Lembaga Kearsipan Daerah Kab Batang

Lembaga Kearsipan Daerah Kab Batang Ini adalah halaman tempat dimana seluruh anggota masyarakat kabupaten batang dapat menyampaikan sega

20/06/2022

Selamat Sore

17/06/2022

Timnas sepak bola amputasi Indonesia berhasil lolos ke Piala Dunia Sepakbola
Amputasi atau World Amputee Football Federation (WAFF) World Cup 2022 di Turki pada Oktober 2022.

Diketahui bahwa sebelumnya timnas sepak bola amputasi Indonesia berhasil mengalahkan Bangladesh 8-0 dan menaklukkan Malaysia 3-0, meskipun kemudian takluk 2-0 dari Jepang di pertandingan terakhir.

Habib Muhammad Husein MutaharPerumus Paskibraka Formasi 17-8-45
18/08/2021

Habib Muhammad Husein Mutahar
Perumus Paskibraka Formasi 17-8-45

Husein Mutahar selain penyelamat sang saka merah putih, juga perumus Paskibraka. Ia yang mengagas pasukan formasi 17, 8, dan 45 pengibar bendera.

Selamat Hari Pahlawan.Salah satu Pahlawan Nasional, Ulama dan tokoh pejuang dari  Kabupaten Batang Berjuang melawan penj...
10/11/2020

Selamat Hari Pahlawan.

Salah satu Pahlawan Nasional, Ulama dan tokoh pejuang dari Kabupaten Batang


Berjuang melawan penjajahan Belanda melalui karya ilmiah dan pemikiran yg tertuang dalam kitab-kitabnya.

Semoga Allah SWT, Tuhan yg maha kuasa memberikan tempat terbaik untuk para Pahlawan kita.

Tenggelamnya KMP Tampomas IIKMP Tampomas II yang semula bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956 oleh Mitsubishi H...
22/08/2020

Tenggelamnya KMP Tampomas II

KMP Tampomas II yang semula bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956 oleh Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, tergolong jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Dimodifikasi ulang (Retrofit) tahun 1971 di Taiwan. Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan maksimum 19.5 knot. Memiliki lebar 22 meter dan Panjang 125,6 meter.

Kapal ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$ 8.3 Juta. Kemudian PT. PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT. PANN. Berbagai pihak telah heran akan mahalnya harga kapal ini, mengingat pernah ditawarkan ke Perusahaan Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. Berbagai pihak, termasuk Jepang sendiri telah menyatakan kapal ini afkir karena telah berumur 25 tahun. Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung dipacu untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujungpandang yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kapal ini hanya diberi waktu istirahat selama 4 jam dan harus siap untuk melayani pelayaran selanjutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekedarnya saja, padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat.

KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogyanya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba. Seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa salah satu mesin kapal telah mengalami kerusakan sebelum bertolak.

Kapal membawa Puluhan Kendaraan Bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI, Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan Data Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas kapal. Dalam Pelayaran tersebut, sebanyak 1055 Penumpang Terdaftar dan 82 Awak Kapal berada di atas kapal. Estimasi Total Penumpang adalah 1442 termasuk penumpang gelap.

24 Januari malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah awan senja yang memukau dan pemandangan Laut Jawa yang datar. Namun diakui ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, ombak setinggi 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi. Di dalam kapal sendiri direncanakan sebuah Acara Show di Bar Kapal dengan Penyanyi Ida Farida dari Band Kapal. Namun berbagai tanda keanehan terjadi, diantaranya dibawakannya Lagu Salam Perpisahan oleh seorang yang bernama Ferry, yang kemudian tidak diketahui keberadaannya.

25 Januari pagi, keadaan berlangsung seperti biasa. Namun, 25 Januari Malam, sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan puntung rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api. Para kru melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan tabung pemadam portabel, namun gagal. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan bahan bakar yang ternyata masih terdapat disetiap kendaraan, menyebabkan api merambat dan membakar semua dek dengan cepat. 30 menit setelah api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 pintu menuju dek atas. Begitu berada di dek atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi sekoci. Beberapa ABK malah dengan egois menurunkan sekoci bagi dirinya sendiri. Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu dengan panik pertolongan selanjutnya.
KMP Tampomas II yang tenggelam.

Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe dengan nakhoda kapal Kapten Agus K. Sumirat, Sumirat merupakan teman satu angkatan Abdul Rivai di Akademi Ilmu Pelayaran lulusan tahun 1959. KM Sangihe sendiri dalam perjalanan dari Pare-pare menuju Surabaya untuk melakukan perbaikan kerusakan mesinnya. Mualim I KM Sangihe, J. Bilalu yang pertama melihat kep**an asap dari arah barat dan mengira kep**an asap berasal dari sumur minyak lepas pantai Pertamina. Markonis KM Sangihe Abubakar mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15. KM Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan dan tiba pada pukul 21.00 disusul empat jam kemudian kapal tangker Istana VI dan masih berdatangan kapal lain yaitu kapal Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT Porodisa Lines.

Tanggal 26 Januari pagi, Laut Jawa dilanda hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin di mana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya pagi hari tanggal 27 Januari, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuatnya penuh oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut p**a terisi air laut, yang mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.

Kapten Abdul Rivai termasuk yang terakhir meninggalkan kapal, sebelumnya ia sempat mengirimkan pesan kepada nakhoda KM Sangihe "Tolong kirimi saya air dan makanan, karena saya akan tetap berada di kapal sampai detik terakhir". Pesan tersebut disampaikan melalui awak kapal Tampomas II yang berhasil menyeberang ke KM Sangihe yang bernama Bakaila. Tetapi permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Agus K. Sumirat nakhoda KM Sangihe.

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_KMP_Tampomas_II)

09/06/2020

.
Lagu karya Presiden Soekarno dinyanyikan oleh Bing Slamet, Rita Zahara, Titiek Puspa dan Nien Lesmana diiringi Orkes Irama pimpinan Jack Lesmana tahun 1965 . Diedarkan The Indonesian Music Company Irama Ltd
Persembahan seniman Indonesia dlm memperingati 10thn KAA

Sumber: hariansejarahdotid

16/04/2020

.
Perayaan Milad Organisasi Muhammadiyah Di Masjid Gede Dan Alun-alun Utara Yogyakarta Tahun 1925.

Diabadikan oleh salah satu wartawan Belanda.

.Natsir.Ulama, Negarawan, Bapak NKRIPenggagas mosi integral yang memperkokoh lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia...
03/04/2020

.

Natsir.
Ulama, Negarawan, Bapak NKRI

Penggagas mosi integral yang memperkokoh lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seorang Ulama Karismatik Ketua Fraksi Masyumi yg menyuarakan mosi integral dlm Parlemen RIS yg menjadi tonggak awal terbentuknya NKRI.

Semoga generasi muda kita bisa meneladani perjuangan dan semangat Buya Natsir dalam menjaga keutuhan NKRI yg sama-sama kita cintai.

13 Jam Bersama MautTepat 70 tahun lalu, sekira 100 tawanan Republik digiring ke stasiun Bondowoso. Mereka lantas dinaika...
01/04/2020

13 Jam Bersama Maut

Tepat 70 tahun lalu, sekira 100 tawanan Republik digiring ke stasiun Bondowoso. Mereka lantas dinaikan ke tiga gerbong. Masing-masing bernomor GR.4416, GR.5769 dan GR.10152.Rencananya para tawanan tersebut akan diberangkatkan ke Surabaya pada hari itu juga.

Namun begitu peluit pemberangkatan akan ditiup, masalah muncul ketika massa yang sebagian besar terdiri dari keluarga para tawanan memenuhi area stasiun. Akhirnya secara diam-diam pihak militer Belanda memutuskan pemberangkatan akan dilakukan pada besok pagi.

Minggu, 23 November 1947. Pagi baru saja datang ketika para tawanan kembali diangkut ke stasiun Bondowoso. Begitu tiba di stasiun mereka langsung dimasukan ke dalam tiga gerbong kereta barang. Tepat jam 7.00. usai ditutup rapat, kereta api pun berangkat. Slamet Karsono masih ingat, suasana menjadi gelap dan pengap, terlebih di gerbong tersebut tak ada lubang hawa sama sekali. Selama kereta api berjalan suasana terasa sangat menyiksa. Hawa panas mulai mendera.

