Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian

Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian VISI : Meningkatkan kesehatan & kesejahteraan penduduk Indonesia melalui pendengaran yang lebih baik Apa sebetulnya dampak ketulian?
(608)

Ternyata angka gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia cukup mengejutkan, termasuk yang tinggi di bilangan Asia Tenggara, yaitu 16,8% untuk gangguan pendengaran dan 0,4% untuk ketulian dengan kelompok tertinggi di usia sekolah (7-9 tahun). Disamping itu diperkirakan setiap tahunnya akan ada sekitar 5200 bayi lahir tuli. Masyarakat kurang mengetahui dan tidak menyadari bahwa dampaknya cukup berat. Bayi lahir tuli mempunyai dampak terberat, karena anak bisa bicara melalui proses meniru kata-kata yang didengarnya. Jika tidak mendengar maka anak tidak bisa bicara dan berkomunikasi, selanjutnya tidak bisa belajar, menjadi warga terbelakang, SDM rendah akhirnya menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Bagaimana usaha pemerintah dalam hal ini? Atas rekomendasi WHO yang mengajukan data bahwa terdapat 250 juta (4,2%) penduduk dunia menderita gangguan pendengaran pada tahun 2000 dan lebih kurang setengahnya (75-140 juta) terdapat di Asia Tenggara dan angka ini meningkat terus. WHO membentuk Sound Hearing 2030 dan Departemen Kesehatan segera membentuk Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian dan Komnas PGPKT (Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (SK Menkes no 768/Menkes/SK/VII/2007). Tugas Komite adalah membantu pemerintah menurunkan angka gangguan pendengaran dan ketulian di seluruh Indonesia. Ada 5 penyakit penyebab ketulian yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati yaitu OMSK (congek), tuli sejak lahir, tuli orang tua, tuli akibat bising dan serumen (kotoran telinga). Disinilah fokus Komite dalam usaha menurunkan angka ketulian. Diharapkan para dokter THT dan masyarakat umum di seluruh Indonesia berpartisipasi aktif dalam program ini agar apa yang menjadi tujuan WHO dan pemerintah yaitu menurunkan angka ketulian sebesar 50% di tahun 2015 dan secara maksimal di tahun 2030 tercapai guna terbentuknya manusia Indonesia yang mempunyai sumber daya dengan kualitas tinggi. Berbagai kegiatan dapat dilakukan bersama dalam masyarakat di daerah, semisal ; kegiatan pendampingan bagi para peserta di posyandu tentang deteksi dini ketulian pada janin dan bayi, peningkatan pengetahuan bagi para kader posyandu untuk medeteksi secara dini ketulian pada bayi, skreening kebersihan telinga bagi siswa sekolah dasar dan menengah, pelatihan dokter kecil tentang kesehatan telinga, kaderisasi siswa sadar bising bagi siswa sekolah menengah atas dan kejuruan, pendampingan dan penyuluhan bagi para pekerja berdampak bising, peningkatan kemampuan dan pengetahuan bagi para tenaga medis dan paramedis dalam mendeteksi dan penanganan awal penyakit infeksi telinga tengah, pelatihan baca bibir bagi para peserta lanjut usia di posbindu. selain itu p**a menggalakkan berbagai kegiatan penyuluhan pada media informasi yang ada di daerah masing-masing, semisal; penyuluhan gangguan pendengaran dan ketulian di studio radio FM swasta, penyiaran TV lokal, mengisi rubrik kesehatan dalam surat kabar, buletin dan majalah setempat. Juga dapat mengambil peran dengan mengisi berbagai event-event kegiatan daerah dengan menjadi pembicara dalam seminar, menjadi salahsatu peserta dalam stand pameran daerah, membawakan materi dalam session hari peringatan Nasional di daerah. Melakukan berbagai kegiatan pelatihan bagi para penggerak dalam masyarakat, semisal; kader posyandu, ibu PKK, siswa dokter kecil bersama guru pendampingnya, siswa kader sadar bising bersama guru pendampingnya, peserta paskibraka, mahasiswa Stikes, Akper dan Akbid ketika akan turun praktek lapangan, kader posbindu Lansia, penggerak orang muda di Gereja dan mesjid, pendampingan bagi kelompok ibu-ibu pengajian, dokter, bidan dan paramedis di puskesmas. Juga melakukan pertemuan dengan para pengambil kebijakan di daerah (camat, lurah dan kepala desa), para alim ulama, para penggiat media, untuk dapat membangun kesepahaman dan selanjutnya menjadi pendukung utama pada pelaksanaannya dalam masyarakat. Keseluruhan kegiatan yang dilakukan diberbagai tempat dan kesempatan pada kota dan kabupaten yang menjalankannya akan mendorong terciptanya masyarakat yang semakin sadar akan kesehatan telinga dan pendengaran mereka. Pada akhirnya kota dan kabupaten akan menjadi KOTA dan KABUPATEN TELINGA SEHAT.

