KPA Kota Cirebon

KPA Kota Cirebon Akun Resmi Komisi Penanggulangan AIDS Kota Cirebon | Halaman ini terhubung dengan Instagram resmi

Sejarah KPA

Awal epidemi HIV dan AIDS di Indonesia (1987): Kasus pertama AIDS di Indonesia ditemukan 24 tahun yang lalu (1987). Antara tahun 1987 dan 1997, peningkatan infeksi tampak lambat, upaya penanggulangan pun sangat terbatas dan terutama terfokus di sektor kesehatan. Pada bulan Mei 1994 Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) yang pertama di Indonesia ditetapkan dengan Keputusan Presiden 36/19941, yang kemudian disusul dengan Strategi Nasional Penanggulangan AIDS yang pertama (bulan Juni 1994). Epidemi makin berkembang dan upaya penanggulangannya (1994 – 2004): Pada pertengahan tahun 1990an, tampak peningkatan yang tajam dalam penularan di kalangan pengguna napza suntik (penasun). Lingkungan sosial dan legal yang mengkriminalisasi penasun, menyebabkan sebagian besar menyuntik secara sembunyi-sembunyi dengan berbagi alat suntik. Hal ini berdampak negatif pada semua orang yang terlibat maupun pada penyebaran infeksi HIV. Pada tahun 1993 di kalangan penasun hanya 1 orang yang ditemukan HIV positif (di Jakarta), pada bulan Maret 2002 sudah dilaporkan 116 kasus AIDS karena penggunaan napza suntik di 6 provinsi. Pada akhir tahun 2004 dilaporkan 2.682 orang dengan AIDS dari 25 provinsi (kumulatif), diantaranya: 1844 adalah ODHA baru: 649 orang stadium HIV dan 1.195 AIDS baru. Sebanyak 824 orang (68,95% dari AIDS yang baru dilaporkan) adalah akibat penggunaan napza suntik. Pada tahun yang sama, selain di kalangan penasun, data surveilans di kalangan orang yang berisiko terinfeksi HIV akibat gaya hidup atau pekerjaannya : pekerja seks perempuan, laki-laki dan waria, laki-laki yang seks dengan laki-laki (LSL), dan pasangan masing-masing – semua juga menunjukkan peningkatan HIV secara signifikan. Antara tahun 2003 dan 2004 jumlah infeksi baru HIV dan kasus AIDS yang dilaporkan meningkat hampir 4 kali lipat (3,81 kali) antara lain karena meningkatnya sarana testing dan konseling, kemampuan mendiagnosa dan pelaporan yang lebih baik, terutama di Jawa, Bali dan beberapa provinsi lain di luar Jawa. Epidemi HIV di Indonesia “beralih” dari klasifikasi “epidemi tingkat rendah” menjadi “epidemi terkonsentrasi” – dimana prevalensi HIV di kalangan penduduk risiko tinggi sudah mencapai > 5%. Epidemi HIV di Provinsi Papua menunjukkan perkembangan yang berbeda dengan provinsi lain. Walaupun penduduknya hanya 1% dari penduduk Indonesia, namun dalam bulan Desember 2004 HIV kumulatif yang dilaporkan di Papua berjumlah 19,1% dari seluruh infeksi baru di Indonesia.6 Selain itu, penularan utama HIV secara nasional disebabkan oleh penggunaan napza suntik, namun lebih dari 90% infeksi HIV di Papua disebabkan karena hubungan seks berisiko. Tantangan yang sangat besar untuk penanggulangan AIDS di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat adalah masalah komunikasi, transportasi serta infrastruktur kesehatan dan masyarakat yang sangat terbatas. Perpres 75/2006, tahap baru dalam upaya penanggulangan AIDS nasional: Dalam bulan Desember 2005, setelah mendengar penjelasan dari Wakil Ketua Pokja Komitmen Sentani dan staf sekretariat KPA Nasional, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat yang baru, Ir Aburizal Bakrie berkesimp**an, bahwa AIDS bukan merupakan persoalan lokal, tetapi merupakan ancaman serius terhadap pembangunan bangsa Indonesia secara nasional; dengan perkataan lain, upaya penanggulangan yang terpencar-pencar, terbatas dan tak terkoordinasi tidak akan mampu mengendalikan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Atas dasar analisa tersebut, beliau berkesimp**an bahwa perlu ada perubahan dalam status, keanggotaan maupun tata kerja dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Enam bulan kemudian pada tanggal 13 Juli 2006, ditetapkanlah Peraturan Presiden no 75/ 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. KPAN yang baru ditugaskan untuk “meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi” (Ps 1). KPAN berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden (Ps 2) – dengan demikian meningkatkan posisi KPAN sebagai bagian dari aparat pembangunan bangsa yang mempunyai tanggung jawab secara nasional. Berbeda dengan KPAN sebelumnya, KPAN dalam Perpres 75/2006 lebih inklusif dengan penambahan anggota selain dari sektor pemerintah sipil dan militer, juga dari organisasi ODHA nasional, perwakilan dari komunitas LSM AIDS, dan organisasi profesi dan sektor swasta. Dr Nafsiah Mboi, salah seorang anggota KPAN ditetapkan sebagai sekretaris penuh waktu merangkap sebagai Kepala Sekretariat KPAN dan Ketua Tim Pelaksana KPAN. Permenkokesra no. 5/ 2007 menetapkan masa jabatan sekretaris KPAN selama 5 tahun (2006 – 2011) dan hanya bisa diperpanjang selama maksimum 1 masa bakti (5 tahun) lagi. Komisi Penanggulangan AIDS dibentuk dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS, dimana dianggap perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga kelangsungan penanggulangan AIDS dan menghindari dampak yang lebih besar di bidang kesehatan, sosial, politik dan ekonomi serta dalam rangka meningkatkan efektifitas koordinasi penanggulangan AIDS sehingga lebih intensif, menyeluruh dan terpadu.

