16/10/2022
MENGENAL PEMBAWA ISLAM KE TANAH JAWA
Kehadiran dan proses penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan data arkeologis, dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita asing. Tahapan islamisasi yang terjadi di beberapa kota pesisir utara Jawa, dari bagian timur sampai ke barat, lambat laun menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kesultanan Mataram. Di samping kerajaan, peranan para ulama di Pulau Jawa begitu sangat penting dalam penyebaran islam. Para ulama ini di samping sebagai pewaris para nabi juga berperan sebagai penyatu budaya lokal dengan Islam. Berikut kerajaan dan para tokoh yang turut andil dalam membawa Islam ke tanah Jawa.
Kesultanan Demak
Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri sejak akhir abad XV, setelah runtuhnya ibukota kerajaan Majapahit di Trowulan oleh Wangsa Girindra Wardhana dari kerajaan Kadiri pada 1474. Kesultanan ini dipimpin oleh Raden Fatah putra dari Brawijaya dan ibunya seorang putri dari Campa. Kesultanan ini bermula dari sebuah kampong yang dalam babad lokal disebut Gelagahwangi. Tempat inilah yang konon dijadikan permukiman muslim di bawah pimpinan Raden Fatah, yang kehadirannya di tempat tersebut atas petunjuk Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Setelah Raden Fatah, raja Demak kedua adalah Pangeran Sabrang Lor, lalu dilanjutkan oleh raja ketiga yaitu Sultan Trenggono.
Sebagai catatan bahwa raja Demak terkenal sebagai pelindung agama dan bergandengan erat dengan kaum ulama, terutama Wali Songo. Masjid Agung Demak dibangun oleh Wali Songo, arsiteknya adalah Sunan Kalijaga, dan merupakan pusat dakwah para wali.
Kesultanan Pajang
Kesultanan Pajang bermula dari perebutan kekuasaan di kalangan keluarga Sultan Trenggono. Bupati Pajang Adiwajaya (Joko Tingkir) menjadi penguasa Kesultanan setelah membunuh Penangsang. Joko Tingkir merupakan ipar dari Sunan Prawoto anak dari Sultan Trenggono. Ia dinobatkan sebagai sultan Pajang dan diberi gelar Sultan Adiwijaya. Jasa yang dilakukannya ialah melakukan perluasan ke Jipang dan Demak. Pengaruhnya sampai ke Jepara Pati dan Banyumas. Setelah wafat Ia digantikan oleh putranya Pangeran Benowo.
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon dipimpin oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada 1568 dan dimakamkan di Gunung Sembung yang kemudian dikenal dengan Astana Gunung Jati. Penggantinya ialah Pangeran Suwarga.
Syaikh Maulana Malik Ibrahim
Syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan sesepuh Walisongo. Beliau memiliki beberapa nama yang membuat kekeliruan asumsi antara lain, Syeikh Magribi (berasal dari Maghrib Maroko), Sunan Gresik, atau Syeikh Ibrahim Asamarkandi (berasal dari Samarkand Asia Tengah). Namun Sir Thomas Standford Raffles da- lam Atlas Wali Songo menyatakan bahwa berdasar sumber-sumber lokal, Maulana Ibrahim adalah seorang panditha termasyhur asal Arabia, keturunan Zainal Abidin dan sepupu Raja Chermen.
Menurut J.P Moquette atas tulisan prasasti makam syaikh Maulana Malik Ibrahim, beliau wafat pada hari senin, 12 Rabiul Awal 882 H (8 April 1419) dan berasal dari Kashan (Persia Iran). Di kalangan para wali, syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan tokoh yang dianggap paling senior dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa.
