03/09/2026
DUMALO
Ada sesuatu yang istimewa dari Dumalo.
Bukan hanya karena rasanya yang manis, renyah, dan gurih. Bukan p**a semata karena bentuknya yang menyerupai jaring.
Di balik jalinan Dumalo, tersimpan sebuah makna: hubungan yang tidak terputus.
Bagi masyarakat Gorontalo, bentuknya yang saling bertaut dimaknai sebagai keterhubungan antara pemimpin dan masyarakat—sebuah pengingat bahwa tidak ada yang berdiri sendiri.
Dumalo juga lahir dari keterampilan yang tidak sederhana.
Adonan tepung beras dan gula dituangkan melalui batok kelapa berlubang, digoyangkan di atas minyak panas hingga membentuk jaring-jaring, kemudian dilipat saat masih panas menggunakan penjepit bambu. Sebuah proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan.
Dan Dumalo bukan hanya hadir di meja makan.
Ia menjadi bagian dari penganan adat, disajikan dalam momen-momen penting seperti Moloopu, Pulanga, dan Modutu, serta menjadi bagian dari tradisi menyambut dan menghormati tamu.
Kini, di tengah hadirnya berbagai kue modern, Dumalo tetap bertahan. Bahkan terus dikembangkan melalui berbagai inovasi rasa dan menjadi salah satu produk UMKM masyarakat Gorontalo.
Sebab melestarikan Dumalo bukan hanya tentang mempertahankan sebuah resep.
Ini tentang menjaga keterampilan, nilai, ingatan, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dumalo.
Bertaut dalam rasa, terhubung dalam makna.
Mari kenali, ceritakan, dan lestarikan warisan budaya Gorontalo. 🤎