Studio Seni ZAM MIME Production

Studio Seni ZAM MIME Production Studio Seni "ZAM MIME PRODUCTION " adalah wadah kursus seni yang jarang di lihat dan Fenomenal : PANTOMIME ,ACTING ,dan HUMANOID. Hari Pelatihan: Jum’at-Minggu.

Di Bulan Oktober mulai Tanggal 10-12 oktober 2014. Studio Seni”ZAM MIME Production” wadah belajar seni Entertainment bagi siapa saja yang tertarik dengan dunia ENTERTAINMENT. BUKA KELAS SENI :
PANTOMIME
ACTING,dan
HUMANOID
Syarat Usia:Bisa membaca,cerdas bermain imajinasi,kemauan belajar. Biaya Pendaftaran Fomulir+IDCard : Rp.50.000
Biaya Pelatihan + Kostum Khusus : Rp.200.000. Jam : 13.30-16.30

wib.
# MATERI WAJIB :
Olah Tubuh/Rasa
Olah Mimik/Ekspresi
Olah Imajinasi
Pemahaman Analisa Gerak Art
Pemahaman Naskah + Inst.Musik
Pemahaman Materi Karakter,dan
Materi Foto Casting/Profil
KONSEP KELAS: 1x bayar selamanya

09/05/2026

SEJARAH BUKAN HANYA CERITA TENTANG KEBESARAN DAN KEMEWAHAN TEMPAT MASA LALU SAJA, TAPI DIBALIK SEJARAH JUGA ADA SISI KELAM DAN KARMA NYA MANUSIA DARI MASA LALU PADA ( DNA/ KETURUNAN TITISAN ) LELUHUR YANG BELUM TERBAYAR LUNAS.

SEJARAH PUN DIMASA SEKARANG HARUS CIPTAKAN TERSENDIRI, JANGAN SAMPAI SEJARAH ANDA DIBUAT OLEH OKNUM TAK BERTANGGUNG JAWAB.

MAKA YUK!!! DARI KITA MULAI DARI AWAL KEMBALI BELAJAR SEJARAH BUDAYA KITA SENDIRI DI NUSANTARA.

“DUA RUPA IKET SUNDA”Dua rupa (jenis) iket yang mempunyai makna filosofi yang mendalam. Makna pada dua rupa ini meliputi...
09/05/2026

“DUA RUPA IKET SUNDA”

Dua rupa (jenis) iket yang mempunyai makna filosofi yang mendalam. Makna pada dua rupa ini meliputi kesadaran akal dan pikiran serta kesempurnaan dalam menjalankan kehidupan dari dua arah yaitu Kepemimpinan dan “Pembimbing kebaikan”.

RUPA IKET

MAKUTA WANGSA

Makuta = Mahkota, Wangsa = Bangsa

FILOSOFINYA

* Bijaksana
* Adil
* Teladan
* Keteguhan hati
* Kepemimpinan
* Pelindung, pengayom

RUPA IKET

CANDRA SUMIRAT

Candra = Bulan / Sinar rembulan
Sumirat = Terang benderang

FILOSOFINYA

* Kesucian hati & pikiran
* Kesempurnaan hidup
* Pencaga nilai nilai luhur
* Penyampai kebenaran
* Mengajak kebaikan





“Makna Tersembunyi Bahasa Jawa Kuno: Warisan Jiwa dan Kehidupan Leluhur”Bahasa Jawa Kuno bukan hanya rangkaian aksara…di...
09/05/2026

“Makna Tersembunyi Bahasa Jawa Kuno: Warisan Jiwa dan Kehidupan Leluhur”

Bahasa Jawa Kuno bukan hanya rangkaian aksara…
di dalamnya tersimpan nilai kehidupan, kebijaksanaan, dan warisan jiwa para leluhur.

Setiap kata memiliki ruh dan makna mendalam.
Seperti Sukma yang melambangkan jiwa, Prana sebagai nafas kehidupan, dan Dharma yang mengajarkan tanggung jawab serta jalan kebaikan.

Melalui istilah-istilah kuno ini, kita diajak untuk lebih mengenal diri, memahami kehidupan, dan menjalani hidup dengan kesadaran yang lebih bijaksana.

