Makam Kyai Ageng Rogosasi

Makam Kyai Ageng Rogosasi Kyai Ageng Ragasasi ialah ulama penyebar agama Islam di lereng gunung Merapi, khususnya di dukuh Tumang, Cepogo, Boyolali.

Selain itu, beliau adalah cikal bakal berdirinya desa Tumang.

Nanti malam..
12/09/2019

Nanti malam..

23/05/2017

Memangun Karyenak Tyasing Sasama.

Setiap orang mempunyai kewajiban membangun kenyamanan bersama.

21/02/2017

Aja turu sore kaki. Ana dewa nganglang jagad. Nyangking bokor kencanane.

Banyak berdoa dan bersholawat.

01/02/2017

Jawa ilang jawane. Padhang ilang cahyane. Bangsa ilang budayane. Anak putu aja lena.

30/01/2017

Terimakasih atas kunjungannya, Pak Jokowi dan jajarannya. Semoga desa ini semakin maju, ayem tentrem dan membawa barokah serta manfaat untuk semuanya.
Al Fatihah........

12/08/2016

Harta terakhir yang masih tersisa adalah budaya sebagai jati diri bangsa.
Jika budaya sudah hilang, maka bangsa ini juga ikut hilang.

09/07/2016

Tradisi sebagai peninggalan berharga nenek moyang memang wajib dijaga dan dilestarikan.Karena tanpa budaya asli daerah mencerminkan jati diri daerah tersebut. Di desa yang didirikan oleh Kyai Ageng Rogosasi ini mempunyai berbagai macam tradisi misalnya, Kenduri, Sadranan, Besik (bersih-bersih dan Ziarah), 3,7,40 harian saat ada orang meninggal dan masih banyak lagi tradisi yang ada. Hampir di desa-desa sekitar juga masih menjaga tradisi tersebut.
Tahun ke tahun tradisi-tradisi tersebut terkikis satu persatu. Banyak faktor yang menyebabkan masalah tersebut terjadi, salah satunya, masuknya paham islam yang melarang diadakanya acara ritual keagaamaan dari leluhur dahulu. Dengan alasan bid'ah dan musyrik karena tidak ada tuntunan. Padahal seluruh tradisi tersebut diwarisi oleh wali-wali hebat yang berjuang menyebarkan agama Islam. Padahal sebuah tradisi dan budaya adalah aset negara dan masyarakat sebagai sarana tata laku sosial di kehidupan bermasyarakat.
Golongan orang yang berpaham radikal tersebut (Wahabi) juga enggan merawat dan menjaga kelestarian budaya sebagai aset masyarakat, Bahkan mereka ingin menghilangkan tradisi tersebut dan digantikan dengan tradisi yang berbau arab. Banyak masyarakat yang mengeluh tentang masalah ini. Khususnya para sesepuh yang tahu sejarah seluk-beluk desa ini. Mereka berharap ada generasi muda yang mau melestarikan dan menjaga aset budaya, sebagai contoh makam Kyai Ageng Rogosasi yang mempunyai darah Mataram ini.
Jangan sampai sikap penganut wahabi tersebut menggusur makam para ulama seperti dahulu ketika mereka ingin menggusur makam Baginda Agung Rasulullah SAW.

28/06/2016

Agus Sunyoto:
Siti Jenar Dianggap Provokator Kesadaran
Wawancara | 21/05/2007

Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai
golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti
Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz
(antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan
diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Historisitas sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan orang kini
pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian serius telah menyingkap sosok
dan aspek-aspek ajarannya. Benarkah ia sosok yang murtad dari sudut
pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)
berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis tujuh jilid buku fiksi
sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut.

Mas Agus, bagaimana riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh
Siti Jenar?

Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku orang yang
mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya darimana
memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, "Lho, saya kan santri Tebu
Ireng angkatan pertama!" Dia meninggal tahun 1995 dalam usia 105
tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu
adalah almarhum KH Hasyim Asyari. "Berarti Mbah Hasyim mengajarkan
soal ini, d**g?" tanya saya. "Lha, iya!" katanya. Saya berpikir,
darimana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi
saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa
sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi saya berkesimpulan
bahwa benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.

