Majelis Al-Husaini Pekanbaru - Riau

  • Home
  • Majelis Al-Husaini Pekanbaru - Riau

Majelis Al-Husaini Pekanbaru - Riau keteguhan hati yang berpegang pada janji

Bantu subscribe nggeh dulur2..
10/01/2026

Bantu subscribe nggeh dulur2..

Bismillahirrahmanirrahim.Video ini menampilkan proses pembersihan ghoib di sebuah tempat usahayang mengalami gangguan tak kasat mata.Dilakukan mediumisasi un...

25/10/2024

Amalan Bakda Sholat Jum'at

Ini saya ijazahkan di baca setiap selesai sholat jum'at, TIDAK BERANJAK DARI TEMPAT DUDUK, jadi selesai salam di baca.

ila khadroti nabiyil mustofa muhammadin saw alfatekhah....(baca fatekhah 1)

ila jami'il ambiya' wal mursalin khususon ila Nabi Sulaiman bin Dawud as, Nabi Balyan bin Malkan as, alfatekhah..(fatekhah 1x)

Tsuma ila jami'il auliya'illah khususon ila syaikh abdul qodir al-jailani ra alfatekhah...(fatekhah 1x)

Tsuma ila jami'il ruhi ahli qubur minal muslimin wal muslimat, wal mu'minin wal mu'minat alfatekhah (baca s. fatekhah 1x)

ila umi wa abi (kalau mereka sudah meninggal, kalau belum meninggal gak usah di baca, atau misal sudah meninggal ibunya saja, ya berarti ila umi saja.) alfatekhah (fatekhah 1x)

1.Baca surat fatekhah 7x
2. Surat ikhlas ( qulhuwallahu ahad sampai selesai ) 7x
3. Surat al-falaq 7x
4. Surat annas 7x
5. Ayat kursi 7x

Kalau di istiqomahkan, nanti km akan di kenal oleh penghuni alam akherat, karena selalu aktif mendoakan mereka, doamu kapan saja, ke siapa saja di akherat akan sampai, sampai umpama bintang yang jatuh, dan jadi rebutan semua orang di akherat.
Baru nanti kamu akan menjadi orang yang punya kedudukan di langit/akherat/alam ruh, karena orang yang punya keoedulian kepada alam akherat/alam langit/alam ruh.

KAMIS, 25 JULI 2024WAKTU BEGITU CEPAT BERLALU, TAK TERASA SUDAH MALAM JUM'AT LAGI, SEMOGA DI SISA USIA KITA INI,DIBERIKA...
25/07/2024

KAMIS, 25 JULI 2024
WAKTU BEGITU CEPAT BERLALU, TAK TERASA SUDAH MALAM JUM'AT LAGI, SEMOGA DI SISA USIA KITA INI,DIBERIKAN BERKAH USIA UNTUK DIPAKAI BERIBADAH KEPADA ALLOH, DI TAMBAH IMAN DAN TAQWANYA KEPADA ALLOH, DI BERIKAN ISTIQOMAH IBADAH DAN AMALIYAHNYA, DI BERIKAN SEHAT WAL'AFIYAT BESERTA SEMUA KELUARGA, DIBERIKAN RIZQI YG HALAL BERKAH BAROKAH, MENJADI ORANG YG SELALU BERUNTUNG DI DUNIA DAN DI AKHIRAT, MENDAPATKAN SYAFAAT BELIAU ROSULULLOH SAW,
SHOLALLAHU ALA MUHAMMAD 🙏😭😍

05/03/2024

Sang Kyai - Scene 3
Medium

Malam itu nyai Bundo, disuruh mandi oleh Kyai, setelah diberi petunjuk-petunjuk, setelah mandi nyai Bundo di tuntun membaca dua kalimah sahadah, dan nyai Bundo pun telah menjadi seorang muslimah, terlihat wajahnya memancarkan kebahagiaan, dan matanya berkaca-kaca karena bahagia.

