24/10/2020
Bibit Banjir Nangka
TIDAK ada yang bisa aku berikan untuk membantu korban banjir bandang yang meluluhlantakkan Desa Air Keruh Ulu Talo serta desa-desa di Semidang Alas (SA) dan Semidang Alas Maras (SAM) 5-6 Oktober 2020.
"Ini Pak Kades, bibit nangko pertanian untuk adiak sanak dusun laman," kata ku kepada Kepala Desa Air Keruh, Midi Harjo di sebelah surau samping rumahnya, jelang magrib Kamis 22/10/2020.
"Tulung tanamkah!," pesanku p**a.
"Untuk kenang-kenangan. Sebatang-sebatang adiak sanak nanamo, kini banjir, semoga nanti dusun pacak banjir nangko," lanjutku. Kades dan sejumlah warga seketika tertawa-tawa.
Sudah 19 hari berlalu, aku cuma berkesempatan menuntun mahasiswa dari oraganisasi pada perguruan tinggi Muhammadiyah membawa bantuan bibit tanaman produktif, pasca bencana. Ada barang bantuan lain dibawakan adik-adik mahasiswa.
Melewati jalan terjal, kondisi infrastruktur hancur, mahasiswa hebat-hebat aku supiri. Mereka Wahid, Yusuf, Susan, Hengki dan Ransyia.
Dari atas mobil, diantara mereka belum pernah membayangkan masih ada pemukiman puluhan ribu penduduk terisolir seperti Ulu Talo.
Hampir tengah malam bisa tiba lagi di Tais, pusat Kabupaten Seluma. Tersebab, perjalanan p**ang terhambat iring-iringan kendaraan besar dan kendaraan kecil, semua terpater pada tebing-tebing licin dan berlumpur.
Sayup cahaya beradu satu sama lain lampu-lampu pos penjagaan hamparan kebun sawit milik konglomerat. Suasana malam mengiring perjalanan p**ang di tengah kegelapan.
Di kanan: hutan lindung, bersebelahan lahan kebun milik orang-orang kaya Jakarta itu. Sama sekali tidak ada suara harimau mengaum. Berkali mobil berharga setengah miliar melintas patroli swasta.
**
Peristiwa banjir lalu ini, aku juga korbannya, walau tidak secara langsung. Panen padi sebidang sawah bapak dan emak di dusunku Tebat Gunung, habis disapu air bah.
Air mata kesedihan keluargaku pun tumpah, seperti penduduk lain. Tapi, itu musibah, semoga ada hikmah besar di baliknya. Aamiin.