06/03/2025
SHAUM DAN TIGA TAHAP DITURUNKANNYA QURAN
(Tulisan keempat Bulan Ramadhan)
1. Sahabat Mang Geo ketahuilah bahwa Tujuan dari Ibadah Shaum adalah agar orang beriman menjadi Taqwa.
2. Pada tulisan pertama Mang Geo, menulis tentang taqwa, silahkan sahabat baca terlebih dahulu, kemudian ketahuilah bahwa salah satu sifat orang bertaqwa itu menjadikan al-Quran sebagai “harga mati” atau menjadikan Quran sebagai “Hudan”.
3. Dalam tulisan ini Mang Geo akan memfokuskan pada proses turunnya Al-Quran secara bertahap, dari diturunkannya ke alam yang batin hingga alam yang dzahir.
4. Ketahuilah sahabat Mang Geo, yang dimaksud Quran itu turun bukan seperti turun hujan yang langsung jatuh ke bumi, melainkan “turun” disini adalah di “tajaliyyahkan” dari tiga alam. Yaitu Alam Lauful Mahfudz, Alam Baytul Izzah dan Alam Dunia.
5. Alam lauful mahfudz adalah alam dimana ruh-ruh berada, Alam Baytul Izzah adalah alam imajinasi (alam barzakh), dan alam dunia adalah alam fisik yang terindra. Berikut Penjelasannya:
6. Tahap Pertama, turunnya Al-Qur’an, diturunkan ke Lauhul Mahfudz secara keseluruhan. Dalil pertama ini sahabat Mang Geo dapat dilihat dalam QS. Al-Buruj ayat 21-22 sebagai berikut:
بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ (٢١) فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۢ (٢٢)
Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh (QS Al-Buruj [85]: 21-22).
7. Para mufassir sepakat, bahwa ayat ini menjelaskan turunnya Al-Qur’an di Lauhul Mahfudz.
8. Tahap kedua, merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan malam lailatul qadar. Dalil yang menjadi landasan untuk fase ini adalah firman Allah swt berikut:
9. شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al-Baqarah [2]: 185).
10. Ayat Al-Qur’an di atas juga diperkuat hadits berikut:
11. فُصِلَ القُرْآنُ مِنَ الذِّكْرِ أي: اللّوح المحفوظ، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ العِزَّةِ مِنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَجَعَلَ جِبْرِيلُ عليه السّلام يَنْزِلُ بِهِ عَلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم
Artinya: Al-Qur’an dipisahkan dari ad-Dzikr (Lauhul Mahfudz) lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menyampaikannya kepada Nabi saw (HR Hakim dalam al-Mustadrak).
12. Para mufasir, seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di, dan pakar tafsir lainnya, sepakat bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah.
13. Tahap ketiga, ini merupakan fase terakhir dari turunnya Al-Qur’an. Pada tahap ini, Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Ayat-ayat yang turun berangsur sesuai dengan konteks peristiwa saat itu.
14. Dalil yang menjadi dasar fase ketiga ini adalah firman Allah swt berikut: نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ (193) عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيّٖ مُّبِينٖ (195) Artinya: Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas (QS As-Syu’ara [26]: 193-195).
15. Sebenarnya, dari Lauhul Mahfudz Jibril menerima Al-Qur’an dari malaikat penjaga secara berkala selama dua puluh malam. Lalu Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw berangsur selama dua puluh tahun. Ada yang mengatakan lebih dari itu. Sebenarnya bukan Al-Qur’an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Tetapi juga kitab-kitab umat terdahulu diturunkan pada bulan suci ini.
16. Rasulullah saw bersabda:
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ.
Artinya: Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal delapan belas Ramadhan. Dan Al Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan. Ibnu Katsir juga menjelaskan: Allah swt mengistimewakan bulan puasa dari bulan-bulan lainnya, dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Pada bulan ini, Allah juga menurunkan kitab-kitab yang lain pada para nabi-Nya (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, halaman 215). Melalui hadits di atas dan diperkuat pernyataan Ibnu Katsir, kita bisa mengambil poin penting. Allah memuliakan bulan Ramadhan bukan saja dengan diturunkannya Al-Qur’an, tetapi juga semua kitab-kitab umat terdahulu. Hanya saja, jika kitab-kitab yang lain diturunkan sekaligus kepada para nabi, Al-Qur’an tidak demikian. Tetapi melalui berbagai tahap dan juga berangsur sesuai konteks tertentu. Mengenai diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan,
Allah swt berfirman:
رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ شَهۡرُ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al-Baqarah [2]: 185).
17. Terkait ayat di atas, para mufassir (ulama pakar tafsir) sepakat bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, tepatnya pada malam lailatul qadar.
