Badan Wakaf Al-Qur'an Cabang Cirebon

Badan Wakaf Al-Qur'an Cabang Cirebon BWA Badan Wakaf Al-Qur'an Cabang Cirebon

17/07/2021

*PENTINGNYA MUHASABAH DI TENGAH PANDEMI*

Buletin Kaffah N0. 200 (28 Dzulqa'dah 1442 H/9 Juli 2021 M)

Pandemi Covid-19 makin mencemaskan. Jumlah warga terpapar rata-rata di atas 20 ribu kasus perhari. Rumah sakit dilaporkan kolaps. Pasien bertumpuk. Bahkan tak lagi mampu ditampung. Tenaga kesehatan makin kewalahan. Sebagian ikut jatuh sakit. Sebagian lagi wafat.

Nasib warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah juga memprihatinkan. Sejumlah warga meninggal. Pasalnya, tak ada perawatan yang memadai untuk mereka. Tak kalah mencemaskan. Terjadi juga antrian di pemakaman dengan protokol Covid-19. Banyak kekurangan peti jenazah. Beberapa Pemda menambah lahan pemakaman baru untuk memakamkan warga korban Covid-19 yang terus bertambah.

Musibah: Kuasa Allah SWT

Bagi kaum Mukmin, setiap musibah harus dihadapi dengan keimanan. Tentu agar tidak muncul persepsi dan sikap yang keliru. Pertama: Seorang Muslim wajib mengimani bahwa tak ada satu pun musibah yang dia alami melainkan atas kehendak Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 51).

Tidak ada satu pun musibah seperti bencana alam atau wabah terjadi begitu saja. Semua makhluk yang ada di alam semesta tunduk pada perintah Allah SWT. Termasuk berbagai makhluk seperti virus atau bakteri penyebab wabah penyakit. Semua tunduk pada kekuasaan-Nya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ...

Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bersujud apa saja yang ada di langit dan di bumi; juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia? (TQS al-Hajj [22]: 18).

Imam al-Alusi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “sujud” adalah masuknya segala sesuatu di bawah kendali Allah SWT dan iradah-Nya, serta kecenderungannya pada apa saja yang Allah ‘Azza wa Jalla adakan (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 13/27).

Dengan memahami kenyataan ini, seorang hamba akan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dia pun akan menyadari kelemahannya sebagai mahluk. Ketika manusia membanggakan kecanggihan teknologi kedokteran, farmasi dan sebagainya, ternyata akan sampai pada satu realita bahwa manusia tak sanggup mengalahkan kekuasaan Allah SWT. Bahkan menghadapi makhluk kecil seperti virus saja, dunia nyaris lumpuh. Benarlah firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ...

Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka (TQS al-Baqarah [2]: 26).

Kedua: Seorang Mukmin wajib memahami bahwa sepanjang kehidupan di dunia dia akan selalu mendapatkan berbagai ujian. Allah SWT berfirman:

لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Imam ath-Thabari, mengutip pernyataan Ibnu Abbas ra., mengomentari ayat ini, “Allah SWT mengabarkan kepada orang-orang beriman bahwa dunia adalah negeri ujian (dar bala’). Mereka akan diuji di dalamnya. Allah memerintahkan mereka untuk bersabar. Lalu Allah memberikan kabar gembira dengan berfirman, ‘Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.’” (Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, 2/219).

Demikianlah hakikat kehidupan dunia. Tak ada seorang hamba pun yang melewati hidupnya tanpa ujian dari Allah SWT. Jika ia bersabar, ia bersih dari segala dosa karena kesabarannya menanggung berbagai ujian. Sabda Nabi saw.:

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa (HR at-Tirmidzi).

Di antara bentuk kesabaran seorang hamba dalam menghadapi musibah berupa sakit adalah tidak mencaci-maki sakit yang dia derita. Termasuk tidak mencela Corona yang sedang mewabah. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah mengingatkan Ummu as-Saib yang mencela sakit yang sedang dia derita, yaitu demam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Janganlah engkau mencela demam. Demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana kir (alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi (HR Muslim).