Sekolah yang sehat bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk bertanya, memahami, dan tumbuh tanp...
11/09/2026

Sekolah yang sehat bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk bertanya, memahami, dan tumbuh tanpa rasa takut dihakimi.

Dalam edukasi HIV dan kesehatan reproduksi, lingkungan sekolah yang inklusif memiliki peran penting. Ketika siswa merasa dihargai, didengar, dan tidak dipermalukan karena bertanya, mereka akan lebih berani mencari informasi dari sumber yang benar.

Sebaliknya, suasana yang penuh stigma, ejekan, atau anggapan tabu dapat membuat siswa memilih diam dan mencari jawaban dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya.

Sekolah yang inklusif dapat dibangun melalui budaya saling menghormati, keterbukaan terhadap edukasi kesehatan, perlindungan terhadap kerahasiaan siswa, serta sikap tegas terhadap perundungan dan diskriminasi.

Pemahaman yang benar juga membantu mengurangi stigma terhadap ODHIV. HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari seperti belajar bersama, berjabat tangan, berbagi ruang kelas, atau berteman.

Karena itu, pengetahuan dan empati harus berjalan beriringan.

Ketika sekolah memberikan ruang aman untuk belajar dan bertanya, siswa tidak hanya mendapatkan informasi yang lebih akurat, tetapi juga belajar menghormati martabat setiap orang tanpa membedakan kondisi kesehatannya.

Sekolah yang inklusif akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis, peduli, sehat, dan bebas dari stigma.

Mari bersama membangun lingkungan pendidikan yang aman, terbuka, dan berlandaskan fakta.

Teks by Ica

Merasa “aman” belum tentu berarti benar-benar aman.Dalam pencegahan HIV, salah satu tantangan yang sering muncul adalah ...
10/09/2026

Merasa “aman” belum tentu berarti benar-benar aman.

Dalam pencegahan HIV, salah satu tantangan yang sering muncul adalah ketika seseorang memahami risikonya, tetapi merasa risiko tersebut hanya mungkin terjadi pada orang lain.

Pikiran seperti “saya lebih berhati-hati”, “saya kenal dia baik”, atau “hal seperti itu tidak akan terjadi pada saya” dapat menimbulkan rasa aman yang keliru.

Padahal, HIV tidak melihat usia, prestasi, status sosial, kedekatan hubungan, maupun penampilan seseorang. Risiko ditentukan oleh ada atau tidaknya paparan melalui cara penularan HIV, bukan oleh siapa orangnya.

Karena itu, penting untuk memiliki persepsi risiko yang realistis. Bukan dengan hidup dalam ketakutan, tetapi dengan memahami fakta dan tetap waspada terhadap perilaku yang dapat meningkatkan risiko.

