25/04/2021
4 Orang yang Wajib Bayar Fidyah
Dalil yang menjadi dasar kewajiban membayar fidyah bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadan adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 184 berikut:
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
Namun demikian, tidak semua orang yang meninggalkan puasa Ramadan harus membayar fidyah. Menurut para ulama, hanya empat golongan orang yang wajib membayar fidyah.
Pertama, orang yang tidak mampu berpuasa baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Ini misalnya, orang yang sudah lanjut usia dan orang sakit yang tidak ada harapan sembuh. Mereka berdua tidak wajib puasa Ramadan dan juga tidak wajib mengqadhanya, melainkan hanya wajib membayar fidyah setiap hari satu mud makanan pokok kepada fakir miskin.
Kedua, orang yang mati dan masih memiliki tanggungan qadha puasa Ramadan.
Ketiga, orang hamil atau menyusui yang tidak puasa di bulan Ramadan karena khawatir terhadap kandungan atau bayinya. Selain wajib mengganti puasa yang ditinggalkan, juga wajib membayar fidyah setiap hari satu mud makanan pokok kepad fakir miskin.
Keempat, orang yang tidak kunjung mengqadha puasanya sampai puasa Ramadan berikutnya tiba. Selain tetap wajib mengganti puasa yang ditinggalkan, juga wajib membayar fidyah setiap hari satu mud makanan pokok kepada fakir miskin.
Ini sebagaimana disebutkan dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah berikut:
Siapa yang wajib membayar fidyah puasa?
Fidyah wajib bagi orang yang tidak mampu berpuasa, baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Seperti orang yang tua renta, perempuan lanjut usia, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya. Fidyah juga wajib diambil dari harta peninggalan orang yang meninggal jika dia memiliki tanggungan puasa wajib. Fidyah wajib bagi perempuan yang hamil dan menyusui, jika keduanya tidak berpuasa karena khawatir terhadap kandungan atau anaknya. Juga fidyah wajib bagi orang yang mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga Ramadan berikutnya datang, dan tidak ada uzur syar’i dalam pengakhiran tersebut.