Karena itu sabar adalah amal yang mesti ditunjukkan seorang Mukmin manakala ia ditimpa musibah (Lihat: TQS al-Baqarah [2]: 155-157).

Muhasabah Atas Musibah

Selain ridha dan bersabar, kaum Muslim juga diperintahkan untuk melakukan muhasabah. Umat wajib muhasabah atas kemungkinan dosa-dosa yang dilakukan yang menyebabkan datangnya bencana. Allah SWT mengingatkan bahwa beragam bencana datang justru karena ulah manusia sendiri:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

Siapapun yang jujur akan melihat di negeri yang mayoritas Muslim justru banyak terjadi pelanggaran terhadap syariah Islam, pen*staan agama, serta permusuhan terhadap para ulama. Sebutan “intoleran”, “radikalisme”, sikap memusuhi penerapan Islam dan kewajiban khilafah terus dilakukan terhadap kaum Muslim, khususnya yang memperjuangkan Islam.

Beragam tindak kezaliman juga seperti tak pernah berakhir. Bagaimana ulama divonis berat dengan tuduhan melanggar aturan prokes, sementara pejabat negara yang melanggar prokes lolos begitu saja. Ada juga aparat penegak hukum yang kongkalikong dengan koruptor justru diberi potongan hukum amat besar.

Eratnya hubungan kemungkaran dan kezaliman sebagai sebab datangnya bencana adalah perkara yang jelas. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Lalu ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami menyiksa mereka secara tiba-tiba. Ketika itu mereka terdiam putus asa (TQS al-An’am [6]: 44).

Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa saat kejahatan merajalela, Allah SWT akan meratakan bencana. Zainab binti Jahsyi ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah kita akan binasa wahai Rasulullah, padahal di sekitar kita ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab:

نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Ya, jika kemungkaran itu sudah merajalela (HR al-Bukhari).

Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. Saat ini kemungkaran telah merajalela. Lalu datanglah bencana yang juga menimpa orang-orang shalih. Selama pandemi ini dilaporkan ada sekitar 584 ulama yang meninggal karena wabah. Belum termasuk para imam dan pengurus masjid serta para ustadz pembimbing umat lainnya yang juga wafat karena wabah.

Karena itu, selain berikhtiar mengerahkan kemampuan teknologi kedokteran dan obat-obatan, kaum Muslim harus melakukan tawbat[an] nasuha. Kembali kepada Allah dengan menaati semua aturan-Nya. Mereka harus menjadikan agama Allah sebagai petunjuk. Tidak memusuhi Islam. Tidak menuduh al-Quran dan syariah Islam sebagai ancaman.

Berikutnya umat harus menyadari bahwa mereka tidak memiliki kepemimpinan yang serius me-ri’ayah (mengurus) urusan mereka. Meledaknya pandemi kali ini adalah rangkaian ketidakseriusan Pemerintah menangani wabah. Pemerintah tidak mau menerapkan prokes dengan ketat di tengah masyarakat. Pemerintah pun tidak mau menjamin kehidupan warga agar tidak beraktivitas di luar rumah.

Sejak awal pandemi merebak di dunia, Pemerintah terus membuka kedatangan WNA ke dalam negeri, termasuk dari Cina sebagai asal wabah. Bahkan ketika pandemi masuk ke Tanah Air, pintu imigrasi masih terus dibuka. Fatal akibatnya. Corona varian delta yang berasal dari luar negeri akhirnya merebak ke Tanah Air. Inilah tindakan yang justru mendatangkan madarat atas negeri ini. Ini sebenarnya telah diharamkan syariah. Nabi saw. bersabda:

مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ

Siapa saja yang membahayakan orang lain, Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja yang menyulitkan orang lain, Allah pun akan menimpakan kesulitan atas dirinya (HR Abu Dawud).

Umat membutuhkan pemimpin yang benar-benar mau mengurus mereka dan melindungi mereka dari bencana. Pemimpin ini tentu yang mengurusi umat dengan syariah Islam; yang menanamkan iman dan takwa kepada warga sehingga mereka menjaga diri dari berbagai tindakan madarat, taat pada protokol kesehatan; serta yang memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya, termasuk menghindarkan negeri dari sumber penyakit.