Sumber cerita lokal menuturkan bahwa daerah yang dituju Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali saat mendarat di Jawa ialah Desa Sembalo, di dekat Desa Leran Keca- matan Manyar Kabupaten Gresik, yaitu 9 kilometer di arah utara kota Gresik, tidak jauh dari kompleks makam Fatimah bin Maimun. Dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucian, Manyar, ia mulai menyiarkan agama Islam. Awal aktivitasnya ialah berdagang di Desa Rumo Setelah dakwahnya berhasil di Sembalo, Maulana Malik Ibrahim kemudian pindah ke Gresik. Setelah itu mendatangi raja Majapahit dan mengajak raja masuk agama Islam. Walaupun raja tidak memeluk Islam, Maulana Malik Ibrahim diberikan tanah di Pinggiran kota Gresik yang bernama Desa Gapura. Di desa inilah ia mendirikan pesantren untuk mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam di masa yang akan datang sebagai pengganti dirinya.
Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sunan Ampel merupakan tokoh tertua Walisongo pengganti ayahnya Syaikh Ibrahim As-Samarkandi, Ia berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Melalui pesantren Ampel Denta, Sunan Ampel mendidik kader-kader penggerak dakwah Islam seperti Sunan Giri, Raden Fatah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Dengan cara menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah. Jejak dakwah Sunan Ampel bukan hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, melainkan meluas ke daerah Sukandana di Kalimantan.
Sunan Ampel lahir sekitar tahun 1401 M, mengenai tanggal dan bulannya belum ada kepastian sumber sejarah. Nama lain Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia adalah putra keturunan raja Champa. Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban Wilwatikta Arya Teja.
Sunan Bonang (Maulana Mahdum Ibrahim)
Nama lain Sunan Bonang adalah Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. beliau lahir di Bonang, Tuban pada tahun 1465 M. Sunan Bonang merupakan putra keempat Sunan Ampel dari hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Nyai Gede Manila putri Arya Teja Bupati Tuban. Sunan Bonang dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang ulung dalam berdakwah dan menguasai ilmu fiqh, ushuludin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Dakwah awal yang dilakukan Sunan Bonang di daerah Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Tantra. Dengan membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri, Sunan Bonang mengembangkan dakwah di pedalaman yang masya- rakatnya masih menganut ajaran Tantrayana. Setelah meninggalkan Kediri Sunan Bonang berdakwah di Lasem. Sunan Bonang dikenal mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik. Karya sufistik yang digubah Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil.
Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Bonang menggunakan alat kesenian daerah berupa gamelan bonang yang dipukul dengan kayu. Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya dan karena suara gaung bonang yang sangat menyentuh hati rakyat sekitar sehingga banyak rakyat yang berbondong-bondong datang ke mesjid. Selain bertembang, Sunan Bonang selalu memberikan penjelasan maksud dari tembangnya tersebut. Tembangnya berisi ajaran-ajaran agama Islam. Di kalangan masyarakat, Sunan Bonang dikenal dengan Sang Mahamuni.
Pada masa hidupnya, Sunan Bonang banyak berperan dalam perjuangan Kerajaan Islam Demak serta berpartisipasi dalam pembangunan Mesjid Agung Demak. Sunan Bonang pun berperan dalam pengangkatan Raden Patah sebagai raja Islam Demak. Ketika mengajarkan ilmu agam Islam Sunan Bonang menggunakan buku-buku karangan para ahli tasawuf seperti Ihya Ulumuddin karya al-Gazali dan beberapa tulisan karya Abu Yazid al-Bustami dan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
Sunan Kalijaga (Raden Sahid)
Sunan Kalijaga adalah Putra Tumenggung Wilaktikta Bupati Tuban. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termashur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai dalam mendalang melainkan dikenal p**a sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa. Beliau ulama yang sakti dan cerdas, nama kecilnya Raden Sahid, yang merupakan seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Mengenai jalan hidupnya banyak terangkum dalam naskah-naskah kuno Jawa.
Menurut sejarah Raden Sahid diusir oleh keluarganya dari kerajaan karena katahuan merampok. Setelah itu dia berkeliaran dan berkelana tanpa tujuan yang jelas, hingga kemudian menetap di hutan Jatiwangi sebagai seorang yang berandal dan s**a merampok. Dalam Babad Demak disebutkan bahwa Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang. Karena kagum melihat kesaktian Sunan Bonang, Raden Sahid berguru kepadanya dengan syarat beliau harus bertobat. Akhirnya Raden Sahid yang dulu berandal berubah menjadi seorang wali dan ulama yang cerdas dan budayawan.
