18/02/2014
GERAKAN PEDULI KORBAN BENCANA ALAM
oleh : Drs Akhmad Samiri, M.Pd.
Spensabara News Jumat, 7 Februari 2014. Banyaknya bencana alam di wilayah Indonesia menggugah civitas SMP Negeri 1 Banjarnegara melakukan kerja sama dengan PMI Banjarnegara untuk melakukan penggalangan bantuan. Bentuk penggalangan bantuan pada tahap awal adalah dengan memberikan bantuan yang berasal dari sumbangan sukarela anggota OSIS kepada PMI untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Bantuan sebesar Rp3.839.500,00 diserahkan langsung kepada ketua PMI Banjarnegara, Drs. Setiawan, M.Hum. melalui koordinator bantuan bencana, Eko Junaidi dan Edi Purwanto, Kepala Markas PMI Banjarnegara.
Drs. Setyo Pramono, selaku kepala sekolah akan menggali potensi di instansi yang dipimpinnya untuk berbuat lebih banyak demi kebersamaan. Pemberian bantuan dari siswa merupakan upaya meningkatkan kecerdasan sosial berupa empati siswa terhadap lingkungan.
PMI Banjarnegara merasa terharu sekali atas kepekaan dan kepedulian siswa SMP Negeri 1 Banjarnegara terhadap korban bencana alam di Indonesia. PMI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banjarnegara sangat berterima kasih atas peran masyarakat terhadap segala bantuan untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah bencana alam. Banjarnegara 60 % adalah wilayah rawan bencana. Bencana alam yang sering terjadi di Banjarnegara berupa tanah longsor dan gas beracun. Tahun ini longsor terjadi di Kecamatan Pejawaran, Bawang, dan Purwonegoro. Bencana gas beracun terjadi di kawasan pegunungan Dieng. Beliau berpesan bahwa mengatasi bencana penting tetapi mencegah bencana jauh lebih penting. Oleh karena itu kita harus menjadi pelopor dalam pencegahan bencana.
“ Bapak, mohon tolong amplop ini jangan dilihat berapa jumlah uangnya, tapi mohon dilihat ketulusan dan keikhlasan teman-teman kami menyisihkan uang jajan sekedar untuk berbagi. Semoga dapat sedikit memberi arti bagi sauadara-saudara kami yang sedang dicoba dengan musibah bencana” Ucap Bramantyo, Ketua Osis dengan terbata-bata.
Erika korban gas beracun
Orasi yang dikemas dalam General Stadium dihadirkan pengalaman nyata mantan guru di SMP Negeri Batur, Mulyono, S.Pd. dan anak korban gas beracun, Erika. Muyanto dan ibu dari Erika sangat panik ketika tahun 1979 melihat dengan mata kepala sendiri melihat korban gas beracun Sinila dijajar untuk dimakamkan secara masal.
“Gas mematikan dari pegunungan Dieng menghasilkan racun yang tidak tampak dan tidak berbau. Karena tidak tampak dan tidak berbau ini sangat mematikan. Gas ini lebih berbahaya dan mematikan dari Merapi dan Sinabung,” ujar Mulyono meyakinkan.
Erika yang kini masuk kelas 7 SMP Negeri 1 Banjarnegara menuturkan pengalaman ibunya ketika mengalami kejadian itu, “ Saat itu ibu saya sedang menonton tv Pak,ibu saya sangat kaget dengan teriakan ada mayat, ada gas beracun. Ibu saya keluar rumah. Yang dilihat pada waktu itu hanya wajah-wajah panik. Mendekat pasti ikut mati, kalau meninggalkan kasihan melihat saudara-saudara ibuku mati lemas. Bahkan ibuku tidak sadar apakah ibuku lari atau tidak. Yang ibu sadar sesadar-sadarnya sudah di pengungsian. Kata ibuku lagi selang dua hari, Bapak Mulyanto, guru SMP Negeri Batur waktu ibuku sekolah, mengajak murid-muridnya melihat pemakaman masal korban Sinila. Ratusan orang meninggal. Untung ibu saya selamat sehingga saya bisa bertemu dengan guru ibu saya.”
Narasi bencana alam
Banjir air mata melanda keluarga besar SMP Negeri 1 Banjarnegara seraya tertunduk dan berdoa. Itulah suasana ketika Gatvita Resty Andini, Annita Putri Permatasari, dan Nurdiati Fasha Akmalia membacakan narasi bencana alam secara estafet pada jumat berkabung di halaman sekolah.