WASPADA DEBU DAN ASAP VULKANIK: MELINDUNGI HIDUNG, TENGGOROK, TELINGA, DAN MATA DARI PAPARAN ERUPSIErupsi gunung api tid...
08/09/2026

WASPADA DEBU DAN ASAP VULKANIK: MELINDUNGI HIDUNG, TENGGOROK, TELINGA, DAN MATA DARI PAPARAN ERUPSI

Erupsi gunung api tidak hanya menimbulkan ancaman berupa lava, awan panas, atau material batuan. Abu vulkanik dan gas vulkanik juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, hidung dan sinus, tenggorok dan laring, telinga, serta mata.

Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak erupsi perlu memahami bahwa abu vulkanik bukan sekadar “debu biasa”. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil, bersifat abrasif, dan dapat membawa berbagai komponen mineral serta gas iritan. Paparan dalam jumlah banyak atau berulang dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada jaringan tubuh.

Melalui himbauan kesehatan masyarakat ini, PERHATI-KL mengajak masyarakat untuk mengenali gejala, melakukan perlindungan diri, serta mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.

Mengapa abu vulkanik berbahaya?

Abu vulkanik terbentuk dari material batuan dan magma yang terfragmentasi selama aktivitas erupsi. Berbeda dengan debu tanah pada umumnya, abu vulkanik dapat mengandung partikel mineral dan pecahan kaca vulkanik yang sangat halus, keras, dan bersifat abrasif.

Partikel tersebut dapat masuk ke hidung, sinus, tenggorok, saluran napas, mata, bahkan telinga bagian luar.

Selain partikel padat, aktivitas vulkanik juga dapat melepaskan berbagai gas, antara lain sulfur dioksida (SO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S). Gas-gas tersebut dapat bersifat iritatif terhadap mukosa saluran pernapasan dan mata.

Ketika seseorang menghirup abu vulkanik, partikel dapat menempel pada permukaan mukosa. Hal ini dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, peradangan, peningkatan produksi lendir, batuk, dan gangguan fungsi saluran pernapasan.

Risiko akan semakin besar apabila paparan berlangsung lama, konsentrasi abu tinggi, atau seseorang tidak menggunakan perlindungan yang memadai.

1. Dampak abu vulkanik terhadap organ THT-BKL

Hidung dan sinus

Hidung merupakan salah satu organ pertama yang berhadapan langsung dengan abu vulkanik.

Paparan dapat menyebabkan rinitis iritan akut, yaitu peradangan pada mukosa hidung akibat iritasi langsung. Gejalanya dapat berupa:
hidung terasa sangat gatal;
bersin berulang-ulang;
hidung berair;
rasa terbakar atau tidak nyaman di hidung;
kemudian hidung dapat terasa tersumbat.

Partikel abu yang abrasif juga dapat menyebabkan luka-luka mikroskopis pada mukosa hidung. Pada kondisi mukosa yang kering dan mengalami iritasi, pembuluh darah hidung menjadi lebih mudah mengalami perdarahan sehingga dapat terjadi mimisan atau epistaksis.

Abu yang masuk ke saluran sinus juga dapat mengganggu fungsi normal mukosiliar. Akibatnya, lendir dan partikel asing lebih sulit dikeluarkan. Bila terjadi sumbatan pada drainase sinus, seseorang dapat mengalami nyeri atau rasa tertekan pada wajah dan sakit kepala, serta berisiko mengalami peradangan sinus.

Pada paparan berat, hidung dapat tersumbat hampir seluruhnya dan penciuman dapat terganggu secara mendadak.

2. Tenggorok dan laring

Abu vulkanik yang terhirup melalui hidung maupun mulut dapat mencapai tenggorok dan laring.

Salah satu keluhan yang dapat muncul adalah faringitis akut, yaitu peradangan tenggorok. Pasien dapat merasakan tenggorok kering, kasar, gatal, atau seperti terdapat sesuatu yang mengganjal. Pada sebagian orang, menelan menjadi nyeri.

Paparan terhadap partikel dan gas iritan juga dapat menyebabkan laringitis akut. Laring merupakan organ yang berperan penting dalam pembentukan suara. Ketika pita suara mengalami peradangan, suara dapat menjadi:
serak;
lemah;
parau;
bahkan hilang sementara atau afonia.

Selain itu, partikel abu yang menempel pada saluran napas dapat memicu batuk kering dan mengiritasi.

Sensasi panas atau terbakar pada hidung, tenggorok, maupun saluran pernapasan juga dapat terjadi akibat paparan gas vulkanik yang bersifat iritatif.

3. Telinga dan mata juga perlu dilindungi

Masyarakat sering menganggap perlindungan dari abu vulkanik hanya berkaitan dengan paru-paru. Padahal, telinga dan mata juga dapat mengalami gangguan.