Semoga Allah SWT segera mengangkat wabah ini dari tengah-tengah umat dan negeri-negeri Muslim. Semoga Allah SWT pun menyegerakan tegaknya kepemimpinan Islam yang melayani umat dengan syariah Islam dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah sesuai dengan metode kenabian. Amin. []

---*---

Hikmah:

Ali bin Abi Thalib ra. berkata:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Tidaklah musibah hilang melainkan dengan tobat. (Ibnu al-Qayyim, Al-Jawab al-Kafi, hlm. 87). []

*HARAM MENZALIMI HARTA RAKYAT*Buletin Dakwah Kaffah No. 197 (7 Dzulqa'dah 1442 H/18 Juni 2021 M)Harta adalah salah satu ...
17/07/2021

*HARAM MENZALIMI HARTA RAKYAT*

Buletin Dakwah Kaffah No. 197 (7 Dzulqa'dah 1442 H/18 Juni 2021 M)

Harta adalah salah satu bagian dari kehidupan manusia yang mendapat perlindungan Islam. Tidak boleh ada yang mengganggu dan merampas harta seseorang. Tidak boleh juga memungut harta seseorang tanpa izin syariah. Bahkan negara sekalipun haram melakukan pemaksaan pungutan apapun dari rakyatnya, kecuali pungutan yang memang telah diakui dan dibenarkan oleh syariah.

Namun, di dalam sistem Kapitalisme sekular seperti saat ini, berbagai macam pungutan (pajak) justru menjadi sumber utama pendapatan negara. Pajak dan berbagai pungutan lainnya tentu menambah beban kehidupan masyarakat. Ironisnya, pada saat kondisi kehidupan yang sedang sulit sekalipun seperti saat ini, pungutan pajak bukannya dikurangi atau dihilangkan, malah makin ditambah. Padahal, di sisi lain, negara tidak menjamin kesejahteraan bagi seluruh warganya.

Islam Melindungi Harta

Di dalam al-Quran telah terdapat larangan mengganggu dan merampas harta manusia tanpa alasan yang haq. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian secara batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar keridhaan di antara kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 29).

Dalam ayat ini terkandung pemahaman bahwa harta sesama manusia boleh diambil dan dimanfaatkan jika pemiliknya ridha dan tentu harus sesuai dengan ketentuan syariah Islam, seperti melalui jual-beli, hibah, sedekah, dsb.

Larangan mengganggu dan merampas harta juga disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam Khutbah al-Wada’.:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هذَا فِي شَهْرِكُمْ هذَا فِي بَلَدِكُمْ هذَا

Sungguh darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini (HR al-Bukhari dan Muslim).

Demikian pentingnya menjaga harta sesama Muslim, bahkan sejengkal tanah mereka pun tak boleh dirampas. Rasulullah saw. mengingatkan:

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنْ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Siapa saja yang mengambil sejengkal tanah (orang lain) secara zalim, Allah akan menghimpit dirinya dengan tujuh lapis tanah (bumi) (HR Muslim).

Rasulullah saw. pun bersabda:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا

Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik dengan main-main ataupun sungguh-sungguh. Siapa saja yang mengambil tongkat saudaranya, hendaklah ia mengembalikannya (HR Abu Dawud).

Ghashab dan Kezaliman

Terkait dengan QS an-Nisa’ ayat 29 di atas, As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, “Allah SWT telah melarang hamba-hamba-Nya yang Mukmin untuk memakan harta di antara mereka dengan cara yang batil. Ini mencakup ghashab (perampasan), pencurian serta memperoleh harta melalui judi dan perolehan-perolehan yang tercela.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 300).

Ghashab, menurut kitab Al-Muhith fi al-Lughah, adalah mengambil sesuatu secara zalim dan memaksa. Menurut Dr. Khalid al-Musyaiqih, ghashab adalah menguasai hak orang lain, baik hartanya atau hak gunanya, secara paksa, tanpa alasan yang benar.

