Masjid Baitus-Salam Desa Batu Belah Bangkinang Riau

Masjid Baitus-Salam Desa Batu Belah Bangkinang Riau Masjid Baitus-Salam, satu di antara masjid yang ada di Batu Belah Kabupaten Kampar Riau. Didirikan pada tahun 2008, dan masih dalam tahap pembangunan.

Assalamualaikum Sahabat" Jama'ah semua,Jika yg dalam fhoto ini(tengah) datang ke mesjid atau musholla di Wilayah anda da...
02/06/2024

Assalamualaikum Sahabat" Jama'ah semua,
Jika yg dalam fhoto ini(tengah) datang ke mesjid atau musholla di Wilayah anda dan sekitarnya minta di islamkan dan minta ongkos utk p**ang kampung jangan di beri soalnya penipu karena sdh beberapa mesjid sdh di datanginya.
Tadi siang Jama'ah Masjid Anni'mah baru kena tipu, orang ini ngaku katolik mau masuk Islam, tadi di islamkan olah H Edeng, ternyata di Masjid Said Naum juga begitu, dari tiap Masjid dia dpt sumbangan dari jama'ah sekitar 3 juta. tolong bantu share di masjid2 besar pada khususnya, modus orang nyari duit dengan ngaku" kepengen jadi Mualaf dan Bersyahadat... *Siapa tau mampir di Masjid Anda....*
Tolong di share yg Punya Group. 🙈

Ada yg berminat jadi   disini?
12/11/2021

Ada yg berminat jadi disini?

07/07/2021

Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Di antara hikmah Allah ﷻ adalah memuliakan sebagian waktu dari waktu yang lain. Dari sekian banyak jumlah hari dalam setahun, untuk siangnya Allah ﷻ memilih sepuluh hari awal dari bulan Dzulhijah sebagai hari yang paling utama. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْه فِي هَذِهِ الأيَّامِ العَشْر. قَالُوا: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللَّه!! قَالَ: وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah ada diantara hari hari dimana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini (awal bulan dzulhijjah).” Para sahabat bertanya “Tidak p**a jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab “Tidak p**a jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar membawa jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali lagi (mati syahid).” (HR. Bukhari: 969)

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan:

لَكِنَّ فَرَائِضَ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ أَفْضَلُ مِنْ فَرَائِضِ سَائِرِ الأَعْشَارِ، وَنَوَافِلَهُ أَفْضَلُ مِنْ نَوَافِلِهَا

“Namun, amalan-amalan wajib di sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada amalan-amalan wajib semua sepuluh hari bulan yang lain. Amalan-amalan sunnah di sepuluh hari ini pun lebih utama daripada amalan sunnah di sepuluh hari bulan yang lain.” (Fathul Bari’ Ibnu Rajab: 6/119 Cet. Dar Ibn Jauzi)

Diantara hal dan sebab yang menunjukkan serta menjadikan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini lebih utama daripada hari-hari yang lain:

Allah ﷻ bersumpah dengan malam-malamnya yang mulia. Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

"Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh." (QS. Al-Fajr:1-2)

Sepuluh malam yang dimaksud adalah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah menurut pendapat mayoritas ulama ahli tafsir dari salafus shalih. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir: 8/390)

Sepuluh hari ini adalah hari-hari yang dikenal dan diberkahi, yang Allah ﷻ mensyariatkan untuk mengingatnya dengan menyembelih binatang ternak yang telah direzekikan kepada kita. Allah ﷻ berfirman:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

"Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (QS.Al-Haj:28)

Yang dimaksud dengan hari-hari yang ditentukan didalam ayat di atas adalah sepuluh awal bulan dzulhijah menurut jumhur ulama dan mayoritas ahli tafsir. (Lihat Tafsir Ibn Katsir: 5/415)

Sepuluh hari ini adalah penutup dari bulan bulan yang telah ditentukan dari bulan bulan haji sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ

"Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan." (QS.Al-Baqarah:197).

Bulan-bulan yang telah ditentukan itu adalah Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari awal bulan Dzulhijah.

