Forest Watch Indonesia

Forest Watch Indonesia Info lengkap tentang FWI bisa dilihat di link: http://fwi.or.id/about/ info ground check situ dilink: https://forest-watch.appspot.com

Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan organisasi jaringan pemantau hutan independen, yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka dan dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. FWI yakin bahwa cita-cita ini hanya akan terwujud apabila ter

cipta kondisi dimana semua data kehutanan dan data yang terkait dengan sumberdaya hutan bisa diperoleh dengan mudah dan cepat oleh semua orang, serta pengelolaan hutan di Indonesia sungguh-sungguh terbebas dari semua jenis kegiatan eksploitasi hutan dan pengalihan penggunaan kawasan hutan yang dapat mengurangi atau menghilangkan daya dukung ekosistem hutan dan menimbulkan konflik.

Halo Sobat Hutan!511 ribu hektare hutan Indonesia hilang di luar izin konsesi resmi. Deforestasi ini terjadi baik di kaw...
12/05/2026

Halo Sobat Hutan!

511 ribu hektare hutan Indonesia hilang di luar izin konsesi resmi. Deforestasi ini terjadi baik di kawasan hutan maupun Areal Penggunaan Lain (APL), menunjukkan bahwa lemahnya tata kelola, minimnya transparansi, dan pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam masih menjadi ancaman besar bagi hutan Indonesia.

Sumatra menjadi wilayah dengan tekanan paling tinggi. Ekspansi sawit, tambang, hingga industri kayu terus mendorong pembukaan hutan, sementara dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar: banjir, longsor, hilangnya ruang hidup, hingga rusaknya habitat satwa seperti Orangutan Tapanuli.

Di Riau, jutaan hektare lahan telah dikuasai industri ekstraktif, sementara ruang yang benar-benar dikembalikan untuk masyarakat masih sangat kecil. Ironisnya, kerusakan terus terjadi bahkan di wilayah yang seharusnya dilindungi.

Laporan sudah dibuat, data sudah menunjukkan kenyataan. Tapi sampai hari ini, hutan tetap dibuka.
Pertanyaannya: sampai kapan deforestasi terus dianggap biasa?

Perempuan adat bukan sekadar bagian dari komunitas adat. Mereka adalah penjaga hutan, pangan, pengetahuan, dan keberlang...
11/05/2026

Perempuan adat bukan sekadar bagian dari komunitas adat. Mereka adalah penjaga hutan, pangan, pengetahuan, dan keberlangsungan hidup komunitasnya. Namun hingga hari ini, hak-hak mereka masih kerap terpinggirkan.

Ketimpangan sosial, sistem patriarkis, dan kebijakan yang belum berpihak membuat perempuan adat berada di posisi paling rentan, terutama saat mempertahankan wilayah hidupnya. Kekerasan dan kriminalisasi pun masih terus terjadi.

Negara tidak cukup hanya mengakui masyarakat adat, tetapi juga wajib melindungi hak kolektif perempuan adat secara nyata. Karena itu, RUU Masyarakat Adat harus memuat perlindungan yang jelas bagi perempuan adat. Pengakuan masyarakat adat tidak akan utuh tanpa pengakuan terhadap perempuan adat di dalamnya.

Es di Puncak Jaya diprediksi bisa lenyap tahun 2026. Ini bukan sekadar tentang gunung, tapi tanda nyata perubahan bumi y...
05/05/2026

Es di Puncak Jaya diprediksi bisa lenyap tahun 2026. Ini bukan sekadar tentang gunung, tapi tanda nyata perubahan bumi yang sedang berlangsung.

Pada 2025 saja, gletser dunia kehilangan sekitar 408 gigaton es—setara dua kali volume Danau Toba. Di Indonesia, satu-satunya gletser tropis kini berada di ambang hilang, dengan penyusutan yang kian cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Data BMKG menunjukkan luas es di Puncak Jaya telah berkurang drastis sejak 2022. Fenomena ini juga sejalan dengan temuan global dari World Glacier Monitoring Service yang dipublikasikan di Nature Reviews Earth & Environment: pencairan es makin cepat akibat kenaikan suhu bumi.

Hilangnya gletser adalah peringatan—tentang naiknya permukaan laut, krisis air, dan ekosistem yang terganggu.