Malam itu nyai Bundo menemani Kyai menemui para tamu-tamu yang tiada habisnya sampai adzan subuh, nyai Bundo teramat kagum kepada Kyai, yang begitu dengan telaten mendengar keluh kesah para tamu, lalu memberi solusi, berbagai macam keluhan tentang kesempitan hidup, tentang segala macam penyakit.

Kyai dengan sabar melayani, tanpa meminta imbalan apapun, karena memang Kyai tak membutuhkan apa-apa. Aku sangat tau pasti itu, kalau soal rumah mewah, aku sangat tau Kyai punya di mana-mana, yang sering aku diajak menengok rumah mewahnya yang dibiarkan kosong, di Pondok Indah, di Kelapa Gading, di Tangerang, di Parung, semua rumah-rumah yang mewah, juga mobil Kyai punya banyak, sampai akupun tak tau jumlahnya, yang aku tau pasti ada mobil mercedes, karena aku pernah mengecatnya dengan lukisan airbrush, lalu ada mobil land cluser yang dibeli dari uang daun.

Saat itu Kyai mengajar kami tentang kemulyaan ilmu, dan banyaknya ilmu Alloh, sehingga ilmu Alloh teramat banyak sampai jika ilmu Alloh itu digali dari masa nabi Adam as. sampai sekarang maka ilmu itu masih lebih banyak lagi, lalu Kyai juga menyinggung tentang kebersihan hati dari penyakit nafsu, serakah, sombong, egois, iri, dengki, berburuk sangka, tiada bersyukur, menjauhkan sifat-sifat dan budi pekerti yang tercela, apa yang kau lihat, jika orang lain melakukan maka kau tak s**a, maka apabila kau lakukan seperti itu orang lain pun tak s**a.

Itu harus dijauhi, dan jauhkan diri dari memandang sesuatu itu punya kekuatan melebihi kekuatannya Alloh. Upayakanlah di dalam hati yang ada Allah semata. Maka hatimu nanti menginginkan, sebenarnya itu keinginan Alloh. Tiba-tiba Kyai menyuruh para santri mengumpulkan daun kopi sebanyak-banyaknya, kami segera bertebaran mengambil daun kopi, yang pohonnya tumbuh di sekitar pondok, setelah dirasa banyak, kamipun segera kembali ke depan Kyai, kemudian Kyai menyuruh mengikat daun-daun kopi itu degan tali dari gedebong pisang, dijadikan bundelan-bundelan, lalu Kyai menyuruh semua daun disatukan di atas sorban, dan sorban itu diikat, kemudian Kyai mengucap, ”Ini adalah suatu contoh jika engkau menginginkan daun jadi uang, jika hati telah diliputi hanya Alloh, maka daun pun akan jadi uang.”

Kami semua menatap dengan pandangan kurang yakin, bagaimanapun itu pengalaman yang belum pernah kami alami. Lalu Kyai menuding pada bungkusan daun. Dan berkata, “Jadilah uang.”

Lalu Kyai menyuruh kami membuka ikatan sorban itu, dengan hati berdebar-debar kami buka ikatan, dan betapa terkejutnya kami, semua daun kopi yang kami kumpulkan telah menjadi uang semua, masih terikat tali gedebong pisang. Kami semua memandang takjub, termasuk para tamu yang ada, lalu Kyai memanggil salah seorang tamu yang dikenal baik oleh Kyai. Namanya pak Wisnu.

“Pak Wisnu, tolong pak Wisnu bawa pergi uang ini dan saya minta dibelikan mobil landcluser.” kata Kyai. Pak wisnu he eh aja kemudian pergi membawa uang itu. Besoknya datang mobil yang masih kinyis-kinyis sesuai permintaan Kyai.

Pagi itu sebelum matahari keluar dari peraduannya, nyai Bundo telah pergi, sebelumnya mohon diri kepada Kyai, lalu berjalan ke halaman, membentangkan karpetnya, berdiri di atasnya, membaca mantra, tubuh dan karpetnya pun melayang terbang, nenek itu melambai kepada Kyai yang mengantarkan sampai pintu rumah gubugnya. Wajah nenek itu demikian bercahaya penuh kedamaian.

