Mufti Wilayah Lampung Daarussalaam

Mufti Wilayah Lampung Daarussalaam Mufti Wilayah Lampung Daarussalaam

16/10/2022

MENGENAL PEMBAWA ISLAM KE TANAH JAWA

Kehadiran dan proses penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan data arkeologis, dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita asing. Tahapan islamisasi yang terjadi di beberapa kota pesisir utara Jawa, dari bagian timur sampai ke barat, lambat laun menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kesultanan Mataram. Di samping kerajaan, peranan para ulama di Pulau Jawa begitu sangat penting dalam penyebaran islam. Para ulama ini di samping sebagai pewaris para nabi juga berperan sebagai penyatu budaya lokal dengan Islam. Berikut kerajaan dan para tokoh yang turut andil dalam membawa Islam ke tanah Jawa.

Kesultanan Demak

Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri sejak akhir abad XV, setelah runtuhnya ibukota kerajaan Majapahit di Trowulan oleh Wangsa Girindra Wardhana dari kerajaan Kadiri pada 1474. Kesultanan ini dipimpin oleh Raden Fatah putra dari Brawijaya dan ibunya seorang putri dari Campa. Kesultanan ini bermula dari sebuah kampong yang dalam babad lokal disebut Gelagahwangi. Tempat inilah yang konon dijadikan permukiman muslim di bawah pimpinan Raden Fatah, yang kehadirannya di tempat tersebut atas petunjuk Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Setelah Raden Fatah, raja Demak kedua adalah Pangeran Sabrang Lor, lalu dilanjutkan oleh raja ketiga yaitu Sultan Trenggono.

Sebagai catatan bahwa raja Demak terkenal sebagai pelindung agama dan bergandengan erat dengan kaum ulama, terutama Wali Songo. Masjid Agung Demak dibangun oleh Wali Songo, arsiteknya adalah Sunan Kalijaga, dan merupakan pusat dakwah para wali.

Kesultanan Pajang

Kesultanan Pajang bermula dari perebutan kekuasaan di kalangan keluarga Sultan Trenggono. Bupati Pajang Adiwajaya (Joko Tingkir) menjadi penguasa Kesultanan setelah membunuh Penangsang. Joko Tingkir merupakan ipar dari Sunan Prawoto anak dari Sultan Trenggono. Ia dinobatkan sebagai sultan Pajang dan diberi gelar Sultan Adiwijaya. Jasa yang dilakukannya ialah melakukan perluasan ke Jipang dan Demak. Pengaruhnya sampai ke Jepara Pati dan Banyumas. Setelah wafat Ia digantikan oleh putranya Pangeran Benowo.

Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon dipimpin oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada 1568 dan dimakamkan di Gunung Sembung yang kemudian dikenal dengan Astana Gunung Jati. Penggantinya ialah Pangeran Suwarga.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim

Syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan sesepuh Walisongo. Beliau memiliki beberapa nama yang membuat kekeliruan asumsi antara lain, Syeikh Magribi (berasal dari Maghrib Maroko), Sunan Gresik, atau Syeikh Ibrahim Asamarkandi (berasal dari Samarkand Asia Tengah). Namun Sir Thomas Standford Raffles da- lam Atlas Wali Songo menyatakan bahwa berdasar sumber-sumber lokal, Maulana Ibrahim adalah seorang panditha termasyhur asal Arabia, keturunan Zainal Abidin dan sepupu Raja Chermen.

Menurut J.P Moquette atas tulisan prasasti makam syaikh Maulana Malik Ibrahim, beliau wafat pada hari senin, 12 Rabiul Awal 882 H (8 April 1419) dan berasal dari Kashan (Persia Iran). Di kalangan para wali, syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan tokoh yang dianggap paling senior dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

Sumber cerita lokal menuturkan bahwa daerah yang dituju Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali saat mendarat di Jawa ialah Desa Sembalo, di dekat Desa Leran Keca- matan Manyar Kabupaten Gresik, yaitu 9 kilometer di arah utara kota Gresik, tidak jauh dari kompleks makam Fatimah bin Maimun. Dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucian, Manyar, ia mulai menyiarkan agama Islam. Awal aktivitasnya ialah berdagang di Desa Rumo Setelah dakwahnya berhasil di Sembalo, Maulana Malik Ibrahim kemudian pindah ke Gresik. Setelah itu mendatangi raja Majapahit dan mengajak raja masuk agama Islam. Walaupun raja tidak memeluk Islam, Maulana Malik Ibrahim diberikan tanah di Pinggiran kota Gresik yang bernama Desa Gapura. Di desa inilah ia mendirikan pesantren untuk mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam di masa yang akan datang sebagai pengganti dirinya.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel merupakan tokoh tertua Walisongo pengganti ayahnya Syaikh Ibrahim As-Samarkandi, Ia berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Melalui pesantren Ampel Denta, Sunan Ampel mendidik kader-kader penggerak dakwah Islam seperti Sunan Giri, Raden Fatah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Dengan cara menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah. Jejak dakwah Sunan Ampel bukan hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, melainkan meluas ke daerah Sukandana di Kalimantan.