Pada sepuluh hari ini terdapat hari Arafah yang mana Allah ﷻ telah menyempurnakan agama ini pada hari tersebut sebagaimana firmannya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agama bagimu." (QS.Al-Maidah: 3)

Pada sepuluh hari ini terdapat hari Nahr yang dikenal dengan hari Hajil Akbar. Hari ini adalah hari yang paling agung di sisi Allah ﷻ sebagaimana sabda Rasullullah ﷺ:

أَعْظَمُ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ القَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr dan hari Qarr (hari setelah hari Nahr)” (HR. Abu Dawud: 1765)

✍Demikianlah pembahasan singkat tentang kemuliaan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Semoga bermanfaat, Wallahul muwaffiq.

📚 Referensi: 44 Faidah fi ‘Asyri dzil Hijjah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid.

Semoga bermanfaat.
Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi
SumberL maribaraja..com

14/05/2021

Segenap pengurus dan jemaah Masjid Baitus-Salam Desa Batu Belah Bangkinang Riau mengucapkan:
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1442 H/13 MEI 2021
Mohon maaf lahir dan bathin.

Video by: Paman

Panduan Bupati Kampar terkait Takbir dan Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1442 H/2021 M.
12/05/2021

Panduan Bupati Kampar terkait Takbir dan Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1442 H/2021 M.

02/05/2021

PERBANYAK DOA INI DI 10 MALAM TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Pahami Ilmunya, Amalkan dan Sebarkan Sunnahnya! Jauhi serta Tinggalkan: Syirik dan Bid’ah !!

Doa yang Dibaca di Malam Lailatul Qadar

Apa do’a yang dianjurkan banyak dibaca pada malam lailatul qadar?

Ada do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan p**a oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat lailatul qadar. Do’a di atas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat Allah yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu p**a hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapa sifat di sini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu a’lam.

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk memperbanyak do’a yang sedang kita kaji ini di penghujung Ramadhan.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

~ Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 131-133.

~ Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 362-363.

PAHALA BERLIMPAH DI BULAN RAMADHANOleh: Zahir Al-MinangkabawiPahala sebuah amalan menjadi berlipat ganda karena beberapa...
27/04/2021

PAHALA BERLIMPAH DI BULAN RAMADHAN
Oleh: Zahir Al-Minangkabawi

Pahala sebuah amalan menjadi berlipat ganda karena beberapa sebab. Di antaranya adalah kemuliaan suatu waktu. Bulan Ramadhan adalan bulan yang paling mulia dari bulan-bulan lainnya. Sehingga amal kebajikan pada bulan itu akan bernilai besar dan berlipat ganda dibanding bulan yang lain. Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan pahala haji.” (HR. Bukhari: 1863, Muslim: 1256)

Sungguh berlipat ganda. Maka dari itu sangat rugi rasanya bilamana kita tak menyadari hal ini sehingga kita kehilangan banyak kebaikan.

Oleh sebab itu, jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu begitu saja. Mari bersemangat dan bersegera melakukan kebajikan. Banyak baca Al-Qur’an, berdo’a, bersedekah, berdzikir, dst dari amal-amal ketaatan. Sekarang dan jangan tunda karena kita tak tahu apakah masih hidup esok ataukah tidak. Apakah kita masih diberikan kesempatan merasakan Ramadhan berikutnya ataukah tidak.

Sumber_maribaraja.com

Maribaraja.com menyediakan artikel dakwah yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadits shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih

26/04/2021

MENJAGA PUASA AGAR TIDAK MENJADI SIA-SIA

Menjaga puasa adalah sesuatu yang tidak kalah wajibnya dengan melakukan puasa itu sendiri. Percuma seorang berpuasa tetapi tidak diterima oleh Allah dan tidak bernilai ibadah. Ia hanya mendapatkan rasa lapar, haus dan letih saja. Akan tetapi, kenyataannya ternyata banyak orang Islam yang seperti ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” [HR. Ibnu Majah no. 1690]

Mengapa bisa demikan, apa sebabnya? Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” [HR. Bukhari no. 1903]

Oleh sebab itu, Salafus Shalih sangat memahami hal ini. Karenanya, mereka mengatakan bahwa puasa tidak semata menahan haus dan lapar tetapi juga menahan ucapan, penglihatan, pendengaran dari hal-hal yang haram. Seorang saha-bat yang mulia, Jabir bin Abdillah pernah mengatakan:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَالآثَمِ ، وَدَعْ أَذَي الخَادِمِ ، وَ لْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صِيَامِكَ وَفِطْرِكَ سَوَاءً