Telinga

Abu dapat masuk ke liang telinga dan menyebabkan iritasi. Kulit liang telinga yang mengalami gesekan dan iritasi dapat menimbulkan rasa gatal, nyeri, atau peradangan yang dikenal sebagai otitis eksterna iritatif.

Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mengorek telinga menggunakan cotton bud ketika berada dalam kondisi terpapar abu.

Penggunaan cotton bud justru dapat mendorong partikel semakin dalam, menggores kulit liang telinga, dan meningkatkan risiko infeksi.

Paparan pada daerah nasofaring juga dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar muara tuba Eustachius. Kondisi ini dapat membuat telinga terasa:
tersumbat;
penuh;
berdenging atau tinnitus;
atau pendengaran terasa berkurang.

Mata

Partikel abu vulkanik juga dapat masuk ke mata dan bertindak sebagai material abrasif.

Gesekan partikel dengan permukaan mata dapat menyebabkan iritasi mata, mata merah, berair, rasa mengganjal, dan rasa seperti terdapat pasir di dalam mata.

Pada paparan yang lebih berat, permukaan kornea dapat mengalami goresan atau abrasi kornea.

Karena itu, jangan menggosok mata ketika terkena abu vulkanik. Mata sebaiknya dibilas dengan cairan yang sesuai dan, bila keluhan menetap atau penglihatan terganggu, segera diperiksakan.

4. Abu vulkanik dapat memperberat alergi dan penyakit saluran napas

Paparan abu vulkanik juga dapat memperburuk kondisi seseorang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan saluran napas, misalnya asma atau alergi hidung.

Iritasi akibat partikel dan gas dapat menyebabkan saluran napas menjadi lebih sensitif sehingga muncul keluhan seperti batuk, sesak, mengi, atau peningkatan gejala alergi.

Oleh karena itu, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau alergi perlu mendapatkan perhatian khusus selama terjadi erupsi.

5. Perlindungan utama: kurangi paparan

Prinsip terpenting dalam menghadapi abu vulkanik adalah:
> Semakin sedikit abu yang terhirup atau mengenai tubuh, semakin kecil risiko gangguan kesehatan.

Bila kondisi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama paparan abu berlangsung.

Jika harus keluar rumah, gunakan masker partikulat yang sesuai, seperti N95, KN95, atau KF94.

Masker medis biasa memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam menyaring partikel sangat halus. Namun, apabila masker partikulat tidak tersedia, penggunaan masker medis dengan baik tetap lebih baik daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali.

Yang juga penting adalah memastikan masker terpasang rapat pada wajah, karena celah di sekitar masker dapat memungkinkan partikel masuk.

6. Jangan mengorek hidung dan telinga

Abu vulkanik yang menempel pada mukosa dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga seseorang mungkin terdorong untuk mengorek hidung atau telinga.

Hal ini sebaiknya dihindari.

Mengorek hidung dapat menyebabkan luka pada mukosa dan meningkatkan risiko mimisan. Sementara mengorek telinga menggunakan cotton bud dapat menyebabkan lecet pada kulit liang telinga dan mendorong partikel semakin dalam.

Membersihkan tubuh setelah terpapar abu sebaiknya dilakukan dengan cara yang lembut dan tidak menyebabkan gesekan berlebihan.

7. “Cuci hidung” dengan saline dapat membantu

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan hidung setelah paparan adalah irigasi hidung menggunakan larutan saline steril atau NaCl 0,9%.

Irigasi hidung bertujuan membantu membersihkan lendir, partikel, dan material iritan yang menempel pada rongga hidung sekaligus membantu mempertahankan kelembapan mukosa.

Dalam kondisi paparan abu vulkanik, tindakan ini dapat menjadi salah satu bagian dari perawatan kebersihan hidung, terutama setelah seseorang berada di lingkungan yang banyak mengandung abu.

Namun, masyarakat perlu memperhatikan keamanan:
gunakan larutan saline yang steril atau produk yang memang ditujukan untuk irigasi hidung.
Jangan menggunakan air mentah atau air yang tidak memenuhi persyaratan kebersihan untuk dimasukkan ke dalam hidung.

Bila seseorang mengalami mimisan berat, nyeri hebat, atau keluhan hidung yang tidak membaik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

8. Lindungi mata, kulit, dan pakaian

Ketika harus berada di luar rumah, penggunaan kacamata pelindung tertutup atau goggles dapat membantu mengurangi masuknya partikel abu ke mata.

Bagi pengguna lensa kontak, penggunaan lensa kontak sebaiknya dihentikan sementara selama kondisi paparan abu tinggi karena partikel dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata dan meningkatkan iritasi.

Gunakan pakaian yang menutupi tubuh, seperti:
baju lengan panjang;
celana panjang;
penutup kepala bila diperlukan.

