Rumah Baca Tjora Aksara

Rumah Baca Tjora Aksara Taman Baca di Kecamatan Baraka, berada di Sekretariat PAKIS Jl. Pendidikan Baraka. Ayo membaca...!!!

Terima kasih untuk segala ilmu dan pengabdiannya.Kami akan terus bergerak. Selamat Jalan, B**g Nirwan Ahmad Ars**a .
08/08/2023

Terima kasih untuk segala ilmu dan pengabdiannya.
Kami akan terus bergerak. Selamat Jalan, B**g Nirwan Ahmad Ars**a .

Pada pembukaan Brisbane Writers Festival tahun 2016, Lionel Shriver, penulis Amerika pemenang Orange Prize 2005, didaula...
15/06/2022

Pada pembukaan Brisbane Writers Festival tahun 2016, Lionel Shriver, penulis Amerika pemenang Orange Prize 2005, didaulat untuk menyampaikan pidato kebudayaan dengan tema “community & belonging”. Alih-alih membicarakan topik itu, ia naik ke panggung mengenakan topi sombrero dan meminta maaf karena harus membicarakan hal yang menurutnya lebih mendesak untuk didiskusikan: fiksi dan politik identitas.

Ia mengawalinya dengan mengulang cerita tentang sekelompok mahasiswa kulit putih Amerika yang di awal tahun itu menjadi viral karena dianggap melecehkan budaya Meksiko. Mereka mengadakan pesta dengan tema tequila, menyediakan topi sombrero untuk teman-temannya yang datang. Keesokan harinya foto mereka beredar—foto anak kulit putih berpesta ala Meksiko dengan topi sombrero, dan menimbulkan protes dari mahasiswa Meksiko. Anak-anak kulit putih ini dikeluarkan dari asrama, dan pihak kampus menyampaikan maaf karena ulah anak-anak yang dianggap “melakukan tindakan stereotip”.

Oleh: Felix K. Nesi

Taman bacaan tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Sama sekali tidak perlu memikirkan apa yang orang lain kat...
04/01/2022

Taman bacaan tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Sama sekali tidak perlu memikirkan apa yang orang lain katakan tentang taman bacaan. Toh, pikiran dan omongan mereka tidak bermakna apapun. Taman bacaan pun tidak pernah meminta bantuan kepada kaum pembenci taman bacaan. Biarkanlah, asal taman bacaan tetap berkiprah di jalan kebaikan.

Suatu kali ada yang tanya, “Kok, taman bacaan ada yang benci ya?”

Ikuti English NatureBelajar bahasa Inggris dialam (outdoor)Terbuka untuk umumWaktu : Sabtu - Minggu, 25-26 Dec 2021Lokas...
22/12/2021

Ikuti English Nature
Belajar bahasa Inggris dialam (outdoor)
Terbuka untuk umum
Waktu : Sabtu - Minggu, 25-26 Dec 2021
Lokasi : Marege Coffee, Kecamatan Malua
Syarat : Self Service (Tenda, konsumsi dan segala jenis kebutuhan ditanggung oleh peserta)
Call : 0822 9391 8923 (Mr. Kibar)

Untuk siswa (SMP/MTs - SMA/MA/SMK) dijamin kuasai 16 tenses, gratis!

Sustainable Art
08/11/2021

Sustainable Art

Sampah plastik menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan. Edy Suranta Ginting seniman asal medan memiliki kepedulian terhadap lingkungan, menyulap sampah-sampah plastik menjadi lukisan bernilai jutaan rupiah.

Siapa bilang perpustakaan membosankan? Moskow punya banyak perpustakaan menarik yang dapat menjadi salah satu objek kunj...
23/10/2021

Siapa bilang perpustakaan membosankan? Moskow punya banyak perpustakaan menarik yang dapat menjadi salah satu objek kunjungan bagi wisatawan. Perpustakaan Moskow memiliki desain yang beragam, dari bangunan gedung bergaya art deco megah yang menawan hingga gedung modern berteknologi canggih.