Di Cirebon beliau bertemu dengan Sunan Gunungjati dan dinikahkan dengan adiknya Siti Zaenab. Cara dakwah Sunan Kalijaga berbeda dengan para wali lainnya. Beliau berani memadukan dak- wahnya dengan seni budaya yang telah menjadi kebiasaan adat ma- syarakat Jawa. Seperti berdakwah dengan wayang, gamelan, tembang, ukir dan batik.
Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati berasal dari Persia dan Arab. Sampai sekarang belum ada catatan sejarah yang pasti mengenai kelahiran beliau. Dan berdasarkan beberapa babad dan sumber sejarah beliau mempunyai banyak nama, di antaranya Muhammad, Nuruddin, Syeikh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyyah, Syeikh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati.
Sejak kecil Sunan Gunung Jati tinggal di Mekkah dan di sana beliau memperdalam ilmu agama Islam. Di sana beliau tinggal ku- rang lebih 3 tahun. Sunan Gunung Jati datang kembali ke tanah air- nya dan pergi ke Pulau Jawa. Kedatangannya di sambut baik oleh Kerajaan Islam Demak yang saat itu mencapai puncaknya berada di bawah pemerintahan Raden Trenggono (1521-1546). Ketika datang ke p**au Jawa, beliau berdakwah di daerah Jawa bagian barat. Berkat dakwahnya, banyak rakyat Jawa Barat yang memeluk agama Islam. Raden Trenggono pun menaruh simpati kepadanya sehingga Sunan Gunung Jati dinikahkan dengan adik Raden Trenggono. Dakwahnya terus berlanjut, Raden Trenggono memerintahkan Sunan Gunung Jati untuk memimpin ekspedisi ke Banten dan Sunda Kelapa yang masyarakatnya masih beragama Hindu-Budha dan berada di bawah kekuasaan Pajajaran.
Sunan Gunung Jati berangkat bersama pas**annya dari Demak dan berhasil menjatuhkan Pajajaran serta mengislamkan wilayah tersebut. Setahun kemudian, Cirebon jatuh di bawah keku- asaannya dan berhasil mengislamkan penduduk di wilayah tersebut (1528). Dalam kurun waktu yang tidak lama Sunan Gunung Jati berhasil menaklukan Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Sehingga beliau telah berhasil merintis hubungan antara Banten, Sunda Kelapa, Cirebon dengan Demak, Jepara, Kudus, Tuban, dan Gresik.
Meskipun Jawa Barat dan sekitarnya berada pada kekuasa- annya, namun kekuasaan tertinggi tetap berada di bawah kerajaan Islam Demak. Setelah Raden Trenggono wafat, terjadi perselisihan antara Hadiwijaya dengan Adipati Jipang Arya Penangsang. Kerajaan Cirebon, Banten dan Sunda Kelapa memisahkan diri dari kerajaan Demak. Setelah itu, beliau tidak lagi menetap di Demak, tetapi me- ngembangkan dakwahnya di Cirebon sampai menjelang wafatnya pada tahun 1570 M dan makamnya terletak di Gunung Jati, Cirebon.
Sunan Drajat (Raden Qasim)
Nama lain dari Sunan Drajat adalah Raden Qasim atau Syarifudin. Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Ni Gede Manila. Dikisahkan bahwa sejak berusia muda Sunan Drajad telah diperintahkan ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik. Semasa muda be- liau dikenal dengan Raden Qasim. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama lain dari beliau berdasarkan beberapa naskah kuno. Di antaranya beliau dikenal dengan nama Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syeikh Masakeh, Pangeran Syarifudin, Pangeran Kadrajat dan Masaikh Munar.