“Jika kamu berpuasa maka puasakanlah juga pen-dengaran, penglihatan dan perkataanmu dari kedustaan dan segala dosa. Hindarkanlah dari menyakiti pelayanmu. Jadikanlah dirimu penuh kewibawaan dan ketenangan di hari puasamu. Janganlah kau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbuka (tidak puasa)mu."[Shahih Muslim mo. 1116]

Memang demikianlah seharusnya, ketika kita tengah berpuasa pada hakikatnya kita tidak hanya menghalangi diri dari makan dan minum saja. Banyak hal yang mesti kita jauhi, sesuatu yang di bulan biasa haram dan terlarang maka di bulan Ramadhan jauh lebih haram.

Ramadhan adalah kesempatan untuk mem-perbaiki diri. Dengan berpuasa kita berusaha menjadi lebih baik. Oleh sebab itu perintah Rasulullah ﷺ tatkala ada orang lain yang menghina dan mencoba menghidupkan api kemarahan kita, cukuplah dengan mengatakan aku sedang ber-puasa. Beliau Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila seorang dari kalian tengah berpuasa maka janganlah ia mengucapkan ucapan yang keji dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila ada seorang yang menghina dan mengutuknya maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa." [HR. Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151]

Karena itulah, untuk menjaga ibadah puasa, Salafush Shalih biasanya tidak banyak bergaul dengan orang-orang. Mereka lebih memilih berdiam diri di masjid atau di rumah mereka agar lebih fokus beribadah dan dapat menjaga kebersihan puasa mereka. Disebutkan oleh Imam Abu Nu’aim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ وَأَصْحَابُهُ : كَانُوا إِذَا صَامُوْا قَعَدُوْا فِي المَسْجِدِ ، وَقَالُوْا : نُطَهِّرُ صِيَامَنَا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia dan para sahabatnya apabila berpuasa mereka duduk (berdiam) di masjid seraya berkata: "Mari kita membersihkan puasa kita." [Hilyah Al-Auliya’: 1/382, Aqwal wa Qashash As-Salaf fi Ash-Shiyam oleh Dr. Ahmad Mushtafa Mutawalli hal. 13]

Disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah:

كَانَ طَلْقٌ إِذَا كَانَ يَومَ صَوْمِهِ دَخَلَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَّا لِصَلَاةٍ

"Thalq apabila di hari-hari puasanya selalu masuk (ke rumahnya) dan tidak keluar kecuali untuk mengerjakan shalat (berjama’ah)."
[Dinukil dari artikel Islamway.net dengan judul: Ahwalu As-Salaf fi Ramadhan]

Oleh karenanya, ini satu hal yang patut kita teladani. Jaga puasa kita, sibukkan diri dengan keta’atan. Kurangi interaksi yang kurang bermanfaat. Di zaman kita ini, mungkin kita bisa menambahkan dengan wajibnya kita mengu-rangi interaksi dengan gadget dan media sosial. Banyak orang yang berdiam diri di masjid atau di rumah akan tetapi sibuk dengan gadget dan medsosnya. Padahal media sosial itu, di samping manfaat yang tidak kita pungkiri juga menyertakan mafsadat dan keburukan yang banyak p**a sebagaimana yang telah kita ketahui bersama. Karenanya, berkaca dari bagaimana Salafus Shalih menjalani bulan Ramadhan maka sepatutnya kita bijak dalam hal ini. Jika tidak bisa mening-galkannya secara keseluruhan maka setidaknya mengurangi dan membatasi diri agar puasa kita betul-betul bersih.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
Sumber_maribaraja.com

24/04/2021

═════ ◎•❀•◎﷽◎•❀•◎ ═════

Salafus Shalih di Ramadhan – Semangat Berpuasa & Melatih Anak-Anak

Sebelum datangnya syariat puasa Ramadhan, puasa yang diwajibkan adalah puasa Asyura’ yakni puasa pada tanggal 10 bulan Muharram. Barulah ketika datang kewajiban puasa Ramadhan maka puasa Asyura’ menjadi sunnah.