Setelah kembali ke rumah, bersihkan diri dan ganti pakaian agar partikel abu yang menempel tidak terus terbawa ke dalam lingkungan rumah.

9. Rumah juga perlu dibersihkan dengan cara yang benar

Membersihkan rumah dari abu vulkanik membutuhkan cara yang berbeda dengan membersihkan debu biasa.

Hindari menyapu abu dalam keadaan kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan akhirnya terhirup.

Lebih baik gunakan metode pel basah atau kain basah sehingga abu tidak mudah kembali menjadi debu udara.

Ventilasi dan jendela sebaiknya ditutup ketika konsentrasi abu di luar rumah masih tinggi.

Prinsipnya sederhana:
> Jangan sampai kegiatan membersihkan abu justru membuat abu kembali masuk ke saluran pernapasan.

10. Kapan harus berobat?

Tidak semua orang yang terpapar abu vulkanik harus langsung ke rumah sakit.

Untuk keluhan ringan sampai sedang, masyarakat dapat mencari pertolongan awal di Puskesmas atau posko kesehatan bencana.
Misalnya:
bersin berulang dan hidung berair;
tenggorok gatal atau kering;
iritasi mata ringan;
membutuhkan masker atau cairan pencuci hidung;
membutuhkan pertolongan pertama setelah terpapar abu.

Untuk keluhan yang lebih spesifik atau menetap, masyarakat dapat memeriksakan diri ke poliklinik spesialis THT-BKL.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan misalnya pada:
suara serak atau hilang yang tidak membaik;
telinga terasa tersumbat atau nyeri;
telinga mengeluarkan cairan;
nyeri hebat pada daerah sinus atau wajah;
luka atau iritasi mukosa hidung yang berat;
keluhan yang menetap setelah paparan.

Dokter THT-BKL dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan endoskopi hidung, nasofaring, tenggorok, atau laring apabila diperlukan.

11. Kenali tanda bahaya

Ada kondisi tertentu yang tidak boleh ditunda.

Segera menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) apabila muncul:
🚨 sesak napas berat atau napas terasa sangat cepat;
🚨 napas berbunyi keras seperti mengorok atau mencicit (stridor);
🚨 mimisan deras yang tidak berhenti setelah lebih dari 15 menit;
🚨 nyeri dada atau batuk disertai darah;
🚨 penurunan kesadaran;
🚨 bibir membiru;
atau gejala lain yang menunjukkan gangguan pernapasan atau kondisi umum yang berat.

Dalam keadaan darurat, jangan menunggu keluhan menjadi semakin parah.

Pesan utama PERHATI-KL

Erupsi gunung api adalah bencana alam yang tidak dapat kita cegah. Namun, paparan terhadap abu dan gas vulkanik dapat dikurangi.

Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus waspada dan disiplin melindungi diri.

Ada lima hal sederhana yang perlu diingat:
1. Kurangi paparan abu.
Tetap berada di dalam ruangan bila kondisi luar tidak aman.
2. Gunakan masker yang tepat.
N95, KN95, atau KF94 lebih sesuai untuk menyaring partikel halus dibandingkan masker biasa.
3. Lindungi mata, kulit, hidung, dan telinga.
Gunakan goggles dan pakaian pelindung bila harus berada di luar.
4. Jangan mengorek hidung atau telinga.
Hindari cotton bud pada telinga dan jangan menggosok mata yang terkena abu.
5. Kenali tanda bahaya.
Bila muncul sesak berat, stridor, perdarahan yang tidak berhenti, batuk darah, penurunan kesadaran, atau bibir membiru, segera ke IGD.

PERHATI-KL: Bersama Melindungi Kesehatan Masyarakat

Dalam situasi bencana erupsi gunung api, perlindungan kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat merupakan bagian penting dari sistem perlindungan itu sendiri.

Dengan memahami bahaya abu vulkanik, menggunakan perlindungan yang benar, menjaga kebersihan hidung dan lingkungan, serta mengenali tanda bahaya, risiko gangguan kesehatan akibat paparan dapat diminimalkan.

Saluran napas bersih, pendengaran terlindungi, tubuh terjaga.

Tetap tenang. Tetap waspada. Lindungi diri dan keluarga dari paparan abu vulkanik.