George McLaurin, pria kulit hitam pertama yang diterima di Universitas Oklahoma pada tahun 1948, dipaksa duduk di sudut ...
08/09/2021

George McLaurin, pria kulit hitam pertama yang diterima di Universitas Oklahoma pada tahun 1948, dipaksa duduk di sudut jauh dari orang kulit putih.

Namun namanya tetap berada dalam daftar kehormatan sebagai salah satu dari tiga mahasiswa terbaik di universitas tersebut.

Ini dia kata-katanya:
“Beberapa rekan melihat saya seperti saya adalah binatang, tidak ada yang mau berbicara dengan saya. Guru di kelas tak mau menjawab pertanyaan saya. Tetapi saya terus belajar dan membaca begitu banyak sehingga setelah itu mereka mulai mencari saya untuk menjelaskan dan mengklarifikasi pertanyaan saya".

Jadi, satu-satunya senjata yang mampu mengubah dunia... adalah PENDIDIKAN. Jangan pernah lelah belajar dan menuntut ilmu.

Pada saat peristiwa pembantaian 1965 meletus di Indonesia, Fransisca tengah berada di Chile sebagai anggota delegasi Ind...
07/09/2021

Pada saat peristiwa pembantaian 1965 meletus di Indonesia, Fransisca tengah berada di Chile sebagai anggota delegasi Indonesia dalam Kongres Wartawan Internasional. Oleh sebab kedekatannya dengan presiden Soekarno dan Pemuda Rakyat serta stigma komunis yang melekat membuatnya tak bisa pulang ke Indonesia. Peristiwa kelam itu sontak menghapus nama Fransica Fanggidae dari buku sejarah pada masa Orde Baru. Ia terpaksa menyembunyikan identitasnya dan tinggal di Tiongkok selama 20 tahun, tidak sekali pun berkirim surat dengan keluarganya di Indonesia agar keluarganya tidak ikut diburu oleh aparat pada masa itu. Setelah 38 tahun menjadi eksil di Tiongkok dan Belanda, Fransisca kembali menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 2003.

Fransisca Fanggidae, Pahlawan Perempuan yang Dihilangkan Dalam Sejarah

"Indonesia For Sale" Buku ini membuka mata dan pikiran kita bahwa nasionalisme dan kesejahteraan masih jadi persoalan se...
06/12/2020

"Indonesia For Sale"
Buku ini membuka mata dan pikiran kita bahwa nasionalisme dan kesejahteraan masih jadi persoalan serius bagi negeri yang merdeka sejak enam dasawarsa silam dan punya kekayaan alam melimpah. Dengan ketajaman analisis “jalanan” disertai kedalaman data, penulis berupaya menyadarkan kita betapa banyak warisan kekayaan alam dan aset-aset yang menjadi kebanggaan bangsa telah dijual dengan dalih stabilitas ekonomi negara. Melalui seranai obrolan imajiner yang cerdas, kocak dan sedikit jahil, buku ini mencoba menyisir berbagai persoalan ekonomi yang paling riil dirasakan masyarakat kecil. Bermodal pengalaman dan reputasi sebagai wartawan andal, penulis mampu mendedah secara kritis beberapa mazhab ekonomi pemerintah melalui kalimat yang “enak dibaca dan perlu”—meminjam istilah Tempo. Alhasil, Indonesia for Sale merupakan potret dekil dari wajah perekonomian dan kebangsaan Indonesia dari sudut yang paling tajam dan kasat mata. Selamat membaca!⁣


Tempat jual-beli buku progresif dan revolusioner yang jarang tersedia di toko buku mainstream. Berpusat di Yogyakarta (Jogja) menjual buku agama, agrarian, filsafat, gerakan sosial, marxis, Pendidikan kritis, perempuan, sains & teknologi, sastra (novel & puisi), seni budaya, dan sosial politik. Tagl...

IPI Kabupaten Enrekang mengadakan Webinar Kepustakawanan dengan tema “Peran Pustakawan dalam Meningkatkan Indeks Literas...
06/12/2020

IPI Kabupaten Enrekang mengadakan Webinar Kepustakawanan dengan tema “Peran Pustakawan dalam Meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat untuk Kesejahteraan” .