Sunan Ampel lahir sekitar tahun 1401 M, mengenai tanggal dan bulannya belum ada kepastian sumber sejarah. Nama lain Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia adalah putra keturunan raja Champa. Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban Wilwatikta Arya Teja.

Sunan Bonang (Maulana Mahdum Ibrahim)

Nama lain Sunan Bonang adalah Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. beliau lahir di Bonang, Tuban pada tahun 1465 M. Sunan Bonang merupakan putra keempat Sunan Ampel dari hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Nyai Gede Manila putri Arya Teja Bupati Tuban. Sunan Bonang dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang ulung dalam berdakwah dan menguasai ilmu fiqh, ushuludin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Dakwah awal yang dilakukan Sunan Bonang di daerah Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Tantra. Dengan membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri, Sunan Bonang mengembangkan dakwah di pedalaman yang masya- rakatnya masih menganut ajaran Tantrayana. Setelah meninggalkan Kediri Sunan Bonang berdakwah di Lasem. Sunan Bonang dikenal mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik. Karya sufistik yang digubah Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil.

Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Bonang menggunakan alat kesenian daerah berupa gamelan bonang yang dipukul dengan kayu. Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya dan karena suara gaung bonang yang sangat menyentuh hati rakyat sekitar sehingga banyak rakyat yang berbondong-bondong datang ke mesjid. Selain bertembang, Sunan Bonang selalu memberikan penjelasan maksud dari tembangnya tersebut. Tembangnya berisi ajaran-ajaran agama Islam. Di kalangan masyarakat, Sunan Bonang dikenal dengan Sang Mahamuni.

Pada masa hidupnya, Sunan Bonang banyak berperan dalam perjuangan Kerajaan Islam Demak serta berpartisipasi dalam pembangunan Mesjid Agung Demak. Sunan Bonang pun berperan dalam pengangkatan Raden Patah sebagai raja Islam Demak. Ketika mengajarkan ilmu agam Islam Sunan Bonang menggunakan buku-buku karangan para ahli tasawuf seperti Ihya Ulumuddin karya al-Gazali dan beberapa tulisan karya Abu Yazid al-Bustami dan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Sunan Kalijaga (Raden Sahid)

Sunan Kalijaga adalah Putra Tumenggung Wilaktikta Bupati Tuban. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termashur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai dalam mendalang melainkan dikenal p**a sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa. Beliau ulama yang sakti dan cerdas, nama kecilnya Raden Sahid, yang merupakan seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Mengenai jalan hidupnya banyak terangkum dalam naskah-naskah kuno Jawa.

Menurut sejarah Raden Sahid diusir oleh keluarganya dari kerajaan karena katahuan merampok. Setelah itu dia berkeliaran dan berkelana tanpa tujuan yang jelas, hingga kemudian menetap di hutan Jatiwangi sebagai seorang yang berandal dan s**a merampok. Dalam Babad Demak disebutkan bahwa Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang. Karena kagum melihat kesaktian Sunan Bonang, Raden Sahid berguru kepadanya dengan syarat beliau harus bertobat. Akhirnya Raden Sahid yang dulu berandal berubah menjadi seorang wali dan ulama yang cerdas dan budayawan.

Di Cirebon beliau bertemu dengan Sunan Gunungjati dan dinikahkan dengan adiknya Siti Zaenab. Cara dakwah Sunan Kalijaga berbeda dengan para wali lainnya. Beliau berani memadukan dak- wahnya dengan seni budaya yang telah menjadi kebiasaan adat ma- syarakat Jawa. Seperti berdakwah dengan wayang, gamelan, tembang, ukir dan batik.

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati berasal dari Persia dan Arab. Sampai sekarang belum ada catatan sejarah yang pasti mengenai kelahiran beliau. Dan berdasarkan beberapa babad dan sumber sejarah beliau mempunyai banyak nama, di antaranya Muhammad, Nuruddin, Syeikh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyyah, Syeikh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati.

