PUSTAKA RANTE SEJATI

PUSTAKA RANTE SEJATI PUSTAKA RANTE SEJATI-sebuah wadah untuk mentransfer informasi melalui literasi-literasi keilmuan agama, sosial, dan kebudayaan, serta seni sastra online

01/04/2022
SOWAN KANG SHOMADI: Guru al-Alfiyah, Santri Dua Zaman & Penyalin Pemikiran Abah MustahdiOleh: Ahmad Kamali Hairo(Alumni ...
21/02/2022

SOWAN KANG SHOMADI:
Guru al-Alfiyah, Santri Dua Zaman & Penyalin Pemikiran Abah Mustahdi

Oleh: Ahmad Kamali Hairo
(Alumni Pesantren Winong)

TENTANG KANG SHOMADI

Entah ada angin apa, tiba-tiba saat kala senja datang , hati terasa kangen dengan Kang Somadi, guru al-fiyahku se-waktu mondok di Winong. Akhirnya, sewangsule nyekar makam bapak, tanpa tendeng aling-aling langsung saya telpon Kang Daiq, salah satu putra beliau, hendak mengutarakan maksud dari hati. Al-hasil, bakda sholat isya visit menuju kediaman beliau di Desa Tegal Karang.

Nama lengkap beliau adalah Shomadi Abdul Muin. Namun dalam salah satu buku cacatan beliau tertulis Muhammad Shomadi.

Beliau lahir di Cirebon pada tanggal 13 Oktober 1955 dan menetap di Blok Karang Tengah, Desa Tegal Karang, Kecamatan Palimanan, Cirebon. Kini usia beliau masuk setengah abad lebih, yaitu 67 tahun Masehi.

Selain guru Mukmin Winong, guru Mas’ud Winong dan guru Rusydi Kempek, kang Somadi termasuk salah satu santri dua zamanya KH. Hasbullah Qunawi (Ki Sepuh) dan KH. Mustahdi Hasbullah (Ki Muda) pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Winong (1918/1919 M).

Kang Somadi mondok di Winong sejak usia remaja, bolak-balik, pulang-pergi. Baru kemudian pada tahun 1972 sampai 1974 beliau mulai menetap, mukim di pondok Winong mengaji beragam disiplin ilmu, seperti ilmu al-Qur’an, usul fikih, fikih, gramatikal bahasa Arab, dan fan-fan ilmu lainya yang berkembang di pondok pesantren pada umumnya.

Setahun kemudian, 1975 beliau berangkat mondok ke Lirboyo, Kediri sampai tahun 1979. Sepulang dari Lirboyo, boyong, beliau di suwun oleh Abah Mustahdi Hasbullah untukh khidmat, ngrewangi mulang di pondok Winong putra-putri sampai antara tahun 2006 – 2007 Masehi. Jadi, kurang lebih kang Somadi mengabdi pada pondok Winong selama 28 tahun.

KELUARGA KANG SHOMADI

KH. Shomadi menikah dengan seorang wanita pilihan hatinya, Hj. Siti Fatkhiyah, sosok istri sholehah yang berasal dari Desa Jatipura, Kecamatan Susukan, Cirebon sekitar tahun 1982 Masehi.

Dari pernikahnya itu, kang Shomadi dikarunia tujuh anak, enam putra dan satu putra serta enam cucu. Putra-putrinya kelak kemudian mengikuti jejak ilmiah kedua orang tuanya, ada yang mondok di Winong, Lirboyo, dan Babakan Ciwaringin.

Diantara nama-nama anaknya adalah M. Quthbuzzaman, M. Daqiqul ‘id, M. Ashif Barkhiyya, Siti Muhimmatul Khasanat, M. Misbakhul Munir, M. Fadlullah, dan M. ‘Alauddin Najich. Sedangkan cucu-cucunya adalah Siti Qoimatul Khusnah, M. Umar al-Faruq, Siti Qurrotul A’yun, Siti Mutimatul Khoirot, Siti Mutmainnah, dan Siti Umniatul Maqsudah.