Apakah ajaran-ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa
saat ini?

Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinanan dari
kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh
menjadi guru (tarekat). Setelah itu baru boleh.

Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat
yang mengklaim tersambung dengan dirinya?

Dalam hal egalitaranisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak
mengenal adanya mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka
berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama
sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi tidak ada kultus
mursyid. Ciri lainnya, cara mereka menuju Tuhan sangat
individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian
di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu
namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing
pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya
disampaikan secara rahasia.

Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka?

Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan
pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak
terdefenisikan. Laitsa kamitslihi syai'un atau Dia adalah yang tidak
bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan
di dalam asma'ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri
semua manusia.

Manusia punya sifat sabar, karena Allah punya sifat as-Shabûr
(Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir
(Mahasombong) pada Allah. Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat
bahaya. Lah, manusia itu kan seringkali melakukan hal yang
membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa
adanya manusia, tidak ada asma'ul husna, karena dia juga mengejawantah
di dalam diri manusia.

Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa?

Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah
hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat
dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu
mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan
Tuhan. Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr,
al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.

Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya dia bicara
soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri dari
tiga huruf: kha', lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan
atau al-khalq. Jadi ada pencipta dan ada ciptaan. Karena itu,
munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq.
Hurufnya masih sama: kha', lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq
menuju khâliq?

Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq
yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa
mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau
khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus
mencerminkan perilakunya sang khâliq.

Apa standar khuluq-nya di situ?

Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting)
efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ'i wal
munkar (menjauhkan dari perbuaran keji dan munkar, Red). Khuluq itu
ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tidak boleh
mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum
lin nas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin
mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.

Lalu fungsi ritual agama seperti apa?

Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji
empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak
diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu
diucapkan dengan lisan. Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak
sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris!
Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat.
Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu
tiang agama. Jadi, ujinya empiris.

Lantas di mana titik polemis antara Siti Jenar dengan para wali lainnya?

Memang tidak ada (dalam soal itu). Tapi Siti Jenar juga mengajarkan
unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan
spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan
secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran fiqih atau
syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi.
Bagaimana membuktikannya?!

Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah
memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh,
tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan a**l haq!
(akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya. Semua itu tidak bisa
dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar
ujinya empirisisme.

Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau
emanasi (nazariyyatul faidl) dari Ibu Sina?

Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu
tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian ada juga istilah ma`bûd
(sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama. Bagi Siti Jenar,
ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd
(kawulo). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus;
harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus,
itulah yang dinamakan bid'ah.

Jadi, bid'ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambahi-tambahi dalam
agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid,
itu baru bid'ah. Kalau orang melakukan ibadah, misalnya sedekah, untuk
pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid'ah, pamer! Ayo tivi,
shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid'ah namanya. Itulah
pemaknaan Siti Jenar.

Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur
muhammad. Anda memaknainya sebagai "cahaya yang terpuji", bukan cahaya
Nabi Muhammad. Mengapa?

Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama muhammad itu kan terhitung baru.
Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang
menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep
perantara untuk penciptaan awal. Nur muhammad inilah yang oleh Siti
Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.

Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada
konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia
dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakeket muhammadiyah baru ada kalau
buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun,
batang, akar, dan lain sebagainya. Jadi, konsep nur muhammad itu tidak
bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad.
Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apapun agama dan jenisnya,
berasal dari konsep nur muhammad itu.

Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa?

Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama
Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia,
untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi.
Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat.
Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu
dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.

Bagaimana memodifikasi Hyang sebagai dewa jadi Hyang sebagai Allah?

Begini! Ajaran Kapitayan itu memuja dewa utama bernama Sang Hyang
Toyo. Dalam bahasa Jawi, Toyo itu berarti kosong, hampa, suwung. Dia
tan kena kinaya; tak bisa diapa-apakan. Dinalar nggak bisa, dilihat
nggak bisa, didefenisikan juga nggak bisa. Itu sama dengan ungkapan
laitsa kamitslihi syai'un. Nah, kalau begitu, bagaimana orang bisa
tahu Sang Hyang Toyo kalau Dia tidak bisa didefenisikan?