18. Pada malam itu, Al-Qur’an diturunkan secara utuh (30 juz) dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah. Lauhul Mahfudz merupakan kitab tempat Allah mencatat segala peristiwa yang terjadi di alam semesta. Dari peristiwa terkecil sampai terbesar, yang akan dan telah terjadi, semuanya tercatat di kitab catatan itu. Termasuk setiap daun yang jatuh di bumi ini, tidak pernah terlewat dari sistem input kitab catatan itu (Tafsir at-Thabari, juz 5, halaman. 211).
19. Sementara Baitul ‘Izzah sendiri merupakan rumah yang berada di langit dunia. Syekh Az-Zarqani (w. 1948 M) dalam kitab Manahil al-‘Irfan menjelaskan, bahwa Baitul ‘Izzah merupakan berita ghaib (di luar logika), yang hanya bisa diketahui melalui Nabi Muhammad saw sebagai orang yang ma’shum (terjaga dari perbuatan maksiat)
20. Setelah itu Jibril berangsur menurunkan Al-Qur’an padanya (Nabi Muhammad saw) selama waktu tertentu, sampai selesai Al-Qur’an diturunkan. Turunnya selama beberapa tahun, lebih dari 20 tahun lamanya. Demikian tiga tahap atau fase turunnya Al-Qur’an yang perlu kita ketahui.
21. Dengan demikian sahabat Mang Geo ketahuilah bahwa turunnya Al-Quran itu melalui tiga tahap. Tahap Alam ruh, tahap alam barzakh dan tahap alam indrawi. Dengan demikian al-Quran sesungguhnya menyentuh dimensi batin dan dimensi dzahir.
22. Namun haruslah diketahui bahwa sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar mu’jizat yang nyata, dan tidak ada keraguan padanya.
23. Maka Al-Quran ini sangat menghujam baik kedalam maupun keluar. Ke dalam yaitu ke dalam alam ruh, ke dalam nafsiyah, ke dalam qalbu, dimana kita akan bertemu dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyehatan ruh, perbaikan nafsiyah dan perbaikan qalbu. Juga Al-Quran juga menghujam ke dunia luar, yaitu pada kehidupan pribadi, sosial, maupun alam semesta.
24. Tidak ada satupun isu yang penting yang terlewat oleh Al-Quran. Karena Al-Quran diturunkan oleh Allah Sang Maha Mengetahui, maka tidak akan satu masalahpun di dunia ini, yang tidak terjawab oleh Al-Quran. Maka jadikanlah al-Quran sebagai pedoman.
25. Sebagaimana dalam QS. Albaqarah ayat 2 bahwa tidak ada keraguan padanya (Al-Quran) dan Al-Quran merupakan hudan (pedoman) bagi orang-orang yang muttaqin.
26. Pedoman Al-Qur’an haruslah menjadi pedoman dari segala pedoman. Karena Al-Quran merupakan firman Allah yang pasti benarnya, dan jika dijadikan pijakan, maka akan panceg, dan tidak akan mungkin mendzalimi manusia bahkan alam semesta. Maka sebaliknya, jika al-Quran tidak dijadikan pedoman, maka akan hancurlah dunia, sebab manusia-quran-dan bumi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
27. Maka Pada Saat Shaum ramadhan ini, hendaklah kecintaan kita kepada Al-Quran ini bertambah. Bukan sekedar dibaca, dihafalkan, namun apapun yang difirmankan Allah melalui Quran haruslah diwujudkan dalam kehidupan dimuka bumi sekemampuan kita semua.
28. Maka Ketaqwaan seseorang sesungguhnya terletak pada sejauhmana seseorang dapat mengimplementasikan Quran baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Dan yang menjadi pembeda (furqan) bagi orang-orang yang muttaqin (bertaqwa) dengan orang yang tidak bertaqwa terletak pada “apakah Al-Quran ini dijadikan “pedoman harga mati” dalam hidup, atau hanya sekedar bacaan saja, yang maknanya hanya terbatas segitu saja.
29. Maka dari sekarang, bacalah Al-Quran, hafalkan dan amalkan dalam kehidupan. Baik dalam dimensi pribadi, keluarga maupun masyarakat. Maka insyaa Allah kebahagiaan dunia dan akherat akan terwujud.
30. Jadi kalau shaum ramadhan, sahabat Mang Geo tidak merasa mencinta, tertarik, bahkan tidak ada rasa semangat untuk mewujudkan al-Quran dalam kehidupan, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya orang tersebut masih jauh dengan karakter orang yang bertaqwa, bahkan kalaupun dia shaum, bisa jadi hanyalah sekedar menahan lapar dan haus belaka.
31. Maka semoga dengan shaum ini rasa keimanan kita kepada Al-Quran semakin bertambah dan semakin meningkat ghairah untuk menegakannya baik dalam batiniyah kita maupun dalam alam indrawi kita seperti dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
32. Salam-Mang Geo.