Hikmah islami dn cerita2 sejarah sahabat Nabi

Hikmah islami dn cerita2 sejarah sahabat Nabi Bebagi certa2 sesuatu yang baik, agar pembaca nantinya akan menambah lebih baik, walaupun sipembaca munkin sudah memiliki buku tersbut,, saya ingin berbagi

30/01/2017

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

06/07/2016

HISAB HARTA:
Kisah Konglomerat & Tukang Kayu:
Dari mana harta diperoleh? dan digunakan untuk apa saja?
Alkisah seorang Konglomerat telah menulis satu
surat wasiat: "Barang siapa yg dapat
menjagaku di dalam kubur setelah Aku mati nanti akan kuwarisi separuh dari harta peninggalanku".
Lalu ditanyakanlah hal itu pada anak-anaknya
apakah mereka sanggup menjaganya di dalam
kubur nanti. Namun anak-anaknya menjawab,
"Mana mungkin kami sanggup menjagamu wahai
ayah karena pada masa itu ayahpun sudah menjadi mayat". Selang keesokan harinya
dipanggillah semua adik-adiknya dan beliau
berkata, “Wahai adik-adikku sekalian sanggupkah
kamu menjaga aku setelah aku mati nanti selama
40 hari bersamaku di dalam kubur? nanti aku akan
memberi setengah daripada hartaku kepada di antara kamu yang sanggup bersamaku. Dan adik-
adiknya pun menjawab, “Wahai abangku, adakah
engkau sudah gila mana mungkin ada manusia yg
sanggup bersama mayat selama itu di dalam
tanah.” Lalu dengan sedih Konglomerat tersebut
memanggil ajudannya untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke seantero negeri.
Akhirnya sampai jugalah pada hari di mana
konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah.
Kuburnya telah dihiasi dg megah laksana sebuah
peristirahatan termewah yg pernah ada dg semua
perlengkapannya. Pada waktu yang hampir bersamaan seorang Tukang kayu yang sangat
miskin telah mendengar akan wasiat tersebut lalu
diberitahu kepada isterinya apakah dia perlu
mengambil kesempatan ini untuk menjadi kaya.
Isterinya berkata, “Wahai suamiku, apalah artinya
menjaga mayat tersebut selama 40 hari dibandingkan kerjamu ketika menebang kayu di
dalam hutan dan bertemu dg harimau dan hantu
penunggu hutan. Tukang kayu tersebut dengan
tergesa-gesa segera datang ke rumah
konglomerat tersebut untuk memberitahukan
kepada ahli waris konglomerat tersebut akan kesanggupannya. Keesokan harinya
dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat, Si
Tukang kayu itu pun ikut turun ke dalam liang
lahat bersama kapaknya.
Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah
meninggalkan area pemakaman tsb, maka datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam
kubur tersebut. Si Tukang kayu menyadari siapa
yang datang maka Ia segera agak menjauhkan diri
dari mayat konglomerat tersebut. Terbetik di
fikirannya bahwa sudah tiba saatnya Sang
konglomerat tersebut akan diinterogasi oleh Mungkar dan Nakir. Tetapi yg terjadi malah
sebaliknya, Mungkar dan Nakir malah menuju ke
arahnya dan bertanya "Apa yang kau buat di
sini" ?. Aku menemani mayat ini selama 40 hari
untuk mendapatkan setengah harta wasiatnya"
jawab si Tukang kayu. "Apa harta yang ada pada kau sekarang"? lanjut Mungkar-Nakir. "Aku cuma
memiliki sebatang kapak ini saja untuk mencari
rezeki" timpal si tukang kayu. Kemudian Mugkar-
Nakir beritanya lagi "Dari mana kau dapat kapak
ini" ?. "Aku membelinya" balas si tukang kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir di hari pertama dari dalam kubur tersebut. Hari kedua Mereka
datang lagi dan bertanya "apa yang kau buat
dengan kapak ini"?. "Aku menebang pohon untuk
dijadikan kayu bakar untuk dijual" sergah tukang
kayu. Di hari ketiga di tanya lagi "Pohon siapa
yang kau tebang dengan kapak ini?. "pohon itu adanya di hutan belantara jadi ngak ada yg
punya" timpalnya. "Apa Kau yakin" lanjut
malaikat.Kemudian Mereka menghilang dan
datang lagi di hari ke empat. Kemudian Mereka
bertanya lagi "Adakah kau potong pohon
tersebut dengan kapak ini dg ukurannya dan beratnya yg sama untuk dijual?. "Aku potong
dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa
sama rata" tegas tukang kayu. Begitu terus yg
dilakukan malaikat Mungkar Nakir datang dan
pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah
dan yg ditanyakan masih berkisar dg kapak tersebut.
Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar
dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu
tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir "hari ini aku
akan kembali bertanya soal kapak ini". Belum
sempat Mungkar dan Nakir bertanya, si Tukang kayu tersebut malahan dg segera melarikan diri
ke atas dan membuka pintu kubur tersebut.
Ternyata di luar sdh banyak orang yg menantikan
kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.
Namun si Tukang kayu tersebut dengan tergesa-
gesa keluar dan meninggalkan mereka semua dan sambil berkata ambillah semua bagian harta
wasiat tersebut oleh kalian karena aku sudah
tidak menginginkannya lagi.
Sesampai di rumahnya lalu si isteri berkata wahai
suami ku, di manakah setengah harta peninggalan
konglomerat tersebut. Maka si Tukang kayu menjawab "Aku tidak menginginkannya lagi, di
dunia ini harta yg kumiliki padahal cuma semata
kapak ini, tapi malaikat Mungkar dan Nakir
sampai 40 hari yg mereka tanyakan dan
persoalkan masihlah saja di seputar kapak ini.
Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak...entah berapa lamanya dan bagaimana
Aku menjawabnya"
Sahabat Rasulullah saw yg paling kaya ialah Abdul
Rahman bin Auf ra. Beliau dikatakan adalah
sahabat yang paling terakhir masuk surga karena
lamanya masa yg digunakan untuk menghisab beliau, seperti dari riwayat Aisyah ra yg pernah
mendengar Rasullullah SAW bersabda "Kulihat
Abdurrahman bin’Auf masuk surga dengan
perlahan-lahan (merangkak)!” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW
bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia
ditanya tentang 5 perkara yaitu umurnya untuk
apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana
dipergunakannya, hartanya darimana ia
memperolehnya & kemana dibelanjakannya &
ilmunya sejauh mana diamalkan?(HR.Turmudzi).