Ada sebuah riwayat, terkait dengan bagai-mana semangat para sahabat untuk melakukan puasa serta melatih anak-anak mereka. Rubayi’ binti Muawidz s menuturkan:

أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ n غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : (مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ

"Rasulullah mengutus seorang sabahat di pagi hari Asyura menuju desa-desa kaum Anshar yang berada di sekitaran kota Madinah untuk mengu-mumkan: ‘Barang siapa yang sejak pagi sudah puasa, hendaklah dia lanjutkan puasanya. Dan barang siapa yang sudah makan, hendaknya ia puasa di sisa harinya.’ Rubayyi’ mengatakan: Se-telah itu, kami pun puasa dan melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk puasa. Kami pergi ke masjid dan kami buatkan mainan dari bulu. Jika mereka menangis karena minta makan, kami beri mainan itu hingga bisa bertahan sampai waktu berbuka." (HR. Bukhari no. 1960, Muslim no. 1136)

Beberapa faidah dari riwayat di atas:

Pertama, semangat dan bersegeranya para sahabat untuk melakukan perintah. Mereka ti-dak butuh iming-iming ini dan itu. Ketika mereka tahu hal tersebut diperintahkan maka mereka segera melakukannya. Beda dengan kita hari ini, walau sudah tahu kewajibannya dan tahu p**a ganjarannya, tetapi masih banyak saja yang eng-gan berpuasa dengan alasan tidak kuat.

Kedua, semangat mereka untuk menjadikan anak-anak mereka menjadi manusia yang shalih, ta’at kepada Allah ﷻ, dengan melatih mereka puasa.

Ketiga, mainan yang mereka berikan kepada anak-anak mereka adalah mainan yang dapat menjadi wasilah untuk keta’tan kepada Allah ﷻ. Ini adalah satu hal yang harus kita renungkan, sebab banyak sekarang ini kita sebagai orang tua justru malah memberikan mainan yang membuat lalai anak-anak dari ketaatan kepada Allah ﷻ. Kita beri-kan mereka laptop, gadget, kita sediakan Wifi agar mereka dapat akses internet, kita belikan PS, dll, dengan alasan agar mereka dapat hiburan dan mampu berpuasa. Akan tetapi, kenyataan-nya tidak demikian. Mainan-mainan tesebut jus-tru melalaikan mereka. Betul mereka kuat ber-puasa akan tetapi mereka malah tidak shalat, tidak membaca Al-Quran, dst.

Oleh karena itu, lihatlah Salafus Shalih. Silahkan berikan mainan, akan tetapi pastikanlah bahwa mainan itu dapat menjadikan mereka bertambah ta’at dan men-dekat kepada Allah ﷻ bukan malah sebaliknya.

Semoga bermanfaat.***

Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi

16/04/2021

*FADHILAH SHOLAT TARAWIH*

1. Malam pertama
عن على بن ابى طالب رضى الله تعالى عنه انه قال سئل النبى عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال يخرج المؤمن من ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته امه
Diriwayatkan dari ali bin abi tholib Ra.bahwa sesungguhnya ali berkata : Nabi alaihis sholatu was salamu ditanya tentang keutamaan tarowih di bulan romadlon. Maka Nabi menjawab : "pada malam pertama keluarlah dosa orang mukmin (yang melakukan tarawih) sebagaimana ibunya melahirkan ia di dunia

2. Malam ke 2
وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين
Pada malam yang ke 2, orang yang sholat tarawih akan diampuni dosanya dan dosa ke-2 orang tuanya jika keduanya mukmin

3. Malam ke 3
وفى الليلة الثالثة ينادي ملك من تحت العرش استأنف العمل غفر الله ما تقدم من ذنبك
Pada malam yang ke 3, malaikat dibawah arasy berseru,mulailah melakukan amal kebaikan (sholat tarawih) maka ALLOH akan mengampuni dosamu.

4. Malam ke 4
وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التورات والانجيل والزبور والفرقان
Pada malam yang ke 4, bagi yang melakukan tarawih dapat pahala sebagaimana pahala orang yang membaca kitab taurot,injil,zabur dan alqur'an.