Dalam Kapitayan disebutkan, Dia muncul dalam bentuk pribadi yang
disebut tu atau to. Artinya kekuatan yang punya daya sakti. Daya sakti
dari kekuatan Hyang Toyo inilah yang sudah dikenal sifatnya. Ada dua
sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat baik disebut tu, lalu menjadi
Tuhan; sementara yang jelek disebut hantu. Karena itu, dalam asumsinya
orang-orang, hantu mesti jelek, dan Tuhan mesti baik. Itu dari
Kapitayan dan bahasa Kawi.

Tapi orang juga mikir, di mana tempatnya Sang Hyang, yaitu hantu dan
tuhan ini? Wong dia juga masih abstrak dan hanya ada sifatnya! Lalu
diyakini, tu bisa muncul pada sesuatu. Sesuatu yang disebut tu: watu,
tugu, tuban (air terjun), tuk (mata air), tunggul, tunggak, tumbak,
tulang. Semua ada di situ dalam bentuk kekuatannya.

Bagaimana membedakannya dengan paham animisme, misalnya?

Beda. Ini sesuatu yang dianggap ada rohnya. Kalau animisme dan
dinamisme, semuanya benda saja. Ini tidak begitu; dia hanya berwujud
kekuatan gaib. Ini juga ada ujungnya, yaitu Tuhan yang tidak bisa
didefenisikan itu. Toyo tadi.

Kaum animis pun menganggap barang-barang sembahan itu hanya medium
penyembahan saja?!

Tapi dalam animisme dan dinamisme, tidak ada konsep satu Tuhan yang
abstrak. Sang Pencipta macam-macam, itu tidak ada. Dari situlah orang
melakukan sesaji dengan tumpeng, tukung, tumbu, dan seterusnya. Bahkan
untuk upacara tertentu yang bersifat rahasia untuk mewujudkan
keinginan yang besar, biasanya ada sesembahan khusus yang bernama tumbal.

Bagaimana Siti Jenar menyikapi sesaji itu?

Dia melihat ujungnya adalah tauhid. Nah, masyarakat di luar Keraton
waktu itu adalah pengikut ajaran ini, bukan ajaran Hindu. Agama Hindu
itu hanya dianut orang-orang Keraton. Jadi mereka masih ke arah ini
(tauhid). Dan masyarakat juga masih dibiarkan membikin tumpeng,
sesaji, dan semacamnya.

Jadi dia tidak lakukan konfrontatif. Karena itu, tempat ibadahnya
orang-orang Kapitayan yang namanya sanggar, bentuknya diambil-alih
kemudian. Tapi namanya bukan lagi sanggar, tapi langgar. Karena itu
langgar di Jawa itu berbeda dengan langgar di tempat lain. Yang
namanya mihrab itu adalah ruang kosong yang menjorok ke dalam. Itu
dulu punya orang Kapitayan. Tempatnya seperti gentong yang masuk ke
dalam. Itulah namanya kosong, suwung. Bentuknya sama persis dengan
mihrab sekarang.

Kemudian ada juga ibadah Kapitayan yang mirip seperti orang-orang
Islam, yaitu tidak makan sehari. Tapi namanya bukan shaum, melainkan
pawasa atau puasa. Itu artinya juga tidak makan sehari, dari bahasa
Kawi. Kemudian juga cerita soal surga-neraka. Bagi Siti Jenar, tidak
usah pakai istilah jannatul firdaus, jannatu adn, dan sebagainya.
Masyarakat tidak mengerti. Maka dipakailah kata suwarga dan neraka
yang orang-orang sudah mengerti. Kosa kata itu sudah digunakan sejak
lama. Termasuk ketika menyebut penghuni surga. Tidak usah pakai hûrin
`în segala. Orang tidak akan tahu. Pakai saja istilah bidadari.

Ajaran apa dari Siti Jenar yang dianggap mengkhawatirkan kekuasaan?