Sejak kecil Sunan Gunung Jati tinggal di Mekkah dan di sana beliau memperdalam ilmu agama Islam. Di sana beliau tinggal ku- rang lebih 3 tahun. Sunan Gunung Jati datang kembali ke tanah air- nya dan pergi ke Pulau Jawa. Kedatangannya di sambut baik oleh Kerajaan Islam Demak yang saat itu mencapai puncaknya berada di bawah pemerintahan Raden Trenggono (1521-1546). Ketika datang ke p**au Jawa, beliau berdakwah di daerah Jawa bagian barat. Berkat dakwahnya, banyak rakyat Jawa Barat yang memeluk agama Islam. Raden Trenggono pun menaruh simpati kepadanya sehingga Sunan Gunung Jati dinikahkan dengan adik Raden Trenggono. Dakwahnya terus berlanjut, Raden Trenggono memerintahkan Sunan Gunung Jati untuk memimpin ekspedisi ke Banten dan Sunda Kelapa yang masyarakatnya masih beragama Hindu-Budha dan berada di bawah kekuasaan Pajajaran.

Sunan Gunung Jati berangkat bersama pas**annya dari Demak dan berhasil menjatuhkan Pajajaran serta mengislamkan wilayah tersebut. Setahun kemudian, Cirebon jatuh di bawah keku- asaannya dan berhasil mengislamkan penduduk di wilayah tersebut (1528). Dalam kurun waktu yang tidak lama Sunan Gunung Jati berhasil menaklukan Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Sehingga beliau telah berhasil merintis hubungan antara Banten, Sunda Kelapa, Cirebon dengan Demak, Jepara, Kudus, Tuban, dan Gresik.

Meskipun Jawa Barat dan sekitarnya berada pada kekuasa- annya, namun kekuasaan tertinggi tetap berada di bawah kerajaan Islam Demak. Setelah Raden Trenggono wafat, terjadi perselisihan antara Hadiwijaya dengan Adipati Jipang Arya Penangsang. Kerajaan Cirebon, Banten dan Sunda Kelapa memisahkan diri dari kerajaan Demak. Setelah itu, beliau tidak lagi menetap di Demak, tetapi me- ngembangkan dakwahnya di Cirebon sampai menjelang wafatnya pada tahun 1570 M dan makamnya terletak di Gunung Jati, Cirebon.

Sunan Drajat (Raden Qasim)

Nama lain dari Sunan Drajat adalah Raden Qasim atau Syarifudin. Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Ni Gede Manila. Dikisahkan bahwa sejak berusia muda Sunan Drajad telah diperintahkan ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik. Semasa muda be- liau dikenal dengan Raden Qasim. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama lain dari beliau berdasarkan beberapa naskah kuno. Di antaranya beliau dikenal dengan nama Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syeikh Masakeh, Pangeran Syarifudin, Pangeran Kadrajat dan Masaikh Munar.

Sunan Drajat diminta untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik. Perjalananya ke Gresik menjadi sebuah legenda. Dikisahkan bahwa ketika beliau hendak menuju Gresik, kapal yang ditumpanginya terkena ombak, Raden Qasim selamat dengan berpegang pada dayung perahu tersebut. Setelah kejadian itu, datang dua ekor ikan menolongnya, kedua ikan tersebut adalah ikan Cucut dan ikan Talang. Dengan pertolongan kedua ikan tersebut Raden Qasim terdampar di sebuah tempat bernama Kampung Jelak, Banjarwati. Di sana beliau bertemu dengan Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Kedua mbah tersebut telah memeluk agama Islam.

Raden Qasim kemudian menetap di Jelak dan menikah dengan Kemuning yang merupakan putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak Raden Qasim mendirikan pondok pesantren sebagai tempat belajar ilmu agama ratusan penduduk. Jelak dulunya merupakan dusun kecil yang terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung yang besar. Tempat itu kemudian diberi nama Desa Drajat karena letak geografisnya yang berupa dataran tinggi.

Sunan Giri (Raden Paku)

Nama lain Sunan Giri adalah Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Ayahnya bernama Maulana Ishaq yang berasal dari Pasai serta ibunya bernama Sekardadu, Putri Raja Blambangan. Ia adalah tokoh Wali Songo yang berkedudukan sebagai raja sekaligus guru suci. Ia memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara dengan memanfaatka kekuasaan dan jalur perniagaan. Sebagaimana guru sekaligus mertuanya, Sunan Ampel, Sunan Giri mengembangkan pendidikan dengan menerima murid-murid dari berbagai daerah di Nusantara. Sejarah mencatat, jejak dakwah Sunan Giri bersama keturunannya mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi, Nusa Tenggara, Bahkan di kep**auan Malukau.32

Ketika dewasa beliau berguru kepada Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel beliau diberi gelar Raden Paku. Sunan Giri mengikuti jejak ayahnya Syeikh Awwalul Islam atau Maulana Ishaq menjadi seorang mubaligh, beliau bersama Sunan Bonang diperintahkan Sunan Ampel pergi ke Mekkah tetapi tidak jadi mengingat Nusantara lebih memerlukannya.

Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung. Sunan Kudus di- kenal sebagai tokoh Wali Songo yang tegas dalam menegakkan sya- riat. Namun, seperti wali yang lain, Sunan Kudus dalam berdakwah berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami kebutuhan apa yang diharapkan masyarakat. Itu sebabnya, Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, pande besi, membuat keris pusaka, dan mengajarkan hukum-hukum agama yang tegas. Sunan Kudus selain dikenal eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar, juga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memimpin penyerangan ke ibukota Majapahit dan berhasil mengalahkan sisa-sisa pas**an kerajaan tua yang sudah sangat lemah itu.

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga, Sunan Muria merupakan tokoh Wali Songo yang paling muda usianya. Sebagaimana Sunan Kalijaga, Sunan Muria berdakwah melalui jalur budaya. Sunan Muria dikenal sangat piawai menciptakan berbagai macam jenis tembang cilik jenis sinom dan kinanthi yang berisi nasehat-nasehat dan ajaran tauhid. Seperti ayahnya, Sunan Muria dikenal pintar mendalang dengan membawakan lakon-lakon carangan karya sunan Kalijaga.

Peranan pembawa Islam ke tanah Jawa merupakan sebuah anugerah bagi masyarakat Jawa yang semasa itu terkurung dalam pemikiran animisme dinamisme yang tidak berujung. Tradisi tradisi yang semula merugikan masyarakat diperbaiki para pembawa Islam menjadi menguntungkan bagi masyarakat, seperti sesajen(memberikan seserahan) kepada pohon yang dipercaya memiliki kekuatan diubah menjadi selametan (sebuah tradisi kumpul untuk saling mendoakan, memuji Allah dan bersholawat kepada baginda Rasul) kedua hal tersebut sama sama memberikan makanan.
(ld-pbnu)

16/10/2022

RIWAYAT HIDUP Drs. KH. ACHMAD MASDUQI MAHFUDZ
============================

Beliau merupakan sosok ulama yang mumpuni dan dalam memberikan materi tidak monoton tapi dari satu materi bisa menjabarkan luas. Jamaah pun menyimak dengan puas dan semua bisa menerima materi yang disampaikannya. Karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Pengetahuan yang beliau miliki sangat luas tidak saja dalam masalah ukhrawi tapi juga duniawi, termasuk masalah teknologi, sosial budaya dlsb.

Daftar Isi:

1. Kelahiran KH. Achmad Masduqi Mahfudz
2. Nasab dari Ayah
3. Nasab dari Ibu
4. Kehidupan Keluarga
5. Pendidikan Formal
6. Pendidikan non Formal
7. Kisah Saat Mondok di Krapyak
8. Berawal dari Mushalla, Merintis Pesantren Nurul Huda
9. Ulama yang Mumpuni Ilmu Agama dan Ilmu Dunia
10. Kyai yang Teguh Berprinsip
11. Isyarat Kewafatan KH. Achmad Masduqi Machfudz

1. Kelahiran KH. Achmad Masduqi Mahfudz

Drs. KH. Ahmad Masduqi Mahfudz dilahirkan di Desa Panggang, kec. Jepara, kab. Jepara pada tahun 1954. Di desa tersebut, terdapat sebuah makam kuno yang banyak dikenal orang dengan Mbah Jenggolo.

Alkisah, berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio dan televisi, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila ini baru akan sembuh kalau kedua alat elektronik dikeluarkan dari Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqi masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman, karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali. Melihat lingkungannya yang seperti itu, ditambah dengan lingkungan keluarga yang taat dan fanatik terhadap agama serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan agama Allah.

2. Nasab dari Ayah

Jika dilihat dari jalur keturunan Ayah, tidak dapat diketahui secara terperinci tetapi yang jelas seluruh keluarga beliau adalah termasuk orang-orang yang gigih berjuang dalam mensyiarkan agama Allah. Jalur keturunan ayah ini terputus hingga kakek beliau saja. Kakek beliau ini termasuk tokoh agama yang disegani dalam lingkungan masyarakat mereka. Perjuangannya tidak hanya terhadap orang awam saja, melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahkan yang jahat sekalipun. Beliau bahkan dengan gigih menaklukkan orang-orang jahat yang banyak berkeliaran saat itu. Hingga beliau mampu merubah pola tingkah laku mereka itu menjadi orang yang taat menjalankan agama Allah.

