12/06/2026
Kritik Dianggap Makar: Manipulasi Dalil Demi Penguasa? "Jangan s**a kritik pemerintah, kita harus taat sama Ulil Amri. Yang ngritik itu pembenci dan tukang makar!"
Pernah dengar narasi seperti ini di media sosial? Mari kita bedah manipulasi logika kotor yang sering berlindung di balik jubah agama ini:
1️⃣ False Equivalence (Menyamakan Kritik dengan Benci) Kritik kebijakan yang merugikan rakyat BUKAN berarti benci. Analogi sederhana: Kalau kamu lihat supir bus yang kamu tumpangi lagi ngantuk dan mau masuk jurang, apa kamu akan diam saja dengan alasan 'taat pada supir'? Teriak mengingatkan supir yang salah jalan justru adalah bentuk kepedulian menyelamatkan nyawa seisi bus!
2️⃣ Kepatuhan Itu Bersyarat, Bukan Buta Kelompok yang menuntut 'kepatuhan mutlak' layaknya menyembah Tuhan itu sangat berbahaya. Dalam kaidah teologi yang sehat, ketaatan pada pemimpin itu bersyarat: Selama tidak memerintahkan kezaliman dan kerusakan.
3️⃣ Complicity (Keterlibatan dalam Kejahatan) Menonton negara salah urus, diam melihat APBN dikorupsi, dan membiarkan rakyat kelaparan hanya demi mempertahankan 'label taat', itu BUKAN kesalehan. Itu adalah bentuk keterlibatan dalam kejahatan struktural. Demokrasi butuh Check and Balance. Negara butuh 'rem cakram' dari nalar kritis masyarakatnya, bukan cuma butuh segerombolan Yes Man yang kerjanya cuma manggut-manggut cari aman. Loyalitas tertinggi kita adalah pada keadilan rakyat, bukan ego penguasa! Sepakat?
Yuk diskusi di kolom komentar! 👇