17/07/2026
PAJAJARAN DAN CIREBON: SATU GARIS SEJARAH
Sejarah Pajajaran dan Cirebon bukanlah dua kisah yang berdiri sendiri, melainkan berada dalam satu garis sejarah yang saling berkaitan. Prasasti Batutulis mengabadikan kebesaran Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) sebagai Raja Sunda, sementara perjalanan putra beliau, Pangeran Cakrabuana (Pangeran Walangsungsang), menjadi awal lahirnya pusat pemerintahan baru di pesisir utara Tatar Sunda.
Pangeran Cakrabuana memilih membangun Dalem Agung Pakungwati sekitar tahun 1430 M, yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Cirebon. Dari pusat pemerintahan inilah berkembang pemerintahan yang diteruskan oleh keturunannya, termasuk Sunan Gunung Jati hingga para Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Karena itu, hubungan Pajajaran dan Cirebon bukan sekadar kedekatan geografis, melainkan kesinambungan sejarah, silsilah, dan warisan pemerintahan. Prasasti Batutulis menjadi pengingat kejayaan Kerajaan Sunda, sedangkan Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi salah satu pewaris tradisi, budaya, dan perjalanan sejarah yang tumbuh dari akar yang sama.
Melalui pemahaman sejarah yang utuh, kita dapat melihat bahwa jejak Pajajaran dan Cirebon saling melengkapi dalam membentuk khazanah peradaban Nusantara.
Sultan Sepuh XV PRA. Luqman Zulkaedin terus mengajak masyarakat untuk mengenal, menjaga, dan melestarikan warisan sejarah serta budaya Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai bagian penting dari identitas bangsa.