18/08/2021
“GOLDEN RULES DAN KRISIS KEPERCAYAAN YANG TAK BERUJUNG”
Oleh:
Kementerian Woman Otaku: Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia
Dalam beberapa hari terakhir, fandom JKT48 dikejutkan dengan munculnya skandal tak mengenakkan. Tak tanggung-tanggung, 2 member terpublikasi melanggar Golden Rules yang telah menjadi “aturan tak tertulis” bagi Idol Grup ini. Golden Rules sendiri bagaikan sebuah landasan dan juga marwah dari JKT48. Bagi grup yang menjual afeksi ini, menegakkan Golden Rules adalah sebuah kewajiban, khususnya pada poin dilarang berpacaran. Golden Rules tak hanya sebuah aturan abstrak semata, namun ia adalah norma dan hukum melindungi grup ini. Apabila kita mengambil teori Eugen Ehrlich tentang konsep Living Law, kami mengasumsikan secara kasar bahwa Golden Rules adalah Living Law yang hidup di dalam sebuah sistem dan grup bernama JKT48. Ia mengikat semua pihak, dan menjadi landasan pokok pihak-pihak di dalamnya.
Kembali pada skandal yang hangat saat ini, perlu kita akui bahwa ini mungkin adalah hantaman terpahit yang dirasakan oleh fandom JKT48. 2 member potensialnya ternyata secara tidak langsung ketahuan bermesraan dengan dua anggota dari Boyband Ibukota, UN1TY. Walaupun hingga hari ini tak ada konfirmasi resmi yang menjelaskan bahwa 2 member JKT48 berpacaran/berhubungan dekat dengan 2 personel boyband tersebut, namun para fans sudah terlanjur kehilangan kepercayaan kepada 2 member tersebut dan juga kepada JKT48 Official Team (JOT). Kedua pelaku ditengarai ceroboh dan juga tak bisa menjaga diri dari pergaulannya. Sementara JOT ditengarai tak lagi mampu menjaga 2 orang talentnya untuk menjaga diri dan mematuhi Golden Rules. Tak ayal, para fans pun masuk pada tahap krisis kepercayaan.
Krisis kepercayaan ini lahir dari lambatnya JOT untuk mengambil keputusan dan juga memberikan sanksi tegas kepada para pelaku. Padahal, situasi ini akan sangat tidak menguntungkan bagi keberlangsungan JKT48 itu sendiri. Lemahnya penegakan aturan, lambatnya merespon skandal, dan juga pelayanan yang tak kunjung membaik menjadi faktor penentu mengapa akhirnya para fans tak lagi memberikan kepercayaannya kepada JOT. Hal ini tentu bukan pertama kali terjadi, serentetan skandal member pun telah banyak terjadi selama 10 tahun JKT48 berdiri. Namun nampaknya, puncak dari krisis kepercayaan fans telah sampai pada tahap akhir yang mengkhawatirkan.
Nampaknya JOT perlu kembali merefleksi kembali, hal-hal ke belakang. Menyadari bahwa JKT48 dibangun dari setiap tetes keringat, air mata dan bahkan tetes darah setiap member dan juga fans. Sebuah perjuangan panjang untuk merawat eksistensi grup idola ini. Apabila tak tegas dalam mengambil tindakan, maka bagi kami ini adalah pengkhianatan terbesar JOT kepada mereka, baik fans maupun member yang sudah berjuang menghidupkan JKT48. Karena apabila tak segera mengambil langkah konkret, maka bukan tak mungkin JKT48 akan masuk pada tahap krisis kepercayaan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.