Kaya tidak masalah tapi yg menjadi masalah
dari mana harta kita dan untuk apa digunakan.
Mari sama2 kita mencari rezeki yg halal
dan baik serta digunakan dalam jalan kebaikan.
Subhanallah...

06/07/2016

PENCIPTAAN AL MAUT:

Ketika Allah SWT menciptakan kematian dan
menyerahkan kepada malaikat Izrail, dia
bertanya,
"Wahai tuhanku, apakah Al-maut?"
Lalu Allah SWT menyingkap rahsia al-maut dan memerintahkan agar semua malaikat
menyaksikannya. Para malaikat terkejut apabila
melihat Al-maut. Mereka jatuh pengsan selama
1000 tahun. Setelah sedar, mereka bertanya,
"Wahai tuhan, ada lagi makhluk yang lebih besar
daripada ini?" Lalu Allah SWT berfirman,
"Akulah yang telah menciptakannya dan Aku lebih
Agung daripadanya. Setiap makhluk akan merasai
maut."
Kemudian, Allah SWT berfirman lagi,
"Wahai Izrail, ambillah Al-maut dan Aku telah menyerahkannya kepadamu"
Malaikat Izrail berkata,
"Ya, tuhan.. Apa dayaku untuk mengambilnya
sedangkan ia lebih agung daripadaku."
Kemudian Allah SWT memberikannya kekuatan
sehingga Al-maut menetap ditangannya. Kisah nabi ibrahim dengan malaikat maut.
Nabi Ibrahim mempunyai sebuah tempat khas
untuk beribadat. baginda mengunci pintu apabila
keluar supaya tiada siapa dapat memasuki
tempat itu. namun pada suatu hari, apabila Nabi
Ibrahim memasuki rumah, seorang lelaki berada didalamnya. lalu baginda bertanya,
" Siapa kamu yang berani menceroboh rumahku?"
"Aku dimasukkan ke dalam rumah ini oleh pemilik
rumah ini", Jawab lelaki itu.
"Katakan padaku adakah kamu ini malaikat?",
Tanya nabi ibrahim. "Ya, aku ialah malaikat maut!", Setelah
mengetahui bahawa lelaki itu malaikat maut,
baginda memohon agar ditunjukkan kepadanya
rupa malaikat maut semasa mencabut nyawa
seorang mukmin.
Lalu, malaikat maut menyuruh baginda berpaling. Setelah baginda melihat kembali malaikat maut
Nabi Ibrahim sangat terkejut dengan keindahan
rupa malaikat maut yang tampan, memakai kain
yang cantik wangian berbau harum semerbak.
Lantas, baginda berkata,
"Wahai malaikat maut, jikalau orang mukmin hanya dapat menatap wajahmu sahaja sebelum
mati, itu sudah cukup bagi mereka."
Pada kesempatan lain, Nabi Ibrahim meminta
malaikat maut menunjukkan rupanya ketika
mencabut nyawa orang yang ingkar pada perintah
Allah SWT dan berbuat zalim. Jawab malaikat Izrail,
"Berpalinglah daripada melihatku buat seketika."
Apabila baginda memandang kembali malaikat
maut, alangkah terkejutnya melihat lembaga
lelaki berwarna hitam dan berambut kerinting.
Mulut dan hidungnya mengeluarkan lidah api yang menjulang-julang serta asap bergulung-gulung.
Nabi Ibrahim terus jatuh pengsan. Setelah sedar,
malaikat maut kembali pada wajahnya yang
tampan. Lalu baginda berkata,
"Wahai malaikat maut, kalaulah orang zalim dan
ingkar melihat mukamu sebelum mati, memadai untuk membuat mereka bertaubat kepada Allah SWT.

