Baladewo

Baladewo Baladewo

23/07/2022

Penyampaian Pidato Pembukaan Sidabowa Expo 2022

21/07/2022

Mari berbagi kreasi, inovasi dan kebahagiaan.
Ikuti akun Tik Tok

13/07/2022

Semangat Koperasi adalah semangat gotong royong.
Di era sekarang di mana masyarakat semakin memiliki kecenderungan individualistik, maka koperasi harus menjadi pilar penjaga budaya gotong royong. Koperasi jangan hanya dijadikan alat kepentingan ekonomi. Tetapi koperasi harus menjadi kultur bermasyarakat untuk mempertahankan jiwa gotong royong yang menjadi ruh kehidupan masyarakat kita secara turun temurun.
Mari kita jalankan sistem koperasi ini dengan kesadaran penuh akan pentingnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat, dan tentunya dengan menyesuaikan atau menyelaraskan dengan perkembangan teknologi.

Selamat Hari Koperasi

12/07/2022

Nek derengokna jan kaya suara kodok nang sawah. Ujarku sih kena dejaring nggo gawe swike, tapi apa memper ana kodok nang Rumdin Wakil Bupati?
Owalah, jebule emak-amak Gabungan Organisasi Wanita (GOW) lagi nutuki mori karo godong nganggo palu kayu.

Ibu-ibu kreatif ini sedang latihan mbatik melalui teknik Eco Pounding. Tehnik eco pounding adalah teknik mentransfer pigmen warna daun ke kain dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu. Nah menurut Pusat Pelatihan Batik Banyu Kencana, batik eco pounding ini sudah menembus pasar internasional dengan motif-motif tertentu.
Ini tentu peluang bisnis yang potensial untuk semua warga Banyumas yang memiliki kreativitas dan daya inovasi yang tinggi, meningat sumber daya alam yang melimpah terutama aneka dedaunan uang bisa dijadikan motif eco pounding.
Semua bisa terlibat, khususnya ahli tanaman yang bisa merekomendasi jenis daun dan teknik perlakuannya, ahli produksi, ahli digital marketing dan lain-lain, sehingga batik eco pounding di wilayah Banyumas mampu menciptakan rantai nilai sehingga memiliki daya ekonomi yang berkelanjutan.

Lha kan bisa dadi penyaluran nek lagi kesuh karo bojone.
Tinimbang KDRT mending nutuki mori. Iya Mbok?
😂😂😂

10/07/2022
07/07/2022

Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Nyai Sagopi, seorang swarawati keraton Mandura.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tetapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.

Sebenarnya Baladewa memihak Kurawa, maka dalam Kitab Jitabsara ketika ditulis skenarionya oleh para dewa tentang Perang Baratayuda, Prabu Kresna tahu bahwa para dewa merencanakan Baladewa akan ditandingkan dengan Raden Anantareja dan Baladewa mati. Ketika melihat catatan itu Prabu Kresna ingin menyelamatkan Prabu Baladewa dan Raden Anantareja agar tak ikut perang sebab kedua orang itu dianggap Prabu Kresna tak punya urusan dalam perang Baratayuda. Prabu Kresna menyamar menjadi kumbang lalu terbang dan menendang tinta yang dipakai dewa untuk menulis, tinta tumpah dan menutupi kertas yang ada tulisan Anantarejo kemudian kumbang jelmaan Prabu Kresna juga menyambar pena yang dipakai tuk menulis dan pena tersebut jatuh. Akhirnya dalam Kitab Jitabsara yaitu kitab skenario perang Baratayuda yang ditulis dewa tak ada tulisan Raden Anantareja dan Prabu Baladewa. Maka sebelum perang Baratayuda Prabu Kresna membujuk Anantareja supaya bunuh diri dengan cara menjilat telapak kakinya sendiri, akhirnya Raden Anantareja mati sebagai tawur/tumbal kemenangan Pandawa. Prabu Kresna juga punya siasat untuk mengasingkan agar Prabu Baladewa tidak mendengar dan menyaksikan Perang Baratayuda yaitu dengan meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Baratayuda, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti jika Baratayuda terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Baratayuda.

Ada yang mengatakan Baladewa sebagai titisan naga, sementara yang lainnya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Baratayuda, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama/Begawan Curiganata. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

Sumber : Wikipedia

Address

Banyumas

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Baladewo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share