“Semakin siang, udara semakin panas dan menjadikan sebagian dari kami panik: menggedor-gedor badan kereta supaya gerbong dibuka…” ujar Slamet Karsono dalam buku 'Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan' Jilid IV. Alih-alih dituruti, para serdadu pengawal dari kesatuan Marinir Kerajaan (KM) malah tak menghiraukannya.

Menjelang tengah hari, kereta api akan tiba di stasiun Jember. Di tengah suasana sangat panas, gelap dan pengap, Karsono masih sempat menyaksikan sosok-sosok tubuh bertelanjang bulat saling berebut lubang udara sebesar ujung paku di dinding gerbong. Seorang gerilyawan tua asal Maesan bernama Asbun tak berdaya di tengah-tengah himpitan orang-orang kalap itu.

“ Ya Allah…Ya Allah… Ya Allah…Allahu Akbar, berilah aku kekuatan. Ya Allahhhhh, panasss…Airrrr…” rintihnya.

Karsono tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menolong Asbun, ia sendiri tengah tersiksa oleh situasi gerbong yang seolah neraka di dunia. Tak kuat menahan rasa haus, ia meminta rekannya bernama Singgih untuk buang air kecil. Dengan air seni dari tubuh Singgih itulah, Karsono terpaksa memenuhi rasa dahaganya. “ Rasanya pahit…” kenang lelaki kelahiran Purbalingga pada 1915 itu.

Penderitaan para tawanan agak berkurang saat kereta api mulai berangkat lagi dari stasiun Jember (setelah dua jam berhenti), hujan turun rintik-rintik. Otomatis suhu panas di dalam gerbong jadi berangsur turun. Sementara itu, para tawanan yang masih mampu bergerak merayap bak binatang melata: coba menjilati titik-titik air hujan yang melekat di dinding gerbong.

Di gerbong lain, Soetedjo merasakan kondisi yang sama seperti dialami oleh Karsono. Kekurangan cairan dan energi yang banyak keluar karena kerja keras membuat lubang udara dengan sepasang sendok dan garpu, menjadikan mereka kehausan. Pernah dicoba menggedor-gedor bagian gerbong yang ditempati para pengawal untuk memohon air minum, namun jawaban menyakitkan justru mereka dapat.

“Godverdomme! Hei Anjing, di sini tidak ada air, yang ada peluru. Di Surabaya, nanti kamu bisa minum sepuas-puasnya!”

Menurut Djoko Sri Moeljono (79), Soetedjo berserta kawan-kawannya bisa bertahan berkat satu buah mangga yang kebetulan dibawa salah seorang tawanan. “Biji plok-nya kemudian dijilati sepanjang perjalanan sekadar untuk membasahi tenggorokan seadanya,” ungkap putra dari Soetedjo tersebut.

Suasana neraka mulai berakhir menjelang pukul 20.00, saat kereta api tiba di tujuan: stasiun Wonokromo, Surabaya. Setelah peluit tanda berhenti berbunyi, para serdadu pengawal berloncatan lalu membuka pintu gerbong-gerbong dan menghardik para tawanan untuk cepat keluar satu persatu.

“Ayo, cepat! Keluar!” teriak seorang serdadu seraya mengokang senjatanya. Namun tak ada suara sama sekali. Suasana hening.

Awalnya para pengawal marah dan terus berteriak-teriak, namun setelah semua pintu gerbong dibuka lebar, terkejutlah mereka. Di hadapan mata mereka, nampak tumpukan dan serakan manusia. Ada yang dalam posisi berpelukan, terlentang dan tertelungkup. Di sisi lain, sejumlah tawanan mati dalam kondisi terbelalak matanya, sementara tawanan lain tewas dengan seluruh tubuh penuh goresan kuku.