Desain ini dibuat dengan tampilan yang lebih cerah, tajam, dan penuh warna agar nyaman dibaca serta menarik untuk dipelajari.
Cocok sebagai pengingat bahwa budaya leluhur bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pedoman hidup yang tetap relevan hingga hari ini.

Mari kenali makna katanya…
Resapi pesan leluhurnya…
Dan lestarikan warisan budaya Nusantara.

Kratha Basa, sebuah kumpulan ajaran, filosofi, dan nilai kehidupan dari budaya Jawa, yang disajikan lewat simbol-simbol ...
09/05/2026

Kratha Basa, sebuah kumpulan ajaran, filosofi, dan nilai kehidupan dari budaya Jawa, yang disajikan lewat simbol-simbol benda, istilah, dan maknanya. Intinya mengajarkan tentang cara hidup yang bijak, berbudi luhur, berperilaku baik, dan memahami makna hidup. Di bagian bawah ada pesan inti: "Hidup itu perjalanan, perkataan itu petunjuk. Mengerti perkataan, mengerti makna hidup."
Penjelasan Detail

Berikut makna masing-masing bagian:

1. Judul & Slogan Atas- Kratha Basa: Secara harfiah berarti "kerajaan perkataan/bahasa", merujuk pada kebijaksanaan yang terkandung dalam ucapan dan ajaran.
- Saben tembung, ngemot piwulang; saben piwulang, nuntun urip kang luwih becik: Setiap kata mengandung ajaran; setiap ajaran menuntun hidup menjadi lebih baik.
2. Daftar Simbol & Maknanya- Sepuh: Sabdane ampuh → Kata-kata orang tua/orang bijak memiliki kekuatan dan kebenaran, patut dihormati.
- Tebu: Antep ing kalbu → Kata-kata yang manis, tulus, dan menyentuh hati, seperti rasa tebu.
- Cengkir: Kenceng ing pikir → Berpikir jernih, tegas, dan mendalam, tidak terburu-buru mengambil keputusan.
- Gelas: Yen tugel ora iso di las → Perkataan/kepercayaan yang sudah rusak/tercabut tidak bisa diperbaiki kembali; hati-hati berbicara.
- Dalang: Ngundal piwulang → Orang yang berilmu/berpengetahuan bertugas menyampaikan dan mengajarkan kebaikan, seperti dalang pewayangan.
- Guru: Di gugu lan di tiru → Sosok yang perkataannya harus didengar/ditaati dan perbuatannya harus diteladani.
- Cangkem: Yen ora di cancong ora mingkem → Jangan berbicara sembarangan; jika tidak ada hal penting/benar, sebaiknya diam.
- Wedang: Awitane Tandang → Perilaku dan tindakan seseorang terlihat jelas, seperti rasa minuman yang terasa saat diminum.
- Kendi: Kendalin ing budi → Pandai mengendalikan diri, emosi, dan perilaku agar tetap berbudi luhur.
- Ngelmu: Angélé yen durung ketemu → Ilmu sulit didapat/dipahami jika belum dicari dan dihayati dengan sungguh-sungguh.
- Garwo: Sigarané nyowo → Pasangan hidup adalah bagian penting dari diri sendiri, tempat berbagi hidup dan nafkah.
- Tumpeng: Turmindak sing lempeng → Hidup harus berjalan lurus, benar, dan seimbang.

Kalender Sanjaya: Warisan Astronomi Kerajaan Medang Sejarah Kalender Sanjaya terungkap melalui serangkaian prasasti pent...
07/05/2026

Kalender Sanjaya: Warisan Astronomi Kerajaan Medang

Sejarah Kalender Sanjaya terungkap melalui serangkaian prasasti penting yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Mpu Daksa, raja pengganti Balitung di Kerajaan Medang. Prasasti-prasasti ini menjadi bukti otentik penggunaan sistem penanggalan unik yang berbeda dari kalender Saka yang umum digunakan saat itu.