Begitulah di pesantren ini tiap hari ada saja orang yang diIslamkan, penyakit yang disembuhkan, pecandu narkoba yang disadarkan, bromocorah yang ditaubatkan, preman yang disadarkan, dengan kelembutan dan kasih sayang juga kelebihan-kelebihan Kyai.

Matahari pagi bersinar dengar ceria, wajahnya berbinar sumringah seperti merahnya para gadis desa yang mau pergi ke sungai untuk mandi, embun di atas rerumputan bagai permadani manikam, berkilauan bahagia seakan tak takut sebentar lagi sari indahnya akan hilang berbarengan siang yang mulai menggarang.

Nampak beberapa tamu menunggu Kyai menemui ada yang ngobrol, ada juga yang duduk bermalasan. Nampak sebuah sedan BmW hitam dop. Berhenti di tempat parkir, lalu menempatkan ke parkir jauh dari pohon kelapa yang memang mendomisili tumbuhan di sekitar pesantren. Selain kopi pesitan, picung, dan cecek juga ada pohon mlinjo.

Setelah mobil berhenti, keluarlah tiga orang, satu pria dan dua wanita, nampaknya tiga orang itu, seorang gadis dan ayah ibunya. Duilah cantiknya, bener-bener gadis yang cantik, walau di pondok ini sering kedatangan artis, tapi memang gadis ini benar-benar cantik, mata yang indah wajah yang sempurna hidung mancung sekali, bibir yang merekah tapi tipis, alis mata yang melengkung seperti pedang orang Arab, dagu yang lancip, uh kulitnya putih bersih tapi mengeluarkan cahaya, mungkin sering mandi susu dan madu. Tubuh yang tinggi tapi padat berisi.

Wah jadi membayangkan yang enggak-enggak, ternyata bukan aku saja yang terpukau, si Jauhari, Kholil dan Mujaidi, yang sedang menyapu halaman, terbengong-bengong, sapu di tangan mereka terlepas. Dan air liur menetes dari tepi mulut mereka, wah bisa malu maluin, aku segera menghampiri mereka, dan mengingatkan mereka. Mereka bertiga segera menyadari, dan cepat-cepat melanjutkan menyapu. Aku sebenarnya juga keluar air liur, tapi dikit, tak sebanyak mereka.

Ketertarikan wanita dan lelaki juga kekaguman kesempurnaan ciptaan Alloh, adalah wajar, wanita memandang lelaki, juga sebaliknya, kemudian kagum, itu wajar, asal tidak meneruskan pandangannya ke dalam pandangan perzinahan mata. Yang tidak wajar itu kalau lelaki lihat kambing betina, lalu timbul birahi.

Inilah hidup kita ini diberi nafsu binatang, tapi kita juga diberi pikiran, nafsu membuat kita hina, tapi dengan menempatkan pada tempatnya sungguh nafsu tak membuat manusia hina.

Gadis cantik dengan kedua orang tuanya itu menghampiri salah seorang santri yang sedang menyapu halaman. Kebetulan yang didekati si Kolil, Kolil masih pura-pura sibuk menyapu, keringat dingin keluar membanjir, gemetar dengkulnya bergemelatukan.

Lalu si gadis bertanya, “Mas, Kyainya ada?” tanya gadis itu.

Sebenarnya yang ditanyakan hanyalah pertanyaan yang biasa saja, yaitu pertanyaan bagi tamu yang baru datang dan ingin bertemu Kyai. Tapi karena Kolil sudah keder duluan, dan suara gadis itu seperti suara seruling dari alam lain, maka Kolil pun gelagapan, seperti orang tenggelam di danau yang dalam “nga
ngu.. uit
nguk
”

Melihat gelagat yang kurang baik, aku segera menghampiri.

