24/05/2026
Tanggal 22 Mei 1998, hanya sehari setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri. Asap kerusuhan masih mengepul di Jakarta, dan B.J. Habibie baru saja mengambil sumpah sebagai Presiden ke-3 RI.
Namun, di hari pertamanya bekerja, sebuah laporan intelijen tingkat tinggi langsung mengguncang meja kerjanya di Istana.
Panglima ABRI Jenderal Wiranto melaporkan adanya pergerakan pasukan Kostrad yang bergerak diluar kendali Panglima ABRI.Pasukan tersebut dilaporkan mulai mengepung titik-titik vital, termasuk Istana Negara dan kediaman pribadi Presiden Habibie di Kuningan.
Menyadari pergerakan pasukan di luar kendali Panglima ABRI, Habibie tak lantas menganggapnya sebagai upaya kudeta.
Namun, membiarkannya berarti memancing "matahari kembar"bdan potensi bentrokan berdarah antar faksi militer.Demi menegakkan kembali garis komando, ia berkonsultasi dengan Letjen Sintong Panjaitan dan mengambil keputusan taktis: Mencopot Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto.
Habibie menginstruksikan Jenderal Wiranto untuk segera mengganti Prabowo dengan Mayjen J***y Lumpintang. Wiranto sempat meminta waktu eksekusi hingga esok harinya, namun Habibie menolak keras. Sang presiden baru tersebut langsung menjatuhkan ultimatum bersejarahnya:
"Perintah ini harus dilaksanakan segera, sebelum matahari terbenam!"
Sore itu juga, Prabowo datang menghadap ke Istana dengan seragam loreng dan senjata, namun dicegat Paspampres agar melucuti senjatanya sebelum masuk.
Di ruang kerja presiden, terjadi percakapan bertensi tinggi. Prabowo mempertanyakan alasan pencopotannya. Dengan tenang namun tegas, Habibie menjawab, "Ini adalah keinginan Presiden".
Meski situasi sangat panas, kedewasaan sejarah pada akhirnya menang. Prabowo menerima keputusan tersebut dan menyerahkan jabatannya.
Ketegasan Habibie dan kepatuhan Prabowo pada hari itu telah menyelamatkan Jakarta dari potensi perang saudara antarfaksi militer yang bisa saja menghancurkan republik yang sedang rapuh.