Di antara prasasti-prasasti penting tersebut adalah Prasasti Taji Gunung (910 M), Prasasti Timbangan Wungkal (913 M), Prasasti Tulang Er (914 M), dan Prasasti Tihang (914 M). Semua prasasti ini mencantumkan tahun dalam sistem Sanjayawarsa, dengan Prasasti Timbangan Wungkal misalnya, tertulis tahun 197 Sanjayawarsa yang setara dengan 912/913 Masehi.

Melalui prasasti-prasasti inilah para sejarawan dan arkeolog dapat merekonstruksi bagaimana sistem penanggalan yang diperkenalkan Mpu Daksa sebagai bentuk legitimasi kekuasaannya sebagai keturunan sah Sanjaya, pendiri Dinasti Sanjaya dan Kerajaan Medang i Bhumi Mataram.

Kalender Sanjaya pada dasarnya mengadopsi sistem lunisolar, gabungan antara perhitungan bulan (lunar) dan matahari (solar), yang serupa dengan Kalender Saka dari India. Tahun 1 Sanjaya ditetapkan bertepatan dengan tahun 716 Masehi, yang diyakini sebagai tahun ketika Sanjaya berhasil mendapatkan kembali takhta Sanna dan kemungkinan besar merupakan tahun berdirinya Kerajaan Medang.

Sistem ini membagi satu tahun menjadi sekitar 360 hari yang tersebar dalam 12 bulan, dimulai dari bulan Caitra (sekitar Maret-April dalam kalender Masehi) dan berakhir pada bulan Phalguna (Februari-Maret). Namun, yang membuat Kalender Sanjaya istimewa adalah kompleksitas sistem penanggalannya yang sangat detail.

Siklus Pancawara: Pon, Wage, Kliwon, dan Rekan-Rekannya

Salah satu aspek paling menarik dari Kalender Sanjaya—dan yang masih bertahan hingga kini dalam budaya Jawa—adalah sistem Pancawara atau siklus lima hari. Inilah yang kita kenal sebagai Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Dalam sistem ini, setiap hari tidak hanya memiliki nama dalam siklus tujuh hari (Saptawara) seperti Minggu, Senin, Selasa, dan seterusnya, tetapi juga memiliki nama dalam siklus lima hari (Pancawara). Kombinasi keduanya menciptakan.

HARTA RAKYAT NUSANTARA SIRNA OLEH REKOMENDASI G20“Considering this statement, which was written and signed in November, ...
05/05/2026

HARTA RAKYAT NUSANTARA SIRNA OLEH REKOMENDASI G20
“Considering this statement, which was written and signed in November, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were just obtained.”

Itulah sepenggal kalimat yang menjadi berkah sekaligus kutukan bagi bangsa Nusantara hingga kini. Kalimat itu menjadi kalimat penting dalam perjanjian antara Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dengan Soekarno pada 1963.

Soekarno dan John F. Kennedy

Banyak pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama “The Green Hilton Agreement” itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika. Tetapi bagi Nusantara, itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan B**g Karno. Sebab volume batangan emas tertera dalam lembaran perjanjian itu terdiri dari 17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas murni.

Bahasa lain yang sering dikemukakan B**g Karno kepada rekan terdekatnya, bahwa ia ingin harta nenek moyang yang telah dirampas oleh imperialisme dan kolonialisme dulu bisa kembali. Tetapi perjanjian yang diteken itu hanya sebatas pengakuan dan mengabaikan pengembaliannya. Sebab Negeri Paman Sam itu mengambilnya sebagai harta pampasan perang dunia I dan II. Konon cerita, harta itu dibawa ke Belanda dari Nusantara, kemudian Belanda kalah perang dengan Jerman, maka Jerman memboyong harta itu ke negaranya. Lalu dalam Perang Dunia kedua, Jerman kalah dengan Amerika, maka Amerika membawa semua harta itu ke negaranya hingga kini.

Perjanjian itu berkop surat Burung Garuda bertinta emas di bagian atasnya yang kemudian menjadi pertanyaan besar pengamat Amerika. Yang ikut serta meneken dalam perjanjian itu tertera John F. Kennedy selaku Presiden Amerika Serikat dan William Vouker yang berstempel “The President of The United States of America” dan di bagian bawahnya tertera tanda tangan Soekarno dan Soewarno berstempel “Switzerland of Suisse.” Yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah, mengapa Soekarno tidak menggunakan stempel RI. Pertanyaan itu sempat terjawab, bahwa beliau khawatir harta itu akan dicairkan oleh pemimpin Nusantara yang korup, kelak.