12/03/2016

DIHUKUM KERANA MENDERHAKAI IBU

Suatu hari seorang alim berniat untuk pergi ke Tanah Suci mengerjakan ibadah haji. Waktu dia meminta izin kepada ibunya, ternyata ibunya yang sudah tua itu sangat keberatan. Menurut ibunya, “Tunda dahulu keberangkatanmu sampai tahun depan”. Ia merasa bimbang terhadap keselamatan anaknya, kerana orang alim itu adalah satu-satunya anak yang hidup dari hasil perkahwinan dengan almarhum suaminya.

Rupanya orang alim yang soleh itu sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Maka, walaupun tidak mendapat restu dari ibunya, dia berkemas-kemas lalu berangkat menuju ke Tanah Haram. Jelas keputusannya ini bertentangan dengan ajaran Nabi kerana redho Allah bergantung kepada redho orang tua, begitu p**a murka Allah terletak dalam murka orang tua.

Ketika menyaksikan anaknya yang pergi juga, ibu yang sudah tua itu tergopoh-gapah mengejar anaknya. Akan tetapi anaknya itu sudah telalu jauh. Dia tidak mendengar suara ibunya yang memanggil-manggil sambil berlari-lari itu. Dalam marahnya ibu yang sangat cinta kepada anaknya tersebut menadahkan kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah, anakku satu-satunya telah membakar diriku dengan panasnya api perpisahan. Ku mohon pada-Mu, balaslah dia dengan seksaan yang setimpal. Sebagai ibunya, aku merasa sakit hati, ya Allah.”

Doa ini jelas tidak pada tempatnya bagi seorang ibu yang seharusnya bijaksana. Sebab di antara doa-doa yang dikabulkan adalah doa seorang ibu terhadap anaknya. Bumi seolah-olah bergoyang mendengar doa ini. Namun orang alim tadi terus juga berjalan. Dekat sebuah kota kecil sebelum sampai tempat tujuannya, orang alim itu berhenti melepaskan lelah. Menjelang Maghrib dia berangkat ke masjid dan solat sampai Isyak. Sesudah itu ia terus mengerjakan solat-solat sunat dan wirid hingga jauh malam.Secara kebetulan di sudut kota yang lain, pada malam itu terjadi peristiwa yang menggemparkan. Ada seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah salah seorang penduduk. Orang yang punya rumah terjaga dan bersuara. Tiba-tiba pencuri itu terjatuh kerana terlanggar suatu benda di kakinya. Ketika terdengar bunyi sesuatu yang jatuh itu, maka orang yang punya rumah pun memekik-mekik sambil berkata: “pencuri! pencuri.”

Seisi kampung terbangun semuanya. Dengan ketakutan pencuri itu lari sekuat tenaga. Orang-orang kampung terus mengejarnya. Pencuri itu lari ke arah masjid dan masuk ke halaman masjid tersebut. Orang-orang pun mengejar ke sana. Ternyata pencuri itu tidak ditemukan di dalam rumah Allah itu.

Salah seorang di antara mereka memberitahu kepada pemimpinnya: “Kita sudah mencari di sekeliling masjid, namun tidak ada bekas-bekasnya sedikitpun.”

Yang lainnya p**a berkata: “Tidak mungkin dia ditelan bumi, aku yakin dia belum lari dari sini. Kalau di luar masjid tidak ada, mari kita cari ke dalam masjid. Berkemungkinan dia bersembunyi di situ.”

Maka orang-orang pun masuk ke dalam masjid. Ternyata betul, di dekat mimbar ada seorang asing sedang duduk membaca tasbih. Tanpa bertanya-tanya lagi orang itu ditarik keluar. Tiba di halaman masjid, orang tadi sudah terkulai dan pengsan kerana dipukul beramai-ramai. Penguasa hukum di kota tersebut malam itu juga memutuskan suatu hukuman yang berat kepadanya atas desakan masyarakat yang marah. Maka orang tersebut diikat pada tiang dan dicambuk badannya.

Keputusan dari hakim ini jelas menyalahi ajaran Nabi, bahawa seorang hakim seharusnya menyelidiki hingga hujung suatu perkara, dan tidak boleh menjatuhkan keputusan berdasarkan hawa nafsu. Begitu juga walaupun lelaki itu dituduh menodai kesucian masjid kerana bersembunyi di dalamnya, dengan berpura-pura bersembahyang dan membaca wirid, padahal dia adalah pencuri.

