Ternyata angka gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia cukup mengejutkan, termasuk yang tinggi di bilangan Asia Tenggara, yaitu 16,8% untuk gangguan pendengaran dan 0,4% untuk ketulian dengan kelompok tertinggi di usia sekolah (7-9 tahun). Disamping itu diperkirakan setiap tahunnya akan ada sekitar 5200 bayi lahir tuli. Masyarakat kurang mengetahui dan tidak menyadari bahwa dampaknya cukup
berat. Bayi lahir tuli mempunyai dampak terberat, karena anak bisa bicara melalui proses meniru kata-kata yang didengarnya. Jika tidak mendengar maka anak tidak bisa bicara dan berkomunikasi, selanjutnya tidak bisa belajar, menjadi warga terbelakang, SDM rendah akhirnya menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Bagaimana usaha pemerintah dalam hal ini? Atas rekomendasi WHO yang mengajukan data bahwa terdapat 250 juta (4,2%) penduduk dunia menderita gangguan pendengaran pada tahun 2000 dan lebih kurang setengahnya (75-140 juta) terdapat di Asia Tenggara dan angka ini meningkat terus. WHO membentuk Sound Hearing 2030 dan Departemen Kesehatan segera membentuk Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian dan Komnas PGPKT (Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (SK Menkes no 768/Menkes/SK/VII/2007). Tugas Komite adalah membantu pemerintah menurunkan angka gangguan pendengaran dan ketulian di seluruh Indonesia. Ada 5 penyakit penyebab ketulian yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati yaitu OMSK (congek), tuli sejak lahir, tuli orang tua, tuli akibat bising dan serumen (kotoran telinga). Disinilah fokus Komite dalam usaha menurunkan angka ketulian. Diharapkan para dokter THT dan masyarakat umum di seluruh Indonesia berpartisipasi aktif dalam program ini agar apa yang menjadi tujuan WHO dan pemerintah yaitu menurunkan angka ketulian sebesar 50% di tahun 2015 dan secara maksimal di tahun 2030 tercapai guna terbentuknya manusia Indonesia yang mempunyai sumber daya dengan kualitas tinggi. Berbagai kegiatan dapat dilakukan bersama dalam masyarakat di daerah, semisal ; kegiatan pendampingan bagi para peserta di posyandu tentang deteksi dini ketulian pada janin dan bayi, peningkatan pengetahuan bagi para kader posyandu untuk medeteksi secara dini ketulian pada bayi, skreening kebersihan telinga bagi siswa sekolah dasar dan menengah, pelatihan dokter kecil tentang kesehatan telinga, kaderisasi siswa sadar bising bagi siswa sekolah menengah atas dan kejuruan, pendampingan dan penyuluhan bagi para pekerja berdampak bising, peningkatan kemampuan dan pengetahuan bagi para tenaga medis dan paramedis dalam mendeteksi dan penanganan awal penyakit infeksi telinga tengah, pelatihan baca bibir bagi para peserta lanjut usia di posbindu. selain itu p**a menggalakkan berbagai kegiatan penyuluhan pada media informasi yang ada di daerah masing-masing, semisal; penyuluhan gangguan pendengaran dan ketulian di studio radio FM swasta, penyiaran TV lokal, mengisi rubrik kesehatan dalam surat kabar, buletin dan majalah setempat. Juga dapat mengambil peran dengan mengisi berbagai event-event kegiatan daerah dengan menjadi pembicara dalam seminar, menjadi salahsatu peserta dalam stand pameran daerah, membawakan materi dalam session hari peringatan Nasional di daerah. Melakukan berbagai kegiatan pelatihan bagi para penggerak dalam masyarakat, semisal; kader posyandu, ibu PKK, siswa dokter kecil bersama guru pendampingnya, siswa kader sadar bising bersama guru pendampingnya, peserta paskibraka, mahasiswa Stikes, Akper dan Akbid ketika akan turun praktek lapangan, kader posbindu Lansia, penggerak orang muda di Gereja dan mesjid, pendampingan bagi kelompok ibu-ibu pengajian, dokter, bidan dan paramedis di puskesmas. Juga melakukan pertemuan dengan para pengambil kebijakan di daerah (camat, lurah dan kepala desa), para alim ulama, para penggiat media, untuk dapat membangun kesepahaman dan selanjutnya menjadi pendukung utama pada pelaksanaannya dalam masyarakat. Keseluruhan kegiatan yang dilakukan diberbagai tempat dan kesempatan pada kota dan kabupaten yang menjalankannya akan mendorong terciptanya masyarakat yang semakin sadar akan kesehatan telinga dan pendengaran mereka. Pada akhirnya kota dan kabupaten akan menjadi KOTA dan KABUPATEN TELINGA SEHAT.