Usai semua diturunkan, diketahui bahwa 46 dari 100 tawanan itu telah tewas. Dalam proses evakuasi, para gerilyawan yang gugur itu tidak mudah diangkut dan dipindahkan mengingat kulit mereka sudah terlanjur menyatu dengan badan gerbong dan akan terkelupas bila dipaksakan.

Sejatinya, seorang anggota militer Belanda bernama Giovanni Hakkenberg sudah memberitahu kondisi tak manusiawi gerbong-gerbong itu kepada komandan lokal dari Dinas Keamanan Brigade Marinir (VDMB). Bahkan pemberitahuan itu diulangi Giovanni ketika melihat indikasi laporannya tidak diindahkan. “ Jangan lakukan itu,” ungkapnya seperti dikutip oleh Gert Oostindie dalam bukunya 'Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950'.

Namun komandan itu juga tak bisa berbuat apa-apa, karena gerbong-gerbong itu sudah terlanjur ada di stasiun Bondowoso. Sedangkan pengiriman tawanan ke Surabaya harus secepatnya dilaksanakan.

Belakangan, Joop Eikenboom (salah satu serdadu yang terlibat dalam pengawalan kereta api maut itu) menyatakan rasa penyesalannya. Seperti rekan-rekan lainnya, semula ia mengira para tawanan tersebut adalah para penjahat, bukan para buruh tani biasa atau tentara seperti dirinya. “ Sementara ini, saya berpendapat bahwa pemerintah pada waktu itu telah melakukan tindakan yang benar-benar salah…” tulis Joop seperti dikutip oleh Gert Oostindie.

Sumber: historia.id

PEMIMPIN IDEAL ALA SUNDAMasyarakat Sunda Kuno punya versinya sendiri soal pemimpin ideal.Tersebutlah pada zaman dulu kal...
06/08/2019

PEMIMPIN IDEAL ALA SUNDA

Masyarakat Sunda Kuno punya versinya sendiri soal pemimpin ideal.

Tersebutlah pada zaman dulu kala hidup seorang raja bernama Prebu Niskala Wastu Kancana. Dia telah memerintah selama 104 tahun. Pemerintahannya dinilai sangat baik. Saking baiknya dia disamakan dengan Sang Hyang Indra, raja para dewa.

Karena kebajikan sang prabu, para rama yang memimpin desa-desa dapat dengan tentram mengurus bahan pangan. Para resi dapat p**a tentram melaksanakan tugasnya sebagai pendeta. Kerajaannya aman sejahtera

Kisah itu muncul dalam Carita Parahyangan.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Siliwangi, Sejarah, dan Budaya Sunda Kuna, tokoh raja atau prebu, rama, dan resi sering muncul di berbagai kitab Sunda Kuno. Mereka selalu disebutkan sebagai tiga orang pemimpin yang menjaga rakyat dari kekeliruan.

Tak cuma seorang raja, berdasarkan Fragmen Carita Parahyangan, masyarakat Sunda Kuno mempunyai tiga pemimpin yang menjadi panutan, yaitu resi (kaum agamawan), rama (pemimpin daerah), dan raja atau prebu.

Tugas utama raja adalah melaksanakan pemerintahan. Resi menyejahterakan alam. Sementara rama sebagai pembimbing kehidupan.

“Wibawa dimiliki oleh sang prebu, ucapan dimiliki oleh rama, dan tekad miliknya sang resi,” tulis bagian lain dalam kitab itu.

Sebagaimana kitab itu, Agus menjelaskan, raja harus memelihara kewibawaannya. Jika tidak, kekuasaannya akan pudar. Dia pun akan jatuh dari takhtanya.

“Senantiasa raja harus menjaga martabatnya dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai raja,” jelasnya.

Sementara petuah dan contoh kehidupan yang baik harus selalu disampaikan oleh rama. Pasalnya dia yang hidup paling dekat dengan masyarakat. Dia juga yang harus membimbing warganya.

Resi punya tugas memberi contoh tentang tekad dan niat yang baik dalam kehidupan. Seperti tekad mereka dalam menjalankan ibadah agama dan tekad untuk dapat bersatu dengan Sang Hyang.