Ghashab bukan saja terjadi antar individu, tetapi juga bisa dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya. Berbagai pungutan yang ada di luar syariah Islam seperti pajak atas penghasilan, kendaraan, tanah, rumah, barang belanjaan, dsb adalah kezaliman karena tidak didasarkan pada ketentuan syariah. Inilah yang dimaksud Allah SWT dengan firman-Nya (yang artinya): memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.

Melakukan berbagai pungutan/pajak terhadap rakyat adalah kebiasaan para raja, kaisar dan para pemimpin di luar Islam. Dulu para raja biasa memungut pajak dan upeti dari rakyat mereka. Ada pajak atas emas, hewan ternak, juga budak. Pada era modern, negara-negara yang menganut ideologi kapitalis juga memungut pajak dari rakyat dengan lebih banyak lagi jenisnya; pajak kendaraan, rumah, tanah, dll. Sekarang direncanakan p**a ada pungutan/pajak atas sembako, sekolah bahkan pajak dari para ibu yang melahirkan. Kebijakan inilah yang telah diperingatkan keras oleh Islam.

Abu Khair ra. berkata: Maslamah bin Makhlad (gubernur di negeri Mesir saat itu) menawarkan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tsabit ra. Ia berkata: Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ صَاحِبَ الْمَكْسِ فِيْ النَّارِ

Sungguh para pemungut pajak (diazab) di neraka (HR Ahmad).

Inilah realita kehidupan umat hari ini. Mereka dihadapkan pada kondisi hajat hidup yang ditelantarkan, sementara beban hidup semakin berat. Bahkan penguasa justru menambah berat beban kehidupan mereka dengan berbagai pungutan/pajak.

Berbeda dengan para khalifah yang menjalankan syariah Islam, mereka berusaha sekuat tenaga melayani kebutuhan rakyat dan meringankan beban mereka. Pasalnya, mereka paham bahwa jabatan dan kekuasaan semestinya dijalankan untuk melayani rakyat sesuai dengan ketentuan syariah Islam.

Pajak Bukan Sumber Utama Pendapatan Negara

Dalam sistem ekonomi selain Islam, pajak dan berbagai pungutan memang menjadi salah satu urat nadi pendapatan negara. Seorang ahli pemerintahan Barat, Arthur Vanderbilt, mengatakan, “Pajak adalah urat nadi (lifeblood) pemerintah.” Sebab itulah dalam sistem ekonomi mereka, berbagai pungutan/pajak digencarkan. Bahkan warga miskin juga dikejar berbagai pungutan/pajak.

Berbeda dengan Islam. Islam tidak menjadikan pajak sebagai sumber utama pendapatan negara. Islam telah menetapkan bahwa sumber utama pendapatan negara bukan pajak. Pasalnya, Kas Negara atau Baitul Mal dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah) memiliki sumber pemasukan yang tetap seperti zakat, jizyah, kharaj, ‘usyr, harta kepemilikan umum (seperti tambang migas dan mineral), anfal, ghanimah, fai, khumus, infak dan sedekah, dsb. Sumber pemasukan ini amat besar dan mampu mencukupi kebutuhan umat. Tak perlu ada pungutan batil di luar ketentuan syariah.

Memang adakalanya negara dibolehkan untuk memberlakukan pajak (dharibah). Namun demikian, konsep dan pelaksanaannya jauh berbeda dengan sistem pajak hari ini. Pajak (dharibah) dalam Islam hanya diberlakukan saat negara benar-benar krisis keuangan, sementara negara tentu membutuhkan dana segar untuk membiayai berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang diwajibkan atas mereka. Misalnya untuk keperluan jihad fi sabilillah, membayar gaji (pegawai, tentara, juga biaya hidup pejabat), memenuhi kebutuhan fakir miskin, juga penanganan bencana alam dan wabah.

Pungutan itu bersifat temporer. Bukan pemasukan rutin dan permanen. Apalagi menjadi sumber pendapatan utama negara. Ketika krisis sudah terlewati dan Kas Negara (Baitul Mal) telah aman, maka pungutan itu akan dihentikan. Jadi pajak (dharibah) dalam Islam bukan merupakan pendapatan rutin dan utama negara seperti dalam sistem kapitalisme.

