16/10/2022
UJIAN ITU PEMBUKTIAN
(Kita dan Pengakuan Iman)
Jika dirimu mencintai seseorang tentu dirimu akan mengistimewakannya, memberinya kebaikan, kenyamanan, kelembutan, kecukupan dan terhindar dari hal-hal yang bisa menyakiti fisik dan jiwanya. Itulah sifat manusia. Bukan kah demikian ?.
Tak demikian dengan Allah . Jika dirimu menyatakan beriman dan mencintai Nya. Dia akan menguji dirimu sampai ucapan mu akan keimanan dan rasa cinta kepada Nya terbukti sejati, bukan palsu dan hanya pemanis bibir belaka.
Maka jika dirimu mengimani dan mencintai Allah, siapkan dirimu untuk menanggung resikonya p**a, yaitu diuji olehnya hingga terbukti ucapan dirimu.
Hai..apakah dirimu akan mengurungkan rasa iman dan cinta kepada Nya setelah ini..?. Semoga saja tidak !
Sesungguhnya tanpa mengujipun Dia tahu siapa yang bersungguh-sungguh dalam pernyataan iman dan cinta kepada Nya. Dia tahu. Hanya saja ujian diperlukan agar dirimu sendiri mengerti pembuktian ucapan mu.
Allah berfirman :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi?" (Al-'Ankabut: 2).
Ayat ini dimulai dengan istifham (pertanyaa) yang ini menunjukan pada kepastian. Ya...siapa yang mengaku beriman pasti akan diuji pengakuanya itu.
"Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-'Ankabut: 3)
Tak ada yang tidak diuji jika seseorang mengaku dirinya beriman.
Fitnah berasal dari kata fatana yang artinya antara lain "membuktikan". Ungkapan dalam bahasa Arab " Dinar maftun" maknanya adalah uang Dinar yang telah diuji keaslianya yang terbukti asli. Sehingga pemiliknya bisa mengenai bahwa miliknya asli. Maka jika dirimu menyatakan beriman, pernyataanmu akan diuji hingga terbukti pernyataanmu adalah asli.
Dalam hadits dijelaskan :
"Manusia yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang yang terkemuka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; jika agamanya kuat, maka ujiannya diperberat p**a.".
Ujian bisa berupa-rupa, hal yang bisa menyengat rasa atau menghanyutkan dalam buaian. Kadangkala ujian berupa mushibah, yaitu sesuatu yang tidak dirimu inginkan terjadi atas dirimu, sakit, berkurangnya harta, sempitnya rezqi, kesedihan dan kenestapaan hidup.
Bisa p**a ujian berupa kesenangan, kecukupan, kekayaan, kekuasaan hal-hal yang bisa melenakan.
Maka jika dirimu telah mengaku beriman dan mencintai Allah. Senantiasa waspadalah dan dalam kesadaran bahwa waktu-waktu kehidupan kita akan dipenuhi ujian dengan segala bentuknya.
Hingga nabi merasa takjub pada orang yang beriman dengan kesungguhan.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Seorang mu'min yang keimananya sungguh sungguh tak akan goyah oleh ujian sehingga apapun bentuk ujianya menjadi hal baik yang terjadi pada dirinya.
Tak sama dengan iman yang imitasi. Pemiliknya adalah orang yang oportunis. Jika Allah memenuhi apa yang diinginkan dia taat ketika keinginan dirinya tak terpenuhi dia meninggalkan Allah dengan berbagai alasan. Atau sebaliknya ketika dia butuh dia meminta kepada Allah jika dia telah diberi dan hidup menjadi nyaman dia tinggalkan Allah karena tak memiliki hajat lagi kepada Nya. Na'udzubillah.
Semoga iman kita laksana benda yang meskipun ditempa dengan kuat Akhir bentuknya tetap memiliki nilai yang berharga.(IB)