Semangat jihad, fanatik dan ketaatan menjalankan agama serta keberanian membela kebenaran ini secara terus-menerus ditempa dan ditekankan oleh Kyai Machfudz, ayah Kyai Masduqi. Maka tidak heran bila sifat-sifat tersebut sangat melekat pada diri Kyai Masduqi dalam menegakkan agama Allah.

3. Nasab dari Ibu

Bila ditelusuri dari garis keturunan ibu, dapat dilihat dari Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Beliau adalah seorang Jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan beliau adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk cukup dari rumahnya. Suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram. Pada makamnya yang terletak di Tayu Pati, tertulis “Makom niki dipun bangun Bagus Salman bongso jin” (makam ini dibangun Bagus Salman bangsa Jin).

Dari Syaikh Abdullah al-Asyik inilah menurunkan nenek KH. Achmad Masduqi Machfudz, yaitu Nyai Taslimah. Di kalangan masyarakat, Nyai Taslimah sebagai seorang pewaris perjuangan Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad, dikenal sebagai seorang penyebar agama. Di tangannya tidak sedikit orang yang diislamkan. Mereka yang asalnya belum beragama dengan baik akhirnya menjadi santri Nyai Taslimah.

Dari pernikahannya dengan Kyai Asmo Dul, Nyai Taslimah dikaruniai dua orang putri, yaitu Chafshoh dan Masfufah. Beliau juga mengangkat seorang anak angkat yang bernama Suyuti. Putri beliau yang pertama, Chafsoh, dipersunting oleh Kyai Machfudz, putra dari Bapak Arso Husein dengan Ibu Saumi. Dari pernikahan ini, keduanya dikarunia 14 putra-putri. Mereka ini adalah:

1. Muainamah (Alm.)
2. Achmad Fahrurrazi (Alm.)
3. Khadijah (Alm.)
4. Achmad Masduqi (Alm.)
5. Sa’adah (Jepara)
6. Achmad Said (Alm.)
7. Sofiyah (Alm.)
8. Achmad Shohib (Alm.)
9. Achmad Zahid (Malang)
10. Ahmad Masykuri
11. Ahmed Mas'udi (Jakarta)
12. Aslihah (Turen, Malang)
13. Zahri Hamid (alm)
14. Ahmad Mudjab

Dari keempat belas putra-putri Nyai Chafsoh ini, tujuh diantaranya meninggal dunia ketika masih kecil dan remaja. Kyai Masduqi merupakan putra keempat dan merupakan putra sulung yang hidup.

4. Kehidupan Keluarga

KH. Achmad Masduqi Machfudz dikenal sebagai orang yang cukup sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga yang beliau bangun sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang dicitrakan Kyai Machfudz sangat membias pada keluarga Kyai Masduqi. Terlebih sejak kecil, Kyai Masduqi sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidup beliau adalah: “Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan duniapun akan teraih.”

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH. Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, beliau dikaruniau 9 orang anak, yaitu:

1. Mushoddaqul Umam, S.Pd. Ia lahir di Tarakan Kalimantan Timur, tanggal 21 Juli 1958. Saat ini di kediamannya di Jl. Danau Kerinci IV, E15, disamping kesibukan sehari-hari menjadi Wakil Kepala Sekolah SMU 10 dan pengajar pada MA Al-Maarif Singosari, S1 bahasa Inggris yang pernah mondok di Pesantren Roudhatut Tolibin Rembang ini, juga merintis majlis ta’lim untuk orang tua dan siswa SD, SMP, SMU dan mahasiswa.

2. Muhammad Luthfillah, SE. Ia dilahirkan di Rembang Jawa Tengah pada tanggal 28 Oktober 1959. Sarjana Ekonomi dari UNIBRAW yang sebelumnya menempuh pendidikan di Pesantren Roudlotul Tolibin Rembang ini, pernah menjadi pengurus PP. Pagar Nusa dan anggota DPRD Jatim dari fraksi FKB.

3. dr. Moch. Shobachun Niam SpB-KBD. Ia dilahirkan di Samarinda Kalimantan Timur pada 25 Agustus 1961, sambil berdinas di RSU Polmas Sulawesi, alumnus Pesantren Roudlotut Tolibin Rembang ini juga pernah menjadi pengurus wilayah NU Sulawesi Selatan.

4. M. Taqiyyuddin Alawiy, dilahirkan di Malang pada 8 April 1963. Setelah menyelesaikan studi di Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, ia meneruskan studi di Fakultas Tehnik UNISMA Malang. Saat ini, disamping menjadi dosen di Institusi yang sama, juga menjadi Rais Syuriah MWC Kedung Kandang Malang.