Pagi-pagi lagi seluruh penduduk kota itu sudah berkumpul di pasar menyaksikan jalannya hukumam qisas itu. Selain algojo melaksanakan tugasnya, orang-orang pun bersorak-sorak melihat si alim dicambuk hingga pengsan. Mereka tidak lagi mematuhi ajaran Islam untuk berbuat adil terhadap siapa saja, termasuk kepada pencuri yang jahat sekalipun. Darah memercik ke sana ke mari, orang-orang kelihatan semakin puas.

Semakin siang semakin ramai orang yang berkumpul menonton dan meludahi pencuri yang terkutuk itu. Dalam kesakitannya, orang alim yang dihukum sebagai pencuri itu mendengar salah seorang penduduk yang berkata: “Inilah hukuman yang setimpal bagi pencuri yang bersembunyi di dalam masjid!” Sambil meludah muka orang alim tersebut. Orang yang dihukum yang dianggap pencuri ini dengan suara yang tersendat-sendat membuka mulutnya berkata: “Tolong jangan katakan demikian. Lebih baik beritahukanlah kepada orang ramai bahawa saya ini adalah hamba Allah yang ingin mengerjakan ibadah haji, tapi tidak mendapat restu dari orang tua.”

Mendengar ucapan ini, orang yang mendengar jadi terkejut dan menanyakan siapakah dia sebenarnya. Orang alim tadi membuka rahsianya, dan masyarakat jadi serba salah. Akhirnya mereka terpaksa memberitahukan hal itu kepada hakim.

Setelah hakim itu datang dan tahu duduk perkara yang sebenarnya, maka semua mereka menyesal. Mereka kenal nama orang alim itu, iaitu orang yang soleh dan ahli ibadah. Cuma belum pernah tahu rupanya. Ibu-ibu yang hadir serta orang tua lainnya ramai yang merasa sedih tidak dapat menahan diri, tapi sudah tidak ada gunanya.

Malamnya, atas permintaan orang alim itu setelah dibebaskan dari seksaannya, dihantarkan ke rumah ibunya. Pada waktu orang alim tersebut akan dihantar, ibunya telah berdoa: “Ya Allah, jika anakku itu telah mendapatkan balasannya, maka kembalikanlah dia kepadaku agar aku dapat melihatnya.”

Begitu selesai doa si ibu, orang yang membawa anaknya pun sampai. Orang alim itu minta didudukkan di depan pintu rumah ibunya, dan mempersilakan orang yang mengantarnya itu pergi. Sesudah keadaan sunyi kembali, tidak ada orang lain, maka orang alim itupun berseru dengan suara yang pilu: “Assalamualaikum.”

Maka terdengarlah suara oang tua yang menjawab salamnya dari dalam. Bergetar hati si alim mendangar suara itu: “Saya adalah musafir yang terlantar. Tolonglah beri saya roti dan air sejuk,” kata orang alim itu menyamar diri.

“Mendekatlah engkau ke pintu. Hulurkan tanganmu melalui celah pintu,” jawab suara tadi dari dalam.

“Maaf, saya tidak boleh mendekati pintu kerana kedua kaki saya sangat kaku. Saya juga tidak dapat menghulurkan tangan melalui celah pintu, kerana tangan saya terasa letih.”

“Jadi bagaimana caranya?” Si ibu mengeluh kehilangan akal. “Antara kita ada pemisah yang tidak boleh dilanggar. Engkau lelaki yang tidak saya kenal, dan saya, walaupun sudah tua, adalah seorang perempuan.”

“Jangan bimbang wahai puan,” kata orang alim tersebut. “Saya tidak akan membuka mata kerana kedua mata saya sangat pedih, jadi saya tidak akan melihat ke arah puan.”

Mendengar jawapan itu, tidak beberapa lama kemudian perempuan itu pun keluar membawa sepotong roti dan segelas air sejuk. Orang alim itu begitu saja merasakan kehadiran ibunya, sudah tidak mampu lagi menahan diri. Ia memeluk kaki ibunya dan menjerit sambil menangis: “Ibu, saya adalah anak ibu yang derhaka.” Ibunya pun merasa sedih. Dipandangnya orang cacat di mukanya itu lalu ia menjerit ternyata adalah anaknya. Mereka berdua saling berpelukan dalam tangisan.

Ketika itu juga perempuan tersebut menadahkan tangannya memohon ampun kepada Allah: “Ya Allah, kerana telah jadi begini sungguh saya menyesal atas kemarahan saya kepada anak sendiri, saya bertaubat untuk tidak mengulangi lagi perkara ini, ampunilah saya ya Allah, serta ampunilah dosa orang-orang yang menyeksanya kerana kami semua telah disesatkan oleh godaan iblis dengan nafsu marah.”

12/03/2016

SEPOTONG ROTI PENEBUS DOSA

Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.”

Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga dia pun tergoda dalam pujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sedar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, kerana sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya berhampiran kedai tersebut hidup seorang Pendeta yang setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu, masing-masingnya mendapat sepotong roti.