Laporan penyelenggara
Irsan (Ketua IPI Kab Enrekang)

Opening Speech
Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd
Bupati Enrekang

Moderator
Raslina, ST (Wakil Ketua IPI Enrekang)

Narasumber:
1. Drs. Muhammad Syarif Bando, MM
Kepala Perpustakaan Nasional RI
“Peran Pustakawan dalam Meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat untuk Kesejahteraan”

2. Dr. Muh. Quraisy Mathar, M.Hum
Ketua IPI Provinsi Sulawesi Selatan
“Inklusifitas dan Kreativitas Pustakawan dalam Memfasilitasi Literasi yang Kontekstual”

3. Mitra Fahruddin, MB
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN Dapil Sulawesi Selatan III

Hari/ Tanggal : Selasa, 8 Desember 2020
Waktu : 09.00 – 12.30 WITA

Konfirmasi Pendaftaran : 082264335946 (WA) atau mendaftar melalui link : https://sites.google.com/view/ipienrekang/webinar

06/12/2020

Cerita Pendek
Radio Bapak dan Hal-Hal yang Tak Bisa Diperbaiki Lagi
Nuzul Mboma
______________________________________

"Dilihat dari segi mana pun," kata bapak, "Ada hal-hal yang memang tidak bisa diperbaiki dalam hidup. Seperti benda ini."
Itu adalah radio tua merek Sanyo yang baru saja dibanting oleh ibu ke lantai sampai hancur berantakan. Ibu habis kesabaran setelah sepanjang hari mendengar pertengkaran kakak-kakak saya tentang siapa yang berhak memutar kasetnya di sana.

Kakak yang sulung, mahasiswa semester akhir yang baru saja pulang dari kota Palu, dengan rambut gondrong sepinggang dan membawa satu ransel penuh kaset pita dengan lagu-lagu balada dan metal. Kakak yang kelima, perempuan aktif di sekolah menengah pertama, mengoleksi musik-musik pop Britney Spears dan sedang mempersiapkan diri ikut festival modern dance di sekolahnya. Keduanya membenci selera musik satu sama lain.

Waktu itu tahun 1998. Ada sembilan orang di rumah yang mendengarkan radio secara bergantian. Di lingkungan kami, bisa dibilang hanya rumah kami sajalah yang belum memiliki televisi. Dan, ibu akan selalu berdiri mewakili bapak untuk menghadapi ketidakpuasan anak-anaknya. Dia bilang tak ada uang lagi untuk sebuah televisi, bahwa bapak kami hanya seorang pegawai rendahan di Dinas Pertanahan yang harus memberi makan tujuh mulut anak-anak yang terlalu banyak meminta.

Keluarga kami tinggal di kota kecamatan kecil yang tidak begitu dikenal, tapi lingkungannya bisa dibilang sangat cocok untuk keluarga ekonomi biasa dengan satu sepeda motor Honda Astrea tua pemberian kantor dan satu-satunya radio untuk hiburan.

Keluarga kami tidak kaya, tapi bapak dihormati warga sekitar karena pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Bapak berjuang untuk memastikan kami semua tumbuh pintar. Dia mengoleksi banyak buku, membawa pulang kliping koran dari kantornya, dan mengandalkan radio itu untuk memperbaharui informasi. Karenanya, kami bisa tahu banyak hal tentang apa yang terjadi di luar sana, terkhusus peristiwa pada hari-hari belakangan.

Pagi hari bapak akan duduk di meja kecil dekat jendela, menyetel radio dan mendengarkan dengan saksama siaran RRI bersama ibu. Kadang kudengar dia menggumamkan sesuatu, yang membuat air muka ibuku berubah menjadi aneh, seperti mencemaskan hal-hal yang buruk akan segera terjadi.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mendapatkan gambaran samar apa yang sedang terjadi. Di sekolah dasar, anak-anak mulai terbiasa mengucapkan kata krismon. Guru-guru kami juga sering mengeluhkan harga-harga bahan pokok yang naik meroket. Puncaknya pada suatu malam bapak menulis surat sepanjang delapan setengah halaman untuk kakakku yang sulung di perantauan, memintanya untuk pulang segera karena negara sedang krisis dan ibuku tak ingin pelajar sebatang kara sepertinya dalam masalah.