Sebelum merasa “pasti aman”, tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar memahami risikonya?”
“Apakah rasa aman ini berdasarkan fakta atau hanya asumsi?”
“Apakah keputusan saya sudah cukup melindungi kesehatan dan masa depan?”

Kesadaran bahwa setiap orang dapat memiliki risiko bukan alasan untuk panik. Justru, kesadaran itulah yang membantu kita membuat keputusan yang lebih bijak, menjaga batas, dan mencari informasi atau layanan kesehatan ketika dibutuhkan.

Jangan merasa kebal hanya karena risiko belum pernah terjadi sebelumnya.

Kenali risikonya, pahami faktanya, dan lindungi diri dengan keputusan yang bertanggung jawab.

Teks by Ica

Pencegahan HIV tidak selalu harus dimulai dari rasa takut. Ada pendekatan yang lebih kuat, yaitu membantu remaja membang...
10/09/2026

Pencegahan HIV tidak selalu harus dimulai dari rasa takut. Ada pendekatan yang lebih kuat, yaitu membantu remaja membangun kehidupan yang sehat, bermakna, dan layak untuk dijaga.

Kesejahteraan subjektif adalah kondisi ketika seseorang merasa cukup puas dengan hidupnya, memiliki tujuan, mampu menikmati hal-hal positif, serta merasa dirinya berharga. Remaja dengan kondisi batin yang lebih sehat cenderung memiliki alasan yang lebih kuat untuk menjaga tubuh, mempertahankan prinsip, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil keputusan.

Ketika seseorang memiliki cita-cita, hubungan yang mendukung, ruang untuk mengembangkan bakat, serta nilai hidup yang kuat, ia memiliki lebih banyak sumber daya psikologis untuk menghadapi tekanan dan menghindari perilaku berisiko.

Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan mengatakan “jangan”. Remaja juga perlu dibantu untuk menemukan alasan mengapa kesehatan dan masa depannya layak dipertahankan.

Kesejahteraan yang baik juga dapat mendukung keberanian untuk mencari informasi dan pertolongan ketika dibutuhkan. Bertanya kepada orang tua, guru, tenaga kesehatan, atau datang ke Puskesmas bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Justru, itu merupakan bagian dari upaya menjaga diri.

Membangun remaja yang sehat berarti tidak hanya menjauhkan mereka dari risiko, tetapi juga membantu mereka memiliki kehidupan yang membuat mereka ingin terus tumbuh, berkarya, dan menjaga masa depan.

Bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia adalah memiliki cukup kekuatan, makna, dan dukungan untuk tetap memilih langkah yang sehat.

Teks by Ica

Tahu belum tentu selalu berarti mampu mengubah perilaku.Banyak remaja sebenarnya sudah memahami bahaya HIV, mengetahui f...
09/09/2026

Tahu belum tentu selalu berarti mampu mengubah perilaku.

Banyak remaja sebenarnya sudah memahami bahaya HIV, mengetahui faktor risikonya, dan mengerti pentingnya menjaga diri. Namun, dalam situasi tertentu, pengetahuan itu bisa berbenturan dengan pilihan yang akhirnya tetap dilakukan.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai disonansi kognitif, yaitu rasa tidak nyaman ketika keyakinan dan tindakan tidak berjalan searah.

Saat hal itu terjadi, seseorang bisa saja mulai membenarkan keputusan berisiko dengan berbagai alasan, seperti:
“Sekali saja tidak apa-apa.”
“Sepertinya aman.”
“Teman-teman juga melakukan.”
“Atau mungkin risikonya tidak sebesar yang dibicarakan.”

Masalahnya, pembenaran diri dapat membuat risiko yang sebenarnya nyata terasa semakin kecil.

Karena itu, edukasi kesehatan tidak cukup hanya dengan mengetahui fakta. Kita juga perlu belajar mengenali tekanan, memahami alasan di balik keputusan, dan berani mengevaluasi diri secara jujur.

Ketika mengetahui suatu perilaku memiliki risiko, jangan buru-buru mencari alasan untuk membuatnya terasa aman. Berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah keputusan ini benar-benar aman, atau saya hanya sedang mencoba meyakinkan diri sendiri?”