“Mau ketemu Kyai ya?” dijawab anggukan oleh ketiga orang itu. “Mari ikuti saya.” sayapun berjalan duluan, sambil berpikir, pastilah si Kolil nanti malam tak bisa tidur, kalaupun bisa tidur, pasti semalaman akan mengigau, sampai pagi.

Setelah sampai di tempat, Kyai masih sibuk mengobati seorang tamu, sementara tamu yang lain masih mengantri, segera tiga orang itu kuminta mengantri. Yang ditangani Kyai bernama Bapak Saipudin, dia seorang jaksa daerah Banten, karena menangani suatu masalah bapak Saipudin disantet orang. Tiba-tiba lelaki tinggi, umur empatpuluhan tahun itu memuntahkan darah kental, dari mulutnya, sementara Kyai mengobati lewat tangan Kyai ditempel di punggungnya.

Lalu Kyai memanggilku, “Suruh si Tarsan mengambil kelapa hijau.” kata Kyai, yang langsung kufahami maksudnya.

Aku segera memanggil Tarsan. Nama Tarsan adalah nama panggilan kepada seorang santri, karena trampilnya memanjat. Tarsan adalah santri dari Bojonegoro, umurnya duapuluh tahunan, tubuhnya kecil tapi kekar, berotot, Tarsan segera memanjat kelapa, tubuhnya sama sekali tak menempel pada pohon kelapa, kaki tangannya lincah menempel pada pohon kelapa, seperti tangan dan kaki itu milik spiderman, tak sampai lima menit tiga buah kelapa didapat tanpa dijatuhkan, karena memang kelapa itu perintah Kyai.

Setelah kelapa itu diisi oleh Kyai, satu kelapa diminum bapak Saipudin, dan yang dua dibuat mandi. Setelah tamu-tamu dilayani, sampailah pada giliran gadis itu dan kedua orang tuanya. Lelaki itu mulai mengenalkan diri bernama Purnomo, dan istrinya dan gadis cantik itu adalah anak angkat pak Pur, yang bernama Evo, aslinya ayahnya orang Jerman dan ibunya orang Indonesia, sejak umur 12 tahun ibunya telah meninggal dunia, dan papanya kembali ke negaranya, sehingga pak Purnomo yang mengasuhnya.

Pak Pur menarik napas, lalu melanjutkan ceritanya. Namun sayang agamanya Kristen, mengikuti agama ibunya. Tampak Kyai merenung sebentar kemudian berkata ditujukan kepada Evo,

“Tidakkah engkau ingin tau keadaan ibumu di sana.”

“Bagaimana aku bisa tau, ibuku telah meninggal.” jawab gadis itu polos.

Kyai lalu menyuruhku memanggil Jauhari, santri asal Madura, yang wajahnya agak kotak, tinggi sedang yang s**a mandi berlama-lama tapi kulitnya tetap hitam juga. Tapi memang Jauhari orangnya baik, bertemu siapa saja ia akan tersenyum, atau mungkin sengaja tersenyum karena mau menunjukkan pada semua orang bahwa ia punya gigi yang putih. Jauhari segera menghadap Kyai masih dengan senyum khasnya, tapi ia tak berani menatap gadis cantik yang duduk di situ, takut ilernya tak bisa ditahan dan membanjir, tentu akan membuat malu Kyai.

“Ada apa Kyai?” katanya, masih tersenyum.

“Hur.! Sini duduk menghadap kesana.” kata Kyai, menyuruh Jauhari duduk membelakangi Kyai, yang segera dilakukan Kyai.

Perlahan tangan kanan Kyai terangkat tinggi-tinggi telapaknya terbuka, kemudian telapak itu tergenggam. Mata pak Pur, istrinya, dan Evo memandang tak berkedip, tiba-tiba tangan Kyai seperti melempar sesuatu ke punggung Jauhari. Tiba-tiba secara mengejutkan tubuh Jauhari bergulingan di galar bambu, suaranya mengaduh-aduh, tapi bukan suara Jauhari yang terdengar melainkan suara wanita.