5. Malam ke 5
وفى الليلة الخامسة اعطاه الله تعالى مثل من صلى فى المسجد الحرام و المسجد المدينة والمسجد الاقصى
Pada malam yang ke 5, ALLOH memberikan pahala bagi yang tarawih sebagaimana pahalanya orang yang sholat di masjidil harom, masjid madinah/nabawi dan masjidil aqsho

6. Malam ke 6
وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
Pada malam yang ke 6, ALLOH memberikan pahala pada yang bertarawih sebagaimana pahalanya orang yang thowaf dibaitul makmur dan setiap batu dan tanah memintakan ampunan padanya

7. Malam ke 7
وفى الليلة السابعة فكأنما ادرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
Pada malam yang ke 7, yang melakukan tarawih seakan-akan menemui zaman nabi Musa as dan menolongnya dari serangan fir'aun dan haman.

8. Malam ke 8
وفى الليلة الثامنة اعطاه الله تعالى ما اعطى ابراهيم عليه السلام
Pada malam yang ke 8, ALLOH akan memberi anugrah sebagaimana anugrah yang diberikan pada Nabi Ibrohim alaihis salam

9. Malam ke 9
وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
Pada malam yang ke 9, seolah-olah orang yang tarawih beribadah pada ALLOH sebagaimana ibadahnya para Nabi alaihis sholatu was salam

10. Malam ke 10
وفى اليلة العاشرة يرزقه الله تعالى خيرى الدنيا والآخرة
Pada malam yang ke 10, ALLOH akan memberi rizki yang lebih bagus didunia maupun akhirat bagi yang tarawih

11. Malam ke 11
وفى الليلة الحادى عشرة يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن امه
Pada malam yang ke 11, orang yang tarawih kelak ia akan keluar dari dunia (mati) seperti hari dimana ia baru dilahirkan dari perut ibunya

12. Malam ke 12
وفى الليلة الثانية عشرة جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
Pada malam yang ke 12, pada saat hari kiamat datang wajahnya orang yang tarowih bersinar bagaikan rembulan dimalam purnama

13. Malam ke 13
وفى الليلة الثالثة عشرة جاء يوم القيامة أمنا من كل سو\
Pada malam yang ke 13, pada saat hari kiamat tiba orang yang tarawih akan selamat dari segala macam keburukan.

14. Malam ke 14
وفى الليلة الرابعة عشرة جاءت الملائكة يشهدون له انه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
Pada malam yang ke 14, malaikat pada menjadi saksi bagi yang tarawih bahwa ia sudah melakukan sholat tarawih maka ALLOH tidak menghisabnya besok di hari kiamat

15. Malam ke 15
وفى الليلة الخامسة عشرة تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
Pada malam yang ke 15, para malaikat dan para malaikat penyangga arasy dan para malaikat penjaga kursi kerajaan langit pada memintakan ampunan pada orang yang sholat tarawih

16. Malam ke 16
وفى الليلة السادسة عشرة كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول من الجنة
Pada malam yang ke 16, ALLOH akan mencatat kebebasan selamat dari neraka dan kebebasan masuk surga bagi yang tarawih

17. Malam ke 17
وفى الليلة السابعة عشرة يعطى مثل ثواب الانبياء
Pada malam yang ke 17, yang tarawih akan diberi pahala sebagaimana pahalanya para nabi

18. Malam ke 18
وفى الليلة الثامنة عشر نادى ملك ياعبد الله ان الله رضى عنك وعن والديك
Pada malam yang ke 18, malaikat telah berseru (pada yang tarawih) wahai hamba ALLOH,sesungguhnya ALLOH telah meridloimu dan ke-2 orang tuamu

19. Malam ke 19
وفى الليلة التاسعة عشرة يرفع الله درجاته فى الفردوس
Pada malam yang ke 19, ALLOH akan mengangkat derajat-derajat yang tarowih disurga firdaus

20. Malam ke 20
وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
Pada malam yang ke 20, orang tarawih akan diberi pahala seperti pahala orang-orang yang mati shahid dan orang-orang sholih

21. Malam ke 21
فى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
Pada malam yang ke 21, ALLOH akan membangunkan rumah di surga yang terbuat dari cahaya untuk yang tarawih

22. Malam ke 22
وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة امنا من كل غم وهم
Pada malam yang ke 22, jika hari kiamat tiba maka yang tarawih akan selamat dari segala bentuk kesusahan dan kebingungan

23. Malam ke 23
وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
Pada malam yang ke 23, ALLOH akan membangunkan kota didalam surga bagi yang tarawih

24. Malam ke 24
وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربع وعشرون دعوة مستجابة
Pada malam yang ke 24, orang yang tarawih akan memperoleh 24 doa yang mustajab/manjur

25. Malam ke 25
وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
Pada malam yang ke 25, ALLOH akan menghilangkan siksa kubur dari orang yang tarawih

26. Malam ke 26.
وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ ثَوَابَهُ اَرْبَعِيْنَ عَامًا.
Pada malam yang ke 26, ALLOH meningkatkan baginya pahala selama empat puluh tahun.

