17/02/2022
"Gas lighting"
Pada dasarnya perilaku gas lighting ini adalah upaya seseorang untuk "cuci tangan" dari suatu masalah komunikasi/interaksi, dengan cara menuding-nuding dan menyalahkan orang lain, dan berusaha mendominasi komunikasi/interaksi, dan tanpa ada kesediaan untuk introspeksi diri.
Orang semacam ini, yang jaman sekarang disebut sebagai "gas lighter", itu sebenarnya bisa dibungkam apabila orang yang berinteraksi dengannya tetap menjaga jarak, meminimalkan atau sama sekali menghentikan interaksi/komunikasi, dan meningkatkan ke-asertif-an dalam komunikasi/interaksi. Tetap objektif, berkepala dingin, dan berjarak. Tegas dengan diri sendiri, serta mandiri dan percaya diri dalam bersikap.
Korban gas lighting pada umumnya adalah orang-orang yang terlalu berharap kepada orang lain, terlalu bergantung, dan terlalu percaya.
Oleh karena itu, hargailah diri sendiri dan orang lain, sadari bahwa setiap orang itu setara, tidak perlu saling ingin mendominasi atau ada rasa tidak setara/lebih rendah/tinggi dibandingkan orang lain kecuali dalam bidang ilmu atau profesi, banyak-banyaklah berdoa, bergantunglah semata-mata kepada Allah, bukan kepada manusia/sesama makhluk, kenali diri sendiri dengan cermat dan rajin-rajinlah mengevaluasi diri, pelajari hal-hal, aturan, dan konsep tentang hubungan antar manusia: apa itu pernikahan, apa hak dan kewajiban suami/istri, orangtua/anak, apa itu pacaran, mengapa pacaran tidak dianjurkan dalam agama Islam, pelajari hukum negara tentang perlindungan hak perempuan/laki-laki, dan sebagainya, agar kita tidak menjadi gas lighter dan tidak menjadi korban gas lighting.