5. Dra. Roudlotul Hasanah, dilahirkan di Malang pada 8 Maret 1965. Setelah mondok di Pesantren Tambakberas Jombang, ia memperoleh gelar Sarjana Bahasa Inggris di IAIN Malang (sekarang UIIS). Dalam kesehariaannya mengajar di MTSN Sepanjang Gondalegi Malang, juga menjadi salah seorang tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang.

6. Dr. Isyroqunnadjah, M.Ag., dilahirkan di Malang pada 18 Februari 1967. Ia menyelesaikan studi S2 di PPS IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini, disamping pernah menjadi Ketua Program Bahasa Arab pada UIIS (sekarang UIN Malang), juga pernah menjadi wakil sekretaris Rabithah Ma’ahidil Islam, Cabang Malang. Sekarang munjadi Pengasuh Ma’had Al-jami’ah UIN Malang dan ketua tanfizdiyah PCNU Kota Malang.

7. Dra. Badiatus Shidqoh, dilahirkan di Malang pada 11 April 1968. Saat ini alumnus Pesantren Tambakberas Jombang ini menjadi tenaga pengajar pada STIE Malangkucecwara Malang.

8. Fauchatul Fithriyyah. S.Ag. dilahirkan di Malang pada 25 Agustus 1970. Ia memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang UIN Malang) setelah sebelumnya mondok di PP. Maslakul Huda Kajen Pati Jateng. Kesibukannya yaitu mengelola beberapa TPQ binaan Pesantren Nurul Huda, juga menjadi tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang.

9. Achmad Shampton Masduqi, SHI. Ia dilahirkan di Malang pada 23 April 1972. Selepas SMP ia mondok di Pesantren Lirboyo Kediri dan beberapa pesantren di sekitar Kediri. Memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang UIN Malan), saat ini menjadi khodim Pesantren Nurul Huda, dosen Fak. Syariah UIN Malan, dan kepala KUA.

Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putri beliau tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kyai Masduqi kepada para putra-putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun background pendidikan putra-putri beliau beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

5. Pendidikan Formal

KH. Achmad Masduqi Machfudz terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat dan fanatik terhadap agama Islam. Sehingga sejak kecil beliau sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Karena itu p**a, Kyai Machfudz orangtuanya, tidak menghendaki Kyai Masduqi kecil untuk bersekolah di sekolah umum, cukup di sekolah agama saja.

Tetapi larangan ini tidak mematahkan semangat Kyai Masduqi kecil untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak terbatas hanya di bidang agama saja. Dengan semangat tinggi, Kyai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kyai atau orangtuanya sendiri.

Adapun pendidikan formal yang telah beliau selesaikan antara lain:
1. Sekolah Rakyat di Jepara (1942-1948)
2. SMP di Jepara (1950-1953)
3. Sekolah Guru Hakim Agama/SGHA di Yogyakarta (1953-1957)
4. IAIN Sunan Ampel Malang (1962-1966)
5. IAIN Sunan Ampel Malang program doktoral (1975-1977).

Ketekunan, keuletan dan semangat juang yang tinggi, Kyai Masduqi akhirnya mampu meraih berbagai macam ilmu pengetahuan baik di bidang agama maupun pengetahuan umum.

6. Pendidikan non Formal

KH. Achmad Masduqi Mahfudz sejak berusia 5 tahun tepatnya pada tahun 1939 sudah disekolahkan di madrasah ibtidaiyah di kampungnya yang pada waktu itu dikenal dengan istilah “Sekolah Arab”, karena di sini pelajarannya semua berbahasa Arab. Beliau belajar di sekolah ini selama kurang lebih lima tahun yaitu dari tahun 1939-1944. Di sinilah beliau mulai mempelajari dasar-dasar berbahasa Arab dan agama Islam.

Kemudian setelah beliau menyelesaikan sekolahnya dan mempunyai dasar yang cukup, beliau meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Jepara. Di sini beliau belajar kurang lebih selama 8 tahun, yakni dari tahun 1945 - 1953, dan menyelesaikan Madrasah Tsanawiyah pondok selama 3 tahun.

Pondok Pesantren Jepara ini diasuh oleh Kyai Abdul Qadir, di sini beliau belajar ilmu-ilmu alat yakni nahwu dan sharaf, fiqih, tauhid dan lain-lain. Karena beliau belajar di sini sudah cukup lama, maka tidak heran jika ilmu-ilmu tersebut sedikit banyak telah beliau kuasai.

Setelah menyelesaikan pelajarannya di pondok pesantren Jepara, beliau masih merasa belum cukup ilmu pengetahuan agamanya, dan akhirnya beliau pergi untuk belajar di Pondok Pesantren Krapyak.

