19/05/2026
Yang namanya "evaluasi konten" itu sebenarnya sederhana: yuk, kita ngintip postingan kita sendiri untuk tahu di mana letak kekuatan akun kita. Jangan sampai kita ikut-ikutan orang lain, lalu memaksakan diri bikin konten yang sebenarnya bukan keahlian kita.
Coba kita perhatikan data yang ada di dalam poster. Akun pribadiku ini baru aktif lagi sekitar dua bulanan, temannya sedikit (gak sampai 200 orang bulan Maret lalu), tapi pengikutnya sekarang sudah seribuan lebih.
Pas dievaluasi, kelihatan jelas sekali polanya.
Video pendek atau reels yang diunggah ternyata sepi, cuma ditonton seratusan orang. Sebaliknya, begitu posting foto biasa yang diberi naskah tulisan edukasi dan cerita yang kuat, yang melihat langsung membeludak sampai seribu bahkan tiga ribu orang lebih!
Dari data ini, pelajaran pentingnya adalah: kekuatan akun ini memang ada di foto dan tulisan edukasi, bukan di reels. Jadi untuk awalan, maksimalkan saja kekuatan itu habis-habisan. Tidak usah pusing dan memaksakan diri ikut-ikutan arus main reels kalau modal utamanya belum di sana. Nanti kalau jangkauan (reach) dari postingan foto kita sudah stabil di angka puluhan atau ratusan ribu, baru kalau mau coba-coba melirik reels silakan.
Hal ini berlaku sebaliknya. Kalau ada akun emak-emak lain yang pas dicoba ternyata reels-nya langsung meledak, ya sudah, fokus saja di sana dan jangan dipaksakan harus menulis panjang-panjang di foto. Setiap akun punya jalurnya masing-masing.
Selain masalah format, perhatikan juga tema atau topiknya. Di foto-foto yang ramai itu, temanya sangat spesifik dan dekat dengan hati, seperti cerita tentang hewan peliharaan dan pengalaman hidup yang mendalam. Dari tiga ribu orang yang melihat itu, kita jadi tahu tema mana yang paling berhasil menarik perhatian audiens.
Jadi, kunci evaluasi itu cuma dua: temukan format yang paling menghasilkan angka tinggi, lalu setialah pada tema yang memang disukai oleh orang-orang yang mengikuti kita.
Lebih hemat energi dan tidak bikin stres, kan?