01/04/2026
Saat penyakit tumor membuatnya menjadi penyandang disabilitas, Sriyanti sempat mengisolasi diri. Namun, dorongan untuk mandiri demi anak-anaknya menjadi percikan api yang membakar semangatnya untuk bangkit. Kini, ia bukan sekadar penyintas, melainkan "motor" perubahan inklusi di Nusa Tenggara Timur.
Langkah transformasinya dimulai saat ia bergabung dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI). Dari mendirikan bank sampah lokal hingga memimpin forum disabilitas di Kelurahan Nefonaek, Kota Kupang, Sriyanti membuktikan bahwa suara perempuan penyandang disabilitas layak untuk didengar dan diperhitungkan.
Kini, Sriyanti berkarya bersama Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) NTT. Berkolaborasi erat dengan BPBD, ia bekerja keras menutup celah dalam sistem kedaruratan yang selama ini abai terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
“Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berkomunikasi dengan kami, apalagi membantu saat bencana,” kenangnya.
Melalui kegigihannya, Sriyanti kini menjadi mitra perencanaan pemerintah dengan memastikan data disabilitas dan strategi evakuasi untuk penguatan penanggulangan bencana. Setiap pagi, dengan motor roda tiganya, ia mengantar buah hati ke sekolah sebelum turun ke lapangan untuk mengubah kebijakan. Kehadirannya meruntuhkan stigma; ia bukan lagi objek perlindungan, melainkan aset operasional yang memahami betul kebutuhan warga di akar rumput.
Inilah esensi nyata dari dan semangat Hari Kartini. Ketika sistem memberikan ruang bagi pengalaman hidupnya sebagai keahlian, kita tidak hanya membantu satu individu. Dengan memberikan ruang bagi kepemimpinan perempuan, kita sedang membangun tata kelola bencana yang lebih inklusif, tangguh, dan memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal saat bencana melanda. 🤝💪