27. Malam ke 27
وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ جَازَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ كَاْلبَرْقِ اْلخَاظِفِ.
Pada malam yang ke 27, di hari qiyamat dia melewati jembatan (syirathal mustaqiim) dengan mudah lagi cepat laksana halilintar menyambar.

28. Malam ke 28 وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ اَلْفَ دَرَجَةٍ فِى اْلجَنَّةِ.
Pada malam yang ke 28, ALLOH mengangkat seribu derajat baginya didalam surga.

29. Malam ke 29 وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ أَعْطَاهُ اللهُ ثَوَابَ اَلْفِ حِجَّةٍ مَقْبُوْلَةٍ.
Pada malam yang ke 29, ALLOH memberikan kepadanya pahala seribu ibadah haji yang diterima.

30. Malam ke 30 وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّلاَثِيْنَ يَقُوْلُ اللهُ " يَاعَبْدِى كُلْ مِنْ ثِمَارِ اْلجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ اْلكَوْثَرِ مِنَ اْلكَوْثَرِ اَنَارَبُّكَ وَاَنْتَ عَبْدِى.
Pada malam yang ke 30, ALLOH berfirman :”makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, aku adalah Tuhanmu dan Engkau adalah hambaku”.

Sumber: Kitab Durrotun Nashihin.

Materi Khutbah JumatPERSIAPAN SAHABAT NABI MENYAMBUT RAMADHAN Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.Iالْحَمْدُ للهِ الذِي ...
08/04/2021

Materi Khutbah Jumat

PERSIAPAN SAHABAT NABI MENYAMBUT RAMADHAN
Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

الْحَمْدُ للهِ الذِي فَاضَلَ بَيْنَ الأَزْمَانِ، وَجَعَلَ سَيَّدَ الشُّهُورِ رَمَضَانَ، وَوَفَّقَ لاغْتِنَامِهِ أَهْلَ الطَّاعَةِ وَالإِيمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala yang telah menetapkan masa bagi hamba-Nya untuk melakukan rangkaian ketaatan. Dan segala puji bagi-Nya yang telah menjadikan masa terbaik tersebut adalah bulan Ramadhan.

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.

Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar ketakwaan, dalam arti kita selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Kita telah memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi bulan Ramadhan hadir menyapa.

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah proyek amal besar dan safar yang melelahkan bagi kaum muslimin yang menjalaninya.

Betapa tidak, di dalamnya ada anugerah ampunan bagi siapa yang menjalaninya dengan dasar keimanan dan rasa harap akan pahala-Nya.

Betapa tidak, di dalamnya ada serangkaian ibadah yang membutuhkan curahan tenaga, waktu dan pikiran.

Imam an-Nasa’i meriwayatkan sebuah hadits shahih. Hadits nomor 2106. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، ‌مَنْ ‌حُرِمَ ‌خَيْرَهَا ‌فَقَدْ ‌حُرِمَ

“Ramadhan telah datang kepada kalian, ia adalah bulan berkah, Allah ‘azza wajalla telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Di bulan itu, pintu langit dibuka, dan pintu neraka Jahim ditutup, setan pembangkang dibelenggu. Demi Allah, di bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (HR. An-Nasa’i No. 2106)

Dengan demikian, maka seorang muslim yang berakal tentunya akan melakukan persiapan maksimal dan optimal sebelum memasuki bulan penuh ampunan itu.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Bada-i’ al-Fawaid juz 3 halaman 180 menyampaikan sebuah pesan yang sangat menyentuh.

Beliau berpesan, waspadalah terhadap dua perilaku yang akan berakibat buruk.

Pertama, Menolak kebenaran karena menurutmu tidak sesuai dengan hawa nafsumu.