Beberapa hari setelah kepulangan kakakku, Presiden Soeharto dipaksa turun dari jabatannya oleh demo mahasiswa.

Kadang saya bertanya-tanya, ke mana waktu membawa pergi semua sifat keras hati dan tanpa kompromi ibu saat ini. Di masa lalu ibu selalu menyelesaikan masalah dengan menghilangkan sumber masalahnya. Jika anak-anaknya memperebutkan papan catur, dia akan menghancurkannya, membelahnya menjadi dua dengan parang. Jika kami saling cemburu satu sama lain terkait uang jajan yang tak adil ibu akan sekalian menarik semua uang itu dan melepas kami ke sekolah tanpa uang sepeser pun. Tak ada sedikit pun sikap moderat dalam dirinya.

Sementara bapak adalah sosok yang sama sekali berbeda. Dia lebih pendiam dan s**a mendengarkan. Bapak memang tak selalu punya solusi untuk setiap masalah rumah tangganya, tapi kami lebih senang mengadukan banyak hal kepadanya. Jika dia tak mampu mewujudkan keinginan anak-anaknya, bapak tak akan berkata apa-apa atau memerahi kami.

Tapi kami tahu, di balik diamnya itu terselip pesan seperti ingin bilang, bersabarlah, bapak sedang mengusahakan sesuatu, atau, tunggu beberapa minggu lagi.

Tetapi ketika siang itu bapak mendengar keributan di ruang depan, dia segera muncul dari kamar dengan bertelanjang dada dan sarung selutut. Bapak memeluk kakak saya, Maya yang menangis tersedu-sedu, menyadari radio yang digunakannya latihan menari tak lagi berfungsi. Sementara ibu telah menghilang ke belakang dengan martil di tangannya tanpa mau mendengarkan apa dan mengapa, bapak berjongkok diam dan mengamati sisa-sisa radio itu.

Beberapa tombolnya hancur, penutup kasetnya tak bisa mengatup lagi, sambungan kabel terlepas, sepasang baterainya dilempar ibu ke halaman. Tak ada harapan sama sekali.

Kami menghabiskan malam-malam setelahnya dengan berkumpul di ruang tengah mendengarkan bunyi jangkrik dan gonggongan anjing liar belakang rumah. Tanpa bunyi radio itu, rasa-rasanya sesuatu dalam keluarga kami telah dibawa pergi. Seperti seorang kerabat dekat yang meninggal dunia, menciptakan kesedihan dan suasana murung.

Ketiadaan radio di atas meja membuat kami tersadar bahwa benda itu tak kalah pentingnya dengan perabotan lain di rumah ini. Rumah kami terlihat asing dan aneh, letak perabot seperti tak beraturan, janggal, dan salah gaya.

Faktanya, keberadaan radio itu beserta kaset-kaset yang keluar-masuk meninggalkan kenangan yang dalam dan membentuk selera musik kami sekeluarga. Meski usia saya waktu itu baru sembilan tahun, tapi saya sudah bisa menyanyikan beberapa lirik dari lagu-lagu balada GNR, Metallica, Firehouse, White Lion, Westlife, Dewa 19, God Bless, atau Spice Girls.

Saya juga tak akan lupa dengung panjang radio FM yang ditinggalkan tengah malam, tanpa siaran apa-apa lagi, atau antenanya yang bisa dipanjangkan hingga satu meter. Bahkan bertahun-tahun setelahnya, setelah bapak meninggal dan kami sudah bisa mengupayakan membeli TV dengan uang pensiunnya, kehadiran benda penghibur baru itu sama sekali tak bisa menggantikan peran historis dari sebuah radio yang tampak gagah (jika kau memiringkan antenanya sekitar 25 derajat, dia akan memperlihatkan gestur hormat ala serdadu) menyambut kami di bawah jendela setiap pagi dengan suara khas penyiar lelaki dari stasiun RRI.