Kemampuan mengenali pembenaran diri adalah bagian penting dari kedewasaan dalam mengambil keputusan.

Pengetahuan menjadi lebih bermakna ketika mampu diterjemahkan menjadi tindakan yang menjaga kesehatan dan masa depan.

Kenali risikonya, pahami diri sendiri, dan berani memilih dengan sadar.

Teks by Ica

Tidak semua yang dilakukan banyak orang adalah pilihan yang benar untuk diri kita.Pada masa remaja, keinginan untuk dite...
09/09/2026

Tidak semua yang dilakukan banyak orang adalah pilihan yang benar untuk diri kita.

Pada masa remaja, keinginan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan sering membuat seseorang mengikuti kebiasaan kelompok tanpa sempat mempertimbangkan risiko. Kalimat seperti “semua teman juga begitu” terdengar sederhana, tetapi bisa membuat kita perlahan kehilangan kendali atas keputusan sendiri.

Dalam menjaga kesehatan, termasuk mencegah HIV dan infeksi menular seksual, setiap orang perlu mampu menilai risiko secara sadar. Apa yang terlihat aman bagi orang lain belum tentu aman bagi kita.

Tubuh, kesehatan, dan masa depan adalah tanggung jawab pribadi. Teman dapat memberi pengaruh, tetapi keputusan tetap berada di tangan kita sendiri.

Sebelum mengikuti sebuah ajakan, biasakan berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah saya benar-benar memahami risikonya?”
“Apakah ini sesuai dengan prinsip yang saya pegang?”
“Apakah keputusan ini tetap akan saya pilih jika tidak ada tekanan dari orang lain?”

Berani berbeda bukan berarti tidak bisa bergaul. Justru, kemampuan mempertahankan prinsip di tengah tekanan adalah salah satu bentuk kedewasaan.

Jangan serahkan kemudi hidup kepada tren atau tekanan kelompok. Jadilah pribadi yang mampu memilih dengan sadar, menjaga diri, dan bertanggung jawab atas masa depan sendiri.

Ikut arus itu mudah. Memilih arah yang benar membutuhkan keberanian.

Teks by Ica

Terkadang, tubuh dan pikiran sudah memberi tanda sebelum kita benar-benar menyadari bahwa sebuah situasi tidak baik untu...
08/09/2026

Terkadang, tubuh dan pikiran sudah memberi tanda sebelum kita benar-benar menyadari bahwa sebuah situasi tidak baik untuk diri kita.

Rasa tidak nyaman, ragu, tertekan, atau gelisah saat menghadapi ajakan tertentu dapat menjadi sinyal untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan kembali keputusan yang akan diambil.

Dalam pergaulan, jangan abaikan perasaan tidak aman hanya demi diterima, takut dianggap berbeda, atau khawatir mengecewakan orang lain. Kita berhak menjaga batas, mempertahankan prinsip, dan menolak sesuatu yang berpotensi merugikan kesehatan maupun masa depan.

Namun, keputusan tetap perlu didasarkan pada pengetahuan yang benar. Hati nurani dapat menjadi pengingat, sementara informasi kesehatan yang akurat membantu kita memahami risiko secara lebih objektif, termasuk dalam pencegahan HIV dan infeksi menular seksual.

Jika berada dalam situasi yang membuat tidak nyaman, coba tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya pegang?”
“Apakah keputusan ini aman bagi kesehatan saya?”
“Apakah saya benar-benar memilihnya tanpa tekanan?”

Jangan memaksakan diri mengikuti arus hanya karena takut berkata tidak.

Menjaga diri adalah bentuk tanggung jawab. Berani berhenti ketika sesuatu terasa tidak tepat adalah bagian dari kedewasaan dalam mengambil keputusan.

Dengarkan diri, gunakan pengetahuan yang benar, dan pilih langkah yang menjaga kesehatan serta masa depan.

Teks by Ica

Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak perubahan. Justru, itu adalah kemampuan untuk tetap tumbuh tanpa kehilangan p...
08/09/2026

Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak perubahan. Justru, itu adalah kemampuan untuk tetap tumbuh tanpa kehilangan prinsip dan nilai yang diyakini.

Di usia remaja, tekanan untuk mengikuti tren dan menyesuaikan diri dengan lingkungan bisa terasa sangat kuat. Namun, tidak semua yang populer layak diikuti. Ada pilihan yang mungkin terlihat keren sesaat, tetapi membawa risiko bagi kesehatan, masa depan, dan harga diri.

