28/04/2020
Senin,27 April 2020 M/5 Ramadhan 1441 H
KITAB : DURROTUN NASIHIN
MAJLIS KE 10 : FADHILAH TAUBAT
HALAMAN. : 36
ABAH
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
(Ali Imran 3:135) : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
_________________________________________________
_______________________________
Dikatakan; Ayat ini turun menerangkan tentang seorang penjual kurma, suatu ketika datanglah seorang wanita yang hendak membeli kurma darinya, lalu penjual kurma memasukkan wanita itu kedalam tokonya dan menciumnya, tidak lama kemudian penjual kurma menyesali perbuatannya itu. Lalu pengertian ayat ini menjadi umum bagi setiap orang yang melakukan dosa dan bertaubat dari dosa yang dilakukan baik dosa besar seprti zina atau lainnya dan ini merupakan syarat taubat yang diterima.(Kasysyaf).
Firman Allah “لِذُنُوبِهِمْ “ maksudnya; Karena dosa mereka, lalu mereka bertaubat dan berhenti darinya serta bermaksud dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya kembali.(Tafsir Khazin).
Firman Allah “وَهُمْ يَعْلَمُونَ “, Ibnu ‘Abbas berkata; Mereka mengetahui bahwa perbuatannya itu adala ma’shiyat. Dikatakan; Mereka mengetahui bahwa berbuat dosa terus menerus itu membahayakan. Dikatakan; Mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala bershifat mengampuni dosa dan mengetahui bahwa mereka memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa mereka. Dikatakan; Mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak meresa Agung diri untuk mengampuni dosa walaupun banyak. Dan dikatakan; Mereka mengetahui bahwa apabila memohon ampun, mereka akan diampuni.(Tafsir Al Lubab).
Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat”.(Al Mashabih). Maksudnya; Taubat orang yang berdosa akan diterima selama ruh belum sampai ditenggorokan, karena ketika sekarat ia menyaksikan apa yang akan dihadapinya, berupa rahmat, sesuatu yang mengerikan atau siksa yang sangat pedih, ketika itu taubat dan imannya tidak bermanf’at karena syarat taubat adalah bermaksud dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan dosa dan tidak mengulanginya kembali, demikian itu hanya akan menjadi nyata apabila orang yang bertaubat masih ada kemungkinan untuk melakukannya, sementara hal itu tidak akan nyata bagi orang yang sekarat karena ia sudah tidak mampu lagi.(Majalis Ar Rumy).
Dari ‘Aly bi Abi Thalib dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Tertulis pada kanan kiri ‘Arsy, empat ribu tahun sebelum Allah Ta’ala menciptakan Nabi Adam ‘alaihishshalatu wassalam; ‘Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan ber’amal shalih’”.(Qs. Thaha 82).(Tanbihul Ghofilin).
Diriwayatkan bahwa malaikat Jibril ‘alaihishshalatu wassalam datang kepada Nabi ‘alaihishshalatu wassalam dan berkata; ‘Wahai Muhmmad, sesungguhnya Allah Ta’ala mengirimkan salam untukmu dan berfirman; ‘Barangsiapa yang bertaubat dari ummatmu setahun sebelum mati, maka taubatnya diterima’’, Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Wahai Jibril, satu tahun bagi ummatku adalah waktu yang sangat lama karena dikalahkan oleh kelalaian dan panjang angan-angan, lalu malaikat Jibril ‘alaihishshalatu wassalam pergi, tidak lama kemudian ia datang kembali dan berkata; ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu bersabda; ‘Barangsiapa yang bertaubat satu bulan sebelum matinya , maka taubatnya diterima’’, Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Wahai Jibril, satu bulan adalah waktu yang lama bagi ummatku, lalu malaikat Jibril ‘alaihishshalatu wassalam pergi, tidak lama kemudian ia datang kembali dan berkata; ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu bersabda; ‘Barangsiapa yang bertaubat satu hari sebelum matinya , maka taubatnya diterima’’, Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Wahai Jibril, satu hari adalah waktu yang lama bagi ummatku, lalu malaikat Jibril ‘alaihishshalatu wassalam pergi, tidak lama kemudian ia datang kembali dan berkata; ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu bersabda; ‘Barangsiapa yang bertaubat satu jam sebelum matinya , maka taubatnya diterima’’, Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Wahai Jibril, satu jam adalah waktu yang lama bagi ummatku, lalu malaikat Jibril ‘alaihishshalatu wassalam pergi, tidak lama kemudian ia datang kembali dan berkata; ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Ta’ala mengirimkan salam untukmu an berfirman; ‘Barangsiapa yang menghabiskan semua usianya dalam kema’shiyatan dan ia tidak kembali kepada-Ku satu tahun, satu bulan, satu hari atau satu jam sebelum matinya hingga ruh sampai ditenggorokan dan tidak memungkinkan baginya untuk berkata dan memberi alasan, dan ia hanya bisa menyesal dalam hatinya, maka Aku benar-benar mengampuninya’.(Zubdatul Wa’idzin).
Dari ‘Umar bin Khatthab ia berkata; Aku bersama Nabi ‘alaihishshalatu wassalam mendatangi salah seorang shahabat anshar, semtara ia dalam keadaan naza’ (menghadapi kematian), lalu Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Bertaubatlah kepada Allah”, namun ia tidak mampu melakukannya dengan lisan, ia hanya bisa menggerakkan kedua matanya kelangit, lantas Nabi ‘alaihishshalatu wassalam tersenyum. Aku bertanya; Wahai Rasulallah, apakah yang membuatmu tersenyum? Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; Sesungguhnya orang yang sakit ini tidak mampu bertaubat dengan lisannya, ia hanya berisyarah dengan kedua matanya dan menyesal dalam hatinya, lalu Allah Ta’ala berfirman; ‘Wahai malaikat- ku, sesungguhnya hamba-Ku tidak mampu bertaubat dengan lisannya, ia hanya menyesal dalam hatinya, maka Aku tidak akan menyia-nyiakan taubat dan penyesalan dalam hatinya, saksikanlah bahwa Aku benar-benar telah mengampuninya’.(Durratul Majalis).
Allah Ta’ala berfirman dalam surat An Nur; “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Qs. An Nur31).
Sebagian ahli hikmah berkata; taubat seseorang dapat diketahui dengan empat perkara;
1. Mencegah lisannya dari pembicaraan yang berlebihan, menggunjing, adu domba dan berbohong.
2. Dalam hatinya tidak ada dengki dan permusuhan terhadap salah seorang manusia.
3. Meninggalkan teman-teman yang jelek dan tidak menemani salah seorangpun dari mereka.
4. Mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan menyesal dan memohon ampun atas dosa-dosanya yang telah lalu serta bersungguh-sungguh didalam berbakti kepada Tuhannya.