Seseorang pernah bilang, TV menyajikan sebuah gambar pada setiap orang, tetapi radio melahirkan sejuta gambar di dalam sejuta otak.

Sepanjang usianya radio itu telah menjadi identitas bapak sendiri. Bapak mendapatkan pengetahuan dari radio dan dia meneruskan pengetahuan itu kepada kami. Jadi bisa dibilang ada satu benang tak kasat mata yang saling menghubungkan kami anak-anaknya, almarhum bapak, dan radio itu. Dan, semuanya tersimpan rapi dalam laci kenangan di kepala tiap orang.

Anggapan ini tidak berlebihan. Saya ingat ketika memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan perempuan yang telah lama saya pacari di kampus, kenangan akan sore ketika radio itu hancur muncul kembali di kepala saya. Saya tak mengerti bagaimana itu semua bermula, tapi saya yakin betapa sesuatu seperti sedang menggerakkan lidah saya, suatu daya misterius yang memaksa saya untuk berkata di hadapan tangis pacar saya yang merengek meminta penjelasan.

"Dilihat dari segi mana pun," kata saya seolah meniru bapak, "Ada hal-hal yang tak bisa diperbaiki dalam hidup ini. Seperti halnya hubungan kita."

Jujur saja, tak ada yang salah dalam hubungan kami waktu itu. Saya dan gadis itu melewati tahun-tahun yang menyenangkan. Memang ada sedikit drama, tapi tak sampai membuat hubungan kami dalam bahaya. Saya bahkan telah sampai kepada pikiran bahwa semuanya akan berjalan lurus-lurus saja, damai, sampai suatu hari di masa depan kami memutuskan untuk melanjutkannya ke tahap yang lebih serius.

Namun, hari itu jiwa saya seperti radio bapak yang dihantam martil hingga hancur. Tak ada cekcok, cemburu atau alasan-alasan yang layak untuk putus. Hanya sebuah perasaan akan sesuatu yang tak terhindarkan. Semacam pendar batin dalam diri yang mengatakan kepada saya bahwa untuk alasan-alasan yang tak terjelaskan, cepat atau lambat ini semua akan berakhir dan tak ada sesuatu pun yang bisa mencegahnya. Maka, di bawah tekanan batin seperti itulah saya meninggalkan kekasih saya.

Saya pulang ke kamar kos, menutup pintu dengan murung, lalu memutar playlist dengan kata kunci "Best Balad 90's" di Youtube sepanjang malam. Lagu-lagu yang selalu diputar di radio bapak dan mengingatkan saya akan kehangatan rumah.

Belakangan, setelah saya pikir-pikir, apa yang saya katakan waktu itu bisa jadi merupakan sebuah kebijaksanaan sederhana yang diwariskan bapak kepada saya. Saya tahu, beberapa di antara kalian bakal menganggap ini sebagai bualan atau pembelaan atas kelemahan hati. Kalian akan bilang memang ada hal-hal yang tak terhindarkan dalam hidup saya, tapi bukan berarti kau tak bisa memperbaikinya. Seperti halnya radio masa kecil kami. Bapak punya pilihan untuk membawanya ke tukang servis atau menggantinya sama sekali dengan yang baru.

Tetapi, jika kau mencoba menyelami situasi yang ada, pada semua sisi; krisis moneter di tingkat nasional, kekurangan uang, pikiran tentang hari esok, pertimbangan ini-itu yang melahirkan tekanan psikis pada akhirnya akan berakhir pada suatu perasaan tak terhindarkan. Sesuatu yang dilihat dari segi mana pun, semuanya tak lagi sama dan tak ada yang perlu diperbaiki lagi.
____________________________________
Nuzul Mboma lahir di Makassar, aktif di Komunitas Sastra Alauddin 2D

Address

Jalan Pendidikan, Kelurahan Baraka, Kecamatan Baraka
Baraka
91753

Telephone

+6285242688538

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumah Baca Tjora Aksara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Rumah Baca Tjora Aksara:

Share

Category