7. Kisah Saat Mondok di Krapyak

“Aku heran dengan cara Mbah Ali mendidikku. Pada mulanya aku disuruh sorogan Ta’limul Muta’allim. Belum sampai khatam sudah disuruh ganti Taqrib. Baru selesai bab haji disuruh ganti kitab lain lagi. Begitu seterusnya aku gonta-ganti kitab tanpa satu pun mengkhatamkannya. Rasanya manfaat yang kuperoleh bukan terutama dari kitab yang kubaca, tapi karena sering memandangi wajah Mbah Ali saja.”

Kiyai A. Masduqi Machfudh (Pengasuh PPSSNH Malang), Rais Syuriyah PBNU, menceritakan bahwa Mbah Ali memiliki maziyah (keistimewaan) bisa mentransfer ilmu tanpa mengajar secara verbal. Pada waktu pertamakali datang ke Krapyak –mungkin sekitar tahun 50/60-an, Santri Masduqi diajak mengikat janji oleh Mbah Ali: “Kalau kamu sanggup tinggal di pondok nggak p**ang-p**ang sampai tiga tahun penuh, kujamin kamu akan jadi lebih alim ketimbang yang sudah mondok 15 tahun tapi bolak-balik p**ang”, begitu akadnya.

Santri Masduqi benar-benar melaksanakan akad itu. Pada akhir tahun ketiga, barulah ia pamit p**ang. Sebelum mengijinkan, Mbah Ali meraih tangan Santri Masduqi dan membawanya ke meja makan: “Ayo makan bareng aku”, kata beliau.

Tapi ketika Santri Masduqi hendak meraih centong nasi, Mbah Ali melarangnya: “Kamu duduk saja!”

Lalu tanpa terduga beliau mengambilkan nasi untuk santrinya itu, meladeninya dengan sayur dan lauk-pauk hingga minuman sesudah makan, seolah Mbah Ali-lah yang menjadi khadam.

“Sejak saat itu”, kisah Pakdhe Masduqi, “tak ada kitab yang sulit bagiku. Setiap ada lafadz yang tak kuketahui maknanya, seperti ada yang membisiki telingaku, member tahu artinya…”

Aku percaya pada Pakdhe Masduqi, walaupun barangkali beliau menceritakan ini sekedar untuk membesarkan hatiku ketika beliau ta’ziyah meninggalnya ayahku. Mungkin juga aku percaya karena terdorong ketidakpahamanku akan metode pendidikan Mbah Ali. Setiap santri seolah diperlakukan khusus, dengan cara yang berbeda dari lainnya. Sepupuku yang sekamar denganku tidak cukup disuruh menulis saja. Ia diperintahkan ngeblad tulisan kitab. Santri lain disuruh mengumpulkan maqolah-maqolah dari berbagai kitab. Seorang santri baru malah diperlakukan dengan “sangat demokratis”.

“Kamu sorogan ya, Nak”, kata Mbah Ali kepada anak yang baru lulus SD itu.

“Sorogan itu apa, Mbah?”

“Setiap habis Shubuh kamu baca kitab di depanku”, Mbah Ali sabar.

“Kitab itu apa, Mbah?” Kuper nian anak itu.

“Kitab itu ya buku.”

“Yang dibaca buku apa?”

“Terserah kamu…”

Pagi itu, di tengah membaca kitabku di hadapan Mbah Ali yang dirubung santri-santri, aku kaget oleh suara lantang anak baru di sebelahku: “Pulau Buton menghasilkan aspal…!”

Kulirik “kitab” yang dipegangnya: PELAJARAN GEOGRAFI KELAS I SMP! (Terong Gosong, digagas oleh mantan juru bicara Presiden RI era Abdurrahman Wahid, KH. Yahya Cholil Staquf).

8. Berawal dari Mushalla, Merintis Pesantren Nurul Huda

Sejak tahun 1957 beliau mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan.

Tahun 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (Bimbingan Membaca Kitab), bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasun pesantren, beliau “melayani” pengajian di berbagai masjid di daerah Malang dan Jawa Timur terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kyai.

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum Majlis al-Bahtsi wa al-Muhadlarah ad-Diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula. Sehingga jabatan Katib Syuriyah selama 15 tahun, Rois II Syuriyah sejak 1985, dan Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur hingga 2007 sangat tepat baginya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang.

Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya mushalla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai 3 itu, KH. Achmad Masduqi Mahfudz belum pernah meminta sokongan dari masyarakat sedikitpun. Beliau hanya mengandalkan dengan amalan bacaan shalawat sebanyak 10.000 kali. Dengan berkah shalawat itulah beliau memohon kepada Allah untuk pesantrennya dan putra-putrinya. Keampuhan shalawatnya terbukti dengan berdirinya Pesantren Nurul Huda yang megah serta kesemua anaknya berhasil lulus sarjana.