Perubahannya nyata. Dan setiap upaya untuk menahan kenaikan suhu, sekecil apa pun, tetap berarti.

Jakarta, 1 April 2026 — Forest Watch Indonesia (FWI) menyelenggarakan talkshow, pameran foto, dan pemutaran film bertaju...
06/04/2026

Jakarta, 1 April 2026 — Forest Watch Indonesia (FWI) menyelenggarakan talkshow, pameran foto, dan pemutaran film bertajuk “Hutan Indonesia di Tangan Masyarakat: Alokasi Ruang Adat, Karbon, dan Ekonomi Restoratif untuk Masa Depan Berkelanjutan” pada Selasa (31/3) di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang diseminasi data terbaru kondisi hutan Indonesia periode 2021–2024 sekaligus mendorong strategi perlindungan hutan berbasis masyarakat.

FWI memaparkan bahwa luas hutan alam Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 89 juta hektare atau 47% dari total daratan, dengan total deforestasi mencapai 2,7 juta hektare sepanjang 2021–2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap hutan masih tinggi dan membutuhkan pendekatan yang lebih adil serta berkelanjutan.

Perwakilan FWI, Agung Ady Setiyawan, menegaskan bahwa pengelolaan hutan ke depan tidak dapat dilepaskan dari peran Masyarakat Adat dan lokal. Ia menyebutkan bahwa sekitar 79,8 juta hektare atau 89% hutan alam berada di dalam kawasan hutan, namun hanya 66% kawasan hutan yang masih tertutup hutan alam. “Kondisi ini menunjukkan adanya krisis tata kelola hutan yang serius,” ujarnya.

Selengkapnya: https://fwi.or.id/hutan-indonesia-di-tangan-masyarakat/

Halo Sobat Hutan! Tahu nggak sih, sekarang emisi karbon bisa diperdagangkan, loh!Lewat skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK),...
02/03/2026

Halo Sobat Hutan!

Tahu nggak sih, sekarang emisi karbon bisa diperdagangkan, loh!
Lewat skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK), emisi diperlakukan seperti komoditas.
Di pasar karbon, ada dua mekanisme utama: Cap and Trade dan Carbon Offset.

Cap and Trade membatasi emisi pelaku usaha, lalu membuka ruang jual beli jatah emisi.
Sementara Carbon Offset menjual “hasil” penurunan atau penyerapan emisi dari proyek tertentu.

Kedengarannya rapi, ya.
Tapi pertanyaannya: apakah emisinya benar-benar turun?

Pasar bisa ramai, transaksi bisa tinggi.
Tapi tanpa batas emisi yang tegas dan tata kelola yang kuat,
pasar karbon berisiko jadi izin baru untuk terus mencemari.

Ekonomi karbon bukan soal pintar berdagang karbon.
Yang penting: krisis iklimnya berkurang atau tidak?

Menurut Sobat Hutan gimana?
Yuk, tulis pendapatmu di kolom komenta

Halo Sobat Hutan!Gajah tewas lagi. Kali ini karena pagar listrik.Seekor gajah Sumatera betina ditemukan mati di Aceh Ten...
02/03/2026

Halo Sobat Hutan!

Gajah tewas lagi. Kali ini karena pagar listrik.
Seekor gajah Sumatera betina ditemukan mati di Aceh Tengah, diduga tersengat kawat listrik bertegangan tinggi di kebun warga. Pagar listrik kerap dipakai sebagai “jalan pintas” melindungi kebun sawit, padahal berbahaya dan dilarang.

Gajah masuk kebun bukan tanpa sebab. Ruang hidupnya menyempit, sementara sawit muda mudah dijangkau sebagai pakan.

Konflik ini sebenarnya bisa dicegah. Ada alternatif yang lebih aman: penjagaan bersama, menggiring gajah kembali ke hutan, dan menanam tanaman yang tidak disukai gajah.

Melindungi kebun tidak harus mengorbankan nyawa.
Menurutmu, apa solusi yang paling realistis untuk mencegah konflik manusia-gajah?

Halo Sobat Hutan!Korupsi tidak selalu berhenti di ruang sidang.Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan besar justru sering...
25/02/2026

Halo Sobat Hutan!