“Dalam kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian, tiga pemimpin itu bagai tiga tantu di bumi. Ia disebut peneguh dunia,” jelas Agus.
Di luar itu, hingga kini tak ada kitab khusus dari era Sunda Kuno yang menyimpan dan menguraikan bagaimana perilaku pemimpin yang baik. Ajaran atau perilaku yang harus ditampilkan raja banyak disebut dalam berbagai kitab yang berbeda.

Soal kepemimpinan, dalam kebudayaan Jawa Kuno dan Bali, ada yang dikenal dengan ajaran astabrata. Ajaran ini disampaikan oleh Raja Rama kepada Wibisana, adik Rahwana, dalam Kitab Ramayana. Isinya, delapan perilaku atau sikap yang sebaiknya dimiliki seorang raja. Sifat-sifat dewa menjadi contohnya.

“Dikenal luas dalam kebudayaan Jawa Kuno dan Bali, namun tak dikenal dalam lingkup kebudayaan Sunda Kuno,” ujar Agus.

Beberapa kitab yang menyebutkan soal kepemimpinan seorang raja misalnya, Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian. Kitab ini menurut Agus berasal dari Priangan Timur. Ia selesai digubah pada 1518. Isinya adalah soal pendidikan, pengetahuan umum, kebudayaan, dan kesehatan.

Di dalamnya disebutkan p**a kalau raja yang baik punya lima tugas utama. Raja bertugas membuat kesejahteraan di seluruh wilayah kerajaan. Ia harus menjaga kemuliaan dan kewibawaan. Raja pun mesti menjadikan dirinya sebagai yang utama. Ia selaiknya memiliki sifat melindungi dan menyayangi rakyatnya. Terakhir, ia punya tugas membangun keagungan.

Lalu dalam Carita Parahyangan yang disusun pada pertengahan abad ke-16, terdapat enam butir tugas raja yang diambil dari sumber aslinya, kitab India Kuno Bhradaranyaka-Upanishad.

Isinya, raja harus menjaga martabat kebangsawanan. Ia harus memiliki jiwa kehidupan luhur. Ia juga harus melindungi kehidupan, melindungi yang lemah dan terluka. Ia harus bersifat bagai mentari yang memberikan anugerah. Namun ia juga mesti bagai matahari yang panasnya menghancurkan. Terakhir, ia harus mampu melindungi kaum pertapa.

“Penyusun Carita Parahyangan mengagungkan Sanjaya sebagai tokoh penting peletak dasar pemerintahan Kerajaan Galuh hingga Sunda,” jelas Agus.

Sesuai kebiasaan Sunda Kuno yang mengenal tiga bentuk pemimpin, maka ketiganya sama-sama harus ditaati. Mereka punya tugas masing-masing. Jika satu di antaranya tak bekerja dengan baik kerajaan akan kacau balau.

Bahkan, Kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian menyatakan ketiga tokoh itu bagai Tri Murti. Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, dan Iswara ibarat resi.

Source:

Masyarakat Sunda Kuno punya versinya sendiri soal pemimpin ideal.

THAMRIN DIJEGAL DI SUKABUMIOleh: Randy WirayudhaDari Batavia ia melirik Sukabumi. Diusung fraksi nasional dengan harapan...
12/04/2019

THAMRIN DIJEGAL DI SUKABUMI

Oleh: Randy Wirayudha

Dari Batavia ia melirik Sukabumi. Diusung fraksi nasional dengan harapan menjadi walikota bumiputera pertama.

SISA-sisa karangan bunga itu masih bertebaran di halaman depan Balaikota Sukabumi. Siang itu, Minggu 7 April 2019, gedung bergaya art deco bikinan arsitek Belanda E. Knaud itu tampak sepi. Aktivitas perayaan 105 tahun Kota Sukabumi (1 April) telah usai

Sejak diresmikan 22 Februari 1934, bangunan yang mulai dibangun pada 12 September 1933 itu jadi tempat berkantornya burgemeester (walikota) Sukabumi. Sejak lepas dari naungan Regentschappen Cianjur, Sukabumi berstatus gemeente yang otonom atas wilayahnya.