Kepercayaan diri yang sehat tidak dibangun dari seberapa mirip kita dengan orang lain, tetapi dari seberapa baik kita mengenal diri sendiri, menjaga batas, dan berani mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Termasuk dalam hal kesehatan, jangan biarkan tekanan pergaulan mendorong kita pada perilaku berisiko yang dapat meningkatkan kemungkinan penularan HIV atau infeksi menular seksual.

Teman yang baik tidak akan memaksa kita mengorbankan prinsip demi diterima. Lingkungan yang sehat justru memberi ruang untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Bangga menjadi diri sendiri berarti memahami bahwa tubuh, kesehatan, mimpi, dan masa depan kita terlalu berharga untuk ditukar dengan pengakuan sesaat.

Jadilah pribadi yang autentik, percaya diri, dan berani memilih jalan yang sehat.

Karena tren bisa berubah, tetapi nilai diri dan masa depan tetap layak untuk dijaga.

Teks by Ica

Selamat Hari Aksara InternasionalAksara bukan sekadar rangkaian huruf. Dari aksara, pengetahuan diwariskan, gagasan disa...
08/09/2026

Selamat Hari Aksara Internasional

Aksara bukan sekadar rangkaian huruf. Dari aksara, pengetahuan diwariskan, gagasan disampaikan, dan masa depan dibangun.

Hari Aksara Internasional menjadi pengingat bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah bagian penting dalam membuka akses terhadap pendidikan, informasi, serta kesempatan yang lebih luas bagi setiap orang.

Mari terus menumbuhkan budaya literasi, memperluas akses pembelajaran, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh pengetahuan.

Membaca membuka wawasan, menulis meninggalkan jejak peradaban.

Selamat Hari Pamong Praja NasionalHari Pamong Praja Nasional menjadi momentum untuk mengapresiasi seluruh aparatur pemer...
08/09/2026

Selamat Hari Pamong Praja Nasional

Hari Pamong Praja Nasional menjadi momentum untuk mengapresiasi seluruh aparatur pemerintahan yang mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dengan semangat profesionalitas, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian, Pamong Praja memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban, memperkuat pelayanan publik, serta menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat.

Semoga semangat pengabdian terus tumbuh untuk menghadirkan pemerintahan yang semakin responsif, humanis, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Terus mengabdi, melayani, dan hadir untuk negeri.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca fakta kesehatan secara kritis menjadi semakin penting.Tidak...
07/09/2026

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca fakta kesehatan secara kritis menjadi semakin penting.

Tidak semua informasi tentang kesehatan dan HIV yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Ada informasi yang benar, ada yang dilebih-lebihkan, dan ada p**a yang merupakan mitos lama yang terus diulang. Jika diterima tanpa diperiksa, informasi yang salah dapat menimbulkan ketakutan, stigma, maupun rasa aman yang keliru.

Sebelum mempercayai sebuah informasi, periksa terlebih dahulu sumbernya. Pastikan berasal dari lembaga kesehatan resmi, tenaga medis, fasilitas pelayanan kesehatan, atau sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Waspadai informasi yang hanya mengandalkan judul sensasional, menakut-nakuti, menyudutkan kelompok tertentu, atau tidak menyertakan dasar yang jelas.

Salah satu contoh mitos yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa HIV dapat menular melalui keringat. Faktanya, HIV tidak menular melalui keringat, berjabat tangan, berpelukan, atau interaksi sosial sehari-hari.

Literasi kesehatan yang baik membantu kita memahami risiko secara tepat, mengambil keputusan yang lebih bijak, serta mengurangi stigma terhadap ODHIV.

Sebelum membagikan informasi, biasakan bertanya:
Apakah sumbernya jelas?
Apakah informasinya didukung fakta medis?
Apakah sudah diperiksa kebenarannya?

Saring sebelum sharing. Periksa sebelum percaya.

Karena informasi yang benar bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga dapat melindungi kesehatan diri sendiri dan orang lain.

Teks by Ica

Address

Jalan Kembang No. 28 Kel. Sukapura Kec. Kejaksan
Cirebon
45122

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KPA Kota Cirebon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share