Ketika dia mengubah konsep kawulo menjadi masyarakat. Terutama ajaran
tentang manunggaling kawulo gusti. Artinya, kesetaraan antara rakyat
dengan penguasa. Masyarakat itu berarti orang yang punya hak sama,
dari kata musyârakah (Arab: berpartisipasi dan bekerjasama).
Pengikut-pengikutnya tak dibolehkan memakai kata kulo atau kawulo,
tapi pakai kata ingsun. Makanya, orang Cirebon sampai sekarang
menyebut aku, ya ingsun. Itu membuat marah raja. Dalam tatanan
sosial-budaya saat itu, kata ingsun hanya berhak digunakan raja. Kok
banyak orang desa menyebut dirinya ingsun?! Ini dianggap merusak tatanan.

Juga ajarannya bahwa pemimpin harus dipilih. Karena itu, demokrasi
pertama itu ada pada ajaran Syekh Siti Jenar. Dia yang memelopori
kepemimpinan ki ageng. Kota Cirebon saat itu disebut garade (negara
gede). Sebab, saat itu yang berkuasa orang-orang gede. Negaranya para
orang gede. Maksudnya bukan negara yang besar. Tapi negaranya
orang-orang besar.

Sekarang kita menerima kata masyarakat secara taken for granted. Kita
tak tahu konsepsi apa di balik kata itu. Makanya para pengikut Siti
Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya,
pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika
membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika)
tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan
selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Apakah ajaran Siti Jenar atau tarekatnya sekarang mungkin berkembang?

Mungkin saja. Tapi ajarannya itu sebenarnya tertutup. Ada beberapa
pejabat aneh yang saya curigai menganut ajaran ini. Setelah saya
dekati dan ajak ngobrol, ternyata benar. Masak pejabat tidak mau
terima suap, tidak korupsi, dan sebagainya?! Ini kan aneh.
Mengidentifikasi mereka itu gampang.

Mereka biasanya aneh dan tak mau ikut orang kebanyakan. Ada pejabat
yang dalam kondisi sekarang kok jujur, tidak korupsi, tidak
dekat-dekat wartawan. Pokoknya tak mau ikut kebiasaan para pejabat
umumnya. Setelah saya dekati, biasanya dia mengaku pengikut Siti
Jenar. Ada seorang pejabat yang tiap kali gajian justru membeli
sembako untuk para tetangganya yang miskin. Padahal, hidupnya
biasa-biasa saja. Ternyata, orang itu mengamalkan ajaran Syekh Siti
Jenar. Pokoknya, orangnya aneh-aneh.

Jadi jauh dari kesan negatif yang dicitrakan selama ini, d**g?!

Ya. Soalnya, babad-babad yang ditulis tentang Siti Jenar itu adalah
tulisan orang Keraton semua. Mereka merasa sebagai pihak yang
dirugikan oleh Siti Jenar. Karena itu, sikap orang Keraton Mataram
sangat ambigu terhadap Siti Jenar. Di satu sisi mereka memitoskan
hal-hal yang baik dari Siti Jenar, di sisi lain merasa dia
membahayakan kedudukan raja. Dalam ajaran Siti Jenar tidak boleh ada
kedinastian.

Aspek lain yang dianggap mengancam adalah soal pemimpin yang harus
dipilih. Dulu tidak begitu. Pemimpin seperti jabatan dari Tuhan.
Selain itu juga ajaran untuk menahan pajak sebagai penentangan
terhadap pemimpin. Bagi Siti Jenar, kalau anda tak s**a kekuasaan, ya
apa yang mendukung kekuasaan itu dipotong saja. Jadi, perlawanannya
taktis. Kalau diperintah sesuatu, bilang "ya" saja, tapi jangan
dilakoni. Makanya, para penguasa jengkel. Bagi pemerintah saat itu,
apa yang dikatakan itu serius sekali. Siti Jenar dianggap provokator
yang membangkitkan kesadaran orang atas hak-haknya. [

Agus Sunyoto:
Siti Jenar Dianggap Provokator Kesadaran
Wawancara | 21/05/2007

Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai
golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti
Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz
(antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan
diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Historisitas sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan orang kini
pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian serius telah menyingkap sosok
dan aspek-aspek ajarannya. Benarkah ia sosok yang murtad dari sudut
pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)
berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis tujuh jilid buku fiksi
sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut.

Mas Agus, bagaimana riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh
Siti Jenar?

Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku orang yang
mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya darimana
memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, "Lho, saya kan santri Tebu
Ireng angkatan pertama!" Dia meninggal tahun 1995 dalam usia 105
tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu
adalah almarhum KH Hasyim Asyari. "Berarti Mbah Hasyim mengajarkan
soal ini, d**g?" tanya saya. "Lha, iya!" katanya. Saya berpikir,
darimana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi
saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa
sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi saya berkesimpulan
bahwa benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.

Apakah ajaran-ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa
saat ini?

Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinanan dari
kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh
menjadi guru (tarekat). Setelah itu baru boleh.

Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat
yang mengklaim tersambung dengan dirinya?

Dalam hal egalitaranisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak
mengenal adanya mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka
berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama
sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi tidak ada kultus
mursyid. Ciri lainnya, cara mereka menuju Tuhan sangat
individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian
di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu
namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing
pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya
disampaikan secara rahasia.

Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka?

Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan
pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak
terdefenisikan. Laitsa kamitslihi syai'un atau Dia adalah yang tidak
bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan
di dalam asma'ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri
semua manusia.

Manusia punya sifat sabar, karena Allah punya sifat as-Shabûr
(Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir
(Mahasombong) pada Allah. Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat
bahaya. Lah, manusia itu kan seringkali melakukan hal yang
membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa
adanya manusia, tidak ada asma'ul husna, karena dia juga mengejawantah
di dalam diri manusia.

Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa?

Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah
hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat
dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu
mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan
Tuhan. Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr,
al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.

Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya dia bicara
soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri dari
tiga huruf: kha', lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan
atau al-khalq. Jadi ada pencipta dan ada ciptaan. Karena itu,
munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq.
Hurufnya masih sama: kha', lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq
menuju khâliq?

Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq
yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa
mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau
khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus
mencerminkan perilakunya sang khâliq.

Apa standar khuluq-nya di situ?

Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting)
efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ'i wal
munkar (menjauhkan dari perbuaran keji dan munkar, Red). Khuluq itu
ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tidak boleh
mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum
lin nas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin
mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.

Lalu fungsi ritual agama seperti apa?

Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji
empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak
diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu
diucapkan dengan lisan. Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak
sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris!
Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat.
Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu
tiang agama. Jadi, ujinya empiris.

Lantas di mana titik polemis antara Siti Jenar dengan para wali lainnya?

Memang tidak ada (dalam soal itu). Tapi Siti Jenar juga mengajarkan
unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan
spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan
secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran fiqih atau
syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi.
Bagaimana membuktikannya?!

Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah
memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh,
tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan a**l haq!
(akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya. Semua itu tidak bisa
dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar
ujinya empirisisme.

Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau
emanasi (nazariyyatul faidl) dari Ibu Sina?

Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu
tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian ada juga istilah ma`bûd
(sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama. Bagi Siti Jenar,
ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd
(kawulo). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus;
harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus,
itulah yang dinamakan bid'ah.

Jadi, bid'ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambahi-tambahi dalam
agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid,
itu baru bid'ah. Kalau orang melakukan ibadah, misalnya sedekah, untuk
pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid'ah, pamer! Ayo tivi,
shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid'ah namanya. Itulah
pemaknaan Siti Jenar.

Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur
muhammad. Anda memaknainya sebagai "cahaya yang terpuji", bukan cahaya
Nabi Muhammad. Mengapa?

Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama muhammad itu kan terhitung baru.
Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang
menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep
perantara untuk penciptaan awal. Nur muhammad inilah yang oleh Siti
Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.

Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada
konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia
dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakeket muhammadiyah baru ada kalau
buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun,
batang, akar, dan lain sebagainya. Jadi, konsep nur muhammad itu tidak
bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad.
Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apapun agama dan jenisnya,
berasal dari konsep nur muhammad itu.

Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa?

Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama
Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia,
untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi.
Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat.
Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu
dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.

Bagaimana memodifikasi Hyang sebagai dewa jadi Hyang sebagai Allah?