Korupsi tidak selalu berhenti di ruang sidang.
Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan besar justru sering muncul setelah putusan hukum dijatuhkan. Aset sitaan yang seharusnya dikelola untuk kepentingan publik bisa kembali diselewengkan ketika tata kelola dan pengawasan lemah.

Ini mengingatkan kita bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya soal menangkap pelaku, tetapi juga memastikan aset negara benar-benar aman, tercatat, dan diawasi dengan jelas. Tanpa sistem yang transparan dan akuntabel, kerugian negara bisa terulang, bahkan dari barang bukti kejahatan itu sendiri.

Halo Sobat Hutan!Sudah tahu belum, apa itu Nilai Ekonomi Karbon (NEK)?Sederhananya, NEK adalah cara negara memberi “harg...
20/02/2026

Halo Sobat Hutan!

Sudah tahu belum, apa itu Nilai Ekonomi Karbon (NEK)?

Sederhananya, NEK adalah cara negara memberi “harga” pada emisi karbon. Emisi tidak lagi gratis, ada konsekuensi ekonomi dan aturan mainnya. Tujuannya jelas: membantu Indonesia mencapai target iklim nasional dalam NDC.

Masalahnya, NEK bukan sekadar soal pasar karbon atau pencatatan yang rapi. NEK seharusnya benar-benar mendorong penurunan emisi, bukan justru membuka celah klaim ganda, greenwashing, atau ketidakadilan bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.

Ketika karbon diberi nilai ekonomi, tata kelola jadi kunci.
Tanpa batas emisi yang tegas dan pengawasan kuat, kebijakan iklim bisa terlihat berjalan, tapi arahnya melenceng.

Pertanyaannya:
Apakah NEK hari ini sudah benar-benar membantu target iklim Indonesia, atau baru sebatas instrumen di atas kertas?

06/02/2026

Air yang lahir dari hutan dan karst menjaga kehidupan hari ini, mengalir ke rumah-rumah, ladang, dan ruang hidup kita.

Dari sanalah ekosistem bertahan dan anak-anak punya kesempatan tumbuh dengan lingkungan yang sehat.

Namun semua itu hanya mungkin jika hutan dan karst tetap dilindungi.

Yuk, jaga hutan dan karst bersama.

06/02/2026

Air yang lahir dari hutan dan karst menjaga kehidupan hari ini, mengalir ke rumah-rumah, ladang, dan ruang hidup kita.

Dari sanalah ekosistem bertahan dan anak-anak punya kesempatan tumbuh dengan lingkungan yang sehat.

Namun semua itu hanya mungkin jika hutan dan karst tetap dilindungi.

Yuk, jaga hutan dan karst bersama.

Halo sobat hutan!Konflik gajah - manusia di sekitar Taman Nasional Way Kambas kembali terjadi.Presiden menyoroti situasi...
28/01/2026

Halo sobat hutan!

Konflik gajah - manusia di sekitar Taman Nasional Way Kambas kembali terjadi.
Presiden menyoroti situasi ini, dan pemerintah daerah mendorong pembangunan pembatas permanen demi keamanan warga dan perlindungan satwa.

Namun, apakah pagar benar-benar solusi jangka panjang?

Pengalaman dari berbagai kawasan konservasi dunia menunjukkan pembatas fisik bukan solusi netral.
Ia memutus jalur jelajah satwa, mengganggu proses alamiah ekosistem, dan dalam jangka panjang justru menciptakan masalah ekologis baru. Artinya, tembok tidak menyelesaikan konflik—ia hanya memindahkannya.

Bagi gajah Sumatera, ruang jelajah luas dan konektivitas bentang alam adalah kunci kelangsungan hidup.
Tanpa koridor ekologis, tekanan terhadap populasi meningkat, konflik berulang, dan risiko kepunahan semakin nyata.

Refleksi untuk Way Kambas:
Pertanyaannya bukan hanya “bagaimana membatasi?” melainkan:

"Bagaimana melindungi manusia dan satwa tanpa merusak sistem alam yang menopang keduanya?"

Address

Sempur Kaler No. 62
Bogor
16129

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forest Watch Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Forest Watch Indonesia:

Share