“Aduh
 tolong, ampun, sakiit.. jangan pukul lagi, ampun.. huhuu..” suara Jauhari yang menjadi suara perempuan itu merintih-rintih kadang merangkak, tapi seperti ada yang memukulnya dari belakang, punggungnya sampai meliuk, lalu bergulingan, seperti tak kuat menahan derita sakit yang tiada tara.

Pak Purnomo dan istrinya terkejut, heran, dan berbagai pertanyaan kumpul jadi satu. Tapi yang lebih tekejut lagi adalah Evo, wajah gadis cantik itu, putih pucat seperti kapas, tanpa sadar ia menjerit, “mama!”

Mendengar suara Evo, Jauhari yang masih bergulingan itu bangkit lalu merangkak mendekati Evo, masih mengaduh dan menangis,

“Kaukah itu Evo?” suara perempuan yang ada di tubuh Jauhari bertanya, “Evo Yulianti Dousand.” Evo beringsut mundur, wajah Jauhari yang hitam makin jelek saja, mungkin itu yang membuat Evo mundur, aku jadi berpikir kenapa tadi yang jadi medium bukan aku saja, setidaknya lebih cakep daripada Jauhari.

“Tak mungkin, mama sudah meninggal
, tak mungkin.” Evo beringsut mundur.

“Anak durhaka, setelah ibumu meninggal, kau tidak mengakui ibumu, aduuh..” tubuh Jauhari terjengkang lagi, seperti ada yang menyambuk punggungnya. Kyai terlihat mengangkat tangan seperti menahan seseorang yang tak terlihat supaya tidak memukul lagi, dan Jauhari pun tak mengaduh lagi.

“Apa buktinya kau mamaku.” tanya Evo masih ragu.

Lalu suara perempuan itu nerocos menceritakan Evo dari kecil sampai saat mamanya meninggal, tentang Evo yang s**a bubur kacang hijau, tak pernah mau minum susu, sejak kecil rambutnya s**a dikepang. Belum sampai ceritanya habis, Evo menjerit mau menubruk Jauhari tapi segera ditahan oleh ibu angkatnya.

“Oh mama
” tangis Evo menyayat, “Bagaimana keadaan mama di sana? huhuu
”

“Oh aku disiksa terus
 dicambuk terus, menyesalpun percuma, kenapa kau tak pernah mendoakan ibumu ini.”

Sang Kyai - Scene 2Nyai Bundo“Sudah.” kata Kyai.“Saya mau
 mau
” sahut Iqbal gugup.“Iya sudah saya isi, mau ilmu kebal s...
17/02/2024

Sang Kyai - Scene 2
Nyai Bundo

“Sudah.” kata Kyai.

“Saya mau
 mau
” sahut Iqbal gugup.

“Iya sudah saya isi, mau ilmu kebal senjata kan?” Iqbal manggut.

Aku yang waktu itu membereskan gelas minuman, juga ikut heran, apalagi Iqbal. Karena memang Kyai belum menyentuh Iqbal sama sekali. Melihat Iqbal ragu, Kyai segera memanggil Kunto, santri dari Sumatra yang tubuhnya gempal.

Setelah kunto menghadap, “Kunto, ambil golok!, kau tes si Iqbal ini.” kata Kyai tenang.

Iqbal pucat, kulihat keringat dingin membasahi jidatnya, tubuhnya gemetar, aku tak berani membayangkan apa yang dipikirkan Iqbal, mungkin dia menyesali telah datang kesini, atau mungkin membayangkan kulitnya sobek sampai ke tulangnya kelihatan memutih lalu darah mengucur dari lukanya, lalu tubuhnya ambruk mati.

Kunto telah datang membawa golok, semua santri memiliki golok, senjata khas yang dipakai santri untuk mengambil kayu bakar di gunung putri. Di pondok ini para santri makannya ditanggung Kyai, kalau Kyai ngasih beras, maka nasi yang dimakan, tapi bila adanya ubi maka ubi yang dimakan, bahkan tak jarang berhari-hari kami makan daun singkong yang direbus saja, tapi alat perebus yaitu kayu bakar, kami harus mencari di hutan.