*****
Bidang III ; Bidang Sosial dan Edukasi Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (PP PERHATI-KL)

Pusat Informasi Medis Tanggap Bencana Erupsi Gunung Api

30/07/2026
PGPKT KOMDA BOYOLALI, FK UNS dan PERHATI-KL Solo Kembangkan Model Skrining Terpadu untuk Deteksi Dini Gangguan Tidur, Pe...
20/07/2026

PGPKT KOMDA BOYOLALI, FK UNS dan PERHATI-KL Solo Kembangkan Model Skrining Terpadu untuk Deteksi Dini Gangguan Tidur, Pendengaran, dan Tumbuh Kembang Anak

Boyolali – Gangguan tidur, gangguan pendengaran, dan keterlambatan tumbuh kembang pada anak masih menjadi persoalan kesehatan yang sering tidak terdeteksi sejak dini. Padahal, ketiga kondisi tersebut dapat berdampak pada kemampuan belajar, perkembangan bahasa, perilaku, hingga kualitas hidup anak. Berangkat dari kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) bersama PERHATI-KL Cabang Solo mengembangkan model skrining kesehatan anak yang dilakukan secara terpadu melalui kegiatan One Stop Multidisciplinary Pediatric Airway, Hearing and Development Screening (OSPAHS) di SD Negeri 1 Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Minggu (19/7).

Mengusung tema "Healthy Sleep, Healthy Hearing, Healthy Future", kegiatan ini menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) FK UNS sekaligus inovasi pelayanan kesehatan sekolah yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam satu kali kunjungan pemeriksaan.

Kegiatan dibuka dan didampingi oleh Ketua PERHATI-KL Cabang Solo sekaligus dosen Fakultas Kedokteran UNS, Dr. dr. Hadi Sudrajat, Sp.T.H.T.B.K.L., M.Si.Med, serta Ketua Program Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) Komda Boyolali, Dr. Leni Aprilia, Sp.T.H.T.B.K.L., yang juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan di SDN 1 Sobokerto, Ngemplak, Boyolali.

Deteksi Dini Menjadi Investasi Masa Depan Anak

Anak yang mengalami gangguan tidur seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA) sering kali hanya dianggap mengorok saat tidur atau sulit bangun pagi. Padahal, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, hiperaktivitas, penurunan prestasi belajar, hingga gangguan pertumbuhan.

Demikian p**a gangguan pendengaran pada anak sering tidak dikenali sejak awal karena gejalanya berlangsung perlahan. Banyak anak masih dapat berbicara sehingga orang tua tidak menyadari adanya penurunan pendengaran yang dapat menghambat perkembangan bahasa, komunikasi, dan kemampuan akademik.

Karena itu, skrining kesehatan secara komprehensif menjadi langkah penting untuk menemukan berbagai faktor risiko sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Pemeriksaan Lengkap dalam Satu Kunjungan

Berbeda dengan pemeriksaan konvensional yang dilakukan secara terpisah, model OSPAHS memungkinkan anak menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan dalam satu waktu melalui pendekatan multidisiplin.

Program ini dikembangkan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan THT-BKL FK UNS bersama dokter spesialis dari berbagai bidang, yaitu THT-BKL, Ilmu Kesehatan Anak, Neurologi, Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, dengan dukungan dokter muda (koas) FK UNS yang sedang menjalani stase di masing-masing departemen.

Setiap peserta menjalani pemeriksaan secara berurutan yang meliputi:
- skrining risiko gangguan tidur menggunakan Pediatric Sleep Questionnaire,
- pemeriksaan telinga dan pendengaran melalui otoskopi, Otoacoustic Emission (OAE), audiometri, dan Ling Six Sound Test,
- pemeriksaan hidung dan tonsil,
- penilaian status gizi dan tumbuh kembang,
- skrining neurologis dan perilaku,
- evaluasi gangguan pernapasan,
- pemeriksaan kelainan kraniofasial,
- penilaian jalan napas (airway assessment),
- serta evaluasi kebutuhan pemeriksaan radiologi apabila diperlukan.

Seluruh hasil pemeriksaan kemudian dikompilasi untuk menentukan tingkat risiko setiap anak sekaligus menyusun rekomendasi tindak lanjut dan sistem rujukan sesuai kebutuhan.

Edukasi dan Pelayanan Kesehatan Telinga

Selain skrining multidisiplin, tim dokter spesialis THT-BKL PERHATI-KL Cabang Solo juga memberikan pelayanan kesehatan telinga berupa pemeriksaan telinga, tindakan aural toilet (pembersihan telinga) sesuai indikasi medis, serta konsultasi mengenai kesehatan pendengaran kepada siswa dan orang tua.

Pelayanan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gangguan pendengaran pada anak dapat dicegah maupun dideteksi sejak dini sehingga tidak mengganggu proses belajar dan perkembangan anak.

Kolaborasi Lintas Disiplin

Dr. dr. Hadi Sudrajat, Sp.T.H.T.B.K.L., M.Si.Med. mengatakan bahwa model OSPAHS merupakan bentuk kolaborasi berbagai disiplin ilmu untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan anak yang selama ini masih berjalan secara parsial.

> "Gangguan tidur, gangguan pendengaran, dan gangguan tumbuh kembang saling berkaitan serta berdampak terhadap kualitas hidup anak. Karena itu diperlukan pendekatan multidisiplin agar deteksi dini dapat dilakukan lebih cepat, diagnosis menjadi lebih tepat, dan penanganan dapat diberikan sedini mungkin," ujarnya.

