25/04/2017
Awalnya Sulit Belokkan Image Perempuan yang Lebih Senang Brand Kondang
RADAR MADIUN 23 April 2017
Menjadi satu-satunya distributor tas dan dompet etnik di wilayah Jawa Timur bagian barat membuat Naning Suwandari nyaris berdagang tanpa pesaing. Untung pun ditangguknya lantaran omzet sebulan mencapai Rp 20 juta. Pembeli lebih sering memesan via online.
CHOIRUN NAFIA, Radar Madiun
==================================================
WARNA-WARNI tas dan dompet menghias etalase yang dipajang di samping ruang tamu. Nyonya rumah di Kelurahan Bangunsari, Mejayan, Kabupaten Madiun, itu tengah sibuk menandai barang dagangannya dengan spidol. Sebagian tas dan dompet sengaja dimasukkan ke lemari terpisah. ‘’Ini sudah ada yang membeli karena saya juga menjualnya secara online,’’ jelas Naning Suwandari, pemilik online shop Caruban Etnik itu.
Perempuan 29 tahun itu kewalahan meladeni orderan penjelajah dunia maya. Apalagi tas dan dompet yang dijual Naning terbilang tidak biasa dan jarang ditemui di pasaran. Sebab, bahan bakunya dari beludru, suede, kain kanvas, jins, atau kain perca. Motifnya pun beragam, mulai barong khas Bali hingga batik parang. ‘’Karena motifnya mencerminkan ciri khas daerah, makanya disebut tas dan dompet etnik,’’ terangnya.
Ibu dua anak itu mengklaim jika dirinya merupakan satu-satunya penjual tas dan dompet etnik di Jawa Timur wilayah barat. Karena itu, dirinya boleh dibilang telah memonopoli. Toh tidak mudah menjadi distributor produk lintas provinsi. Dia awalnya sempat menghubungi langsung produsen. Namun, Naning tidak bisa langsung memesan. Alamat penyalur tas dan dompet etnik di Surabaya akhirnya didapat. ‘’Saya gabung menjadi member,’’ ungkap Naning.
Dua tahun lalu dirinya hanya sebatas reseller. Bermodalkan katalog, Naning menawarkan tas dan dompet etnik ke teman-temannya. Tanpa kecuali ke ibu teman anaknya, Kenan Giolla Misya, yang saat itu masih duduk di bangku TK. Sembari menunggui anak sulungnya itu sekolah, Naning sekalian berpromosi. ‘’Pendek kata, siapapun saya tawari. Hasilnya lumayan,’’ terang istri dari Donesius Aditya Tri Gangga itu.
Untuk mengenalkan tas dan dompet etnik dagangannya, bukan berarti usaha perempuan dengan lesung pipit itu berjalan lancar. Produk lokal cenderung dianggap sebelah mata oleh ibu-ibu kekinian. Mereka lebih memilih tas dengan brand kondang yang biasa dipakai kalangan artis. ‘’Padahal, tas etnik juga bisa dipakai untuk acara resmi. Untuk meyakinkan ibu-ibu itu tidak mudah,’’ kenangnya.
Singkat cerita, konsumen mulai tertarik denga tas etnik. Naning memberanikan diri menambah stok barang dagangan. Grade dari reseller pun meningkat menjadi distributor. Dia tidak lagi bermodalkan katalog saat berjualan, melainkan barangnya langsung. ‘’Pernah sambil mengantar anak sekolah, saya membawa rombong isinya tas dan dompet,’’ ujarnya sambil tertawa lepas.
Keputusan menjadi distributor itu berdasar pengalaman pribadinya saat membeli barang secara online. Pemilik online shop kadang melemparkan pesanan ke orang lain lantaran barang yang dipesan sedang kosong. Penerima pesanan kedua itu justru melemparnya lagi ke pihak ketiga p**a. ‘’Ternyata tidak ready stock, padahal pemesan sudah menunggu lama. Saya tidak ingin konsumen mengalami perlakuan seperti itu,’’ tegasnya.
Pelanggan Naning kini bukan lagi ibu-ibu anak TK. Kalangan guru di seputaran Mejayan mulai datang ke rumah Naning. Tanpa kecuali, karyawan RSUD Caruban serta PNS di lingkup Pemkab Madiun ikut menjadi pelanggan tetapnya. Akun Instagram dan Facebook milik Naning juga ramai orderan. ‘’Pemesan sampai luar kota, Malang, hingga Tuban,’’ jelas perempuan kelahiran 21 Januari 1988 itu.
Bahkan, Naning pernah tiga kali mengirim tas dan dompet ke Hongkong. TKI asal Trenggalek memesan tas etnik. Barang dagangan Naning memang cukup ramah di kantong.
Tas jinjing dan slempang hanya dibanderol kurang dari Rp 200 ribu. Sedangkan harga dompet tak lebih dari Rp 60 ribu. Pembeli juga mendapat jaminan jika barang itu asli. Berbeda dengan tas dan dompet dengan merek ternama yang bisa saja hasil bajakan. ‘’Tas dan dompet ini asli dari perajin langsung,’’ yakinnya.
Omzet yang didapat Naning sebagai distributor tas dan dompet dari Jawa Barat itu tembus Rp 20 juta per bulan. Lebih dari 200 pieces dompet dan tas mampu dijual lantaran Naning rajin menyetok model terbaru. Pesanan lebih banyak via online kendati rumahnya tetap disambangi pembeli langsung. Naning biasa memberikan potongan harga untuk pembelian model partai. Selain itu, agen mendapat harga lebih miring. ‘’Sekarang sudah punya enam agen,’’ akunya.
Sebelum menggeluti usaha online shop dompet dan tas, Naning adalah guru honorer di SDN Karangjati, Ngawi. Harus ulang alik Kabupaten Madiun-Ngawi dalam kondisi hamil membuatnya sering kelelahan. Karena itu, Naning memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru. Padahal, dia sudah mengajar sejak 2006 silam, namun belum kunjung menemukan passion sebagai seorang guru. ‘’Ternyata passion (hasrat) memang berdagang,’’ pungkasnya.
sumber : http://radarmadiun.co.id/detail-berita-7417-awalnya-sulit-belokkan-image-perempuan-yang-lebih-senang-brand-kondang.html