Hingga zaman Jepang, tak sekali pun kedudukan tertinggi di Gemeente (kotapraja) Sukabumi itu bisa dipegang kalangan bumiputera. Pernah ada “perlawanan” politik untuk memegang kendali kota yang kaya akan teh ini, tetapi hasilnya tetap nihil walau yang bertarung tokoh nasionalis Mohammad Hoesni Thamrin.

Kisahnya bermula dari dugaan korupsi George François Rambonnet, pejabat walikota merangkap sekretaris kota Sukabumi sejak 1926. Maka ketika balaikota itu rampung pada Februari 1934, Rambonnet –lebih banyak berkantor di rumah sewaan milik seorang Tionghoa bernama Lie Ek Tong– tak bisa menikmatinya lebih lama. Di tahun itu juga dia di-reshuffle oleh pemerintah Hindia Belanda “Dia dipindah ke Buitenzorg (kini Bogor) setelah muncul rumor korupsi itu,” ujar Irman Sufi Firmansyah, penggiat sejarah dan pengasuh komunitas Dapuran Kipahare kepada, Historia.

Bukan hanya dugaan korupsi yang menyebabkan Rambonnet dipindah, kata Sufi, tapi juga lantaran maladministrasi di berbagai sektor pekerjaan kota. Dampaknya, jabatan walikota Sukabumi pun lowong dan Rambonnet mulai diinvestigasi.

MH Thamrin Bakal Calon Walikota Sukabumi

Kekosongan jabatan walikota menjadi bahasan Indo Europeesch Verbond (IEV) dan National Socialistische Beweging (NSB), serta golongan bumiputera dan nasionalis. Masing-masing memajukan calonnya. Dari Fraksi Nasionalis di Gemeenteraad alias Dewan Kota (kini DPRD Kota), nama MH Thamrin yang dimajukan.

Thamrin dianggap tokoh terbesar golongan nasionalis setelah Sukarno yang saat itu masih dalam tahanan di Bandung. Thamrin dianggap laik lantaran sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat (kini DPR). Selain itu, mengutip Cahaya di Batavia: M.H. Thamrin dan Gerakan Nasionalis Kooperasi di Indonesia 1927-1941 karya Toto Widyarso, ia sejak Januari 1930 juga sudah menjabat Loco Burgemeester II Batavia (wakil walikota I Jakarta) dan dalam waktu enam bulan naik lagi jadi Loco Burgemeester I.

Itu salah satu keunggulan Thamrin dibanding IEV di ibukota. Sebelumnya, jabatan itu hampir dikuasai golongan Indo-Eropa. Mulanya jabatan wakil walikota itu akan diberikan ke wethouder (anggota dewan kota) golongan Eropa yang kiprahnya “baru kemarin sore”. Thamrin dan kawan-kawannya di gementeraad pun protes sehingga diadakan pemilihan ulang yang menaikkan Thamrin menduduki jabatannya.

Ketika di Sukabumi hendak terjadi pergantian walikota, Thamrin pun turut melirik. Sukabumi bukan wilayah yang asing bagi pemuda berdarah Betawi-Eropa itu. Kakeknya, George Anton Ort, punya bisnis hotel di Sukabumi sejak 1876. Istri ketiga Thamrin, Nyi Otoh Arwati, merupakan perempuan asli Sukabumi. Thamrin juga punya sebuah vila yang acap jadi “venue” berkumpulnya para pemuda nasionalis.

“Thamrin juga punya banyak kepentingan di Sukabumi. Ia juga sering mengangkat isu-isu tentang Sukabumi di Volksraad. Salah satunya tentang kasus alat ukur kalibrasi yang banyak merugikan rakyat oleh dinas kota Sukabumi. Lalu tentang kepemilikan lahan perkebunan dan transfer pengetahuan dari para pengusaha Eropa ke bumiputera. Satu lagi, bahwa kuat isunya Thamrin juga yang membuka boroknya Rambonnet,” sambung Sufi.

Media-media di Hindia Belanda ramai membicarakan prospek MH Thamrin menjadi walikota pertama dari kaum bumiputera. Sebagaimana diketahui, di tahun itu juga (1931) IEV “sukses” menjegal Ratu Langie menjadi walikota Ambon.