Pada waktu yang lain, datang p**a orang lain yang membahagi-bahagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan laki-laki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, kerana disangka sebagai orang miskin.

Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bahagian dari orang yang membahagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.”

Orang yang membahagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bahagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membahagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membahagikan roti tersebut, maka laki-laki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bahagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam.

Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut lebih berat timbangannya dibanding dengan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!”

12/03/2016

TERSELAMAT DARI HUKUMAN SETELAH BERNIAT MENGADAKAN JAMUAN MAULID NABI

Pada zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan ada seorang pemuda di negeri Syam yang s**a bermain dengan menunggang kuda. Pada suatu hari, sedang ia menunggang kudanya dengan laju melalui hadapan pintu Gedung Khalifah tiba-tiba ia terlanggar salah seorang anak Khalifah yang kebetulan ada di situ, lalu anak itu mati. Berita itu telah sampai kepada Khalifah, dengan segera Khalifah memerintahkan agar pemuda itu menghadapnya. Apabila pemuda itu telah hampir kepada Khalifah, berniatlah ia dalam hatinya (bernazar) bahawa sekiranya Allah melepaskan dia daripada hukuman, dia akan mengadakan jamuan yang besar dan ia akan meminta dibacakan Maulid Nabi SAW (Maulid – iaitu kelahiran) di dalam majlis jamuan itu.

Apabila pemuda itu berada di hadapan Khalifah dan Khalifah pun memandang kepadanya, tiba-tiba baginda tertawa. Padahal baru sebentar tadi baginda telah berasa terlalu murka. Khalifah merasa hairan mengapa ia boleh jadi begitu, lalu baginda bertanya kepada pemuda itu, “Adakah engkau pandai ilmu sihir?”

Jawab pemuda itu, “Demi Allah, tidak sekali-kali wahai Amirul Mukminin.”

Berkata Khalifah: “Baiklah, aku ampunkan engkau. Tetapi katakanlah kepada aku apakah rahsia engkau?”

Pemuda itu pun berkata, “Aku telah berniat di dalam hatiku, sekiranya Allah melepaskan aku daripada angkra yang sangat berat ini, aku akan mengadakan satu jamuan Maulid Nabi SAW.”

Baginda berkata, “Tadi aku sudah ampunkan engkau dan sekarang ambillah p**a seribu dinar untuk perbelanjaan Maulid Nabi SAW itu dan engkau lepaslah daripada sebarang balasan kerana membunuh anakku itu.”

elah selamatlah pemuda itu daripada balasan kerana membunuh dan telah menerima p**a seribu dinar. Ini semuanya adalah berkat niatnya untuk mengadakan Maulid Nabi SAW. Berbagai pengajaran boleh kita ambil dari cerita ini. Jelaslah kepada kita bahawa pembalasan Allah terhadap kebaikan begitu cepat. Terdetik sahaja di hati hendak berbuat kebaikan sudah Allah nilai. Dan seorang yang beriman, kuat bersandar kepada Allah, ketika di dalam kesusahan ia tetap tenang dan hatinya hanya mengadu kepada Allah dan mengharapkan pertolongan dan kasih sayang Allah. Kita dapat lihat betapa besarnya kelebihan orang yang memuliakan majlis kelahiran Nabi SAW. Baru berniat sahaja hendak mengadakan Maulid Nabi, sudah dimuliakan. Dan sememangnya bernazar untuk melakukan sesuatu yang baik adalah merupakan doa dan dikira amal soleh.

Lihatlah akhlak seorang pemimpin yang adil dan bijak, mudah memaafkan kesalahan orang. Malah ia p**a sanggup memberi hadiah kepada orang yang bersalah itu kerana terlalu s**a untuk turut mengadakan majlis Maulid Nabi SAW. Begitulah para sahabat Rasul dan orang-orang soleh sangat memuliakan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membesarkan hari kelahiranku nescaya aku akan menjadi penolongnya pada hari kiamat dan barangsiapa membelanjakan untuk majlisku seumpama ia membelanjakan emas sebanyak sebuah gunung untuk agama Allah.”

Sayidina Abu Bakar As Siddiq r.a berkata: “Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi SAW maka sesungguhnya ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”

Sayidina Umar r.a p**a berkata: “Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi SAW maka sesungguhnya ia menghidupkan agama Islam.”

Berkata Usman r.a p**a: “Barangsiapa mengeluarkan satu dirham untuk membaca Maulid Rasulullah SAW seolah-olah ia mati syahid di dalam peperangan Badar dan Hunain.”

Sayidina Ali p**a berkata: “Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi SAW ia tidak akan keluar daripada dunia melainkan keadaannya di dalam iman.”

Seorang waliyullah, Hassan Al-Basri telah berkata: “Aku ingin kalaulah aku mempunyai emas sebanyak gunung Uhud nescaya aku akan membelanjakannya untuk membaca Maulid Rasulullah SAW.”