Pendidikan Indonesia sudah salah arah selama 100 tahun, dan hampir tidak ada yang sadar.Ki Hajar Dewantara sudah memperi...
04/05/2026

Pendidikan Indonesia sudah salah arah selama 100 tahun, dan hampir tidak ada yang sadar.

Ki Hajar Dewantara sudah memperingatkan sejak 1922, tapi sistem pendidikan kita malah makin menjauh dari jalan yang benar. Buku Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara karya Ahada Ramadhana membongkar seluruh kebenaran yang disembunyikan oleh sistem pendidikan modern. Siap hadapi fakta pahitnya?

Dari Bangsawan ke Pejuang Rakyat, Perjalanan yang Mengguncang Jiwa.

Ki Hajar Dewantara lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, cucu Paku Alam III, bangsawan Yogyakarta yang seharusnya menikmati keistimewaan. Tapi pilihannya justru membela rakyat kecil yang terjajah. Setelah menulis artikel menohok Als Ik Eens Nederlander Was, Belanda membuangnya ke Pulau Bangka. Dari pengasingan itulah lahir tekad bulat, perjuangan tidak harus dengan senjata, tapi bisa melalui pendidikan yang membebaskan jiwa bangsa.

Taman Siswa Bukan Sekadar Sekolah, Tapi Gerakan Pembebasan Bangsa.

Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Taman Siswa bukan untuk mencetak pegawai rendahan Belanda, tapi untuk melahirkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin. Sekolah ini menolak paksaan, hukuman, dan sistem perintah yang menjadikan anak budak. Sebaliknya, Taman Siswa membangun jiwa nasionalisme, kebanggaan budaya, dan kemerdekaan berpikir. Ini adalah pendidikan yang benar-benar berani melawan kolonialisme dari dalam.

Sistem Among, Metode Pendidikan Asli Indonesia yang Diabaikan Dunia.

Ki Hajar menciptakan Sistem Among, metode kekeluargaan yang bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Konsep momong, among, dan ngemong menggantikan perintah dan hukuman dengan kasih sayang, teladan, dan bimbingan. Trilogi Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukan sekadar slogan, tapi filosofi hidup yang menempatkan guru sebagai fasilitator, bukan penguasa. Ironisnya, metode ini lebih dulu dari Montessori dan lebih dalam dari John Dewey, tapi Indonesia sendiri yang melupakannya.

Pancadarma, Lima Asas yang Bisa Menyelamatkan Generasi Z dari Kehancuran Karakter.

Ki Hajar merumuskan Pancadarma, lima asas pendidikan yang terdiri dari kemerdekaan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan.

Kesunyian bukan tentang sepi…tapi tentang kembali.Di saat dunia terlalu bising,justru dalam diam kita mulai mendengar—su...
03/05/2026

Kesunyian bukan tentang sepi…
tapi tentang kembali.

Di saat dunia terlalu bising,
justru dalam diam kita mulai mendengar—
suara hati, arah hidup, dan tanda-tanda yang selama ini kita abaikan.

Kesunyian mengajarkan kita:
tidak semua harus dikejar,
tidak semua harus dijawab sekarang.

Kadang… cukup berhenti, diam, dan merasakan.

Karena dalam kesunyian,
kita tidak kehilangan apa-apa—
justru menemukan diri yang sebenarnya.



MaknaHidup
BelajarHidup SelfHealing JalanSunyi
KetenanganBatin NgajiRasa
FilosofiJawa HidupSederhana
QuotesBijak PituturUrip PituturLuhur
KaweruhJawa PituturJawaKuno
MotivasiHarian

Yang Kita Sebut MISTIK, Sebenarnya LOGIKA LELUHURNENEK MOYANG NUSANTARA TIDAK MISTIK?Yang kita sebut “mistik” hari ini…m...
03/05/2026

Yang Kita Sebut MISTIK, Sebenarnya LOGIKA LELUHUR

NENEK MOYANG NUSANTARA TIDAK MISTIK?

