seseorang dapat mengalami nyeri atau rasa tertekan pada wajah dan sakit kepala, serta berisiko mengalami peradangan sinus.
Pada paparan berat, hidung dapat tersumbat hampir seluruhnya dan penciuman dapat terganggu secara mendadak.
2. Tenggorok dan laring
Abu vulkanik yang terhirup melalui hidung maupun mulut dapat mencapai tenggorok dan laring.
Salah satu keluhan yang dapat muncul adalah faringitis akut, yaitu peradangan tenggorok. Pasien dapat merasakan tenggorok kering, kasar, gatal, atau seperti terdapat sesuatu yang mengganjal. Pada sebagian orang, menelan menjadi nyeri.
Paparan terhadap partikel dan gas iritan juga dapat menyebabkan laringitis akut. Laring merupakan organ yang berperan penting dalam pembentukan suara. Ketika pita suara mengalami peradangan, suara dapat menjadi:
serak;
lemah;
parau;
bahkan hilang sementara atau afonia.
Selain itu, partikel abu yang menempel pada saluran napas dapat memicu batuk kering dan mengiritasi.
Sensasi panas atau terbakar pada hidung, tenggorok, maupun saluran pernapasan juga dapat terjadi akibat paparan gas vulkanik yang bersifat iritatif.
3. Telinga dan mata juga perlu dilindungi
Masyarakat sering menganggap perlindungan dari abu vulkanik hanya berkaitan dengan paru-paru. Padahal, telinga dan mata juga dapat mengalami gangguan.
Telinga
Abu dapat masuk ke liang telinga dan menyebabkan iritasi. Kulit liang telinga yang mengalami gesekan dan iritasi dapat menimbulkan rasa gatal, nyeri, atau peradangan yang dikenal sebagai otitis eksterna iritatif.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mengorek telinga menggunakan cotton bud ketika berada dalam kondisi terpapar abu.
Penggunaan cotton bud justru dapat mendorong partikel semakin dalam, menggores kulit liang telinga, dan meningkatkan risiko infeksi.
Paparan pada daerah nasofaring juga dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar muara tuba Eustachius. Kondisi ini dapat membuat telinga terasa:
tersumbat;
penuh;
berdenging atau tinnitus;
atau pendengaran terasa berkurang.
Mata
Partikel abu vulkanik juga dapat masuk ke mata dan bertindak sebagai material abrasif.
Gesekan partikel dengan permukaan mata dapat menyebabkan iritasi mata, mata merah, berair, rasa mengganjal, dan rasa seperti terdapat pasir di dalam mata.
Pada paparan yang lebih berat, permukaan kornea dapat mengalami goresan atau abrasi kornea.
Karena itu, jangan menggosok mata ketika terkena abu vulkanik. Mata sebaiknya dibilas dengan cairan yang sesuai dan, bila keluhan menetap atau penglihatan terganggu, segera diperiksakan.
4. Abu vulkanik dapat memperberat alergi dan penyakit saluran napas
Paparan abu vulkanik juga dapat memperburuk kondisi seseorang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan saluran napas, misalnya asma atau alergi hidung.
Iritasi akibat partikel dan gas dapat menyebabkan saluran napas menjadi lebih sensitif sehingga muncul keluhan seperti batuk, sesak, mengi, atau peningkatan gejala alergi.
Oleh karena itu, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau alergi perlu mendapatkan perhatian khusus selama terjadi erupsi.
5. Perlindungan utama: kurangi paparan
Prinsip terpenting dalam menghadapi abu vulkanik adalah:
> Semakin sedikit abu yang terhirup atau mengenai tubuh, semakin kecil risiko gangguan kesehatan.
Bila kondisi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama paparan abu berlangsung.
Jika harus keluar rumah, gunakan masker partikulat yang sesuai, seperti N95, KN95, atau KF94.
Masker medis biasa memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam menyaring partikel sangat halus. Namun, apabila masker partikulat tidak tersedia, penggunaan masker medis dengan baik tetap lebih baik daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali.
Yang juga penting adalah memastikan masker terpasang rapat pada wajah, karena celah di sekitar masker dapat memungkinkan partikel masuk.
6. Jangan mengorek hidung dan telinga
Abu vulkanik yang menempel pada mukosa dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga seseorang mungkin terdorong untuk mengorek hidung atau telinga.
Hal ini sebaiknya dihindari.
Mengorek hidung dapat menyebabkan luka pada mukosa dan meningkatkan risiko mimisan. Sementara mengorek telinga menggunakan cotton bud dapat menyebabkan lecet pada kulit liang telinga dan mendorong partikel semakin dalam.
Membersihkan tubuh setelah terpapar abu sebaiknya dilakukan dengan cara yang lembut dan tidak menyebabkan gesekan berlebihan.
7. “Cuci hidung” dengan saline dapat membantu
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan hidung setelah paparan adalah irigasi hidung menggunakan larutan saline steril atau NaCl 0,9%.
Irigasi hidung bertujuan membantu membersihkan lendir, partikel, dan material iritan yang menempel pada rongga hidung sekaligus membantu mempertahankan kelembapan mukosa.
Dalam kondisi paparan abu vulkanik, tindakan ini dapat menjadi salah satu bagian dari perawatan kebersihan hidung, terutama setelah seseorang berada di lingkungan yang banyak mengandung abu.
