18/03/2026
Versi bahasa Indonesia di bawah.
Many people in the West have been conditioned to see Muslim prayer through a lens of fear, suspicion, or political propaganda. A Muslim praying five times a day is too often portrayed by media and political rhetoric as something radical, threatening, or extreme. That portrayal is deeply unfair.
I am not Muslim. I am Buddhist. But I have spent many years reading and learning about different religions, and what I see in Islamic prayer is not hatred. I see discipline, devotion, humility, surrender to God, and a repeated call toward peace, compassion, and moral responsibility.
Far too often, even common Islamic expressions are twisted and weaponised by people who want to create division. Words and practices that are sacred to over a billion people are too often presented as symbols of danger, when in reality they are part of a faith tradition centered on reverence, community, mercy, and accountability.
We should stop allowing ignorance, fear, and political agendas to define how we see Muslims. We should judge people by their character, their actions, and their humanity, not by distorted stereotypes repeated so often that people mistake them for truth.
The more I learn about the world’s religions, the more convinced I become that ordinary people of faith, including Muslims, are not the enemy. The real enemy is deliberate ignorance, dehumanisation, and the constant manufacturing of fear.
___________________________
Banyak orang di Barat telah dikondisikan untuk melihat salat Muslim melalui lensa ketakutan, kecurigaan, atau propaganda politik. Seorang Muslim yang salat lima kali sehari terlalu sering digambarkan oleh media dan retorika politik sebagai sesuatu yang radikal, mengancam, atau ekstrem. Gambaran itu sangat tidak adil.
Saya bukan Muslim. Saya seorang Buddha. Tetapi saya telah menghabiskan bertahun-tahun membaca dan mempelajari berbagai agama, dan apa yang saya lihat dalam salat Islam bukanlah kebencian. Saya melihat disiplin, pengabdian, kerendahan hati, penyerahan diri kepada Tuhan, dan seruan berulang menuju perdamaian, kasih sayang, dan tanggung jawab moral.
Terlalu sering, bahkan ungkapan Islam yang umum pun diputarbalikkan dan dijadikan senjata oleh orang-orang yang ingin menciptakan perpecahan. Kata-kata dan praktik yang sakral bagi lebih dari satu miliar orang terlalu sering disajikan sebagai simbol bahaya, padahal sebenarnya itu adalah bagian dari tradisi iman yang berpusat pada penghormatan, komunitas, rahmat, dan pertanggungjawaban.
Kita harus berhenti membiarkan ketidaktahuan, ketakutan, dan agenda politik menentukan bagaimana kita memandang Muslim. Kita harus menilai orang berdasarkan karakter, tindakan, dan kemanusiaan mereka, bukan berdasarkan stereotip yang menyimpang yang diulang begitu sering sehingga orang salah mengira stereotip tersebut sebagai kebenaran.
Semakin banyak saya belajar tentang agama-agama di dunia, semakin yakin saya bahwa orang-orang beriman biasa, termasuk Muslim, bukanlah musuh. Musuh sebenarnya adalah ketidaktahuan yang disengaja, dehumanisasi, dan terus-menerus menciptakan rasa takut.