Begini! Ajaran Kapitayan itu memuja dewa utama bernama Sang Hyang
Toyo. Dalam bahasa Jawi, Toyo itu berarti kosong, hampa, suwung. Dia
tan kena kinaya; tak bisa diapa-apakan. Dinalar nggak bisa, dilihat
nggak bisa, didefenisikan juga nggak bisa. Itu sama dengan ungkapan
laitsa kamitslihi syai'un. Nah, kalau begitu, bagaimana orang bisa
tahu Sang Hyang Toyo kalau Dia tidak bisa didefenisikan?

Dalam Kapitayan disebutkan, Dia muncul dalam bentuk pribadi yang
disebut tu atau to. Artinya kekuatan yang punya daya sakti. Daya sakti
dari kekuatan Hyang Toyo inilah yang sudah dikenal sifatnya. Ada dua
sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat baik disebut tu, lalu menjadi
Tuhan; sementara yang jelek disebut hantu. Karena itu, dalam asumsinya
orang-orang, hantu mesti jelek, dan Tuhan mesti baik. Itu dari
Kapitayan dan bahasa Kawi.

Tapi orang juga mikir, di mana tempatnya Sang Hyang, yaitu hantu dan
tuhan ini? Wong dia juga masih abstrak dan hanya ada sifatnya! Lalu
diyakini, tu bisa muncul pada sesuatu. Sesuatu yang disebut tu: watu,
tugu, tuban (air terjun), tuk (mata air), tunggul, tunggak, tumbak,
tulang. Semua ada di situ dalam bentuk kekuatannya.

Bagaimana membedakannya dengan paham animisme, misalnya?

Beda. Ini sesuatu yang dianggap ada rohnya. Kalau animisme dan
dinamisme, semuanya benda saja. Ini tidak begitu; dia hanya berwujud
kekuatan gaib. Ini juga ada ujungnya, yaitu Tuhan yang tidak bisa
didefenisikan itu. Toyo tadi.

Kaum animis pun menganggap barang-barang sembahan itu hanya medium
penyembahan saja?!

Tapi dalam animisme dan dinamisme, tidak ada konsep satu Tuhan yang
abstrak. Sang Pencipta macam-macam, itu tidak ada. Dari situlah orang
melakukan sesaji dengan tumpeng, tukung, tumbu, dan seterusnya. Bahkan
untuk upacara tertentu yang bersifat rahasia untuk mewujudkan
keinginan yang besar, biasanya ada sesembahan khusus yang bernama tumbal.

Bagaimana Siti Jenar menyikapi sesaji itu?

Dia melihat ujungnya adalah tauhid. Nah, masyarakat di luar Keraton
waktu itu adalah pengikut ajaran ini, bukan ajaran Hindu. Agama Hindu
itu hanya dianut orang-orang Keraton. Jadi mereka masih ke arah ini
(tauhid). Dan masyarakat juga masih dibiarkan membikin tumpeng,
sesaji, dan semacamnya.

Jadi dia tidak lakukan konfrontatif. Karena itu, tempat ibadahnya
orang-orang Kapitayan yang namanya sanggar, bentuknya diambil-alih
kemudian. Tapi namanya bukan lagi sanggar, tapi langgar. Karena itu
langgar di Jawa itu berbeda dengan langgar di tempat lain. Yang
namanya mihrab itu adalah ruang kosong yang menjorok ke dalam. Itu
dulu punya orang Kapitayan. Tempatnya seperti gentong yang masuk ke
dalam. Itulah namanya kosong, suwung. Bentuknya sama persis dengan
mihrab sekarang.

Kemudian ada juga ibadah Kapitayan yang mirip seperti orang-orang
Islam, yaitu tidak makan sehari. Tapi namanya bukan shaum, melainkan
pawasa atau puasa. Itu artinya juga tidak makan sehari, dari bahasa
Kawi. Kemudian juga cerita soal surga-neraka. Bagi Siti Jenar, tidak
usah pakai istilah jannatul firdaus, jannatu adn, dan sebagainya.
Masyarakat tidak mengerti. Maka dipakailah kata suwarga dan neraka
yang orang-orang sudah mengerti. Kosa kata itu sudah digunakan sejak
lama. Termasuk ketika menyebut penghuni surga. Tidak usah pakai hûrin
`în segala. Orang tidak akan tahu. Pakai saja istilah bidadari.