Namun, masyarakat perlu memperhatikan keamanan:
gunakan larutan saline yang steril atau produk yang memang ditujukan untuk irigasi hidung.
Jangan menggunakan air mentah atau air yang tidak memenuhi persyaratan kebersihan untuk dimasukkan ke dalam hidung.
Bila seseorang mengalami mimisan berat, nyeri hebat, atau keluhan hidung yang tidak membaik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
8. Lindungi mata, kulit, dan pakaian
Ketika harus berada di luar rumah, penggunaan kacamata pelindung tertutup atau goggles dapat membantu mengurangi masuknya partikel abu ke mata.
Bagi pengguna lensa kontak, penggunaan lensa kontak sebaiknya dihentikan sementara selama kondisi paparan abu tinggi karena partikel dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata dan meningkatkan iritasi.
Gunakan pakaian yang menutupi tubuh, seperti:
baju lengan panjang;
celana panjang;
penutup kepala bila diperlukan.
Setelah kembali ke rumah, bersihkan diri dan ganti pakaian agar partikel abu yang menempel tidak terus terbawa ke dalam lingkungan rumah.
9. Rumah juga perlu dibersihkan dengan cara yang benar
Membersihkan rumah dari abu vulkanik membutuhkan cara yang berbeda dengan membersihkan debu biasa.
Hindari menyapu abu dalam keadaan kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan akhirnya terhirup.
Lebih baik gunakan metode pel basah atau kain basah sehingga abu tidak mudah kembali menjadi debu udara.
Ventilasi dan jendela sebaiknya ditutup ketika konsentrasi abu di luar rumah masih tinggi.
Prinsipnya sederhana:
> Jangan sampai kegiatan membersihkan abu justru membuat abu kembali masuk ke saluran pernapasan.
10. Kapan harus berobat?
Tidak semua orang yang terpapar abu vulkanik harus langsung ke rumah sakit.
Untuk keluhan ringan sampai sedang, masyarakat dapat mencari pertolongan awal di Puskesmas atau posko kesehatan bencana.
Misalnya:
bersin berulang dan hidung berair;
tenggorok gatal atau kering;
iritasi mata ringan;
membutuhkan masker atau cairan pencuci hidung;
membutuhkan pertolongan pertama setelah terpapar abu.
Untuk keluhan yang lebih spesifik atau menetap, masyarakat dapat memeriksakan diri ke poliklinik spesialis THT-BKL.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan misalnya pada:
suara serak atau hilang yang tidak membaik;
telinga terasa tersumbat atau nyeri;
telinga mengeluarkan cairan;
nyeri hebat pada daerah sinus atau wajah;
luka atau iritasi mukosa hidung yang berat;
keluhan yang menetap setelah paparan.
Dokter THT-BKL dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan endoskopi hidung, nasofaring, tenggorok, atau laring apabila diperlukan.
11. Kenali tanda bahaya
Ada kondisi tertentu yang tidak boleh ditunda.
Segera menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) apabila muncul:
🚨 sesak napas berat atau napas terasa sangat cepat;
🚨 napas berbunyi keras seperti mengorok atau mencicit (stridor);
🚨 mimisan deras yang tidak berhenti setelah lebih dari 15 menit;
🚨 nyeri dada atau batuk disertai darah;
🚨 penurunan kesadaran;
🚨 bibir membiru;
atau gejala lain yang menunjukkan gangguan pernapasan atau kondisi umum yang berat.
Dalam keadaan darurat, jangan menunggu keluhan menjadi semakin parah.
Pesan utama PERHATI-KL
Erupsi gunung api adalah bencana alam yang tidak dapat kita cegah. Namun, paparan terhadap abu dan gas vulkanik dapat dikurangi.
Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus waspada dan disiplin melindungi diri.
Ada lima hal sederhana yang perlu diingat:
1. Kurangi paparan abu.
Tetap berada di dalam ruangan bila kondisi luar tidak aman.
2. Gunakan masker yang tepat.
N95, KN95, atau KF94 lebih sesuai untuk menyaring partikel halus dibandingkan masker biasa.
3. Lindungi mata, kulit, hidung, dan telinga.
Gunakan goggles dan pakaian pelindung bila harus berada di luar.
4. Jangan mengorek hidung atau telinga.
Hindari cotton bud pada telinga dan jangan menggosok mata yang terkena abu.
5. Kenali tanda bahaya.
Bila muncul sesak berat, stridor, perdarahan yang tidak berhenti, batuk darah, penurunan kesadaran, atau bibir membiru, segera ke IGD.
PERHATI-KL: Bersama Melindungi Kesehatan Masyarakat
Dalam situasi bencana erupsi gunung api, perlindungan kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat merupakan bagian penting dari sistem perlindungan itu sendiri.
Dengan memahami bahaya abu vulkanik, menggunakan perlindungan yang benar, menjaga kebersihan hidung dan lingkungan, serta mengenali tanda bahaya, risiko gangguan kesehatan akibat paparan dapat diminimalkan.
Saluran napas bersih, pendengaran terlindungi, tubuh terjaga.
Tetap tenang. Tetap waspada. Lindungi diri dan keluarga dari paparan abu vulkanik.
*****
Bidang III ; Bidang Sosial dan Edukasi Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (PP PERHATI-KL)
Pusat Informasi Medis Tanggap Bencana Erupsi Gunung Api