18/01/2023
kepentingan khusus bangsa Jawa sudah dibiarkan memperkosa kepentingan umum bangsa-bangsa Dunia Melayu di luar pulau Jawa!
Satu bukti yang lain tentang tidak adanya "nasionalisme indonesia" yang sebenar-benarnya, sudah nyata dimasa masih ada partai-partai politik yang sesungguhnya, sebelum munculnya negara serdadu Jawa, sebagaimana sekarang ini. Pemilihan umum yang agak bebas, terakhir pernah dilakukan di "indonesia" pada tahun-tahun 1955 dan 1957. Hasil dari pada kedua pemilihan umum tersebur, walaupun ada dua tahun berselang, menunjukkan bahwa PNI (Partai "Nasionalis" Indonesia) memperoleh suara yang terbanyak sekali, tetapi hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni di tanah air bangsa Jawa sendiri. Partai ini mendapat suara yang sedikit sekali di luar pulau-pulau Jawa, suara yang sedikit itupun, berasal dari bangsa Jawa yang sudah berpindah ke sana sebagai immigrant (tetapi disebut "transmigrants" untuk menunjukkan ada "hak" bangsa Jawa atas tanah bangsa-bangsa lain di luar Jawa). Kebalikan dari PNI, Masjumi (partai umat Islam), yang dipimpin oleh orang-orang luar Jawa, hanya mendapat suara sedikit di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi sebaliknya mendapat suara yang banyak sekali di luar Jawa dan di seluruh "indonesia". Hal ini menunjukkan bahwa Masyumilah satu partai yang bersifat nasional, njakni diterima oleh seluruh negara, sedang PNI masih bersifat partai setempat, lokal dan hanya diterima di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini menunjukkan adanya pengaruh Islam dikalangan segala bangsa yang ada di Kepulauan Melayu, dan tidak adanya pengaruh "nasionalisme indonesia" di luar wilayah bangsa Jawa.
Nasionalisme Jawa dan Imperialisme Jawa
Tersembunyi dibelakang layar, "nasionalisme indonesia" yang mustahil tersebut, telah diambil kesempatan untuk menghidupkan nasionalisme Jawa yang sesungguhnya. Walaupun "nasionalisme indonesia" hanya nama dan propaganda saja, tetapi telah dipakai sebagai tabir atau topeng untuk menyembunyikan kegiatan bangsa Jawa, untuk merebut kekuasaan negara dan memajukan kepentingan setempat (lokal) mereka, sebagai kepentingan nasional, menempatkan kepentingan daerah mereka di atas kepentingan semua daerah lain di seluruh "indonesia". Dan karena mereka yang memegang monopoli hubungan luar-negeri di Kepulauan Melayu ini, - karena kemunduran bangsa-bangsa lain, - maka mereka sudah dapat mengadakan hubungan dengan negara-negara asing dan mengatur kepentingan negara-negara asing itu di pulau-pulau luar Jawa (dengan menjual murah sumber-sumber kekayaan alam kepada kaum kapitalis Barat), asal bangsa-bangsa Barat mengakui pertuanan Jawa atas pulau-pulau "seberang". Sesudah 20 tahun bergerak dibalik tabir "nasionalisme indonesia" tersebut, akhirnya pada tahun 1965, nasionalisme Jawa yang sudah memegang semua tampuk kekuasaan "indonesia", dengan tidak malu-malu dan tidak sembunyi-sembunyi lagi mereka menggunakan kekuasaannya mendirikan Negara Serdadu Jawa, yang sekarang hanya tinggal namanya saja "indonesia", tetapi segala kekuasaan sudah berada ditangan bangsa Jawa. Sebagai biasa dalam sejarah, tiap-tiap nasionalisme yang sudah merasa dirinya kuat dengan sendirinya maju setapak demi setapak menjadi imperialisme!
𝐓𝐞𝐧𝐠𝐤𝐮 𝐓𝐣𝐡𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐓𝐢𝐫𝐨 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝
———————————————-
Kanto Atjèh Meurdèhka
Sweden Stockholm
Biro Atjèh Meurdèhka
Web. : https://freeacheh.org
E-mail : [email protected]
Email : [email protected]
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuah, Pertanyaan kepada political asylum dari aktivis GAM di europa Apakah pihak GAM di Eropa masih memperjuangkan pemisahan kekuasaan dari negara RI? Dalam …