“Mengingat Tuan G.F. Rambonnet tak lagi bisa menjabat walikota setelah adanya investigasi resmi, maka jabatan itu akan segera digantikan. Ada lusinan calon serius untuk menggantikan. Fraksi bumiputera di dewan kota menginginkan calon dari bumiputera p**a dan yang dipilih kaum ini adalah…Thamrin dari Batavia!” tulis koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 3 September 1931.

Namun, lanjut koran tersebut, Thamrin diisukan takkan mau menerima lantaran gaji walikota merangkap sekretaris kota tak sebesar gajinya sebagai anggota Volksraad, Gementeraad Batavia sekaligus Loco Burgemeester I Batavia. Total sebelumnya Thamrin punya gaji 1.600 gulden per bulan. Tapi jika menjadi walikota Sukabumi gajinya hanya 1.100 gulden per bulan.

“Isu gaji itu dihembuskan orang-orang IEV melalui koran-koran Belanda. Padahal Thamrin tak menyoalkan soal gaji. Namanya diusung oleh anggota-anggota gementeraad dari bumiputera, di antaranya Raden Djajakoesoemah, Raden Sadeli, dan Raden Demang Kartabrata,” ujar Sufi.

Namun, upaya mengangkat Thamrin jadi walikota bumiputera Sukabumi pertama pun kandas. “Karena itu tadi, sama IEV dibesar-besarkan di koran-koran Belanda. Padahal ini isu (politik) lokal, tapi digoreng menjadi isu nasional. Thamrin dianggap berbahaya jika menjadi walikota. IEV takut akan terjadi perubahan radikal yang memengaruhi orang-orang Eropa. Lebih lagi, jika Thamrin menang, itu akan jadi pemicu di daerah-daerah lain,” lanjutnya.

Dengan segenap intrik politiknya, IEV berhasil membuat nama Thamrin tak masuk ke deretan calon resmi yang diakui pemerintah. Rambonnet akhirnya tetap diganti pejabat golongan Eropa yang sebelumnya sudah menjalani fit and proper test, Albert Leonard Anihenie van Unen.

Balaikota Sukabumi yang masih ramai dengan sisa-sisa karangan bunga pasca-HUT ke-105 pada 1 April (Foto: Randy Wirayudha/Historia)
Ia sebelumnya menjabat walikota Salatiga dan per 20 Maret 1934 resmi menerima jabatan walikota Sukabumi. Sementara Rambonnet yang baru sebulan menikmati gedung balaikota anyarnya, digeser ke Bogor sembari investigasinya terus berjalan.

“Administrasi di Gemeente Sukabumi dalam keadaan kacau. Tidak ada arsip yang eksis sama sekali. Sejumlah dokumen hilang. Beberapa urusan dinas kota terbengkalai. Semuanya terlihat tak terurus sepeninggal Tuan G.F. Rambonnet, hingga membuat walikota baru Van Unen harus memulai lagi merapikan administrasi dari nol,” sebut suratkabar De Indische Courant, 10 Januari 1935.

Sumber:

Dari Batavia ia melirik Sukabumi. Diusung fraksi nasional dengan harapan menjadi walikota bumiputera pertama.

ORANG INDONESIA DI KAMP KONSENTRASI PERTAMA N**IPada 22 Maret 1933 Kamp Konsentrasi Dachau dibuka. Inilah kamp konsentra...
03/04/2019

ORANG INDONESIA DI KAMP KONSENTRASI PERTAMA N**I

Pada 22 Maret 1933 Kamp Konsentrasi Dachau dibuka. Inilah kamp konsentrasi pertama yang dibangun N**i-Jerman. Kamp ini juga beroperasi terlama sampai 29 April 1945. Jumlah tahanan diperkirakan mencapai 188.000 orang. Korban meninggal yang tercatat sebanyak 32.000, namun ribuan lainnya tak tercatat. Sekitar 10.000 dari 30.000 tahanan dalam keadaan sakit pada saat pembebasan. Salah satu korban meninggal berasal dari Indonesia: R.M. Sidartawan.