As Sirri As-Saqati berkata: “Barangsiapa pergi ke tempat yang ada dibaca di situ Maulid Nabi SAW sesungguhnya ia diberi satu kebun daripada kebun-kebun syurga kerana ia pergi ke tempat itu tidak lain kerana cinta kepada Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW p**a bersabda: “Barangsiapa cintakan aku nescaya ia akan berada bersamaku di dalam syurga.”

Keberkatan mengadakan majlis Maulid itu bukan sahaja didapati oleh orang yang mengadakan majlis itu, tetapi seluruh ahli rumah atau orang yang tinggal di tempat itu turut mendapat keberkatannya. Jalaludin As Suyuti r.h.m berkata: “Barangsiapa antara orang Islam yang dibacakan di dalam rumahnya Maulid Nabi SAW nescaya Allah SWT akan menghilangkan dan menjauhkan kemarau dan kecelakaan, bala, penderitaan, kebencian, hasad, kejahatan dan kecurian terhadap ahli-ahli rumah itu dan apabila ia mati, Allah SWT akan memudahkan ia menjawab akan soalan-soalan Mungkar dan Nakir dan dia akan mendapat tempat bersama orang-orang yang benar di sisi Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Besar kerajaan-Nya.”

Beliau berkata lagi, “Tiada sebuah rumah atau masjid atau tempat-tempat yang dibaca di dalamnya akan Maulid Nabi SAW melainkan malaikat-malaikat melindungi ahli-ahli tempat itu dan Allah SWT akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka dan malaikat-malaikat yang berpangkat besar seperti Jibril dan Mikail, Israfil, Quryail, Ainail mendoakan kebaikan bagi yang menganjurkan dan menyebabkan adanya majlis bacaan Maulid Nabi SAW itu.”

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang s**a berbuat kebajikan dan memuliakan Rasulullah SAW sekurang-kurangnya dengan menghadiri majlis Maulid Nabi SAW serta memperbanyakkan selawat ke atas junjungan Nabi SAW. Mengingati kelahiran Nabi SAW dan berselawat ke atas Baginda bukan sahaja memberi banyak kelebihan pada umat Baginda tetapi juga senjata menghadapi puak Wahabi dan Yahudi yang sama-sama bekerja untuk menjauhkan umat Baginda dari mengingati Rasulullah melalui Maulid, berselawat, berzanji dan seumpamanya (Video konspirasi Yahudi dan Wahabi boleh ditonton di http://rising-sun.blip.tv/file/3760130/)

Kalau kita mahu menghadapi dua puak yang sedang bermaharaja lela sekarang, inilah kekuatannya dengan banyak berhubung dengan Rasulullah dengan berbagai cara termasuk melalui Maulid, berselawat, selalu menyebut-nyebut tentang Rasulullah, bercerita tentang kehidupan, sejarah dan perjuangan Baginda dan tidak dilupakan mendendangkan nasyid rindu, memuji dan mengingati Rasulullah hingga hati kita benar-benar terasa rindu dan hampir dengan Rasulullah. Semoga kita dapat bersama Rasulullah sepertimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam Hadis Baginda: “Barangsiapa cintakan aku nescaya ia akan berada bersamaku di dalam syurga.”

12/03/2016

KISAH KIYAI DAN PEMUDA

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negara, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau sesiapa sahaja yang boleh menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kiyai : Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya.

Pemuda: Saya ada 3 pertanyaan:-
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimas**an ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir
sejauh itu?

Tiba-tiba kiyai tersebut menampar p**i pemuda tadi dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?

Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada
saya.

Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit.

Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda: Ya!

Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda: Saya tidak boleh.

Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda: Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda: Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa p**i anda?

Pemuda: Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki
maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

12/03/2016

KISAH DUA ORANG SAHABAT DAN POHON KURMA

Pernah suatu hari, telah dikhabarkan kisah dua orang sahabat yang sangat indah. Semenjak keduanya bersahabat, mereka tidak pernah bergaduh, masing-masing amat menjaga hati masing-masing. Indahnya lukisan kehidupan mereka, jika hendak dikhabarkan seribu satu kisah cinta, langsung tak tertanding dengan kisah persahabatan mereka. Allah menaungi ukhwah kedua-dua sahabat ini, langsung tak terusik oleh syaitan dan iblis. Mereka berkongsi kisah s**a dan duka, tawa dan tangis bersama, susah dan senang, sakit dan sihat bersama, dan segala sesuatu mereka sandarkan kepada Allah SWT. Hinggalah pada suatu hari, di tepian pantai, sedang keduanya asyik bercerita kisah hidup masing-masing, maka sahabat pertama bertanya kepada sahabat kedua;

“Semoga Allah memberkatimu wahai sahabatku sehati sejiwa. Persaudaraan kita bukan suatu kebanggaan, bukanlah suatu keseronokan. Orang ramai mendoakan kita. Tumbuh-tumbuhan dan segala jenis makhluk tunduk sujud kepada kita. Sehingga ke hari ini, apakah kamu masih mengaku aku sebagai sahabat seperjuanganmu?”