Sementara itu, Dr. Leni Aprilia, Sp.T.H.T.B.K.L., menyampaikan bahwa keterlibatan sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan merupakan kunci keberhasilan deteksi dini pada anak usia sekolah.

> "Sekolah menjadi tempat yang sangat strategis untuk melakukan skrining kesehatan anak. Harapannya, semakin banyak anak yang dapat dikenali faktor risikonya sejak dini sehingga memperoleh penanganan yang tepat sebelum mengganggu tumbuh kembang maupun prestasi belajar," katanya.

Menjadi Model Pelayanan Kesehatan Sekolah

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FK UNS dalam mengembangkan pengabdian kepada masyarakat berbasis inovasi pelayanan kesehatan.

Selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, program ini juga menghasilkan berbagai luaran berupa model skrining terpadu OSPAHS, standar operasional prosedur (SOP), booklet edukasi, video edukasi, sistem rujukan multidisiplin, publikasi media massa, serta publikasi ilmiah sebagai bentuk diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat.

Model skrining ini diharapkan dapat menjadi contoh pelayanan kesehatan sekolah yang komprehensif dan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak.

Melalui sinergi antara FK UNS, PERHATI-KL Cabang Solo, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, program OSPAHS diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini gangguan tidur, gangguan pendengaran, dan gangguan tumbuh kembang sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.

https://solo.suaramerdeka.com/solo-raya/0517395140/fk-uns-gandeng-perhati-kl-solo-perkuat-deteksi-dini-gangguan-tidur-pendengaran-tumbuh-kembang-anak
https://karysmafm.com/boyolali/perhati-kl-solo-dan-fk-uns-hadirkan-model-skrining-terpadu-untuk-deteksi-dini-gangguan-tidur-pendengaran-dan-tumbuh-kembang-anak
https://wartabengawan.news/boyolali/fk-uns-dan-perhati-kl-solo-perkuat-deteksi-dini-gangguan-tidur-pendengaran-dan-tumbuh-kembang-anak/

FK UNS, PGPKT Komda Boyolali dan PERHATI-KL Solo Kembangkan Model Skrining Terpadu untuk Deteksi Dini Gangguan Tidur, Pendengaran, dan Tumbuh Kembang Anak https://mudanews.com/pendidikan/2026/07/20/fk-uns-pgpkt-komda-boyolali-dan-perhati-kl-solo-kembangkan-model-skrining-terpadu-untuk-deteksi-dini-gangguan-tidur-pendengaran-dan-tumbuh-kembang-anak/
https://boyolali.inews.id/read/703936/fk-uns-dan-perhati-kl-solo-kenalkan-skrining-terpadu-kesehatan-anak-di-boyolali
http://rri.co.id/surakarta/regional/2581206/fk-uns-dan-perhati-kl-solo-deteksi-dini-gangguan-tidur-dan-pendengaran-anak?nocache=true

Dari Hening Menuju Harmoni: Peran Orang Tua Menentukan Keberhasilan Anak dengan Gangguan PendengaranBoyolali – Teknologi...
20/07/2026

Dari Hening Menuju Harmoni: Peran Orang Tua Menentukan Keberhasilan Anak dengan Gangguan Pendengaran

Boyolali – Teknologi seperti alat bantu dengar dan cochlear implant telah membuka harapan baru bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran. Namun, para ahli menegaskan bahwa keberhasilan anak untuk dapat mendengar, berbicara, dan berkembang secara optimal tidak ditentukan oleh teknologi semata. Keterlibatan orang tua dalam memberikan stimulasi pendengaran setiap hari justru menjadi faktor yang paling menentukan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Workshop Habilitasi Pendengaran dan Optimalisasi Alat Bantu Dengar/Cochlear Implant di Balai Desa Sobokerto, Boyolali, Minggu (19/7). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Workshop diikuti oleh keluarga yang tergabung dalam Deaf Family Solo Raya (DFSR), sebuah komunitas yang mewadahi orang tua dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran. Melalui kegiatan ini, para orang tua dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis agar mampu menjadi pendamping utama anak dalam proses habilitasi pendengaran di rumah.

Habilitasi Tidak Berhenti di Ruang Klinik

Ketua tim pengabdian, Dr. dr. Novi Primadewi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Neurotologi (K), M.Kes., menjelaskan bahwa proses habilitasi pendengaran sesungguhnya berlangsung setiap hari di lingkungan keluarga.

Menurutnya, anak hanya bertemu dokter, audiolog, atau terapis dalam waktu yang terbatas. Sebaliknya, sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama orang tua di rumah. Karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam melatih kemampuan mendengar, memahami suara, dan mengembangkan kemampuan berbahasa.

"Orang tua bukan hanya pendamping, tetapi merupakan bagian dari terapi itu sendiri. Keberhasilan habilitasi sangat dipengaruhi oleh konsistensi stimulasi pendengaran yang dilakukan setiap hari di rumah," ujarnya.