Kini keluarga beliau diliputi dengan kebahagiaan yang indah. Semoga keluarga besar beliau selalu diberikan Kesehatan, Panjang umur, dan rizki yang seluas-luasnya.

KEPRIBADIAN KANG SHOMADI

Santri Winong yang mengenal kang Shomadi, jaba-jero, pasti sangat mengagumi perangai beliau yang begitu kalem, santai, humoris, humanis, sederhana, pokoke tebal dan dalem, tapi empuk suaranya dikala mengajar santri-santrinya di Madrasah Salafiyah Tahsinul Akhlaq, pasti tidak bikin ngantuk apalagi monoton, jelas menyampaikan materinya, faktual dan rasionalistis menganalogikan contok-contoh dalam pelajaran. Sehingga memaknai kitab kuning, ngapsahi, tidak bolong-bolong, alias tidak banyak tambalan.

Penulis sendiri dan teman-teman angkatan 2004 mengaji al-Fiyah kepada beliau dikelas dua Aliyah dan tiga Aliyah, walapun pada akhirnya tidak sampai tamat, dikarenakan suatu hal, tapi inya Allah berkah.

Kang Shomadi sendiri mengaji kitab al-Fiyah kepada Abah Mustahdi Hasbullah bersama dengan santri-santri Abah yang sudah senior di Tajug Pondok Pesantren. Kang Shomadi bercerita: “bahwa Abah kalau ngajar itu kalem, tegas, titen, dan sangat jelas dalam menyarahi materi-materi pelajaran.” Tuturnya.

Tentang Kang Shomadi, paling sering diinget adalah selalu naik motor Vespa kalau berangkat mengajar dari Tegal Karang ke Winong sembari menghisap udud (baca: Ngudud) dan melemparkan senyuman kepada siapa saja yang berpapasan dengan beliau di komplek Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq.

Selain sebagai guru ngaji di kampunya, beliau juga sebagai petani dan tokoh konseling Islami di masyarakat sekitarnya.

PENYALIN PEMIKIRAN
ABAH MUSTAHDI HASBULLAH

Selain mengobati rasa rindu kepada sang guru al-Fiyah, penulis juga focus menelusuri, mencari, dan meneliti pemikiran-pemikiran Abah Mustahdi Hasbullah yang disalin oleh santri-santrinya dalam bentuk tulisan atau manuskrip, diantaranya adalah catatan milik kang Shomadi.

Kurang lebih selama satu jam, kami ngobrol dengan penuh intens tapi santai, disertai dengan gelak-tawa yang ringan-ringan, disertai dengan kalimat saling tanya kabar, diisi dengan kisah-kisah beliau selama mondok , hidmat kepada Abah, penuh dengan kalimat-kalimat nasehat, dan doa-doa motivasi.

Apalagi dalam obrolan itu, dikondisikan dengan ngudud, ngopi, serta jaburan kue Bakpiya Jogja yang disuguhkan sehingga menambah kefokusan penulis dalam menyimak setiap kalimat-kalimat bijak bestari dari kang Shomadi. Tentang “ngudud”, penulis jadi inget sebuah judul buku yang ditulis oleh Budayawan Indonesia, Imam Budi Santoso, yaitu “NGUDUD: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup.”

Tanpa jedah yang lama, penulis nyuwun izin kepada beliau untuk melihat catatan atau salinan-salinan pemikiran Abah Mustahdi Hasbullah (baca: karya tulis) dan akhirnya kang Shomadi membawa dan melihatkan kepada penulis catatan-catatan itu. Kagum, estetik melihat setiap lembar demi lembar goresan tulisan kang Shomadi yang masih bisa dibaca dengan jelas.

Tinta yang digunakan untuk menulis mayoritas tinta bak gosok warna hitam dengan alat tulis pentul, walaupun Sebagian - sedikit tulisanya menggunakan potlot dan pulpen pada umunya.