Sidartawan, mahasiswa hukum di Universitas Leiden sejak 1929. Dia menjabat sekretaris Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Dia juga menjadi anggota Bond van Sociaal-Democratische Studieclubs (Perserikatan Klub-klub Studi Sosial Demokrat).

Menurut sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah, banyak orang Indonesia terutama di Leiden menjadi anggota perserikatan itu. Perserikatan itu dekat sekali hubungannya dengan SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij atau Partai Buruh Sosial-Demokrat), tapi tidak ada hubungan organisatoris.

“Bahkan Sidartawan pernah menjadi redaktur majalah perserikatan klub studi itu sekitar tahun 1935,” tulis Poeze.

Ketika N**i-Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940, Sidartawan dan anggota Perhimpunan Indonesia ikut melakukan verzet atau perlawanan. Mereka pun menjadi sasaran N**i-Jerman.

Pada pagi 25 Juni 1941, polisi politik N**i-Jerman, Sicherhetisdienst, menggeledah tempat-tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Leiden. Mereka mencari empat pemimpin Perhimpunan Indonesia. Dua di antaranya tertangkap, yaitu Sidartawan dan Parlindoengan Loebis, sedangkan Setiadjit dan Ilderem dapat meloloskan diri.

Sidartawan dan Loebis dimasukan ke kamp konsentrasi secara berpindah-pindah. Loebis dimasukkan ke empat kamp konsentrasi: Schoorl dan Amersfoort di Belanda, kemudian Buchenwald dan Sachenhausen di Jerman.

Baca juga: Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen

“Di kamp Buchenwald aku boleh dikatakan beruntung juga. Pekerjaanku tidak terlalu berat. Selama kira-kira enam minggu aku menjadi Stubendienst, kemudian selama kurang lebih dua bulan menjadi komando Schreiber (juru tulis komando),” kata Loebis dalam otobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi N**i.

Loebis selamat dan kembali ke Indonesia. Dia meninggal dunia pada 1994. Sedangkan Sidartawan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia pertama korban N**i-Jerman.

Loebis menerima kabar dari seorang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp bahwa Sidartawan akan dipindahkan lagi ke kamp Dachau untuk Erholung yang artinya beristirahat supaya kekuatannya pulih kembali.

“Akan tetapi Kamp Dachau sudah tersohor sebagai Vernichtungslager, artinya kamp di mana para tawanan dibunuh kalau dia kelihatan sudah tidak ada tenaga lagi untuk bekerja,” kata Loebis.

Nama Dachau kemudian terkenal dan ditakuti sehingga muncul pameo di Jerman bila seseorang ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi orang selalu mengatakan “dia di-Dachau-kan.”

“Sampai akhir perang,” kata Loebis, “aku sama sekali tidak mengetahui di mana dan kapan Sidartawan meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang mendapat kabar.”

Dalam inmemoriam yang terbit di majalah Indonesia, 21 Juli 1945, disebutkan Sidartawan berturut-turut menempati kamp konsentrasi di Scheveningen, Schoorl, Amersfoort, Hamburg, Neuengamme, dan Dachau.

Inmemoriam itu menulis “para penyintas dari kamp konsentrasi yang mengerikan sekarang mengalir ke negara masing-masing itu, membawa sukacita bagi keluarga mereka. Tetapi berapa banyak keluarga yang terbenam dalam duka yang dalam, karena salah satu dari anggota keluarganya telah menyerah pada kehidupan yang sulit di kamp-kamp itu. Sidartawan termasuk yang tidak akan kembali. Sidartawan adalah salah satu orang Indonesia yang menjadi korban lembaga-lembaga N**i yang buruk itu.”

Sidartawan meninggal dunia akibat sakit dan siksaan di Kamp Konsentrasi Dachau pada November 1942.

Sumber:

Dia mati di kamp konsentrasi N**i yang paling ditakuti.

Address

Jalan RA KARTINI NO 1 BATANG JATENG
Batang

Telephone

+62285391373

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lembaga Kearsipan Daerah Kab Batang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share