Kedua, Meremehkan suatu amalan ketika telah tiba waktu pelaksanaannnya.

Mari kita renungi pesan Ibnu Qayyim al-Jauziyah tersebut.

Apakah kita termasuk orang yang menolak kebenaran kemuliaan bulan Ramadhan karena kita lebih s**a menuruti hawa nafsu kita, sehingga kita sama sekali tidak menghiraukan peluang besar ini?

Apakah kita termasuk orang yang meremehkan kemuliaan bulan Ramadhan sehingga bagi kita bulan Ramadhan itu biasa saja tak beda dengan bulan-bulan lainnya?

Betapa meruginya kita jika sampai meremehkan kemuliaan bulan Ramadhan.

5 Potret Persiapan Sahabat Nabi Menyambut Ramadhan

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Mari sejenak kita melihat potret bagaimana dahulu para sahabat nabi menyambut Ramadhan bulan suci penuh ampunan ini.

Kenapa harus melihat para sahabat nabi?

Karena para sahabat nabi adalah orang-orang yang paling sempurna iman dan pemahamannya terhadap Islam setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.

Apa saja yang dipersiapkan oleh para sahabat Nabi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan?

Pertama: Memperbanyak Doa

Kekhawatiran seorang muslim yang paling besar terkait amalannya adalah kekhawatiran ketika Allah tidak menerima amalannnya.

Salah satu cara untuk mengobati kekhawatiran itu tentunya adalah dengan memperbagus pelaksanaan amalannya, mulai dari niat hingga amalan berakhir.

Di luar rangkaian pelaksanaan amalan tersebut, ada satu hal lagi yang perlu dilakukan untuk memosisikan agar amalan itu dilihat oleh Allah sebagai sebuah ibadah yang layak dibalas dengan pahala.

Apa itu? Doa.

Sesuai dengan kedudukannya yang begitu mulia dan agung, para sahabat Nabi menyambut Ramadhan dengan penuh kehati-hatian. Dengan satu tujuan: agar amalan mereka selama bulan Ramadhan benar-benar diterima oleh Allah sebagai rangkaian amalan yang berpahala.

Bahkan, karena begitu hati-hatinya, mereka menyambut datangnya bulan Ramadhan jauh-jauh hari sebelum ia tiba.

Tidak cukup sampai di situ, demi menjaga kualitas rangkaian amal ibadah di bulan Ramadhan yang telah mereka lakukan, para sahabat menyelimuti berlalunya bulan mulia tersebut juga dengan doa.

Tak tanggung-tanggung, mereka berdoa selama enam bulan lamanya demi memohon agar amal ibadah mereka di bulan Ramadhan diterima Allah.

Mu’alla bin al-Fadhl mengatakan,

كَانُوا ‌يَدْعُونَ ‌الله ‌سِتَّةَ ‌أَشْهُرِ ‌أَنْ ‌يُبَلِّغَهُمْ ‌رَمَضَانُ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ.

“Sejak enam bulan sebelumnya, para salaf berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan. Demikian p**a, selama enam bulan setelah Ramadhan berlalu, mereka juga berdoa agar ibadah Ramadhan diterima Allah.” (Mawarid adz-Dzam’an li ad-Durus az-Zaman, Abdul Aziz as-Salman, 1/338)

Salah seorang ulama salaf, Yahya bin Abi Katsir, selalu melangitkan doa ini menjelang Ramadhan tiba,

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إلى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانُ وَتَسَلَّمْهُ مِنّي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sampaikanlah aku pada bulan Ramadhan, dan sampaikanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalanku pada bulan itu.” (Mawarid adz-Dzam’an li ad-Durus az-Zaman, Abdul Aziz as-Salman, 1/338)

Kedua: Mengekspresikan Kebahagiaan

Jika kita ingin mengetahui ilustrasi semburat bahagia wajah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bacalah penjelasan para ulama tentang kondisi para sahabat ketika Ramadhan telah dekat. Renungilah betapa bahagianya para sahabat nabi menyambut Ramadhan.

Para sahabat nabi adalah orang-orang yang paling memahami bahwa Ramadhan adalah bulan kebaikan. Bulan ketika Allah subhanahu wata’ala membuka pintu Jannah selebar-lebarnya, dan menutup pintu neraka serapat-rapatnya.