Kertas yang digunakan adalah Leces. Dalam Bungfei.com nama Leces dalam ejaan lama ditulis Letjes telah menjadi sejarah yang sulit dilupakan bagi anak-anak sekolah era Tahun 1980 hingga 1990-an. Buku Leces diproduksi disebuah pabrik kertas tua yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda.

Yaitu didirikan pada Tahun 1939 di Probolinggo, Jawa Timur. Pabrik kertas Leces didirikan pemerintah Belanda dengan konsep pemanfaatan ampas tebu dari pabrik-pabrik gula milik Belanda yang bertebaran di sekitaran Probolinggo.

Nama Leces sebenarnya adalah nama Desa dimana pabrik kertas itu berdiri, sekarang selain menjadi nama Desa, Leces juga menjadi salah satu nama Kecamatan di Wilayah Kabupaten Probolinggo. Pabrik kertas Leces kini menjadi PT. Kertas Leces Persero, atau perusahaan milik Negara (BUMN). Hal ini tentu wajar sebab asset-aset milik Belanda selepas kemerdakaan tentu menjadi hak milik Negara.

Buku catatan milik kang Shomadi, penulis menyebutnya manuskrip secara tulisan dalam kondisi baik dan terbaca, secara struktur tulisan ada beberapa catatan yang tidak rapih, anjlog-anjlogan, sudah tidak bersampul, beberapa lembar ada yang sobek dan lepas dari tali jilidannya serta warna permukaan kertasnya terlebih bagian pinggir-pinggirnya sudah ada bercak-bercak kuning kecoklatan pucat.

Lembaranya berjumlah 67 lembar tanpa nomor halaman. Jika dilihat dari salah satu kolofon dalam salinan kitab Nadzom Amrithi yang selesai pada hari Selasa tanggal 15 Juli 1975 Miladiyah (Masehi) bertepatan dengan tanggal 2 Dzulhijah 1935 Hijriyah, maka bisa dikatakan usia manuskrip ini dengan pendekatan tahun masehi adalah 47 tahun. Itu artinya manuskrip ini belum bisa dikatakan manuskrip kuno.

Karena dalam UU C***r Budaya No. 5 Tahun 1992 pada Bab I pasal 2 disebutkan bahwa naskah kuno atau manuskrip merupakan dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih.

Diantara isi manuskrip milik kang Shomadi meliputi tentang:
1. Manuskrip Asma’ al-Warisin wa al-Warisat (tanpa pengarang).
2. Manuskrip Nadzom Maqsud karya Syekh Ahmad bin Abdurrohim.
3. Terjemah Tasrip Jawen karya KH. Mustahdi Hasbullah
4. Manuskrip Nadzom al-‘Amrithi karya Syekh Syarafuddin Yahya al-Imrithi.
5. Manuskrip Nadzom Jawen Santri-Santri Karya KH. Mustahdi Hasbullah.
6. Manuskrip Nadzom Jaweh Isra’mikraj karya KH. Mustahdi Hasbullah.
7. Manuksri Nadzom Lunga Ngaji Karya KH. Mustahdi Hasbullah.
8. Manuskrip Nadzom Jawen Isthilahul Qurro karya KH. Mustahdi Hasbullah.
9. Manuskrip Nadzom Fiqih Jawen Karya KH. Mustahdi Hasbullah.
10. Manuskrip Nadzom Jawen Hey Kabeh Bocah Karya KH. Mustahdi Hasbullah.
11. Manuskrip Nadzom Jawen Agama Islam karya KH. Mustahdi Hasbullah.
12. Manuskrip Nazom Jawen Aqoid Seket karya KH. Mustahdi Hasbullah.
13. Manuskrip Nadzom Jawen Ilmu Tajwid karya KH. Mustahdi Hasbullah.
14. Manuskrip Aurod Hadiyu Sanad Abah Mustahdi Hasbullah.

Akhir kata, menurut kang Shomadi semua manuskrip di atas adalah pelajaran-pelajaran di pondok Winong yang ditulis tangan, dimakanai gandul atau makna antar baris (Arab pegon), dan langsung diajarkan oleh Abah Mustahdi Hasbullah. []

Tuan Rante, 21 Februari 2022 / Tengah malam 03.00 WIB.