Sunan Drajat diminta untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik. Perjalananya ke Gresik menjadi sebuah legenda. Dikisahkan bahwa ketika beliau hendak menuju Gresik, kapal yang ditumpanginya terkena ombak, Raden Qasim selamat dengan berpegang pada dayung perahu tersebut. Setelah kejadian itu, datang dua ekor ikan menolongnya, kedua ikan tersebut adalah ikan Cucut dan ikan Talang. Dengan pertolongan kedua ikan tersebut Raden Qasim terdampar di sebuah tempat bernama Kampung Jelak, Banjarwati. Di sana beliau bertemu dengan Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Kedua mbah tersebut telah memeluk agama Islam.
Raden Qasim kemudian menetap di Jelak dan menikah dengan Kemuning yang merupakan putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak Raden Qasim mendirikan pondok pesantren sebagai tempat belajar ilmu agama ratusan penduduk. Jelak dulunya merupakan dusun kecil yang terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung yang besar. Tempat itu kemudian diberi nama Desa Drajat karena letak geografisnya yang berupa dataran tinggi.
Sunan Giri (Raden Paku)
Nama lain Sunan Giri adalah Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Ayahnya bernama Maulana Ishaq yang berasal dari Pasai serta ibunya bernama Sekardadu, Putri Raja Blambangan. Ia adalah tokoh Wali Songo yang berkedudukan sebagai raja sekaligus guru suci. Ia memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara dengan memanfaatka kekuasaan dan jalur perniagaan. Sebagaimana guru sekaligus mertuanya, Sunan Ampel, Sunan Giri mengembangkan pendidikan dengan menerima murid-murid dari berbagai daerah di Nusantara. Sejarah mencatat, jejak dakwah Sunan Giri bersama keturunannya mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi, Nusa Tenggara, Bahkan di kep**auan Malukau.32
Ketika dewasa beliau berguru kepada Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel beliau diberi gelar Raden Paku. Sunan Giri mengikuti jejak ayahnya Syeikh Awwalul Islam atau Maulana Ishaq menjadi seorang mubaligh, beliau bersama Sunan Bonang diperintahkan Sunan Ampel pergi ke Mekkah tetapi tidak jadi mengingat Nusantara lebih memerlukannya.
Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung. Sunan Kudus di- kenal sebagai tokoh Wali Songo yang tegas dalam menegakkan sya- riat. Namun, seperti wali yang lain, Sunan Kudus dalam berdakwah berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami kebutuhan apa yang diharapkan masyarakat. Itu sebabnya, Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, pande besi, membuat keris pusaka, dan mengajarkan hukum-hukum agama yang tegas. Sunan Kudus selain dikenal eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar, juga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memimpin penyerangan ke ibukota Majapahit dan berhasil mengalahkan sisa-sisa pas**an kerajaan tua yang sudah sangat lemah itu.
Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga, Sunan Muria merupakan tokoh Wali Songo yang paling muda usianya. Sebagaimana Sunan Kalijaga, Sunan Muria berdakwah melalui jalur budaya. Sunan Muria dikenal sangat piawai menciptakan berbagai macam jenis tembang cilik jenis sinom dan kinanthi yang berisi nasehat-nasehat dan ajaran tauhid. Seperti ayahnya, Sunan Muria dikenal pintar mendalang dengan membawakan lakon-lakon carangan karya sunan Kalijaga.
Peranan pembawa Islam ke tanah Jawa merupakan sebuah anugerah bagi masyarakat Jawa yang semasa itu terkurung dalam pemikiran animisme dinamisme yang tidak berujung. Tradisi tradisi yang semula merugikan masyarakat diperbaiki para pembawa Islam menjadi menguntungkan bagi masyarakat, seperti sesajen(memberikan seserahan) kepada pohon yang dipercaya memiliki kekuatan diubah menjadi selametan (sebuah tradisi kumpul untuk saling mendoakan, memuji Allah dan bersholawat kepada baginda Rasul) kedua hal tersebut sama sama memberikan makanan.
(ld-pbnu)