Obyek pajak dalam Islam pun berbeda. Pungutan ini tidak diambil dari semua warga negara. Non-Muslim (ahludz-dzimmah) tidak dikenai pajak. Mereka hanya dikenai jizyah yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Pajak dalam Islam hanya dibebankan atas warga Muslim yang kaya saja. Sabda Nabi saw.:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى

Sedekah terbaik adalah yang berasal dari orang kaya (HR al-Bukhari).

Dengan aturan seperti ini, keadilan akan tercipta. Kebutuhan rakyat tetap terpenuhi dengan jaminan dari negara. Mereka tidak dipersulit dengan berbagai pungutan.

Para penguasa pun akan legowo ketika diingatkan akan kewajiban mereka untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh memenuhi hajat rakyat. Mereka takut jika sikap melalaikan kewajiban tersebut akan berbuah siksa pada Hari Akhir. Suatu ketika Abu Maryam al-’Azdy ra. menasihati Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia berkata kepada Muawiyah: Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ قَالَ فَجَعَلَ رَجُلًا عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ

“Siapa yang diserahi oleh Allah mengatur kepentingan kaum Muslim, kemudian ia tidak memenuhi hajat, kepentingan dan kebutuhan mereka, maka Allah akan menolak hajat, kepentingan dan kebutuhannya pada Hari Kiamat.” Mendengar nasihat itu, Muawiyah segera mengangkat seorang untuk melayani segala kebutuhan orang-orang (rakyat) (HR Abu Dawud).

Berkebalikan dengan hari ini, banyak orang kaya menikmati berbagai fasilitas kemudahan hidup dari negara semisal pengampunan pajak (tax amnesty). Sebaliknya, rakyat kebanyakan kian ditekan dan diburu hartanya.

Apakah para pemimpin itu tidak takut dengan doa keburukan yang dipanjatkan Baginda Nabi saw. untuk para penguasa yang zalim, yang mempersulit kehidupan rakyatnya:

اللَّهُمَّ مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ

Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyayangi mereka, maka sayangilah dia (HR Muslim). []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ، وَوُزَرَاءُ فَسَقَةٌ، وَقُضَاةٌ خَوَنَةٌ، وَفُقَهَاءُ كَذَبَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ ذَلِكَ الزَّمَنَ فَلا يَكُونَنَّ لَهُمْ جَابِيًا وَلا عَرِيفًا وَلا شُرْطِيًّا

Akan ada pada akhir zaman para penguasa zalim, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat dan para ahli hukum Islam pendusta. Siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, janganlah kalian menjadi pemungut cukai, tangan kanan penguasa dan polisi.
(HR ath-Thabrani). []

---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah197m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah197

*AIR BERSIH UNTUK SANTRI PONPES UMAR BIN ABDUL AZIS*Assalamu'alaikumPerkenalkan kami dari Badan Wakaf Al Qur'an  di Cire...
22/04/2021

*AIR BERSIH UNTUK SANTRI PONPES UMAR BIN ABDUL AZIS*

Assalamu'alaikum

Perkenalkan kami dari Badan Wakaf Al Qur'an di Cirebon Jawa Barat

Saat Ini Ada program yang cukup fenomenal dengan Sedekah Wakaf Air bersih.

Masyarakat di Tolo Nggeru sangat heterogen, mayoritas penduduknya beragama Katolik (60 persen), sedangkan penduduk beragama Islam sekitar 40 persen. Mereka hidup berdampingan dengan damai. Selain gereja dan masjid, di daerah ini ada pondok pesantren yang sudah berdiri lama bernama Pesantren Umar bin Abdul Azis.

Awalnya santri pesantren ini cukup banyak, tetapi seiring berkurangnya air dan santri kesulitan air bersih, santri berkurang drastis. Bangunan pesantren pun mulai rusak karena kosong dan tidak terpakai.

Sebenarnya Desa Tolo Nggeru NTB pernah menerima bantuan dari PAMSIMAS yang digagas oleh Ditjen Cipta Karya. Bantuan yang diberikan pada tahun 2018 itu berupa pembuatan jaringan air bersih dari sumber air hingga ke rumah warga.