Sahabat kedua menjawab, “Semoga Allah memberkati mu jua. Tanpa Allah siapalah aku, aku bersyukur dengan nikmat pemberian Allah yang tak ternilai di hadapan mataku ini. Dia utuskan kamu untuk menyinari hidupku, memadam kesan-kesan hitam dalam hidupku, menyiram aku dengan curahan air cinta kepada Yang Satu. Masakan tidak aku mengaku kau sebagai sahabat seperjuanganku. Inilah tekadku, aku amat bersyukur ke hadrat Allah kerana dikurniakan sahabat sepertimu..”

“Sesungguhnya iblis dan syaitan amat benci pada kita. Mereka benci kerana kita berkasih sayang kerana Allah. Sampai sekarang, mereka masih gagal. Namun mereka tak pernah berputus asa. Jarum kedengkian, hasad, fitnah, tuduh-menuduh, riya’ dan takbur serta ‘ujub akan mereka cucuk supaya dapat memisahkan persaudaraan kita. Apakah kau tidak takut wahai sahabatku?” Tanya sahabat pertama.

Dengan tenang, sahabat kedua menjawab, “InsyaAllah, aku yakin dengan peliharaan Allah SWT kepada kita hingga ke hari akhirat nanti. Semoga ditetapkan hati kita tidak lain hanya kerana Allah SWT, serta dijauhi dari sifat-sifat tersebut. Na’uzubillah…”

Maka kedua-dua sahabat itu pun berdoa bersama-sama. Memanjatkan kesyukuran ke hadrat Allah SWT. Segala penduduk langit dan bumi mendoakan kebahagiaan mereka berdua.

Ditakdirkan pada suatu hari, sedang kedua-dua sahabat itu bersiar-siar di sebuah taman, sambil bertasbih memuji Allah SWT, mengagungkan kebesaran Allah SWT, tiba-tiba mereka terlihat sebuah pohon kurma yang lebat buahnya. Telah diketahui bahawa taman itu adalah taman yang tidak bertuan milik, dan pengunjung bebas memetik buah-buahan di situ. Maka sahabat kedua memohon izin kepada sahabat pertama untuk pergi memetik buah kurma tersebut. Maka dipetiknya beberapa biji sahaja, sekadar mengisi perut yang lapar.

Maka keduanya menikmati buah kurma tersebut dengan penuh kesyukuran. Tiba-tiba sahabat pertama bersuara, “Maafkan aku sahabatku. Baru sahaja aku teringat bahawasanya pohon ini bertuan milik. Kita telah makan buah kurma milik orang lain. Adalah suatu dosa bagi kita memakan sesuatu yang bukan halal bagi kita tanpa kita meminta izin terlebih dahulu. Salah aku kerana terlambat memberitahumu.”

“Benarkah? Jikalau begitu, kita telah dikira mencuri. Astaghfirullahal azim, aku merasa bersalah kerana memetik buah itu. Apa harus kita buat? Patutkah kita memberitahu tuan punya milik pohon tersebut akan kesalahan kita?” Sahabat kedua bertanya.

“Tidak, aku tak mampu memikirkan jalan penyelesaian buat masa sekarang. Hakikatnya memang salah aku. Aku merasa berdosa yang teramat sangat.” Keluh sahabat pertama.

“Jangan risau sahabatku fillah. Allah bersama orang-orang yang benar. Kita harus berlaku jujur. Mari kita berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita. Moga tuan milik pohon ini menghalalkan kita kerana memakan buahnya. Aku rela bekerja seumur hidup jika disuruhnya begitu, demi menghalalkan apa yang telahku makan ini. Aku lebih takutkan seksaan Allah SWT.” Sahabat kedua memujuk sahabat pertama.

Namun, sahabat pertama enggan menurut sahabat kedua. Dia berasa amat bersalah kerana gagal memberitahu perkara sebenar tentang pohon tersebut.

“Bagaimana jika tuan pemilik pohon ini enggan menghalalkan buah yang telah kita makan ini?” Tanya sahabat pertama.

Sahabat kedua termenung seketika. Dia mulai ragu-ragu.

“Aku mencadangkan kita tak perlu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Aku khuatir dia enggan memaafkan kita. Maka seluruh darah dan daging kita tidak halal di sisi Allah.” Sahabat pertama memberi cadangan.

“Kalau begitu, sama sahajalah pengakhirannya. Lebih dahsyat lagi Allah murka atas perbuatan kita. Dia melihat perbuatan kita, Dia tahu yang kita telah melakukan maksiat dan cuba menyembunyikannya. Aku amat takut. Seeloknya aku mencadangkan kita berjumpa tuan pemilik pohon ini. InsyaAllah dengan rahmat Allah, tuan pemilik pohon ini memaafkan dan menghalalkan apa yang telah kita makan. Aku tak mahu tergolong dalam kalangan orang yang dilaknat oleh Allah SWT di akhirat kelak nanti.” Sahabat kedua meyakinkan sahabat pertama.