Tim pengabdian juga melibatkan Dr. dr. Dewi Pratiwi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Oto.(K), M.Kes., dr. Tri Nugraha Susilawati, M.Med., Ph.D., serta residen dan koas Program Studi THT-KL RSUD Dr. Moewardi–FK UNS.

Membekali Orang Tua dengan Keterampilan Praktis

Selama workshop, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar pendengaran, tahapan perkembangan kemampuan mendengar (auditory hierarchy), konsep listening age, penggunaan alat bantu dengar dan cochlear implant secara optimal, hingga teknik pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan sendiri di rumah.

Peserta juga mengikuti praktik langsung melakukan pemeriksaan fungsi alat bantu dengar serta daily listening check, sehingga mampu mengenali sejak dini apabila terjadi gangguan pada alat atau perubahan respons pendengaran anak.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri orang tua dalam mendampingi proses belajar mendengar dan berbicara tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas kesehatan.

Logbook untuk Memantau Perkembangan Anak

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Logbook Deaf Family Solo Raya, yaitu buku pendamping yang dirancang untuk membantu keluarga mendokumentasikan proses habilitasi anak setiap hari.

Melalui logbook tersebut, orang tua dapat mencatat lama penggunaan alat bantu dengar atau cochlear implant, hasil Ling Six Sound Test, aktivitas stimulasi pendengaran, hingga perkembangan kemampuan mendengar dan berbicara anak.

Media ini juga akan didukung dengan video pembelajaran sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

Pemeriksaan Telinga untuk Mengoptimalkan Alat Bantu Dengar

Selain workshop, peserta juga memperoleh pelayanan kesehatan telinga berupa pemeriksaan telinga dan tindakan aural toilet atau pembersihan telinga sesuai indikasi medis oleh dokter spesialis THT-BKL.

Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan liang telinga tetap bersih dan sehat sehingga penggunaan alat bantu dengar maupun cochlear implant dapat memberikan manfaat yang optimal.

Kolaborasi Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi, dan Komunitas

Program ini terlaksana melalui kolaborasi antara Universitas Sebelas Maret, PERHATI-KL Cabang Solo, Deaf Family Solo Raya, dan Nobel Audiology Center.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa layanan habilitasi pendengaran tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas keluarga sebagai mitra utama dalam proses rehabilitasi.

Selain memberikan manfaat langsung kepada peserta, kegiatan ini menghasilkan berbagai luaran berupa media edukasi, logbook pendamping habilitasi, serta video pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh keluarga anak dengan gangguan pendengaran di berbagai daerah.

Mendukung Target Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan).

Melalui pendekatan berbasis keluarga, diharapkan semakin banyak anak dengan gangguan pendengaran memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, belajar, dan berinteraksi secara optimal sehingga dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Program ini sekaligus menjadi contoh bagaimana sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dapat menghasilkan inovasi pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

"Dengar Lebih Baik, Berbicara Lebih Baik, Berkembang Lebih Optimal."

https://jateng.antaranews.com/berita/639047/puluhan-anggota-deaf-family-solo-raya-ikut-workshop-habilitasi-pendengaran
https://karysmafm.com/boyolali/sinergi-perguruan-tinggi-dokter-tht-dan-komunitas-perkuat-layanan-habilitasi-pendengaran
https://mercusuar.co/uns-perhati-kl-solo-dan-dfsr-perkuat-peran-orang-tua-dalam-habilitasi-pendengaran-anak

Dari Hening Menuju Harmoni: Peran Orang Tua Menentukan Keberhasilan Anak dengan Gangguan Pendengaran https://mudanews.com/lingkungan-kesehatan/2026/07/20/dari-hening-menuju-harmoni-peran-orang-tua-menentukan-keberhasilan-anak-dengan-gangguan-pendengaran/

27/05/2026

Impaksi Serumen (Kotoran Telinga Menumpuk): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Impaksi Serumen?

Impaksi serumen adalah kondisi ketika kotoran telinga menumpuk terlalu banyak hingga menyumbat liang telinga. Dalam bahasa sederhana, ini adalah “kotoran telinga yang mengeras dan menutup saluran telinga.”

Banyak orang menganggap kotoran telinga adalah sesuatu yang kotor dan harus selalu dibersihkan. Padahal sebenarnya, serumen atau kotoran telinga memiliki fungsi penting untuk melindungi telinga.

Serumen membantu:
menangkap debu dan kotoran,
mencegah infeksi,
menjaga kelembapan liang telinga,
serta melindungi telinga dari bakteri dan jamur.

Masalah muncul ketika serumen menumpuk, mengeras, dan tidak bisa keluar sendiri.

Mengapa Kotoran Telinga Bisa Menumpuk?

