07/12/2023
Muhammad Fadli, (20) sedang berada di sekitar puncak Gunung Marapi saat mendengar gemuruh dan merasakan guncangan. Ia menceritakan suasan mencekam saat terjadinya letusan.
Saat itu, ia bersama dengan 17 rekan lainnya terkejut mendengar suara gemuruh yang berasal dari dalam kawah gunung.
"Saya langsung bersembunyi bersama tiga teman saya," kata Fadli saat ditemui di RSUD Padang Panjang, Senin (04/12).
Saat bersembunyi di balik batu besar, ia melihat batu berukuran kepalan tinju orang dewasa melayang-layang.
"Saat salah satu batu menuju ke saya, saya menepisnya dengan tangan kosong yang mengakibatkan jari saya patah," katanya.
Batu selanjutnya kemudian mendarat di bagian kaki kiri Fadli, yang membuat tulangnya patah.
Tak lama kemudian, asap hitam menyelimuti langit.
Lalu asap hitam dan debu pekat membekap mata Fadli. Ia benar-benar tidak bisa melihat di sekitarnya.
"Saat itu kami tetap bersembunyi di balik batu dan saya tidak mengetahui lagi tentang teman-teman saya yang lain," lanjutnya.
Di tengah situasi asap hitam dan debu disertai hujan batu, Fadli yang saat itu masih bersama tiga rekannya, perlahan-lahan bergerak turun.
Mereka berusaha menghindari awan panas.
"Saya mencoba bergeser ke bawah itu, untuk mencari jaringan (sinyal) untuk menghubungi pihak pos penjagaan dan meminta agar kami dijemput," lanjutnya.
Setelah menunggu kurang lebih delapan jam, akhirnya yang ditunggu pun sampai di tempat yang sudah dijanjikan untuk penjemputan.
"Saat tim evakuasi sampai di tempat itu, akhirnya saya bisa lega. Karena saya dan tiga teman saya akhirnya bisa selamat walaupun dalam keadaan luka-luka," lanjutnya.
"Sungguh tidak saya sangka gunung akan erupsi. Karena tidak ada tanda-tanda yang kami rasakan," katanya.
Sumber : bbc, tribun medan
Follow Ig .bali_