“Kalau begitu, engkau pergi seoranglah. Aku tidak mahu. Sebagai sahabatku, harap kau jangan laporkan kepadanya yang aku turut sama makan buah kurma itu ya. InsyaAllah suatu hari nanti aku akan cuba bertaubat kepada Allah SWT atas kesalahanku ini. Mudah-mudahan Dia mengampuni aku. Aku belum cukup kuat berjumpa dengannya,” kata sahabat pertama.

Sahabat kedua amat terkejut dengan pendirian sahabat pertama. Lalu dia berkata, “Astaghfirullah, bukan dengan cara begini, Allah akan ampunkan dosa kita wahai sahabatku. Kelak akan dipersaksikan di akhirat kelak akan perbuatan terkutuk kita!”

“Ya aku faham. Tapi aku merasakan inilah jalan penyelesaian terbaik. Kita bertaubat sahaja. Allah akan mengampuni dosa kita. Pintu taubatnya sentiasa terbuka bagi hambaNya yang bertaubat kepadaNya.” Sahabat pertama masih enggan.

“Wahai sahabatku, janganlah kita dihina di hadapan Allah kelak atas perbuatan kita ini. Aku sebagai sahabatmu tidak sanggup melihat sahabatku ini menjadi penghuni neraka hanya kerana hal yang kecil sebegini. Islam mengajar kita supaya berlaku jujur!” tegas sahabat kedua.

“Ah, pedulikan! Aku tidak mahu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Lagipun sama sahaja kalau dia enggan menghalalkan apa yang telah kita lakukan ini. Kau mahu pergi, kau pergilah, aku tetap dengan pendirianku! Biarkan aku! Kalau kau rasakan aku tidak layak menjadi sahabatmu kerana ‘dosa’ku pada pandanganmu, maka biarkan aku!” Pengakuan sahabat pertama ini membuatkan sahabat kedua terkejut. Dia tidak menyangka bahawa kata-kata tersebut akan keluar dari mulut sahabatnya itu.

Tiba-tiba sahabat kedua menangis. Maka dengan perlahan dia berkata kepada sahabat pertama, “Sungguh aku tak sangka dengan pendirianmu ini. Kau telah berubah, astaghfirullah, syaitan benar-benar telah mempengaruhimu. Aku masih ingat kau pernah bertanya kepadaku suatu ketika dahulu, apakah aku tidak takut akan jarum-jarum syaitan yang akan memisahkan persaudaraan kita? Aku meyakinkanmu dengan jawapanku. Aku yakin dengan peliharaan Allah. Tapi, memang benar apa yang dikatakanmu. Kau telah berubah. Jarum syaitan telah menusuki tubuhmu. Aku sangat kecewa dengan perubahan dalam dirimu.”

“Kau sudah tidak memahamiku lagi. Kau benar-benar bukan sahabatku. Maka terp**anglah, pergilah kau kepada tuan si pemilik pohon. Aku dengan pendirianku ini. Mulai hari ini, kita bukanlah sahabat sejati,” kata sahabat pertama.

“Baiklah, pergilah engkau dengan sikap engkau itu. Aku benar-benar kecewa. Jika benar kau membenciku, maka tinggalkanlah aku di sini. Aku tak sanggup melihatmu dengan pendirianmu ini. Aku tak rela sahabatku berubah jadi begini. Kau telah mendustai kata-katamu suatu ketika dahulu. Mulai hari ini, aku terima permintaanmu, kita bukan lagi sahabat. Pergilah engkau bertaubat, semoga Allah mengampuni engkau,” maka sahabat kedua menangis. Lalu sahabat pertama beredar dari situ. Kebencian merajai segenap hatinya….

Di dalam sebuah gua, terdengar tangisan teresak-esak seorang lelaki. Suara laksana orang sedang berdoa.

“Ya Allah, memang benar apa yang aku alami. Sahabatku benar-benar membenciku kerana kejahatanku. Dia benar-benar sudah tidak mengakuiku sebagai sahabatnya. Apabila aku berlagak seperti seorang pengkhianat, dan aku berlakon seperti seolah-olah aku menafikannya sebagai sahabatku, maka memang benar dia menolakku. Sudah ku duga bahawa dia mengakui aku sebagai sahabatnya hanya kerana kebaikan yang ada padaku. Apabila aku jahat, maka aku bukan lagi sahabatnya. Dia tidak berusaha mendapatkanku. Ku harapkan dia mengejarku, namun dia menghukum aku sebagai pendusta p**a. Ya Allah, namun begitu, aku menghalalkan apa yang telah dimakannya, akulah pemilik pohon kurma itu, ampunilah dosa sahabatku ini.”

Sahabat pertama tunduk sujud dan menangis dalam gua yang gelap gelita itu.

Address

Bulakamba
Brebes
52253

Telephone

+6287895555591

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hikmah islami dn cerita2 sejarah sahabat Nabi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category