Yang kita sebut “mistik” hari ini…
mungkin sebenarnya adalah sains yang belum kita pahami.

MASALAHNYA BUKAN DI MEREKA.
TAPI DI CARA KITA MEMBACA.

Kita melihat ritual → lalu menyimpulkan: takhayul.
Padahal yang kita lihat baru kulitnya, bukan sistem berpikirnya.

TAN MALAKA JUSTRU MENGKRITIK
CARA BERPIKIR TANPA SEBAB-AKIBAT

Dalam Madilog, ia menyebut “logika mistika” sebagai cara berpikir yang:
❌ Tidak mencari sebab-akibat
❌ Tidak bisa diuji
❌ Hanya percaya begitu saja

→ Tapi… apakah nenek moyang Nusantara seperti itu?

BANYAK PRAKTIK LELUHUR JUSTRU BERBASIS OBSERVASI

Mereka membaca:
• pola hujan
• arah angin
• perilaku hewan
• perubahan tanah

→ Ini bukan mistik. Ini empirisme tanpa laboratorium.

SISTEM MEREKA PUNYA LOGIKA SEBAB-AKIBAT

• Hutan dijaga → air stabil → tidak longsor
• Tanam ikut musim → panen optimal
• Larangan di hutan → manusia selamat

ADA POLA JELAS:
A (sebab) → B (proses) → C (akibat)

KARENA DISAMPAIKAN LEWAT SIMBOL,
BUKAN RUMUS

Alih-alih jurnal ilmiah, mereka pakai:
• mitos
• pamali
• ritual

TUJUANNYA SATU:
→ agar pengetahuan mudah diingat dan dipatuhi bersama

KITA MENERTAWAKAN,
KARENA KITA KEHILANGAN KONTEKS

Modern melihat: “itu irasional.”

Padahal yang hilang adalah:
→ kemampuan membaca makna di balik simbol

MEREKA TIDAK MISTIK.
KITA YANG TERLALU DANGKAL MEMBACA.

Nenek moyang Nusantara berpikir dengan:
• observasi
• pengalaman
• sebab-akibat

HANYA BAHASANYA BERBEDA.

SEKARANG PERTANYAANNYA:
MASIHKAH KITA CUKUP RENDAH HATI
UNTUK BELAJAR DARI MEREKA?

02/05/2026
Perjalanan Napak Tilas seperti ini, pasti cepat di rindukan dan kangen...pasti ingin mengulangi lagi... terlalu cepat pe...
29/04/2026

Perjalanan Napak Tilas seperti ini, pasti cepat di rindukan dan kangen...pasti ingin mengulangi lagi... terlalu cepat pergi kuliah lapangan hanya 3 hari. Ya lama nya perjalanan itu lah rasa PDKT satu letting dari 3 angkatan prodi.

Klao pribadi saya sudah terlalu sering berpergian jauh...saya merasakan ingin berpetualang jelajah lagi, sayangnya isi dompet sedang surut termasuk ATM pun begitu. Hmmm....klao ada lebih cukup,bisa melanjutkan perjalanan lagi. Tapi balik lagi dari rasa tanggung jawab saya sebagai mahasiswa lagi ya harus kembali aktivitas normal dan penuh drama tugas-tugas + organisasi mahasiswa lainnya.

Ya masa muda saya terdahulu kemarin sudah Menghasilkan karya-karya, menghabiskan langlang buana dan mencari kolasi kolega + circle sefrekuensi.

Sekarang masa pertengahan umur kepala 3, balik lagi mencari ilmu pengetahuan di akademik.

Address

Jalan Mayjen HR. Edy Sukma No. 3 Desa Srogol, Kec. Cigombong-Kab. Bogor Rt. 06 Rw. 02
Bogor
16740

Opening Hours

Friday 02:00 - 17:25
Saturday 02:00 - 17:20
Sunday 02:00 - 17:20

Telephone

+6285272232822

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Studio Seni ZAM MIME Production posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Studio Seni ZAM MIME Production:

Share