9. Ulama yang Mumpuni Ilmu Agama dan Ilmu Dunia

Beliau merupakan salah satu ulama yang mumpuni dan dalam memberikan materi tidak monoton tapi dari satu materi bisa menjabarkan luas. Jamaah pun menyimak dengan puas dan semua bisa menerima materi yang disampaikannya. Karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya.

Pengetahuan yang beliau miliki sangat luas tidak saja dalam masalah ukhrawi tapi juga duniawi, termasuk masalah teknologi, sosial budaya dlsb.

Di Malang dekade tahun 80/90-an ada beberapa kyai yang memiliki kesamaan dalam memberikan materi seperti beliau, seperti Kyai Durajak (KH. Abdurrazaq), Kyai Nabrawi Kasin dan Kyai Mahfudz Blimbing (KH. Mahfudz Asasi).

Masih ingat jelas, tahun 90-an beliau mengajar di Masjid Qudsi Malang. Kelihatan beliau nampak letih dan menyampaikan materi kitab Irsyadul ‘Ibad nampak lelah (mungkin hari itu jadwal beliau sangat padat). Takmir masjid berinisiatif menukar air putih dengan kopi dan disediakan tegesan (a***k). Kontan wajah beliau sumringah dan “clinggg...” beliau menyalakan korek zipponya. Akhirnya beliau menyampaikan materinya dengan semangat dan jamaah menerimanya dengan s**a cita. (Penuturan Ustadz Didik Isnanto).

10. Kyai yang Teguh Berprinsip

Al-Maghfurlah KH. Achmad Masduqi Mahfudz in Memoriam. Ketika seorang santri membela kiainya dari berbagai serangan kiri-kanan, apa yang diharapkan nanti dari doanya?

Dalam Muktamar NU di Solo tahun 2004, KH. Masduqi Mahfudz diserang anak-anak muda liberal sebagai kiai jumud dan anti-progresif. Pasalnya, sang kiai kharismatik ini menolak hermeneutika dan Islam liberal masuk dalam agenda Muktamar.

Saya lalu membela sang kiai dalam forum Muktamar itu. Lalu saya tuangkan dalam buku “Islam Pascakolonial” di bab 7, pas buku ini terbit di tahun 2005. Waktu membela beliau itu, doa saya hanya satu: “Ya Allah mudahkanlah saya membaca khazanah keilmuan pesantren dalam literatur-literatur bahasa Belanda dari abad 16 hingga abad 20. Semoga, ketika sang kiai bertemu Sang Khaliqnya, beliau bisa menyampaikan doa saya tersebut ke sana dan didengar oleh para malaikat,” kenang KH. Ahmad Baso, sang muallif Pesantren Studies.

11. Isyarat Kewafatan KH. Achmad Masduqi Machfudz

Gus Ahmad Mundzir menceritakan tentang kesaksiannya di detik-detik mangkatnya KH. Achmad Masduqi Mahfudz. Saat itu KH. Masduqi sedang dirawat di RS Saiful Anwar. Beliau berkata dalam keadaan setengah sadar, bahwa beliau diajak rapat sama Gus Dur.

Kemudian ibu bertanya: “Wonten nopo Bah?” (Ada apa Bah).

Jawab KH. Masduqi: “Aku diajak rapat iki, ambek Gus Dur. (Saya sekarang diajak rapat sama Gus Dur). Maafkan Abah bila ada salah. Bagi yang merasa mempunyai hak adami atas Abah, saya dan saudara-saudara bersiap menanggungnya, sampaikan kepada kami.”

Sebelumnya, dalam kondisi masih sakit, KH. Achmad Masduqi Mahfudz berkata kepada putranya: “Setelah 7 harinya Mbah Sahal, akan ada barisan mergosono.” Ternyata barisan mergosono itu adalah mu’azziyin (para pentakziah).

Akhirnya KH. Achmad Masduqi Machfudz wafat pada hari Sabtu, tanggal 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Saiful Anwar Malang. Lahu al-Fatihah

____________________________
Dari www.muslimedianews.com dengan sedikit edit.

Address

Madrasah Miftachul Ulum Danau Labuhan Ratu Danau Way Jepara Lampung Timur Lampung Pulau Sumatera As Sumathroni Al Jawi
Mataram-Baru
34396

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mufti Wilayah Lampung Daarussalaam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Mufti Wilayah Lampung Daarussalaam:

Share