Normalnya, telinga memiliki mekanisme alami untuk membersihkan dirinya sendiri. Saat kita mengunyah atau berbicara, kotoran telinga perlahan terdorong keluar.

Namun beberapa hal dapat menyebabkan kotoran justru masuk lebih dalam dan menumpuk, misalnya:

1. Kebiasaan Mengorek Telinga
Ini penyebab paling sering.
Menggunakan:
cotton bud,
jepit rambut,
korek kuping,
atau benda lain
justru mendorong kotoran semakin masuk ke dalam.
Akibatnya serumen menjadi padat dan keras.

2. Produksi Kotoran Telinga Berlebihan
Sebagian orang memang menghasilkan serumen lebih banyak dibanding orang lain.

3. Bentuk Liang Telinga Sempit
Pada beberapa orang, liang telinga lebih kecil atau berlekuk sehingga kotoran mudah tersangkut.

4. Penggunaan Earphone atau Alat Bantu Dengar
Pemakaian benda yang sering masuk ke telinga dapat menghambat keluarnya serumen secara alami.

5. Faktor Usia
Pada orang lanjut usia, kotoran telinga biasanya lebih keras dan kering sehingga mudah menyumbat.

Gejala Impaksi Serumen

Keluhan yang paling sering dirasakan antara lain:
- Telinga Terasa Penuh atau Tersumbat
Pasien sering merasa seperti ada yang “mengganjal".
- Pendengaran Berkurang
Ini keluhan yang paling umum.
- Kadang pasien mengira dirinya tuli mendadak, padahal hanya karena sumbatan kotoran telinga.
- Telinga Berdenging
Muncul bunyi:
nging,
berdengung,
atau suara seperti desis.
- Nyeri atau Tidak Nyaman
Jika kotoran menekan dinding liang telinga, telinga bisa terasa sakit.
- Batuk
Aneh tapi nyata. Saraf di telinga terkadang bisa memicu refleks batuk jika teriritasi
- Pusing
Pada beberapa kasus, pasien dapat merasa sedikit pusing atau tidak seimbang.

Bahaya Membersihkan Telinga Sendiri

Banyak orang mencoba membersihkan telinga sendiri dengan cotton bud.
Padahal ini justru berbahaya karena dapat:
mendorong kotoran semakin dalam,
melukai liang telinga,
menyebabkan infeksi,
bahkan merobek gendang telinga.

Kalimat yang sering dipakai dokter THT adalah:
> “Jangan memasukkan benda lebih kecil dari siku ke dalam telinga.”
Artinya, telinga sebenarnya tidak perlu dikorek terlalu dalam.

Bagaimana Cara Mengatasi Impaksi Serumen?

Penanganan tergantung pada kondisi dan tingkat sumbatannya.
1. Obat Tetes Telinga
Jika kotoran masih lunak atau tidak terlalu keras, dokter dapat memberikan obat tetes untuk melunakkan serumen.
Biasanya digunakan selama beberapa hari
2. Irigasi atau Semprot Telinga
Dokter atau tenaga kesehatan akan menyemprot telinga menggunakan cairan steril untuk mengeluarkan kotoran.
Namun cara ini tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama jika ada infeksi atau gendang telinga berlubang.
3. Pengambilan dengan Alat Khusus
Pada kasus yang keras atau menempel, dokter THT menggunakan alat khusus seperti:
suction,
pengait kecil,
atau forcep.
Tindakan ini relatif cepat dan aman jika dilakukan tenaga medis terlatih.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke dokter jika mengalami:
pendengaran tiba-tiba berkurang,
telinga sakit,
keluar cairan atau darah,
berdenging terus-menerus,
pusing,
atau telinga terasa tersumbat lama.

Jangan mencoba mengorek terlalu dalam sendiri di rumah.

Cara Mencegah Kotoran Telinga Menumpuk

Beberapa langkah sederhana:
hindari penggunaan cotton bud terlalu dalam,
jangan mengorek telinga dengan benda keras,
bersihkan bagian luar telinga saja,
periksa rutin bila sering mengalami sumbatan,
batasi penggunaan earphone terlalu lama.

Kesimp**an (Take Home Massage)

Impaksi serumen adalah masalah yang sering dianggap sepele, tetapi bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan ketidaknyamanan yang cukup mengganggu.

Yang paling penting untuk diingat: kotoran telinga bukan musuh. Telinga sebenarnya mampu membersihkan dirinya sendiri.

Kebiasaan mengorek telinga justru sering menjadi penyebab utama sumbatan.

Jika telinga terasa tersumbat atau pendengaran berkurang, jangan panik dan jangan mengorek sendiri. Periksakan ke dokter agar penanganannya aman dan tepat.

Address

Jalan Ceremai No. 6-Q. Kalibata Indah, Telp 0811967326, Fax : 021-3912144
Jakarta
12750

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian:

Shortcuts

Share