Kedatangan Kunto dengan goloknya yang berkilat-kilat membuat Iqbal makin gemetaran, tamu-tamu yang lain telah minggir, sebelum Kunto datang mungkin takut kecipratan darah, apalagi tamu-tamu wanita makin jauh, tinggal Iqbal yang duduk sendirian di depan Kyai, keringatnya membanjir, apalagi Kunto datang tanpa kata-kata lagi meloncat menebaskan goloknya berkelebat ke arah leher Iqbal yang duduk menunduk di depan Kyai, para tamu perempuan menjerit.

Kontan Iqbal menoleh. Bias, wajahnya seputih kapas, golok Kunto mendesing ke arah lehernya. Memejamkan mata saja Iqbal tak sempat apalagi menghindar, nyawanya rasanya sudah lepas ketika suara ngek!, terdengar di lehernya, tapi segera aliran darah merah mengaliri seluruh permukaan kulitnya yang memutih, menyegarkan kembali urat-uratnya, dan kelegaan menggantikan keterkejutan, ketika mendapati kepalanya tidak menggelundung lepas.

Bahkan ia tak merasakan sakit sama sekali ketika ketajaman golok menyentuh kulitnya, seperti bantal kapuk yang empuk saja. Semua mata yang menatap lega, dan suasana segera dicairkan dengan ketawa Kyai, yang menyuruh Iqbal melanjutkan ujicoba kekebalannya di luar, karena Kyai mau menerima tamu yang lain.

“Oh engkau rupanya nyai Bundo.” kata Kyai, diiringi senyum.

“Maaf nyai aku tak bisa menyambutmu yang mendadak ini,”

“Ah banyak bacot amat!” bentak nyai Bundo.

“Terima serangan ku!”

Seketika perempuan tua itu mengangkat tangan kanannya setinggi pundak, sedang tangan kirinya diarahkan ke pusar. Dengan hitungan detik tapak tangannya menyala, dari menyala merah biru kemudian putih keperakan. Terdengar olehku suara Kyai mendesis, “Pukulan saripati bagaspati.” Tangan Kyai mendorong lututku sehingga tubuhku meluncur seperti beroda dan mentok di tembok. Kulihat tangan nyai Bundo dipukulkan ke depan. Terdengar suara bersiutan seperti suara mobil yang jalan kencang lalu direm mendadak.

Ketika cahaya itu lepas dan menghantam dada Kyai, semua orang di situ matanya melotot, udara terasa panas, rasanya seperti dalam oven. Cahaya yang menghantam Kyai begitu mengenai dadanya, cahaya itu langsung amblas. Kyai tetap duduk tersungging senyumnya. Seperti tak terjadi apa-apa, bahkan pakaian putih yang dikenakan samasekali tak berkibar. Jelas hal itu membuat nyai Bundo makim marah, dan mengulang pukulannya sampai berulang kali, tapi hasilnya sama, Kyai tetap duduk tak bergeming.

“Bedebah cilik, sihir apa yang kau pakai?” nyai Bundo seperti tak percaya, ilmu yang selama ini dibanggakannya seperti tak punya kekuatan apa-apa. Padahal biasanya yang terkena pukulan yang telah dilambari aji saripatibagaspati, jangankan manusia, kerbaupun akan hangus terbakar luar dalam, tinggal mengasih bumbu sudah matang tak perlu dimasak lagi. Tapi ini orangnya masih hahak hihik, jelas membuat nyai Bundo panas hatinya kicat-kicat.

“Sareh nyai, ayo duduk sini.” kata Kyai masih terus ketawa. Walau masih mbesengut nenek itupun akhirnya duduk di depan Kyai, lalu Kyai mengangkat tapak tangan kirinya seraya berkata,

“Nyai, nanti apa yang keluar dari tapak kiriku, dan engkau bisa mengambilnya maka itu menjadi hak mu.” nyai Bundo penasaran matanya menatap ke tapak tangan Kyai yang terpentang.