Tapi sayangnya, hanya sedikit warga saja yang menikmati fasilitas bantuan ini. Menurut warga setempat, jika ingin menikmati fasilitas air dari bantuan PANSIMAS harus membayar jasa pemasangan jaringan sebesar Rp300.000-400.000. Jasa ini belum ditambah dengan tagihan bulanan yang dirasa sangat berat bagi warga sehingga hanya segelintir keluarga saja yang mampu membayarnya.

Yuk kita bantu alirkan air bersih bagi warga Dusun Tolo Nggeru NTB dan santri Ponpes Umar bin Abdul Azis dengan berwakaf di link berikut:

https://www.bwa.id/mengentaskan_krisis_air_bersih_puluhan_tahun_di_tolo_nggeru_ntb atau transfer ke rekening berikut:

BNI SYARIAH: 155.000.1511⠀
SYARIAH MANDIRI: 788.9911.117⠀
MANDIRI: 122.000.3.000.000
BRI SYARIAH: 103.857.4082⠀
BRI: 053.401.000.174.305⠀
BCA: 627.01.666.26
BANK MUAMALAT: 121.003.8884
PERMATA BANK SYARIAH: 097.554.0898
DANAMON SYARIAH: 103.73.000.8
CIMB NIAGA SYARIAH: 860.007.582.500

a.n Badan Wakaf Al Qur’an

Untuk ketertiban administrasi mohon sertakan infaq kode unik 315 di belakang nominal wakaf, contoh: Rp.500.315

Subscribe and follow:

Youtube: wakafquran & WAKAF TV
Website : www.bwa.id
Facebook : *AIR BERSIH UNTUK SANTRI PONPES UMAR BIN ABDUL AZIS*

Assalamualaikum, benar ini dengan Bapak/Ibu Dwi?

Perkenalkan saya Casi'a Mulia, dari Badan Wakaf Al Qur'an di Cirebon Jawa Barat

Berdasarkan data kami, bapak/ibu Dwi tercatat sebagai donatur dan atau sudah berniat untuk menjadi Donatur Badan Wakaf Al Qur'an (BWA).

Saat Ini Ada program yang cukup fenomenal dengan Sedekah Wakaf Air bersih.

Masyarakat di Tolo Nggeru sangat heterogen, mayoritas penduduknya beragama Katolik (60 persen), sedangkan penduduk beragama Islam sekitar 40 persen. Mereka hidup berdampingan dengan damai. Selain gereja dan masjid, di daerah ini ada pondok pesantren yang sudah berdiri lama bernama Pesantren Umar bin Abdul Azis.

Awalnya santri pesantren ini cukup banyak, tetapi seiring berkurangnya air dan santri kesulitan air bersih, santri berkurang drastis. Bangunan pesantren pun mulai rusak karena kosong dan tidak terpakai.

Sebenarnya Desa Tolo Nggeru NTB pernah menerima bantuan dari PAMSIMAS yang digagas oleh Ditjen Cipta Karya. Bantuan yang diberikan pada tahun 2018 itu berupa pembuatan jaringan air bersih dari sumber air hingga ke rumah warga.

Tapi sayangnya, hanya sedikit warga saja yang menikmati fasilitas bantuan ini. Menurut warga setempat, jika ingin menikmati fasilitas air dari bantuan PANSIMAS harus membayar jasa pemasangan jaringan sebesar Rp300.000-400.000. Jasa ini belum ditambah dengan tagihan bulanan yang dirasa sangat berat bagi warga sehingga hanya segelintir keluarga saja yang mampu membayarnya.

Yuk kita bantu alirkan air bersih bagi warga Dusun Tolo Nggeru NTB dan santri Ponpes Umar bin Abdul Azis dengan berwakaf di link berikut:

https://www.bwa.id/mengentaskan_krisis_air_bersih_puluhan_tahun_di_tolo_nggeru_ntb atau transfer ke rekening berikut:

BNI SYARIAH: 155.000.1511⠀
SYARIAH MANDIRI: 788.9911.117⠀
MANDIRI: 122.000.3.000.000
BRI SYARIAH: 103.857.4082⠀
BRI: 053.401.000.174.305⠀
BCA: 627.01.666.26
BANK MUAMALAT: 121.003.8884
PERMATA BANK SYARIAH: 097.554.0898
DANAMON SYARIAH: 103.73.000.8
CIMB NIAGA SYARIAH: 860.007.582.500

a.n Badan Wakaf Al Qur’an

Untuk ketertiban administrasi mohon sertakan infaq kode unik 315 di belakang nominal wakaf, contoh: Rp.500.315