Setan-setan dibelenggu, peluang maksiat dipersempit, dan pahala dilipatkandakan. Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran, bulan tilawah.

Sinar kebahagiaan mereka adalah pancaran iman terhadap firman Allah subhanahu wata’ala,

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Ketiga: Menyelesaikan Tanggungan Puasa Ramadhan Sebelumnya

Para sahabat Nabi berusaha semaksimal mungkin dalam menyambut Ramadhan. Seluruh beban yang dapat mengganggu suasana khidmat ibadah di bulan Ramadhan, mereka upayakan penyelesaiannya sebelum memasuki bulan tersebut.

Salah satu perkara yang mereka selesaikan sebelum Ramadhan tiba adalah qadha’ puasa Ramadhan tahun sebelumnya yang sempat tertunda karena uzur syar’i seperti safar, sakit, haidh, nifas, dan uzur syar’i semisalnnya.

Adalah ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha yang hanya memiliki kesempatan untuk qadha’ puasa Ramadhan tahun sebelumnya di bulan sya’ban.

Beliau berkata,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا ‌أَسْتَطِيعُ ‌أَنْ ‌أَقْضِيَهُ ‌إِلَّا ‌فِي ‌شَعْبَانَ، الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku masih punya hutang puasa Ramadlan. Tetapi aku belum membayarnya sehingga tiba bulan Sya’ban, barulah kubayar, berhubungan dengan kesibukanku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim No. 1146)

Keempat: Memperbanyak Puasa Sunnah

Semangat para sahabat nabi menyambut Ramadhan juga dapat kita temukan semangat mereka dalam melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Semangat mereka ini tidak lepas dari peneladanan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan perihal semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا ‌رَأَيْتُهُ ‌أَكْثَرَ ‌صِيَامًا ‌مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnah) kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari No. 1969)

Kelima: Memperbanyak Tilawah Al-Quran

Selayak hati manusia yang perlu terus disiram agar tidak kering dan tandus, para sahabat nabi pun menyambut Ramadhan dengan terus menjaga hati mereka agar tidak tandus. Sebab, tandusnya hati tidak akan mampu menumbuhkan benih yang disemai.

Oleh karena itu, menjaga hati agar terus subur menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar benih-benih iman yang disemai di atasnya dapat tumbuh subur hingga berbuah lebat.

Salah satu amalan yang dikerjakan oleh para sahabat untuk menjaga supaya hati mereka terus subur sebelum memasuki bulan Ramadhan adalah dengan memperbanyak tilawah al-Quran.

Sebagaimana kabar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ إِذَا ‌دَخَلَ ‌شَعْبَانَ ‌انْكَبُّوْا ‌عَلَى ‌الْمَصَاحِفِ فَقَرَؤَهَا

“Dahulu, ketika kaum muslimin telah memasuki bulan Sya’ban, mereka menyibukkan diri dengan mushaf al-Quran untuk membacanya.” (Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali, 153)

Karena begitu sibuknya para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berinteraksi dengan al-Quran, sampai-sampai salah seorang sahabat yang bernama Habib bin Abi Tsabit berujar, “Hadza Syahrul Qurra’; Ini adalah bulan para pembaca al-Quran.” (Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali, 135)

Selain itu, di bulan Sya’ban kaum muslimin pada saat itu juga berbondong-bondong menghitung lalu mengeluarkan zakat mal dari harta masing-masing. Sebagai bentuk rasa persaudaraan saling peduli terhadap kaum fakir supaya mereka bisa sama-sama menjalani bulan Ramadhan dengan kecukupan rezeki.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat yang dapat kami sampaikan pada siang hari yang mulia ini.

Semoga pengetahuan tentang bagaimana persiapan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyambut Ramadhan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam memuliakan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba.

Semoga Allah subhanahu wata’ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan di tahun ini dalam kondisi sehat, kuat iman, kuat fisik, dan kecukupan rezeki. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sumber: dakwah. id

Address

Desa Batu Belah Kabupaten Kampar Provinsi
Bangkinang
28461

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid Baitus-Salam Desa Batu Belah Bangkinang Riau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Masjid Baitus-Salam Desa Batu Belah Bangkinang Riau:

Share