Nyai Bundo memandang tak berkedip kearah tapak tangan Kyai yang perlahan tapi pasti mulai memerah dan semakin merah bercahaya, ketika dari dalam telapak tangan itu keluar batu mirah delima, batu itu terlihat merah menyala-nyala, sampai lengan baju putih Kyai ikut menyala. Segera tangan kiri nyai Bundo meraih punggung tapak tangan Kyai, sementara tangan kanannya mencoba mengambil mirah delima yang menyala-nyala itu, tapi alangkah terkejutnya karena batu itu seperti lengket di telapak tangan Kyai.

Lebih lengket daripada lengketnya perekat raja lem sekalipun. Nyai Bundo mencoba mengambil dengan segala daya kekuatannya. Sementara Kyai terkekeh-kekeh, keringat nyai Bundo membanjir, dan asap putih tipis mengepul dari rambutnya menunjukkan bahwa nyai itu telah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Malah batu sakti itu tak bergeser sedikitpun, dan lagi ketika batu itu masuk lagi kedalam telapak Kyai tangan nyai Bundo ikut terbetot masuk kedalam. Sontak nyai Bundo membetot tangannya, setelah batu itu lenyap.

“Itu mungkin bukan rizkimu nyai, mungkin yang ini rizki mu,” lagi-lagi dari dalam tapak tangan Kyai yang terbentang, perlahan muncul gagang keris berukir burung garuda, keris itu perlahan keluar dari tangan Kyai yang sama sekali tak berlubang apalagi berdarah. Separuh keris itu masih menancap di tapak tangan Kyai, nyai Bundo pun lekas memegang gagang keris dan mengerahkan semua tenaga dalamnya di salurkan ke tangannya yang menggenggam keris. Dengan mudahnya keris itu dicabut. Sreet, seperti mencabut rambut dari adonan roti.

Ketika keris telah tercabut betapa nyai Bundo matanya melotot terkejut, dia benar-benar mengenali keris yang sekarang ada di genggamannya.

Segera ia bersujud mohon ampun dan menyembah-nyembah ke Kyai, Kyai cuma terkekeh-kekeh sambil membelai rambut putih perempuan tua yang sedang bersujud. Lalu Kyai menyuruh nyai Bundo duduk dengan tenang. Dan Kyai mengajakku dan yang ada di situ sholat berjamaah karena memang waktu magrib tinggal sedikit. Setelah sholat selesai dan dzikir setelah sholat, Kyai segera menemui nyai Bundo yang masih duduk sambil tangannya masih memegang keris dan tak ikut menjalankan sholat karena memang nyai Bundo bukan orang Islam. Ketika Kyai duduk di depannya, nyai itu segera meraih tangan Kyai menyalaminya, membungkuk dan meletakkan tangan Kyai di jidatnya.

“Maafkan aku guru, yang bodoh ini, tak tau tingginya gunung di depan mata, bimbinglah aku guru
” suara nyai Bundo mengiba, tak seperti pada saat kedatangannya, yang menantang-nantang.

“Nyai dari mana engkau tau akan diriku.” tanya Kyai lalu nyai Bundo menceritakan.

Nyai Bundo adalah orang Kalimantan pedalaman, dia murid seorang sakti bernama Wong Agung Sahlunto, ketika gurunya itu moksa di depannya. Sebelum moksa gurunya itu berpesan, sambil mengacungkan keris yang sekarang ini ada di genggamannya.

Lalu katanya, “Muridku kalau kau nanti menemukan orang yang memegang keris ini, maka tunduklah padanya ikuti ajarannya dan masuk agamanya.” setelah berkata seperti itu Wong Agung itu sirna beserta kerisnya. Bertahun-tahun berlalu namun nyai Bundo tak menemukan keris yang dipegang gurunya di tangan orang lain. Dia mencari ke segala penjuru, namun tetap tak menemukan, dalam pencariannya itu nyai bertemu dua orang pertapa sakti dari orang Dayak, namanya Luh Bajul dan Luh Landak.