Konfirmasi wa.me/6281214811688

Subscribe and follow:

Youtube: wakafquran & WAKAF TV
Website : www.bwa.id
Facebook : wakafalquran
Instagram :

SatukanIndonesia

Instagram :

SatukanIndonesia

WAFP Tolonggeru

SEMPATKAN WAKTUMU UNTUK IBUMasih ingat kapan terakhir kamu duduk di sampingnya? Kapan kali terakhir bercerita atau sekad...
17/04/2021

SEMPATKAN WAKTUMU UNTUK IBU

Masih ingat kapan terakhir kamu duduk di sampingnya? Kapan kali terakhir bercerita atau sekadar menyapa ibu tercinta? Sudahkah hari ini kamu tanya kabarnya? Atau justru dalam sholat pun tidak ada doa untuk balasan kasih sayangnya?

Sosok ibu yang selalu doakan kesehatanmu dalam tiap sholatnya. Sosok yang ingin setiap kegiatan dan pekerjaanmu lancar tanpa cela. Sosok yang ikhlas kesibukanmu menggantikan kerinduannya.

Ayo sempatkan waktu untuknya. Istirahat sebentar dari sibuknya dunia, duduk di samping ibu, lalu bertukar cerita. Kalau jarak tidak memungkinkan, tanyakan kabar atau sekadar bertanya “sedang apa?” lewat telepon juga video call.

Dengan hal kecil seperti menyapa atau menelepon, ada kerinduan seorang ibu yang terobati. Tidak hanya di Hari Ibu, tapi sekarang, setiap hari.

Kuatkan Indonesia

JANGAN TERLALU NYAMAN, NANTI JADI SAYANG...Terlalu cepat berpuas diri, jadi sayang untuk upgrade diri.Terlalu nyaman ber...
27/03/2021

JANGAN TERLALU NYAMAN, NANTI JADI SAYANG...

Terlalu cepat berpuas diri, jadi sayang untuk upgrade diri.
Terlalu nyaman bermaksiat, jadi sayang untuk bertobat.
Terlalu nyaman menimbun kekayaan, jadi sayang untuk disedekahkan.

Padahal di zona nyaman ada setan yang mengintai.
Menghalangi kita untuk mendekati Illahi.
Hingga nanti tersisa penyesalan di hati.
Mengapa selama hidup mendewakan nafsu duniawi?

Allah telah jamin rezeki kita di bumi.
Tapi belum menjamin apa yang terjadi di akhirat nanti.

Yuk segera perbaiki diri
Tanpa tapi.
Apalagi nanti-nanti.

Kuatkan Indonesia

*PT SMI DAN BWA SALURKAN BANTUAN KE 4 RUMAH SINGGAH DI JAKARTA*Kesulitan akibat pandemi tidak hanya dirasakan oleh kita ...
14/03/2021

*PT SMI DAN BWA SALURKAN BANTUAN KE 4 RUMAH SINGGAH DI JAKARTA*

Kesulitan akibat pandemi tidak hanya dirasakan oleh kita yang sehat walafiat, tetapi juga dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah berjuang melawan penyakit di rumah singgah.

Pada 23 Januari 2021, BWA dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) telah menyalurkan bantuan berupa 4 karung beras (50 kg), 8 peti telur ayam, 8 galon minyal goreng isi 12 liter. Bantuan tersebut disalurkan ke empat Rumah Singgah di Jakarta Pusat seperti: Rumah Singgah Pejuang Hati, Rumah Singgah Sedekah Rombongan, Rumah Singgah Sahabat, dan Rumah Singgah IZI.

Semoga kerja sama BWA dan PT Sarana SMI dapat membantu mendukung perjuangan mereka untuk sembuh dari penyakit yang selama ini membelenggu mereka. Insya Allah kerja sama ini bisa menjadi syafaat kita semua kelak di hari akhir nanti. Aaamin.