Referensi:
1. Wawanacara dengan KH. Shomadi pada tanggal 19 Februari 2022 di Tegal Karang.
2. Wawancara dengan Kang Daiq pada tanggal 19 Februari 2022 di Tegal Karang.
3. Https://bungfei.com, tentang buku Leces/Letjes pada tanggal 21 Februari 2022.
4. Undang-Undang C***r Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2.

Garis Keturunan Kiai Pandawa LimaDari Ibu.Berawal dari Al-Mukarrom KH. Muhammad mempunyai putra KH. Hasan (Sukunsari Ple...
27/03/2021

Garis Keturunan Kiai Pandawa Lima
Dari Ibu.

Berawal dari Al-Mukarrom KH. Muhammad mempunyai putra KH. Hasan (Sukunsari Plered Cirebon) dan KH. Husen (Pamanukan Subang)

KH. Hasan memiliki putri Nyai Ummi Laila, dan Nyai Ummi mempunyai putri Nyai Hj. Afifah Harun.

Mbah Harun muda (Pendiri Ponpes.Kempek) mesantren pada KH. Hasan (Sukunsari Plered) dan bermimpi dengan 25 Nabi di Pesantren ini, konon wanginya tidak berhenti sampai berbulan-bulan.

Tak lama kemudian Mbah KH. Harun dijadikan menantunya dengan menikahi Nyai Ummi Laila yang salah satu putrinya adalah Nyai Hj. Afifah. Dari rahim Nyai Afifah inilah lahir Masyayikh Khas Kempek yang dikenal dengan Pandawa Lima.

Adik KH. Hasan adalah KH. Husen, ada yang mengatakan beliau berdua kembar dan sebagian mengatakan kakak beradik.

Konon kedua Kiai ini hampir sama ceritanya dengan cucu Nabi SAW, Sayyid Hasan dan Sayyid Husen.

Kiai Hasan lebih dikenal dengan keilmuannya dan Kiai Husen lebih populer dengan sebutan ahli dzikir.

Beliau berdua memiliki anak, Kiai Hasan punya anak perempuan Nyai Aminah dan Kiai Husen melahirkan putra Kiai Abdul Ghofur. Keduanya menikah dan mempunyai putra KH. Abdul Hamid.

KH. Abdul Hamid Husen ini sekarang menjadi tokoh di Jakarta Selatan, Pimpinan Majlis Dzikir Ikhwanusshofa. Jamaahnya banyak, dan tidak hanya membimbing dzikir, beliau juga mengaji kitab-kitab besar diwaktu malam hari.

Kiai Musthofa Aqiel mengatakan bahwa beliau telah lama mencari saudara keturunan dari Kiai Hasan, dan pada sekitar tahun 2000an ketemulah keluarga Pesantren Kempek.

Dan hari ini (27/3) diselenggarakan Haul KH. Husen di Komplek Makam Mbah Husen Jl. Pondok Bali KM.5,3 Anjun, Legonkulon Pamanukan Subang Jawa Barat.

Acara dibuka oleh KH. Abdul Hamid Husen dan tahlil dipimpin oleh KH. M. Musthofa Aqiel Siroj.

Acara ini dihadiri oleh Masyayikh dan Dzurriyyah Khas Kempek serta beberapa santri senior.

Kita telah tahu bahwa dikalangan nahdliyyien, ziarah tersebut merupakan salah satu tradisi menjelang bulan suci Ramadan.

Nur Kholiq Tawan.29.03.2021

Address

Tuan Rante, Kenanga, Sumber
Cirebon
45611

Opening Hours

Monday 04:00 - 00:00
Tuesday 04:00 - 00:00
Wednesday 04:00 - 00:00
Thursday 04:00 - 00:00
Friday 04:00 - 00:00
Saturday 04:00 - 00:00
Sunday 04:00 - 00:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PUSTAKA RANTE SEJATI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category