Dan mereka bertiga mengikat persaudaraan, pada waktu terjadi kerusuhan sampit Luh Bajul dan Luh Landak mengamuk, membunuhi orang Madura. Sepak terjang dua orang sakti ini begitu menakutkan, tak jarang seorang bayi yang digendong ibunya, tanpa ketahuan sang ibu, telah kehilangan kepalanya.

Sungguh gerakan dua orang ini tak diketahui, sehingga banyak korban binasa di tangan dingin mereka. Di suatu senja, Luh Bajul dan Luh Landak tengah mengaso di tepi hutan. Setelah selesai menumpas habis dua keluarga, mereka berdua tengah duduk-duduk santai di bawah pohon randu alas. Tiba-tiba ada suara keras dan berat memanggil nama mereka berdua, mereka segera mendongak ke atas karena suara itu dari atas dan mereka terkejut sekali melihat perwujudan besar tinggi hitam legam, lebih tinggi dari pohon randu alas, matanya merah menyala seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu.

Serempak mereka berdua bersujud menyembah, karena mereka tau itulah Jadsaka, jin yang mereka sembah, yang memberikan berbagai ilmu sihir dan ilmu kesaktian. Kata jin itu dengan suaranya yang membuat bumi yang dipijak kedua orang itu bergetar “Jebleng..! Jebleng..!, celaka, celaka, Sang raja akan datang kesini, kalian sambutlah dia, dan ikuti apa yang dikatakannya, sebelum dia marah dan menghancurkan bangsaku maka aku akan membinasakan kalian berdua.”

Setelah menemui sang raja itu kedua pertapa dayak itu menceritakan pada nyai Bundo, perempuan itu yang tak ada hubungan dengan Jadsaka tanpa takut. Dengan petunjuk dari Luh Bajul dan Luh Landak segera mencari keberadaan sang raja.

Aku jadi ingat pada satu malam setelah wirid malam aku tertidur p**as dalam tidur aku bermimpi Kyai mengajakku, “Mas Ian ayo temani aku jalan-jalan.″ begitu kata Kyai, lalu Kyai menggandengku. Tubuhku terasa ringan seperti kapas, melayang cepat laksana kilat, melintasi pohon melewati gunung, melayang seperti superman dalam film, melintasi laut menuju p**au, perjalanan begitu cepat. Lalu tubuh kami melayang sebatas pinggang, nampak olehku dua orang duduk bersimpuh, menyembah-nyembah.

“Ampun raja apa yang paduka inginkan?”

“Aku hanya ingin kalian hentikan membunuh orang.” kata Kyai masih memegang pergelangan tanganku.

“Baik paduka
 kalau boleh tau siapa gerangan paduka?”

“Aku Kyai Lentik penguasa gunung Putri.” setelah berkata itu maka Kyai pun segera menarik tanganku kembali, melesat cepat, dan aku terbangun, hari sudah pagi, kejadian malam itu aku menganggapnya hanya mimpi saja, ternyata kini aku tau bahwa itu nyata, apalagi setelah menguasai ilmu raga sukma melepas sukma itu adalah hal yang biasa saja, terbang kemana saja sekehendak kita.

17/02/2024
Sang Kyai - Scene 1Pesantren di lereng bukitPagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, ding...
16/02/2024

Sang Kyai - Scene 1
Pesantren di lereng bukit

Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.

Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.

Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.

Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.

Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.

Seperti biasa p**a, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.

Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.

Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang p**ang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.

Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa p**ang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.

Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.

Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,

“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”

“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.

“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.

Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.

Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pas**an. Pas**an penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.

Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.

Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.

Address


28131

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Al-Husaini Pekanbaru - Riau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your organization to be the top-listed Government Service?

Share