Yuk tetap bantu saudara-saudara kita yang kesulitan biaya berobat dengan bersedekah di Sedekah Kemanusiaan BWA. dengan cara langsung transfer ke rekening berikut:

BNI SYARIAH: 155.000.1511⠀
SYARIAH MANDIRI: 788.9911.117⠀
MANDIRI: 122.000.3.000.000
BRI SYARIAH: 103.857.4082⠀
BRI: 053.401.000.174.305⠀
BCA: 627.01.666.26
BANK MUAMALAT: 121.003.8884
PERMATA BANK SYARIAH: 097.554.0898
DANAMON SYARIAH: 103.73.000.8
CIMB NIAGA SYARIAH: 860.007.582.500

a.n Badan Wakaf Al Qur’an

Untuk ketertiban administrasi mohon konfirmasi bukti transfer ke link di bawah ini

WA.me/+6281214811688

SatukanIndonesia Kuatkan Indonesia

*COACHING ONLINE  #2 ;**STRATEGI SUKSES DIGITAL FUNDRAISING*Undangan Ekslusif dan Khusus untuk seluruh Agent _Account Ex...
12/03/2021

*COACHING ONLINE #2 ;*
*STRATEGI SUKSES DIGITAL FUNDRAISING*

Undangan Ekslusif dan Khusus untuk seluruh Agent _Account Executive_ (AE BWA Nasional) dalam rangka penguatan dan peningkatan optimalisasi Digital Fundraising.

Bersama:
*Ustadz Haris Islam*
(ShariaLife & Business Coach)

Host :
*Slamet Sugianto*
(Direktur I2W Forum)

Hari/Tgl : Sabtu, 13 Maret 2021
Waktu : Pukul 08.00 - 10.30 WIB

Live on Zoom Meeting
(Link akan dibagikan H-1)

Link pendaftaran klik : https://forms.gle/UaFjRz3Z2NCajqwU8

SEDEKAH APAKAH YANG PALING MENDEKATKAN KEPADA ALLAHAsy-Syaikh al-'Allaamah Masyhuur Hasan Salmaan hafizhahullaah memberi...
10/03/2021

SEDEKAH APAKAH YANG PALING MENDEKATKAN KEPADA ALLAH

Asy-Syaikh al-'Allaamah Masyhuur Hasan Salmaan hafizhahullaah memberikan jawaban dengan menukil kaidah para ulama dalam masalah ini;

الصدقة كلما سدت الحاجة كانت أقرب إلى الله عز وجل

"Sedekah, semakin mampu menutupi kebutuhan (utama), maka semakin mendekatkan kepada Allah 'azza wajalla"

Kemudian Syaikh memberikan permisalan sederhana;

Jika kelaparan melanda di suatu daerah, maka sedekah memberi makan di daerah tersebut lebih utama daripada membangun masjid.

Sampai-sampai pada sikon tertentu, Allah memberikan pujian di dalam al-Quran kepada orang-orang yang memberi makan para tawanan perang, padahal mereka datang untuk membunuh dan memusuhi. Namun karena kebutuhan yang mendesak, memberi makan para tawanan justru amalan yang dipuji Allah.

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan," [QS. Al-Insan: 8]

Dalam hadits yang shahih juga disebutkan bagaimana Allah mengampuni dan merahmati seorang wanita pelacur gara-gara ia memberi minum anjing yang sangat kehausan. (Nah, apalagi memberi minum manusia yang kehausan? Lebih - lebih jika manusia tersebut adalah seorang mukmin, apalagi Ahlussunnah--pengikut setia Rasulullah dan para Sahabat--yang sangat butuh air)

Jika orang-orang di suatu daerah tidak susah mendapatkan makanan, dan di daerah tersebut belum ada masjid, maka sedekah untuk membangun masjid di tempat tersebut lebih utama.

Yuk wujudkan pengadaan masjid di pelosok negeri dengan berwakaf di Wakaf Orang Indonesia
"Cara Kita Cinta Indonesia"
=======================

Address

Cirebon
45135

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Badan Wakaf Al-Qur'an Cabang Cirebon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category