Ajaran apa dari Siti Jenar yang dianggap mengkhawatirkan kekuasaan?

Ketika dia mengubah konsep kawulo menjadi masyarakat. Terutama ajaran
tentang manunggaling kawulo gusti. Artinya, kesetaraan antara rakyat
dengan penguasa. Masyarakat itu berarti orang yang punya hak sama,
dari kata musyârakah (Arab: berpartisipasi dan bekerjasama).
Pengikut-pengikutnya tak dibolehkan memakai kata kulo atau kawulo,
tapi pakai kata ingsun. Makanya, orang Cirebon sampai sekarang
menyebut aku, ya ingsun. Itu membuat marah raja. Dalam tatanan
sosial-budaya saat itu, kata ingsun hanya berhak digunakan raja. Kok
banyak orang desa menyebut dirinya ingsun?! Ini dianggap merusak tatanan.

Juga ajarannya bahwa pemimpin harus dipilih. Karena itu, demokrasi
pertama itu ada pada ajaran Syekh Siti Jenar. Dia yang memelopori
kepemimpinan ki ageng. Kota Cirebon saat itu disebut garade (negara
gede). Sebab, saat itu yang berkuasa orang-orang gede. Negaranya para
orang gede. Maksudnya bukan negara yang besar. Tapi negaranya
orang-orang besar.

Sekarang kita menerima kata masyarakat secara taken for granted. Kita
tak tahu konsepsi apa di balik kata itu. Makanya para pengikut Siti
Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya,
pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika
membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika)
tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan
selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Apakah ajaran Siti Jenar atau tarekatnya sekarang mungkin berkembang?

Mungkin saja. Tapi ajarannya itu sebenarnya tertutup. Ada beberapa
pejabat aneh yang saya curigai menganut ajaran ini. Setelah saya
dekati dan ajak ngobrol, ternyata benar. Masak pejabat tidak mau
terima suap, tidak korupsi, dan sebagainya?! Ini kan aneh.
Mengidentifikasi mereka itu gampang.

Mereka biasanya aneh dan tak mau ikut orang kebanyakan. Ada pejabat
yang dalam kondisi sekarang kok jujur, tidak korupsi, tidak
dekat-dekat wartawan. Pokoknya tak mau ikut kebiasaan para pejabat
umumnya. Setelah saya dekati, biasanya dia mengaku pengikut Siti
Jenar. Ada seorang pejabat yang tiap kali gajian justru membeli
sembako untuk para tetangganya yang miskin. Padahal, hidupnya
biasa-biasa saja. Ternyata, orang itu mengamalkan ajaran Syekh Siti
Jenar. Pokoknya, orangnya aneh-aneh.

Jadi jauh dari kesan negatif yang dicitrakan selama ini, d**g?!

Ya. Soalnya, babad-babad yang ditulis tentang Siti Jenar itu adalah
tulisan orang Keraton semua. Mereka merasa sebagai pihak yang
dirugikan oleh Siti Jenar. Karena itu, sikap orang Keraton Mataram
sangat ambigu terhadap Siti Jenar. Di satu sisi mereka memitoskan
hal-hal yang baik dari Siti Jenar, di sisi lain merasa dia
membahayakan kedudukan raja. Dalam ajaran Siti Jenar tidak boleh ada
kedinastian.

Aspek lain yang dianggap mengancam adalah soal pemimpin yang harus
dipilih. Dulu tidak begitu. Pemimpin seperti jabatan dari Tuhan.
Selain itu juga ajaran untuk menahan pajak sebagai penentangan
terhadap pemimpin. Bagi Siti Jenar, kalau anda tak s**a kekuasaan, ya
apa yang mendukung kekuasaan itu dipotong saja. Jadi, perlawanannya
taktis. Kalau diperintah sesuatu, bilang "ya" saja, tapi jangan
dilakoni. Makanya, para penguasa jengkel. Bagi pemerintah saat itu,
apa yang dikatakan itu serius sekali. Siti Jenar dianggap provokator
yang membangkitkan kesadaran orang atas hak-haknya.

Address

Tumang Gunung Sari, Cepogo
Boyolali
57362

Telephone

085728831652

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Makam Kyai Ageng Rogosasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share